
Kama menghentikan mobilnya di sebuah taman diikuti oleh Brigitta. Keduanya keluar dari mobil masing masing dan duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana.
Kama tampak berkali kali menghembuskan nafasnya. Ia juga mengusap wajahnya berkali kali seakan akan ingin menghilang dari dunia ini.
Pluk
Sebuah tepukan lembut mendarat di punggung Kama. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Brigitta. Wanita itu menyulap dirinya menjadi seorang wanita yang lembut dan perhatian. Padahal ada niat terselubung yang ia miliki.
" Ada apa Fand, cerita lah."
Cerita Kama pun mengalir begitu saja. Ia sungguh merasa lega karena sudah meluapkan apa yang ia rasakan. Ia menceritakan mengenai keadaan Ana dan sikap kakak nya yang menurutnya belum bisa menerima kehadirannya.
" Semangat lah Fan, jika memang benar kau mencintainya."
" Terimakasih Bri. Kau mau mendengarkan ku, dan maaf aku dulu pernah menyakitimu."
" Tidak masalah. Yang lalu biarlah berlalu."
Bohong, tentu saja apa yang terlontar dari mulut Brigitta adalah sebuah kebohongan. Mana mungkin dia benar benar mendukung apa yang Kama lakukan disaat ia menginginkan Kama kembali padanya. Namun sungguh, wanita itu begitu pandai bersandiwara.
Kama pun berpamitan, ia segera harus bergegas kembali ke rumah untuk menyelesaikan tesis nya. Pria itu ingin segera selesai dan sidang agar bisa fokus untuk menemani Ana.
Brigitta melambaikan tangan dengan senyuman. Ia masih ingin berada di taman itu. Kama pun mengangguk mengerti. Setelah Kama masuk dan melajukan mobilnya, Brigitta pun tertawa lebar. Tawa penuh dengan kepuasan.
" Ha ha ha, aku yakin akan mendapatkan mu kembali Fand. Aku yakin itu. Tidak lama lagi, ya tidak lama lagi aku akan bisa membuat kedua orang tua mu tunduk di hadapanku begitu juga kau."
Brigitta kemudian bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke mobil dan melajukan mobilnya kembali. Ia harus segera menjalankan rencana selanjutnya. Wanita itu akan mulai masuk ke kehidupan Kama dengan mengambil hati kedua orang tua Kama.
*
*
*
Topan tersenyum senang saat semua penjahitnya bekerja dengan baik. Bahkan Ada Bianca dan Lani juga di sana. Topan pun segera menghampiri dua rekannya itu.
__ADS_1
" Ada yang mau ku bicarakan kepada kalian."
Bianca dan Lani saling pandang. Amar yang baru kembali dari kamar mandi pun menatap heran kepada Topan yang tampak serius. Keempat orang tersebut pun berjalan keluar rumah dan duduk di teras.
" Ada apa Pan? Apakah ada yang serius," tanya Amar penasaran.
" Ya serius, sangat serius. Yang pertama Kak Ana kecelakaan dan kondisinya lumayan buruk. Yang kedua aku tahu siapa pengkhianat yang mencuri design ku."
Semua terkejut dengan berita mengenai kecelakaan yang menimpa Ana. Mereka malah tidak terlalu fokus berita yang kedua. Baik Bianca dan Lani termasuk dekat dengan Ana. Keduanya kini sudah menangis saat Topan menjelaskan kondisi Ana saat ini.
" Ya Allaah Kak Ana, semoga kak Ana kuat ya," ucap Lani penuh harap.
" Semoga Tuhan segera memberikan kesembuhan," imbuh Bianca.
Sedangkan Amar, ia sudah tidak bisa berucap apapun. Ia tahu sahabatnya itu tengah begitu sedih. Amar pun mencoba mengalihkan perhatian Topan.
" Oh iya sob, terus siapa yang mencuri design mu?"
" Liana Debora, dia yang mencuri design ku dan memberikannya kepada Brigitta Almeida. Dia juga yang membuat studio kita hancur karena dia dan Brigitta pikir baju yang terakhir kita buat dengan motif kain ecoprint itu ada di studio. Mereka berusaha menghancurkannya. Beruntung feeling mu datang waktu itu Mar. Aku sungguh berterimakasih.
Amar, Bianca, dan Lani mengumpat bersamaan. Mereka sungguh terkejut. Wanita yang selalu berusaha mencari perhatian Topan itu malah tega menusuk Topan dari belakang.
" Berani betul wanita itu? Dasar sialaan. Terus kamu mau apa Pan. Apa kita akan langsung melaporkannya ke polisi."
Topan menggeleng mendengar ucapan Amar. Ia tidak akan melakukan itu. Ia harus buat perhitungan dengan dua wanita yang sudah bersekongkol tersebut dengan cara yang elegan tentunya. Meskipun akan banyak dana yang dikeluarkan nantinya. Tapi sungguh itu tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan.
" Aku punya rencana bagus."
Topan mulai menyampaikan apa yang sudah tersusun rapi di otak nya. Ketiga rekannya hanya saling pandang. Mereka menampakkan wajah kurang mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Topan.
" Kenapa harus melakukan itu Pan? Bukannya kita hanya akan menghabiskan banyak uang?" protes Bianca.
" Tenang kita akan pakai kain paling murah untuk Fake Design kita. Dimana itu tidak akan pernah kita keluarkan. Biarlah kita simpan atau kita rubah untuk dijadikan produk turunan seperti buket hat, tote bag, atau apalah. Itu juga bisa kita pasarkan."
Semua mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Topan. Topan berencana tetap membuat Liana sebagai model nya. Nanti dia akan selalu membuat rencana Fashion Show dan ia akan meletakkan design rancangannya di tempat yang mudah terlihat. Harapannya Liana akan melihat dan memberitahukannya kepada Brigitta. Topan memiliki keyakinan, bahwa orang yang iri dan dengki akan mempercayai apa saja yang dibuat oleh orang yang dibencinya dan berusaha untuk mengambil apapun yang dimiliki oleh orang tersebut.
__ADS_1
Saat hal itu terjadi, Topan hanya akan menjadi penonton dengan pertunjukkan yang akan dibuat Brigitta. Tentu saja rancangan yang dibuat Topan adalah sebuah design asal.
Semua mendukung rencana Topan. Mereka juga sangat geram dengan tindakan keterlaluan dan tidak profesional kedua wanita itu.
" Teman teman, apa aku boleh meminta tolong pada kalian? Untuk sementara waktu ini aku akan menemani proses kesembuhan dan pemulihan Kak Ana. Aku mohon kalian membantu ku mengawasi proses produksi. Sebulan ini, ya sebulan ini aku benar benar akan off menerima pesanan. Kita hanya akan produksi kain ecoprint yang kemarin kiylta launching apakah boleh?"
Ketiga rekannya itu sungguh merasa iba melihat wajah Topan yang seakan begitu lelah. Mereka mengangguk mengerti, saat ini Topan memang harus bersama dengan keluarga nya.
" Jangan khawatir pan, gunakan waktu mu sebaik mungkin. Semoga Ana segera pulih."
" Thanks Mar, terimakasih Bi, Lan. Kalian memang terbaik."
*
*
*
Topan akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa pakaiannya. Ia sudah bertekad untuk mendampingin Ana dalam proses pemulihan.
Sampai di depan ruangan rawat Ana, Topan sungguh terkejut dengan teriakan gadis itu. Ana terlihat memberontak. Sita dan Rama berusaha menenangkan putrinya namun belum juga berhasil. Topan langsung menjatuhkann dufllebag yang berada di tangannya dan berlari ke hospital bad milik Ana.
" Mom, yah, ada apa ini."
Kedua orang tua itu tidak bisa berkata apa apa. Bahkan Sita sudah menangis. Topan langsung membawa Sita menjauh dari Ana dna mendudukkan wanita paruh baya itu di sofa, setelah itu Topan pun kembali menghampiri Ana. Di rengkuh nya tubuh gadis itu ke pelukannya.
" Kak, istigfar kak. Inget Allaah kak."
Sesaat Ana masih memberentok di pelukan Topan. Ia benar benar melupakan lehernya yang masih berpenyangga. Sungguh Rama khawatir.
" Istigfar kak, ikutin aku ya, astagfirullahhaladzim ... Astagfirullaahhalaadzim ... "
Secara spontan Ana mengikuti ucapan Topan. Gadis itu lambat laun melemah. Teriakan itu berubah jadi tangisan. Rama dan Sita menatap lega. Kini Ana menangis dalam pelukan Topan. Sungguh hati Topan sangat sakit. Ia pun mengusap lembut kepala dan pungguh Ana membiarkan gadis itu meluapkan tangisnya.
TBC
__ADS_1