Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 33. Sifat Asli Kama?


__ADS_3

Rama sungguh terkejut melihat apa yang terjadi di depan matanya itu. Kama terlihat sedang berusaha hendak menyerang Topan. Dimana Topan terlihat sedikit meringis karena sudut bibirnya berdarah.


" Apa yang akan kau lakukan kepada anak-anakku. Tidak cukupkah keluargamu menghina putri ku terang-terangan."


Glek


Kama menelan saliva nya dengan susah payah mendengar suara dingin ayahnya Ana. Kama pun kembali menarik tangannya yang sudah menjulur hendak memukul Topan.


" Jika ada yang ingin dibicarakan, bicarakanlah baik baik. Jangan gunakan kekerasan."


" Maaf Om Rama saya permisi dulu."


Kama langsung pergi bahkan tanpa meminta maaf kepada Topan. Ana sungguh menyayangkan sikap Kama. Baru kali ini ia melihat Kama berbuat seperti itu, atau memang seperti itulah sifat asli Kama? Sungguh Ana tidak habis pikir.


" Pan, apakah baik baik saja. Mau diobati dulu?"


" Nggak usah yah, takut kak Ana terlambat buat fisioterapi."


Rama mengangguk  dalam hati pria paruh baya itu merasa sedikit kasian dengan Topan yang sepertinya tidak pernah istirahat dengan benar. Pagi menemani Ana melakukan fisioterapi siang akan ke studio hingga malam.


Pernah baik rama, Sita, dan saudara kembar Ana meminta Topan untuk libur mengantar Ana tapi Topan menolak. Anak itu malah berkata bahwa kasian Abra dan Akhza sudah sibuk di kantor dan Rama juga Sita sudah tua. Meskipun begitu Rama dan Sita terkadang ikut menemani fisioterapi Ana. Hanya memang hari ini karena keduanya ada urusan sehingga tidak ikut mendampingi  Ana.


" Maafin ayah ya An, Pan, Ayah nggak bisa menemani kali ini."


" Nggak pa-pa yah, Kak Ana sudah ada Topan. Ayah sama mommy kan ada kepentingan yang nggak bisa ditinggalin."


Topan dan Ana mencium tangan Rama dan berpamitan setelahnya. Rama sungguh merasa bersalah karena tidak bisa mengantarkan Ana untuk fisioterapi. Pria paruh baya itu kembali masuk ke rumah dan menemui istrinya yang sedari tadi di kamar mandi.


“ Sudah mules-mulesnya?”

__ADS_1


“ Sudah, maaf. Tadi ada apa kok kayak ada tamu.”


“ Huft, tadi Kama datang. Tidak tahu apa yang dibahas tapi tiba-tiba Kama mukul Topan."


Sita tentu saja terkejut dengan apa yang diceritakan oleh sang suami. bagaimana bisa Kama berani memukul Topan di kediamannya.


“ Huftt, aku rasa Kama ini bukan pria yang baik mas. Kemarin orang tuanya jelas-jelas menolak Ana dan Kama tidak bisa mempertahankan Ana. Pria itu menghilang dan datang-datang memutuskan hubungan dengan Ana tanpa memperjuangkan Ana dulu. Aku pikir dulu mungkin orang tua Kama tidak benar-benar tulus menerima Ana."


“ Entahlah sayang. Dulu aku merasa begitu berat melepaskan Ana menikah dengan Kama hingga peristiwa ini terjadi dan kita diperlihatkan sifat asli keluarga tersbut. Mungkin Allah sedang memberi kita petunjuk.”


Kedua orang tua itu sedikit merenung dengan apa yang terjadi di hidup putrinya. Jujur Rama sendiri tidak bisa membayangkan jika Ana menikah di keluarga yang tidak tulus menyayanginya, mungkin Ana hanya akan disia-siakan. Bukannya bersyukur dengan kecelakaan yang menimpa Ana, akan tetapi Rama yakin dibalik setiap peristiwa pasti akan ada hikmah atau pelajaran.


Diperjalanan pulang Kama terus merutuki dan memaki dirinya dengan apa yang sudah ia perbuat. Bisa-bisanya ia memukul wajah Topan. Meskipun bukan anak kandung keluarga Joyodiningrat namun Topan merupakan bagian keluarga tersebut. Dan bodohnya lagi Kama lupa meminta maaf.


“ Arghhh!!!!! Sial, brengsek. mengapa aku kelewatan gitu sih. Kenapa juga harus mukul Topan."


Kama memukul-mukul setir kemudinya. Sungguh ia kesal terhadap dirinya sendiri. Kama pun berpikir bahwa dia akan meminta maaf nanti saat kembali datang ke rumah Ana.


Brigitta yang tengah sibuk 'menghancurkan' pagelaran busana yang akan dilaksanakan Topan tersenyum puas. Hari ini dia sudah memberikan hasil desainnya kepada para penjahitnya. Brigitta tersenyum puas. Meskipun sedikit mengganjal namun ia tetap melakukan apa yang sudah jadi kemauannya. Sungguh ambisinya mengalahkan jalan pikirannya yang sedikit masih sehat.


Brigitta sungguh tidak sabar melihat wajah pias Topan saat baju-baju yang didesain olehnya terlebih dulu diluncurkan oleh orang lain.


" Kita lihat saja kalian, aku yakin setelah ini kalian semua akan hancur. Sungguh kalian salah memilih lawan. Bukan hanya kau Topan yang tidak pantas di dunia fashion desain tapi juga wanita lumpuh itu. Dia sungguh tidak pantas bersanding dengan Fandi. Sekali lagi Fandi hanya untukku. Aku akan lihat bagaimana kehancuran kalian berdua. Yang satu hancur karirnya di dunia fashion, yang satu hancur hatinya karena pria yang dicintainya menjadi milikku."


Risa yang tidak sengaja mendengar gumaman Brigitta sungguh terkejut. Selama sebulan kemarin Risa pikir Brigitta sudah berhenti mengganggu Topan, tapi rupanya apa yang dipikirkannya salah. Temannya itu sungguh masih ingin menjatuhkan Topan.


" Bri, apalagi yang kau lakukan? Bri jangan-jangan kau juga yang merusak studio anak itu?" cecar Risa.


" Tck, jangan bicara omong kosong. Memangnya ada buktinya kau bicara begitu. Jangan asal tuduh. Aku tidak melakukannya?" elak Brigitta.

__ADS_1


Risa mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Entah apa yang ada  di otak wanita di depannya itu sehingga dia bisa berbuat seperti itu.


" Bri, cukup!!! Jangan kau jadi diluar kendali dengan apa yang kau obsesi kan!"


" Ris … lo nggak tahu apa yang gue rasain?"


" Bri, lo udah dapet Kama atau Fandi. Apalagi yang lo mau. Bukankah itu tujuan utama lo. Lo udah berhasil tidur dengan pria itu. Lo udah ngasih kehormatan lo buat dia. Sekarang tinggal lo tunjukin cinta tulus lo dan stop buat nyakitin orang-orang yang nggak salah Bri."


Bukannya sadar dengan dan mengerti apa yang diucapkan oleh temannya, Brigitta malah semakin marah. Tatapan matanya nyalang saat Risa mengatakan hal tersebut kepada dirinya.


" Jangan campuri urusan pribadi gue Ris. Lo cukup kerja dan urusin apa yang lo perlu urusin!"


" Terserah lo Bri. Gue udah ingetin lo. Jangan sampai lo nyesel dengan apa yang lo perbuat. Gue ngomong gini karena lo temen gue. Gue sayang sama lo. Jangan sampai apa yang sudah lo perjuangin bertahun-tahun ini hancur gara-gara sebuah obsesi."


Brakkk!!!


Risa keluar dari ruangan Brigitta dengan membanting pintu. Semua orang terkejut dengan ulah Risa. Ya, Risa satu-satunya orang yang bisa berbuat seperti itu kepada Brigitta. Para karyawan yang melihat pun hanya diam tanpa berani bicara apapun. Jangankan bicara, menatap lebih lama saja mereka tidak berani. Mereka memilih untuk menunduk dan melanjutkan pekerjaan. 


Sedangkan Risa, mood wanita itu sudah hancur untuk kembali bekerja. Dia memilih untuk pergi dari butik milik bRigitta tersebut dengan mobilnya.


Brummmmm


Risa melajukan mobilnya sedikit lebih cepat. Dia benar-benar sangat kesal kali ini.


" Bodoh!! Bodoh!!! Lo beneran bodoh Bri. Lo bodoh! Apa sih yang lo harepin dari pria seperti itu. Pria yang nggak bisa mempertahankan cinta nya. Pria yang selalu tidak punya pendirian itu."


Bukannya posesif terhadap Brigitta, Risa yang memang berteman lama dengan Brigitta semasa menempuh pendidikan tahu persis perjuangan Brigitta hingga titik ini. Brigitta sebenarnya adalah wanita yang baik. Dia bahkan tidak sungkan membantu orang yang membutuhkan. Tapi kejadian penolakan keluarga Kama menjadikan Brigitta wanita yang ambisius.


" Bri, gue harap mata lo segera kebuka. Gue harap lo nggak nyesel nantinya." Doa Risa tersebut begitu tulus terhadap sang teman. 

__ADS_1


TBC


__ADS_2