Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 64. Satu-satunya Cara


__ADS_3

Kama tergelak saat melihat seorang wanita yang memakai gamis dan jilbab lebar tengah memandangnya tajam. Dia tahu itu adalah kakak ipar Ana, istri dari Kai. Tapi tentu saja dia tidak takut sekarang. Apa yang harus ditakutkan saat menghadapi seorang wanita yang bahkan tinggi badanya sangat jauh dengan dirinya itu.


“ Ya ampun kakak ipar. Kupikir siapa tadi. Tapi kakak ipar mau apa ya hahaha.”


Ya orang tersebut adalah Kiran. Saat Rama mengejar Ana, Kiran baru saja hendak masuk ke pekarangan rumah ayah dan ibu mertuanya tersebut. Melihat Sita yang panik akhirnya Kiran menurunkan kedua anak kembarnya dan memutuskan untuk mengejar Kama.


“ Tck sungguh aku tidak sudi dipanggil kakak ipar oleh pria sepertimu. Lagian kau juga bukan adak iparku.”


Kama menggertakkan gigi-giginya. Ia sungguh tidak suka dengan apa yang Kiran ucapkan.


“ Tck,terserah. Sekarang pergi dari hadapanku sekarang juga. Kau sungguh menghalangi jalanku.”


“ Enak saja, berikan adikku terlebih dulu.”


“ Tidak akan.”


Kama membalikkan badannya dan hendak masuk kembali ke dalam mobil. Akan tetap dengan digap kiran menutup pintu mobil Kama. Istri Kai itu tersenyum sinis.


“Jangan harap bisa pergi sebelum aku bisa mengambil Ana dari mobilmu.”


“ Jangan memaksaku berbuat kasar kakak ipar.”


Kama berusaha membuka pintu mobilnya akan tetapi sungguh ia tidak bisa. Kiran mencekal pintu itu dengan kuat. Pria tersebut benar-benar marah. Ia harus segera membawa Ana pergi sebelum anggota keluarga Joyodiningrat yang lain menyusul.


“ Kau benar-benar membuatku marah. Aku tidak akan sungkan lagi menghajar mu!”


“ Oh benarkah.? Hiiiih takuuut!”


Kama semakin marah melihat ekspresi mengejek Kiaran. Dia mengumpat kasar dan mulai melayangkan sebuah bogem kearah Kiran.


Plek


Kepalan tangan Kama berhasil ditangkap oleh Kiran. Kama tentu terkejut, bagaimana respon wanita itu bisa sangat cepat.


Tanpa banyak berpikir dan karena dipenuhi oleh rasa marah Kama berusaha melayangkan tinju ke arah Kiran. namun semuanya bisa ditangkis oleh Kiran. kam terlihat kelelahan.


“ Baiklah, sekarang giliran ku.”

__ADS_1


Bugh


Sebuah pukulan tangan kecil Kiran meluncur ke perut Kama. Uhuk, Kama terbatuk. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Bagaimana mungkin tangan kecil Kiran bisa membuatnya tak berdaya seperti itu. Kama berusaha menegakkan tubuhnya kembali dan berisap menyerang Kiran. Namun belum juga berhasil mengepalkan tanganya, kini kepala Kama sudah mendapatkan jejak sepatu Kiran hasil tendangan berputar wanita berhijab itu.


Duagh


Keluar darah dari sudut bibir Kama. Kiran menyeringai. Sedangkan Ana tentu tersenyum lebar. Kama benar-benar tidak tahu bahwa kakak ipar Ana itu pemegang sabuk hitam dan sampai sekarang Kiran masih suka berlatih. Bahkan Kaivan dan Kieran, anak kembar Kiran dan Kai sudah mendapat pelajaran tersebut dari umi mereka semenjak berusia 4 tahun.


“ Dek, kamu nggak apa-apa.”


“ Gak pa-pa kak. Maaf merepotkan Kak Kiran. Jangan bicara begitu.”


Saat Kiran hendak mengeluarkan Ana dari dalam mobil bahu Kiran dicengkeram keras oleh Kama. Kiran sedikit meringis namun detik berikutnya tangan tersebut sudah terlepas dan berganti suara erangan kesakitan dari mulut Kama.


“ Berani-beraninya kau menyentuh istriku!! Kau benar-benar minta mati hah!”


Bugh


bugh


Kama kali ini benar-benar babak belur lebih parah dari kemarin. Kai lebih kalap ketimbang Topan. Abra bahkan harus memeluk tubuh sang abang untuk menenangkan kai. namun ternyata tidak berhasil. kaki Kai masih bisa menjangkau Kama.


“ Bang, aku gak apa-apa. Anak orang bisa mati itu. Aku tadi udah menghajar nya lho.”


greb


Kai memeluk sang istri dengan erat. Sungguh ia sangat takut. Apalagi tadi mommy menulis chat ke grub keluarga bahwa Kiran mengejar Kama yang membawa Ana dengan mengendarai mobil sendiri. kai benar-benar takut istrinya kenapa-napa.


“ Ra, Za bawa bajingan itu ke kantor polisi. pastikan hingga 10 tahun ke depan bajingan itu akan mendekam di jeruji besi.”


Akhza dan Abra mengangguk menuruti perintah sang abang. Topan yang baru saja datang karena lokasi dia paling jauh langsung memeluk Ana. Ia mengucapkan maag berkali-kali.


“ Bang, Kak Kiran, maafin aku ya.”


“ Sudah bukan salahmu. Pria bajingan itu yang salah.”


Kai menjawab datar. Ia sudah kembali tenang saat mengetahui sang istri baik-baik saja. Kai mendengus pelan, Ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Kama tersebut.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Agus dan Rima tentu saja terkejut saat mendengar kabar bahwa Kama berada di kantor polisi. Keduanya bergegas ke sana. Agus terlihat sangat marah dengan pa yang sudah dilakukan oleh sang putra. Sedangkan Rima, wanita itu sedikit merasa sesal. Ada rasa bersalah yang meliputi hatinya melihat sang putra yang tidak berdaya tersebut.


“ Maafkan mami ya nak.'


“ Telat! Semua sudah hancur! hidupku hancur karena kesombongan kalian!”


Kama berteriak frustasi kepada kedua orang tuanya itu. Rima tak kuasa menahan tangis. bagaimana bisa putra semata wayangnya itu harus berakhir di penjara.


“ Pa, ayo pergi ke keluarga Joyodiningrat dan meminta maaf. minta mereka untuk mencabut laporan kepada Kama.”


Agus terdiam, di satu sisi ia memang harus melakukan itu namun disisi lain ia sungguh enggan. Ego pria itu benar-benar tinggi. Bukannya menjawab ajakan sang istri agus memilih untuk pergi dari sanaa.


“ See, lihatlah kesombongan pria itu!”


Kama berteriak kembali. Mungkin berada di penjara akan lebih baik daripada tinggal di rumah.


Rima hanya bisa terisak. Ia kemudian menguap kepala Kam namun oleh Kama di tepis. Ia bahkan memalingkan tubuhnya. sungguh ia tidak ingin melihat kedua orang tuanya itu.


“ Hancur, hidupku hancur sudah arggghhhhh!!!!”


Rima berjalan keluar dengan tubuh yang terhuyung. Dia mengingat kembali hal-hal yang ia lakukan kemarin. Menghina Ana, mengacuhkan Brigitta bahkan tutup mata saat Brigitta keguguran karena ulah Kama. Ia juga mengatakan dengan nada mengejek saat membahas asal usul Brigita yang seorang yatim piatu.


Rima merecord mulut tajamnya saat menyakiti hati wanita-wanita yang pernah berada di sisi sang putra.


“ Aku berdosa. Aku sungguh berdosa kepada anak-anak itu. Hiks hiks.”


Lagi dan lagi, penyesalan pasti terjadi dibelakang. Rima sungguh menyesal dengan apa yang pernah ia perbuat. Namun semuanya tentu sia-sia belaka. Tidak akan ada yang berubah sekarang. 


“ Allu apa yang harus aku lakukan. Apakah Kama masih bisa keluar dari tempat ini.”


Tuduhan kali ini lumayan berta. penculikan, tentu saja proses hukum yang akan dijalani Kama tidak mudah. Terlebih keluarga Joyodiningrat telah memberikan semua bukti dan saksi saat membuat laporan dan menyerahkan Kama.


" Aku harus membujuk Mas Agus untuk meminta Maaf kepada keluarga Ana. Ya, itu adalah satu-satunya cara agar Kama bebas, atau paling tidak hukuman Kama lebih ringan.”


Rima bergegas mencari sang suami. ia benar-benar harus melakukan hal tersebut untuk putranya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2