
Berada di ruang makan kini seluruh personel Joyodiningrat. Mereka sedang memakan sarapan mereka tapi Topan tak kunjung memakan sarapan yang sudah tersaji di piringnya. Di bawah meja Topan meremass kedua tangannya. Ia tiba-tiba merasa begitu gugup. Padahal sebelumnya ia sudah pernah mengutarakan niatnya menikahi Ana. Tapi entah mengapa kali ini sungguh berbeda.
" Lhoh Pan, kok nggak dimakan nasi gorengnya? Nggak suka? Apa mau mommy bikinkan yang lain."
" Ti-tidak mom. Cukup. Topan suka kok."
Sita pun mengangguk, ia pun kembali melanjutkan memakan nasi goreng yang berada di piringnya.
" Ngomong aja pan kalau mau ada yang diomongin. Jangan diem-diem bae, jangan ditahan. Bahaya entar keluar lagi."
" Abra!!"
" Sorry yah, tapi bener kok tuh Topan ada yang mau diomongin."
Kini semua pandangan tertuju kepada Topan. Sungguh hal tersebut membuat Topan semakin deg-deg an tidak karuan. Semua seakan menanti apa yang akan Topan sampaikan.
" Begini Ayah, mom, mas, kak, Topan ingin menikahi kak Ana setelah pagelaran busana yang akan Topan laksanakan 2 minggu besok."
Krik
Krik
Krik
Semua terdiam mendengar apa yang Topan katakan. Sedangkan Topan dan Ana saling pandang. Mereka berdua sedikit heran dengan reaksi semua orang yang ada disitu. Hingga akhirnya sang ratu membuka mulutnya dan memecah keheningan yang sesaat terbentuk tersebut.
" Apakah Topan sudah yakin?"
" Topan seyakin-yakin nya mom."
" Baiklah jika begitu, lalu bagaimana acaranya."
Topan mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Kemudian Topan pun menjelaskan apa yang diminta oleh Ana untuk acara pernikahan mereka. Begitu pun Ana, ia membantu Topan berbicara.
" Baiklah jika itu yang kalian mau. Kami hanya bisa mendukung kalian."
" Terimakasih."
Topan mengucapkan terimakasih lalu bangkit dari duduknya dan memeluk semua orang di sana. Baik Rama, Sita, Akhza dan Abra sungguh terharu dengan apa yang Topan lakukan. Mereka sungguh bersyukur dengan adanya Topan di tengah tengah keluarga mereka. Tanpa mereka ketahui setiap malam Akhza dan Abra menangis mengingat kondisi saudara kembar mereka. Adik perempuan satu-satunya yang mereka sayangi itu.
" Pan jaga adik gue ya. Gue berharap banyak ke lo."
__ADS_1
" InsyaaAllaah mas. Topan akan selalu menjaga Kak Ana dengan kemampuan uang Topan miliki."
" Pan aku tahu kau pemuda baik, aku titip Ana ya."
" Baik kak. Siap."
Semua setuju mengenai pernikahan yang akan digelar kurang lebih 3 minggu lagi. Pernikahan akan dilaksanakan dengan cara sederhana. Hanya akan mengundang kerabat dan saudara.
Padahal sebagai putri satu-satunya Rama ingin membuatkan pesta meriah untuk Ana. Tapi seperti yang sudah diutarakan oleh Topan dan Ana tadi, Ana tidak menginginkan pesta itu. Toh dia hanya akan duduk di kursi roda. Ia tidak mau membuat malu keluarganya.
Ia ingin pernikahan sederhana yang penting sah secara agama dan negara. Sesaat Rama termangu. Ia kembali mengingat beberapa hal di masa lalu. Dulu saat menikahi Sita dia juga dalam kondisi yang tidak baik. Boro-boro pesta, pernikahan mereka bahkan berada di rumah sakit. Dan waktu Kai menikah, bahkan mereka tidak tahu. Putra sulungnya itu menikah sesaat sebelum ibu dari Kiran meninggal. Rama pun mengusap tengkuknya.
" Perasaan dari dulu momen pernikahan keluarga Joyodiningrat tidak ada yang dibuat pesta."
🧥🧥🧥
Di kediaman keluarga Prayitno, Kama terlihat buru-buru meninggalkan rumah. Bahkan ditanya kedua orang tuanya pun Kama acuh.
" Mau keman anak itu pagi-pagi begini, bahkan sampai melewatkan sarapan."
" Entah mas, mungkin dia ada urusan."
Di dalam mobilnya Kama langsung menyalakan dan menekan pedal gasnya dalam. Dari semalam pikirannya tertuju kepada Ana. Bahkan ia memimpikan Ana. Dalam mimpinya Ana bisa berjalan dengan normal. Ia mengenakan gaun yang sangat cantik. Tangannya mengulur seakan menunggu seseorang untuk menyambutnya. Kama tersenyum dan ingin meraih tangan gadis itu namun senyumnya seketika sirna saat seorang pria langsung merangkul mesra pinggang Ana bahkan menciumnya tepat didepan matanya.
Dalam mimpinya itu Ana kemudian berjalan menjauh meninggalkan Kama bersama pria itu.
" Tidak An, tidak! Kamu tidak boleh meninggalkanku. Aku sungguh tidak bisa melepaskan mu An. Sungguh."
Kama semakin kencang melajukan mobilnya. Tujuannya adalah rumah Ana. Ya, Kama ingin menemui Ana pagi ini. Ia sungguh tidak ingin terlambat.
Setelah berkendara sekitar kurang lebih satu jam, Kama pun menghentikan di halaman rumah Ana. Ia melihat sekeliling dan sedikit bernafas lega karena mobil saudara kembar Ana sudah tidak ada di sana. Hal tersebut menegaskan bahwa Akhza dan Abra sudah berangkat ke perusahaan. Namun tetap saja ia belum merasa tenang karena pastilah di rumah ada kedua orang tua Ana.
Berada di depan pintu Kama mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Pria itu sungguh mengatur hati dan dirinya untuk kembali menemui Ana. Saat Kama hendak mengetuk pintu rupanya pintu rumah tersebut sudah dibuka terlebih dulu.
Dari dalam keluar Ana bersama dengan Topan. Meski tanpa make up Ana sungguh sangat cantik. Kama sesaat terpesona dengan wajah Ana. Tapi Ana sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan Kama. Gadis itu bersikap biasa.
" An, apa kabarmu?"
" Alhamdulillaah baik, sangat baik."
" Bisakah kita berbicara sebentar."
__ADS_1
" Silahkan."
Sikap Ana yang begitu dingin kepada Kama membuat pria itu sangat canggung. Ia menjadi bingung harus berkata apa. Tapi ia harus mengucapkan sesuatu agar ada alasan untuk sedikit lama bersama dengan gadis itu.
" Bisakah kita bicara berdua."
" Tidak ada yang aku tutupi dari Topan. Jadi bicaralah sekarang atau tidak sama sekali."
" Huft baiklah An. An, bentar lagi aku sidang. Setelah aku sidang a-aku ingin kita kembali seperti dulu."
Suasana menjadi hening sesaat. Topan sungguh menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Ana. Sedangkan Ana, gadis itu sudah mantap dengan pilihan hatinya. Ia sungguh sangat mengerti apa yang hatinya mau sekarang ini.
" Hahahah, kau sedang tidak melawak kan mas. Kembali? Yang benar saja. Why now, why not from yesterday. But i'm Sorry, aku tidak bisa kembali bersama mu. Jika kau hanya akan membicarakan ini maaf aku harus segera pergi."
Ada sebuah kelegaan dalam diri Ana saat menolak keinginan Kama bersama kembali. Ia sungguh merasa plong, begitu juga dengan Topan. Ia sungguh sangat senang saat Ana menolak Kama. Tapi tidak dengan Kama. Pria itu sungguh gusar.
" An tunggu!"
Kama memegang kursi roda Ana, dan membuat Ana terhuyung dan hampir jatuh. Tentu saja Topan tidak terima melihat hal tersebut.
" Jaga sikap mu Mas Kama."
" Heh, Topan aku pikir kau terlalu ikut campur dalam urusan Ana."
" Kak Ana adalah tanggung jawabku. Singkirkan tanganmu dari sana."
Kama melepaskan tangannya dari kursi roda Ana, tapi bukannya pergi kama malah melayangkan sebuah tinjuan ke wajah Topan.
Bugh
Bruk
Topan terjatuh dan Ana berteriak histeris.
" Topan!!! Kau sungguh keterlaluan Mas Kama."
Melihat wajah khawatir Ana, Topan pun segera berdiri. Terdapat darah di sudut bibir pria tersebut. Rama yang mendengar teriakan Ana segera keluar dan melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya pria paruh baya itu saat Kama hendak menyerang Topan lagi.
" Hentikan!!!"
TBC
__ADS_1