
Pagi hari Topan akan mengantar Ana ke rumah sakit untuk fisioterapi. Sedangkan siang ia akan ke studio, Topan juga akan ke rumah Amar untuk memeriksa pekerjaan para penjahitnya yang berada di rumah Amar tersebut. Dan, saat ini Amar berada di rumah Amar. Ia memastikan bahwa kain kain yang dijahit itu sesuai dengan rancangannya. Bahkan Topan sendiri yang membuat pola-polanya. Makanya ia pulang larut semalam.
" Gimana semua aman?"
" Aman bang."
Penjahit Topan yang berjumlah 7 orang itu menjawab serempak. Topan pun tersenyum lebar. Ia juga membawakan makan siang untuk para pekerjanya tersebut.
" Bang, apakah ini nanti akan di payet atau di bordir?"
" Kita akan payet nanti, makanya kalian kerjanya yang semangat biar cepet selesai. Tapi jangan sembarangan ya."
" Siap Bang Topan!"
Perangaian Topan yang baik dan sabar membuat para karyawan nya begitu nyaman bekerja dengannya. Jadi meskipun tidak mengejar mereka untuk menyelesaikan jahitan, mereka dengan sendirinya melakukannya tepat waktu. Bahkan mereka berusaha menyelesaikan secepatnya.
" Bang kok yang gambar itu tidak di buat?"
Salah seorang penjahit menanyakan sebuah sketsa design yang tidak mereka kerjakan. Mereka sedikit heran karena Topan menginginkan semuanya cepat selesai tapi yang satu itu tidak dikerjakan.
" Oh itu? Itu aku akan kerjakan sendiri. Jadi kalian tenang saja."
Mereka mengangguk mengerti. Tanpa diberitahu, para penjahit itu sudah paham bahwa rancangan itu pasti untuk seseorang yang spesial.
Akhirnya hari ini Topan tidak berangkat ke studio. Ia memilih berada di rumah Amar untuk mengerjakan bagiannya. Kebetulan juga hari ini dia tidak ada janji temu klien. Semua ia padatkan di hari kemarin.
Amar yang melihat Topan tengah sibuk hanya menyapa sejenak. Ia tidak ingin menganggu apa yang temannya itu lakukan. Amar sangat tahu jika Topan tengah serius dalam mengerjakan sesuatu makan pria itu akan benar benar fokus.
Tapi Amar sedikit heran dengan rancangan Topan kali ini. Biasanya Topan membuat baju baju tersebut jika ada yang memesannya saja. Tapi kali ini Topan berinisiatif untuk membuat sendiri dengan design yang tampak khusus. Apalagi yang saat ini dikerjakan oleh Topan sendiri. Sungguh itu tampak luar biasa dan terlihat begitu spesial.
" Pan, bener kamu mau launching ini?"
" Yups Mar. Aku yakin."
" Sungguh bukan seperti biasanya."
" LS Bridal, aku ingin membuat baju baju pengantin terinspirasi dari permintaan kak Ana. Kau tahu kan Kak Ana pernah memintaku membuatkannya gaun dan kebaya nikah. Aku akan wujudkan itu, dan sisanya aku akan meluncurkannya sebagai LS Bridal."
__ADS_1
Amar mengerutkan keningnya. Kalau dia tidak salah dengar waktu itu, dan memang cerita Topan benar bukankah Ana tidak jadi menikah dengan kekasih nya.
" Tapi bukannya~"
" Aku yang akan menikahinya."
" Apa???"
Amar tentu saja terkejut denqqgan pernyataan Topan. Saking terkejutnya bahkan Amar sampai terjengkang mendengar hal itu. Amar menanyakan kembali apa yang ia dengar dan Topan mengucapkan hal yang sama sehingga membuat Amar yakin.
Kini Amar baru paham bahwa selama ini perhatian dan sikap Topan ke Ana itu adalah wujud cinta dan kasih dari seorang pria ke wanitanya. Bukan hanya sekedar adik ke kakak.
" Apa kau tidak masalah dengan keadaannya?"
" Tentu saja tidak, malah aku semakin mencintainya. Aku ingin segera menikahinya malah."
" Baiklah, aku mendukungmu. Semoga kau bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah."
Topan meng-aamini doa sang teman. Ia tersenyum, senyuman yang begitu bahagia. Topan sungguh tidak sabar menunggu dua minggu lagi.
🧥🧥🧥
" Waah kayaknya lagi seneng nih, ada kabar apa yang membuatmu begitu senang itu? Hingga senyummu begitu lebar."
Kama memeluk sang ibu lalu menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja Rima sangat senang. Dengan begitu Rima bisa membujuk Kama untuk segera menikahi Brigitta. Tanpa Kama tahu Brigitta ternyata menceritakan hubungan mereka kepada Rima. Bahkan sampai tahap mereka bercinta pun Brigitta ceritakan. Entah wanita itu punya malu atau tidak tapi seperti itulah keadaannya.
Alih-alih marah, Rima malah senang. Menurutnya dengan hubungan putranya dan Brigitta akan membuat Kama semakin menjauh dari Ana dan melupakan gadis itu.
" Jadi, apa yang akan kau lakukan setelahnya?"
" Apa lagi mam, mengembangkan bisnis papi tentunya."
" Lalu bagaimana dengan menikah?"
Kama membuang nafasnya kasar. Kata kata Rima tentu memiliki arti yang tersirat di dalamnya.
" Mam, jangan memintaku untuk segera menikah. Aku tahu apa yang mami mau."
__ADS_1
Kama melenggang menjauhi Rima. Ia kemudian masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan begitu keras.
Brakkk
Rima sungguh terkejut. Wanita paruh baya itu tetap masih khawatir jika sang putra kembali mengejar Ana. Gadis lumpuh yaang menurutnya tidak cocok menjadi menantu kelurga ini.
" Aku harus memikirkan cara agat Kama segera menikahi Brigitta agar tidak lagi mengingat Ana."
Lain Rima lain pula Kama. Saat ini Kama tengah memegang ponselnya. Ia menimbang apakah akan menghubungi Ana atau tidak. Tapi Kama benar- benar penasaran dengan kabar terkini Ana.
Kring ... Kring ...
Kama menekan nomor Ana ia ingin menelpon namun seketika ia mematikannya. Ia masih belum siap berbicara dengan Ana. Akhirnya Kama memilih untuk mengiriminya pesan.
Kama bolak balik mengecek ponselnya namun tak juga mendapat balasan. Sudah hampir 30 menit tidak ada rekasi di ponselnya.
Tring
Suara notifikasi pesan terdengar. Kama buru-buru membalas. Terlihat nama Ana di sana. Kama tentu saja senang, Ana masih mau membalas pesannya meskipun butuh waktu yang lama. Namun rasa senang itu hilang saat ia membaca isi pesan tersebut.
Maaf, Kak Ana sedang istirahat. Dia tidak bisa membalas pesan mu.
Kama mengepalkan tangannya erat. Ia tahu itu pasti Topan. Tanpa tahu diseberang sana Ana masih duduk di taman samping rumah bersama Topan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
" Apa tidak apa-apa aku yang membalasnya kak," ucap Topan.
" Lalu, kamu mau aku yang membalasnya? Memangnya kamu suka jika calon istrimu berbalas pesan dnegan mantan pacarnya," jawab Ana.
" Calon istri? Apa Kak Ana setuju dengan permintaanku? Apa Kak Ana benar-benar mau menikah dengan ku?"
" Ya mari kita menikah, tapi aku punya satu syarat."
Topan mendengarkan apa yang jadi syarat Ana. Topan sedikit terkejut tapi ia akan menghormati apa yang diinginkan Ana. Setelah Ana selesai berbicara panjang Topan lalu meraih tangan Ana dan menciumnya dengan lembut.
" Baik, mari ikuti apa yang kakak mau. Besok pagi aku akan mengatakan ini kepada ayah dan mommy."
" Dek, terimakasih. Terimakasih sudah mau menerimaku dengan keadaan yang seperti ini."
__ADS_1
Topan tidak menjawab sama sekali dengan apa yang diucapkan Ana. Topan hanya memeluk wanita yang begitu dicintainya itu. Ia ingin selalu bisa melindungi wanita tersebut.
TBC