
Hwan berjalan gontai menuju apartemen yang ia sewa selama di Indonesia. Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur king size kamarnya. Hari ini dia begitu lelah. Setelah mencari ke rumah sopir hasil dari petunjuk Mr. Sun kini ia benar-benar hilang arah. Pasalnya sopir tersebut juga tidak tahu dimana anak-anak itu berada.
" Terakhir saya mengemudikan mobil tersebut lalu kecelakaan terjadi. Saya dan nyonya itu bersama kedua anaknya masuk ke sungai. Setelah itu pun saya tidak tahu bagaimana nasib mereka. Saya sendiri setelah kecelakaan itu saya mengalami patah tulang kaki dan sekitar 5 tahun baru bisa kembali berjalan."
Hwan mengacak rambutnya dengan kasar. Ia benar-benar menemui jalan buntu untuk mencari Hee dan Hyun. Hwan mau tidak mau harus menghubungi tuannya. Tadinya ia akan menyampaikan apa yang ia kerjakan di Indonesia saat kembali ke Korea. Tapi rupanya Hwan tak lagi bisa menahannya.
" Maaf tuan malam-malam mengganggu. Saya belum bisa atau mungkin bisa dibilang tidak bisa menemukan jejak nona dan tuan muda. Semuanya tampak membuktikan bahwa Nona muda Dae Hee dan tuan muda Dae Hyun memang sudah meninggal. Tapi saya bisa menemukan bukti bahwa kecelakan yang dialami nyonya Astuti adalah hasil sabotase."
" Huft, baiklah Hwan. Kembalilah kemari jika semuanya sudah selesai. Dan untuk bukti-bukti itu, kau simpan dulu saja. Aku akan cari waktu yang tepat untuk mengungkapkan. Sekalian dengan semua keburukan mereka juga."
" Baik tuan, jaga diri tuan baik-baik selama saya tidak bersama tuan."
Sayang, ya kata itu yang mewakili perasaan Hwan terhadap Park Baek Hyun. Semenjak kedua orang tuanya tiada, Hwan sudah dianggap anak sendiri oleh Yun. Apalagi ditambah Hee dan Hyun tiada. Hwan merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi Yun dan Astuti.
" Huftt, jadi orang kaya tuh ribet ternyata. Serasa hidup jaman kekaisaran yang rebutan tahta."
Setelah menutup panggilannya, Baek Yun menuju ke kamar. Terlihat Astuti tengah asyik dengan kertas sketsa nya. Yun melihat sekilas apa yang digambar oleh Astuti.
" Cantik, apa kau benar-benar tak ingin lagi membuat desain baju?"
Astiti menggeleng. Semenjak kepergian kedua anaknya ia sama sekali tidak mau lagi mendesain baju. Astuti suka merancang baju untuk anak-anak. Terlebih saat Hee lahir, ia membuat baju-baju Hee sendiri. Memiliki anak perempuan membuatnya sangat senang mendesainnya. Bahkan banyak yang menginginkan baju-baju buatan Astuti yang dipakai oleh Hee. Dari situ Yun membuatkan sebuah toko baju untuk menjual rancangan Hee.
Namun semuanya berhenti saat kedua anaknya dinyatakan hilang dan meninggal. Toko tersebut terbengkalai karena Astuti tak lagi mendesain baju. Hal tersebut tentu memancing reaksi An Hae ibu mertua Astuti.
" Dasar wanita tidak tahu diuntung. Sudah bagus dia dibuatkan toko baju tapi malah tidak diurus. Tahu begitu mending diserahkan ke kakak atau adik iparmu, biar mereka yang mengurusnya dan pasti akan lebih berkembang."
Astuti menutup mata dan telinganya. Bukannya berempati atas meninggalnya cucu-cucunya, An Hae ibu mertua Astuti itu malah ribut dengan toko baju milik Astuti tersebut.
Ya, melihat kesuksesan toko busana anak-anak milik Astuti membuat Ha Na, Ae Ran, dan Sa Ron merasa kesal. Padahal mereka masing-masing juga memiliki usaha seperti cafe, butik, dan kopi shop. Intinya apa saja yang Astuti lakukan selalu memancing keirian dari adik dan kakak Yun.
__ADS_1
" Yeobo, sebaiknya kita ikhlaskan anak-anak kita itu. Biar mereka tenang di sana."
" Oppa, kapan kau bisa tegas dengan keluargamu. Meskipun aku tidak tahu persis apa yang terjadi, namun aku yakin semua yang menimpa aku dan anak-anakku ada sangkut pautnya dengan keluargamu. Kamu juga di perusahaan seperti tidak ada harganya."
Deg
Yun sedikit terkejut dengan ucapan Astuti. Bagaimana bisa Astuti punya pikiran seperti itu.
" Yeobo apa kau tahu sesuatu?"
Astuti sebenarnya enggan untuk mengatakan hal ini, Sungguh ia hanya ingin hidup tenang tanpa harus menyaksikan dan merasakan intrik dari keluarga suaminya. Namun sepertinya ia harus mengungkapkan apa yang selama ini dia ketahui.
Astuti beranjak dari duduknya lalu mengambil sebuah kotak dari dalam nakas. Ia mengeluarkan kotak tersebut dan membawanya kepada sang suami.
" Bukalah," ucap Astuti sambil menyerahkan kotak itu kepada Yun.
" Ini pena?"
Yun mencoba mengamati pena itu, seketika ia pun menyadari bahwa pena itu bukan pena biasa.
" Alat perekam."
Yun menekan tombol yang ada di sana kemudian suara pun mulai terdengar. Yun mendengarkan hal tersebut dengan seksama. Tangan Yun mengepal sempurna saat mendengarkan apa yang mereka katakan di rekaman tersebut.
Di rekaman itu ternyata ada suara ibu dan ketiga saudara perempuannya bersama suami mereka.
" Mengapa kau baru memberikan ini sekarang."
" Aku terlalu malas untuk berurusan dengan keluargamu. Menyandang nama Nyonya Park sebenarnya cukup membuatku tertekan. Terlebih kedua anakku sudah tidak ada. Aku hanya berharap mereka tidak mengganggumu lagi. Tapi tampaknya mereka tetap tidak puas dengan keberadaan kita."
__ADS_1
Yun membuang nafasnya kasar. Berkali-kali ia ingin melimpahkan tampuk kepemimpinan kepada keluarganya namun selalu ditolak. Tapi mereka terus mengusik Yun dan istrinya.
" Sepertinya kali ini aku harus bertindak. Sudah cukup mereka selalu berpura-pura. Mereka yang berbuat aku yang kena getahnya."
Kali ini Yun akan bertindak tegas terhadap ibu dan adik kakaknya ia tidak bisa membiarkan ini berlanjut. Jika dewan direksi tidak setuju dengan keputusan nya maka ia akan mundur hari itu juga.
Astuti hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan begitu berat. Sungguh ia hanya ingin hidup tenang di usia tuanya. Buat apa memperebutkan harta yang dia sendiri sebenarnya enggan ikut campur di dalamnya.
" Oppa, mari pulang ke indonesia. Kita hidup di sana saja dengan tenang. Serahkanlah urusan perusahaan ke keluargamu."
" Ya, sepertinya itu ide yang bagus. Aku juga lelah dengan semua rekayasa ini. Kurasa kita sudah cukup bisa hidup dengan apa yang kita miliki di Indonesia."
Yun juga bukan orang bodoh yang tidak memiliki usaha lain selain Grub Park. Di tanah air, Yun memiliki beberapa perkebunan. Ia juga belum ini membeli sebuah perkebunan karet yang dijual oleh sebuah perusahaan dengan harga yang relatif lebih murah.
Sepertinya Yun yakin akan memulai hidupnya bersama sang istri di tanah air. Ia sudah lelah dengan intrik dalam keluarganya itu.
" Yeobo, apakah tidak apa-apa jika kita tidak mendapatkan apapun dari grup Park?"
Astuti meraih kedua tangan suaminya lalu menggenggamnya dengan erat. Ia menatap lekat pria yang sudah puluhan tahun dinikahinya itu.
" Oppa, aku kesini dengan tidak membawa apapun. Maka aku juga tidak akan membawa apapun saat aku pergi. Dan jangan selalu terbebani dengan wasiat abeoji (ayah). Aku yakin mendiang abeoji bisa mengerti kenapa kita memilih mundur dari perusahaan. Aku sungguh tidak bisa melihatmu selalu dibenci ibu dan para saudarimu."
Tes
Air mata Baek Yun seketika keluar tanpa permisi. Wanita di depannya itu sungguh tulus kepadanya. Ia pun mengangguk dengan semua perkataan sang istri.
" Mari kita besok mengunjungi makan abeoji sebelum aku menyatakan mundur dari grup Park."
TBC
__ADS_1