
Topan menuju ke rumah sakit untuk mencari informasi mengenai rekam medis Liana. Namun karena dia bukan keluarga dan bukan tenaga medis akhirnya Topan pun tidak mendapatkannya.
Mau tidak mau ia menghubungi sang abang. Bagaimanapun Kai mengenal Dika dan Nataya serta dr. Bisma yang merupakan direktur rumah sakit ini. Kai yang dihubungi Topan pun langsung segera meluncur ke rumah sakit.
" Ada apa Pan," tanya Kai. Topan memang tidak menjelaskan melalui panggilan telepon karena ia akan sulit untuk mengatakan maksudnya.
" Begini bang, aku rasa kecelakaan Kak Ana bukan murni kecelakaan biasa?"
" Maksudmu? Ada yang sengaja gitu?"
" Bukan bang, tapi menurutku ini karena keteledoran seseorang."
Topan pun langsung memberikan video Liana yang tengah menghisap rokok yang ia yakini adalah ganja itu. Topan juga mengatakan bahwa di hari Ana dirawat ia juga melihat Liana berada di rumah sakit. Bahkan saat itu Kai juga melihat karena mereka berdua menguping pembicaraan Liana dan Brigitta.
" Terus kamu ke sini untuk?"
" Kemarin kan laporannya murni kecelakaan tapi mungkin dia waktu itu mengemudi karena mabuk habis 'nyimeng', aku khawatir dia membayar oknum rumah sakit ini untuk memanipulasi rekam medisnya."
" Apa kau yakin yang dihisap Liana itu ganja."
Topan mengangguk. Bagaimanapun dia pernah hidup di jalanan. Dia tahu beberapa orang yang menghisap rokok dan ganja pastilah berbeda.
" Baik, mari temui dr. Bisma dan dr. Dika. Aku yakin mereka akan memberikan rekam medis asli Liana itu. Dan pasti mereka akan menindak oknum tersebut jika terbukti melakukan pemalsuan data."
Topan mengangguk, sebelumnya ia menghubungi dr. Dika terlebih dulu. Saat Dika keluar menemui Kai, Kai pun meminta untuk bertemu dengan dr. Bisma. Sebenarnya bisa saja Kai langsung meretas keamanan rumah sakit Mitra Harapan tapi Kai tidak mau melakukan ini. Ia ingin Topan mengungkapkan kejahatan itu dengan cara dia sendiri bukan dengan cara Kai.
Kai, Topan dan dr. Dika sudah duduk di sofa ruangan dr. Bisma. Topan menjelaskan mengenai apa yang terjadi dna memperlihatkan video Liana tersebut. Dika mengamati perubahan ekspresi Liana setelah menghisap rokok tersebut. Sebagai dokter dia tahu bahwa seseorang itu pemakai atau bukan, dan menurut kesimpulannya Liana memang pemakai. Meskipun demikian harus dipastikan dengan tes urine atau tes darah.
" Oke, aku akan menghubungi pihak administrasi untuk mencari data Liana dan membawa rekam medis wanita itu."
__ADS_1
Tak berselang lama seorang perawat memberikan data milik Liana. Ia sedikit terkejut melihat Topan di sana. Pasalnya perawat tersebut tadi sudah menolak mentah-mentah Topan. Namun Topan sendiri bersikap bisa saja karena bagaimanapun perawat tersebut hanya menjalankan prosedur rumah skit.
" Terimakasih sus, kembali ke pos mu."
" Baik dokter."
Dr. Bisma kemudian memeriksa rekam medis tersebut dengan begitu teliti. Sesaat kemudian pria paruh baya tersebut menghembuskan nafasnya kasar lalu mengangguk. Semua yang disana saling pandang, berarti dugana Topan benar bahwa Liana merupakan pemakai.
" Haish, bodohnya aku. Kenapa aku tidak melihatnya saat dia menemuiku di rumah Amar. Jika aku sedikit lebih peka maka kejadian itu tidak akan terjadi."
" Sudah tidak usah disesali. Semua sudah kehendak Tuhan yang penting kita sudah tahu penyebabnya."
Kai menenangkan Topan yang merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Ana. Namun sekarang bukan waktunya untuk itu, mereka harus mencari tahu siapa pihak yang memanipulasi data untuk diserahkan ke pihak yang berwajib.
Kali ini Dika lah yang pergi membawa Kai dan Topan ke ruang kontrol. Tidak ketinggalan Bisma pun ikut bersama mereka. Sebagai dirut rumah sakit dia berkepentingan mengetahui siapa orang yang berani-berani nya berbuat kecurangan di rumah sakit yang dipimpinnya.
" Aaaauchhh, dokter Bisma, dokter Dika. Ini sakit lho asli."
" Eh … maaf."
Dika dan Bisma langsung mengangkat tangan mereka dari bahu sang operator. Sungguh kedua orang yang paling berkuasa di rumah sakit itu sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh orang dalam gambar tersebut. Ia sungguh tidak menyangka ada oknum seperti itu di rumah sakitnya.
" Apa gaji yang kuberikan kurang sehingga orang itu berbuat demikian?" tutur Bisma.
" Bukan kurang om, tapi memang itu orang serakah," sahut Dika cepat.
Bisma benar-benar akan membuat tindakan tegas kepada oknum tersebut yang tidak lain adalah seorang dokter. Dimana dokter tersebut memiliki status tinggi di rumah sakit karena dia merupakan dokter kepala bagian IGD.
" Pan, bagaimana akan bergerak. Bukankah itu Brigitta Almeida."
__ADS_1
Kini giliran Kai yang bertanya. Ia ingin tahu bagaimana membereskan Brigita dan Liana.
" Bang, untuk Brigitta aku akan tetap pada rencanaku. Kalau Liana aku langsung akan melaporknanya ke pihak yang berwajib dengan bukti ini. Dr. Dika, dr. Bisma bolehkan saya meminta copyan rekam medis Liana Debora sebagai barang bukti?"
" Ya silahkan, bawa saja aslinya. Kami turut bertanggung jawab atas hal tersebut. Jika perlu itu dokter kunyuk biar jadi saksi. Biasanya di rumah wanita itu pasti ada barang bukti lainnya. Polisi akan bertindak sesuai prosedur," ucap Bisma panjang.
Topan menghela nafas kelegaan. Ia sungguh senang akhirnya salah satu masalah bisa diatasi. Berkali-kali pemuda itu mengucapkan terimakasih kepada Dika dan Bisma.
Kini dia dan Kai berjalan pulang menuju tempat parkir. Kai menanyakan tentang rencana pernikahannya dengan Ana.
" Apakah kau benar-benar yakin dengan pilihanmu."
" InsyaaAllaah yakin bang. Aku sungguh yakin menikahi Kak Ana."
" Baiklah kalau begitu. Aku mendukungmu. Bahagiakan Ana. Kau tahu kan karakter dia, kau harus banyak sabar menghadapinya. Jika butuh apa-apa jangan sungkan mengabariku."
Topan mengangguk, ia kemudian memeluk Kai dengan erat. Bahkan ia menangis di sana sambil mengucapkan terimakasih. Topan tidak pernah melupakan apa yang telah dilakukan Kai dalam hidupnya. Malaikat tanpa sayap yang mengangkatnya menjadi seseorang saat ini dna bahkan direstui untuk memiliki adik perempuan yang disayangi semua orang dalam keluarga.
" Laah malah nangis. Ya masa dah mau jadi suami kok masih nangis gini kalo sama abang. Apa kata netizen, seorang desainer hebat terlihat menangis dipelukan abangnya."
Topan acuh dengan ledekan Kai. Ia masih ingin disana memeluk abang nya.
" Terimakasih bang."
" Sudah, kau sudah ribuan kali mengucapkan terima kasih padaku. Yang sekarang harus dilakukan adalah buktikan kau layak, buktikan kau mampu. Bukan padaku pembuktian utu, tapi lebih pada dirimu sendiri. Jangan merasa rendah diri tapi selalulah rendah hati."
Topan mengangguk mengerti. Ia selalu menyimpan dalam hati setiap apa yang dinasehatkan Kai. Baginya setiap perkataan Kai merupakan bahan renungan dan acuan bagi dirinya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bagi Topan, Kai merupakan role model di kehidupan nyata. Tentu saja setelah itu Rama dan Sita.
TBC
__ADS_1