
Ana kembali tertidur saat diberi obat penenang kembali. Topan, Rama, dan Sita duduk di sofa dalam ruang rawat tersebut. Topan sungguh tidak mengerti apa yang menyebabkan Ana berteriak histeris seperti itu. Tadi pagi saat ia tinggalkan Ana masih tampak tenang dan biasa biasa saja.
Topan pun menanyakan kepada ayah dan mommy nya. Rama akhirnya menjelaskan mengapa bisa Ana berlaku seperti itu. Topan terkejut mendengar cerita Rama. Ada rasa sesal dalam hati Topan. Jika saja tadi dia tetap menjaga Ana dan tidak meninggalkannya mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi. Saat ini bukan waktunya untuk menyesali tapi bagaimana caranya agar Ana bisa menerima dan bersemangat untuk pulih.
" Yah, mom, apa keluarga Mas Kama tidak berkunjung?"
Rama membuang nafasnya kasar mendengar pertanyaan Topan. Raut muka ayah 5 anak itu berubah menjadi muram. Topan pun menutup mulutnya, karena sepertinya pertanyaannya sungguh tidak tepat.
" Entah Pan, ayah sungguh nggak ngerti sama keluarga Kama. Masa Ana di rawat mereka nggak ada itikad buat ngejenguk. Huft!"
" Mas, sudah. Mungkin mereka sibuk. Berbaik sangka saja ya."
Sita menenangkan sang suami yang tengah dilanda emosi. Meskipun begitu, Sita juga merasa heran mengapa kedua orang tua Kama sama sekali tidak datang. Bahkan sekedar menanyakan kondisi melalui chat atau telpon pun tidak.
Melihat kegelisahan di wajah ayah dan mommy nya, Topan berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia mengatakan niatnya untuk menjaga Ana. Hal tersebut mendapat tatapan dari kedua orang tua yang ada di depannya.
" Lalu pekerjaan mu?"
" Sementara Topan hanya akan menyelesaikan pesanan dan membuat baju baju yang sudah pernah launching. Topan akan off dulu menerima pesanan baru."
Sita menghembuskan nafasnya dengan berat. Merawat Ana dalam kondisi seperti sekarang sungguh tidaklah mudah. Pasti emosi putrinya itu juga tidak akan stabil, bahkan bisa lebih meluap luap. Sita takut Topan akan hanya makan hati jika menghadapi Ana.
" Tapi nak, kakak mu tidak seperti dulu lho."
" Topan tahu, kecuali Mas Kama benar benar mau merawat Kak Ana maka Topan akan membiarkannya."
" Maaf sepertinya putra kami tidak bisa melakukan itu."
Sebuah suara lantang membuat tiga orang yang tengah duduk dan berbicara terkejut. Bahkan ketiganya langsung berdiri di sana.
" Maksud Anda apa yang Pak Agus?"
__ADS_1
" Maaf Pak Rama, sepertinya kami tidak bisa meneruskan rencana pernikahan antara Ana dan Kama. Saya tidak mungkin membiarkan putra satu satunya kami menjadi perawat bagi putri Anda. Dia lumpuh, dan kapan alan bisa kembali berjalan tidak ada yang tahu. Jika Kama merawat Ana berarti dia harus menikahi Ana dulu bukan, dan akami tidak setuju."
" Jaga bicara Anda tuan Agus Prayitno. Berani sekali Anda berbicara seperti itu kepada putri keluarga Joyodiningrat. Jika Anda memang tidak berkenan meneruskan hubungan ini maka cukup katakan selesai. Tidak perlu berbelit. Silahkan keluar, kami tidak butuh perhatian dari Anda."
Agus dan Rima keluar dengan muka merah padam. Ucapan anak tertua dari Sita sungguh membuat mereka geram. Namun mereka tidak berani membalas satu patah kata pun. Kai yang baru datang sungguh marah dengan ucapan kedua orang tua Kama. Ia tentu tidak terima Ana dikatai seperti itu.
Sita kemudian menghampiri putra sulungnya dan mengusap dada Kai, agar putranya itu tenang.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
" Semua orang akan menjauhi ku. Aku cacat. Aku gadis lumpuh."
Suara tangisan Ana membuat semua orang terkejut, ternyata Ana mendengar semua ucapan kedua orang tua Kama. Sungguh hatinya begitu sakit. Ia merasa ditolak mentah mentah. Topan pun langsung berlari menghampiri Ana. Diraihnya tangan Ana lalu digenggamnya.
" Nggak kak, kita nggak akan jauhi kakak. Kita akan selalu ada di samping kakak. Kita selalu menyayangi kaka."
" Benar An, kakak, mas, abang, ayah, dan mommy akan selalu menyayangimu dan bersamamu apapun keadaan kamu."
Triplet, ya kata yang sudah lama tidak terucap kini terucap kembali. Triplet kini tengah saling menguatkan. Sita menangis pilu, namun ia bersyukur anak anaknya saling menyayangi satu sama lain.
Akhza dan Abra mengurai pelukan mereka. Kedua nya tahu Ana sebenarnya masih belum boleh banyak bergerak. Terlebih Ana baru saja sadar.
" Apa Mas Kama bakalan ninggalin aku mom?"
Pertanyaan Ana membuat hati Sita teriris. Inilah yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah. Bukan hanya sita tapi semua pria di sana merasa sakit mendengar pertanyaan lugu dari anak perempuan satu satunya keluarga tersebut.
Sita mendekat lalu mengusap kepala sang putri. Mata hazel Sita menatap lurus menerobos mata Ana. Ada sebuah kesedihan di sana, ada sebuah pengharapan yang menggantung di sana.
" Sayang, tunggu Kama datang dan nanti Ana bisa tanyakan langsung kepada nya. Jika kama benar mencintaimu maka dia akan memperjuangkan mu. Akan tetapi sebuah hubungan tanpa restu orang tua juga bukanlah hubungan yang baik. Kita berdoa saja ya nak semoga hati kedua ornag tua Kama dilembutkan."
" Sayang, putrinya ayah yang paling cantik karena memang hanya satu hehehehe, yang terpenting saat ini Ana harus semangat. Ana tidak boleh putus asa. Dokter bilang adek akan sembuh dan kembali seperti semula. Jadi mari sama sama semangat untuk sembuh."
__ADS_1
Rama mencium kening putrinya. Ia mencoba kuat padahal ingin sekali rasanya ia menangis saat putrinya tidak diinginkan seperti tadi. Sedangkan Kai sungguh ia sangat marah ingin sekali ia membuat keluarga itu jatuh sejatuh jatuhnya.
Pria yang memiliki mata persis sama dengan mommy nya itu mengepalkan tangannya kuat hingga buku buku nya memutih. Namun sentuhan Rama membuat Kai melemah. Ia melonggarkan kepalan tangannya.
" Jangan berbuat yang macam macam dulu. Tidak segala hal diselesaikan dengan cara seperti itu nak. Ingat jangan mendendam. Ayah selalu menekankan itu padamu dan adik adik mu. Saat ini kita fokus saja pada kesembuhan adikmu."
Kai menatap wajah ayah nya itu. Ayah yang selalu tahu apa yang ada dalam pikirannya. Rama pun mengangguk kecil dan membuat Kai membuang nafasnya secara perlahan. Si sulung itu mengangguk menandakan ia setuju dengan ucapan sang ayah.
Kini semuanya kembali berbincang santai. Seperti biasa Topan yang tadi izin keluar sudah kembali dengan tangan yang penuh dengan makanan. Kakak dan kedua orang tuanya sungguh senang terlebih apa yang dibeli Topan adalah makanan yang berbeda dan kesukaan setiap anggota keluarga.
" Woooh Pan, thanks my bro. Kamu selalu ngerti ini adalah jam rawan orang lapar," celetuk Abra.
" Ini udah sore kali mas, jam rawan dari mana?" sahut Topan.
" Jam rawan karena siang tadi belum kena makanan apapun," jelas Akza tentang maksud adik kembarnya.
Rama dan Kai hanya menggeleng pelan. Topan pun mempersilahkan mereka untuk makan sedangkan dirinya kembali duduk di samping Ana.
" Jadi pengen kebab."
" Eh, belum boleh ya kak. Kakak baru ge sadar. Ntar deh kalau udah boleh aku beliin yang banyak."
" Bener?"
" Iya bener, janji. Yang penting sembuh dulu ok?"
Ana mengangguk, gadis itu tersenyum. Interaksi Topan dan Ana tentu tidak terlepas dari pandangan anggota keluarga yang lain. Jika Rama, Sita, dan Kai sudah tidak heran lain dengan Akhza dan Abra. Kedua pria itu memicingkan mata mereka lalu saling pandang seakan akan mengerti maksud satu sama lain.
" Kok malah kayak orang pacaran sih?" celetuk Abra yang hanya direspon dehaman kecil dari Kai.
TBC
__ADS_1