Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 51. Apakah Ini Karmaku?


__ADS_3

Dua minggu berlalu keadaan Ana semakin baik. Sungguh sebuah keajaiban, Ana bahkan sekarang mulai bisa berjalan dengan menggunakan kruk. Dr. Arga sempat tidak percaya dengan perkembangan Ana yang begitu cepat. Walaupun hanya beberapa langkah tapi itu adalah kemajuan yang sangat luar biasa. Topan pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sang istri. Semangat Ana untuk pulih benar-benar sangat luar biasa. Topan pun tak putus memberi istrinya support.


Berbeda dengan kemajuan penyembuhan Ana, di kediaman Agus Prayitno kemunduran semakin jelas terasa. Agus benar-benar tidak bisa mempertahankan perusahaannya. Saran sang putra diabaikan oleh keduanya.


“ Apa susahnya sih minta maaf kepada keluarga Om Rama, kan memang kalian berdua yang salah.”


“ Cukup Kama, jangan terus kau mengusulkan ide gila tersebut.”


“ Oh ayolah Pap, apa papi akan terus menjunjung tinggi harga diri yang tidak ada harganya itu. Lihatlah karena ulah kalian berdua aku benar-benar nelangsa. Sidang tak kunjung diberi kepastian, dan hal yang paling fatal dalam hidupku aku tidak bisa bersama wanita yang kucintai.”


Lagi dan lagi, Kama selalu mengatakan hal itu. Meskipun mereka menikah karena sebuah insiden namun tak seharusnya Kama selalu mengungkit hal tersebut di depan Brigitta. Bagaimanapun Brigitta tengah mengandung anaknya. Terlebih usia kandungan Brigitta yang baru 7 minggu itu masih sangat rawan. 


“ Fan stop, apa kau sungguh tidak bisa menerimaku. baiklah jika kau tidak bisa menerimaku paling tidak kau hormati aku sedikit dan menjaga perasaanku. Aku tahu aku yang salah karena kembali masuk dalam hidupmu tapi apakah kau tidak melihat ke dalam dirimu sendiri? Jika kau benar-benar setia dengan Ana, meskipun aku telanjang di depan matamu pasti kau tidak akan tertarik padaku. Kau juga sama salahnya dengan kedua orang tuamu.”


Brigitta sungguh tidak tahan. Sikap Kama selama hampir satu bulan ini menjadi suaminya benar-benar sungguh diluar perkiraan. Ia pikir Kama akan mulai menerima pernikahan ini mengingat ada anak yang didalam kandungannya. Akan tetapi tidak, Kama malah semakin menjadi-jadi memantau Ana yang jelas-jelas sudah menikah.


Brigitta akui ia memang salah, akan tetapi kesalahan buka sepenuhnya miliknya. Seperti apa yang sudah ia bilang tadi, jika Kama itu benar-benar mencintai Ana sepenuh hati maka ia tidak akan tergoda dengan tubuh Brigitta.


Tapi apa, Kama bahkan yang pertama kali mencium Brigitta saat itu. Kama yang mulai semua percintaan mereka di atas ranjang. Saat itu Brigitta merasa bahwa mungkin Kama bisa ia dapatkan kembali hatinya. Namun ternyata tidak, ia salah. Kama tak ayalnya lelaki brengsek yang hanya terobsesi pada orang lain tapi melampiaskan hasratnya pada dirinya.


Brigitta kembali menelaah, jangan-jangan selama ini karena dia tidak mendapatkan hal itu dari Ana kemudian ia melampiaskan kepada Brigitta. Brigitta sungguh kesal, ternyata selama ini dia cuma dianggap pemuas hasrat Kama saja.


Ia pun menyambar kunci mobilnya dan hendak pergi keluar malam itu. Atmosfer rumah kama sungguh membuatnya sesak. Terlebih rima ibu kama kini berubah. Tak lagi lembut lagi seperti sebelumnya. Harapan Brigitta memiliki keluarga baru yang bisa menerimanya kini harus kandas. Ia kini tahu kedua orang tua Kama tak lebih dari orang yang serakah dan gila popularitas. Saat dirinya benar-benar terpuruk karena tak ada lagi yang mau menerima karya-karya nya disitulah kebusukan hati Rima terkuak.

__ADS_1


" Haaah, aku sungguh bodoh. Apakah ini karma ku?”


Brigitta melenggang pergi melewati Kama dan kedua orang tuanya yang masih bersitegang di ruang tamu. Bahkan dia sama sekali tidak menggubris panggilan Rima.


“ Heeh dasar wanita tidak tahu sopan santun. pantas saja tidak punya, anak yang tidak jelas dari mana asal usulnya mana bisa punya sopan santun.”


Tes, air mata Brigitta keluar begitu saja. Sakit, itulah yang ia rasakan saat ini. Kalimat itu, ucapan itu, kata-kata itu lah yang selalu menyakitinya. Puluhan tahun ia berusaha untuk kuat menghadapi cemoohan karena dia seorang yatim piatu dan keluarga yang ia harapkan bisa menaunginya malah melontarkan kata-kata yang sama. 


Brigitta enggan menoleh, ia hanya sejenak menghentikan langkahnya sembari memejamkan mata dan mengusap air matanya dan menuju ke mobil lalu pergi meninggalkan rumah itu.


Di dalam rumah Rima bersungut-sungut dengan sikap Brigitta. Ia merasa tidak puas dengan sikap Brigitta yang tidak menghormatinya. 


" Huuuh, menyesal mami menerima dia sebagai menantu. Tidak bisa diharapkan sama sekali. Katanya desainer kelas atas, masa iya tidak bisa membantu kondisi keuangan kita."


" Aku harus kembali mendapatkan mu An, aku yakin kau masih mencintaiku. Setahun lebih kebersamaan kita tidak mungkin kau bisa langsung melupakanku."


Kama sungguh diluar nalar, ia bahkan tidak mengkhawatirkan Brigitta yang pergi malam-malam begini padahal istrinya itu tengah mengandung darah dagingnya. Tampaknya apa yang terjadi belakangan ini benar-benar membuat Kama berubah menjadi orang lain.


Disisi lain Brigiitta yang sedang mengemudikan  mobilnya bingung dia mau kemana. Jam menunjukkan pukul 20.00 malam dan kini perutnya berbunyi. Ya, sedari sore tadi dia belum makan apapun. Bagaimana mau makan jika di dapur Kama tidak ada bahan makanan sama sekali. Brigitta juga bukan wanita manja yang tidak bisa memasak. Namun apa yang harus ia masak jika tidak ada apapun di sana.


" Sayang, kamu lapar ya. Sabar ya, kita akan cari makan. Kamu mau apa hmmm?"


Brigitta tersenyum kecut. Ia mengelus perutnya itu. Kini hanya bayi yang ada dalam kandungannya yang merupakan satu-satunya penyemangat dalam hidupnya. 

__ADS_1


" Aku ingin hidup lebih baik untuk anakku. Rupanya aku benar-benar memilih tempat yang salah untukku bernaung. Risa, paa yang kau katakan semuanya benar. Maafkan aku Ris."


Brigitta tergugu, secara tidak sadar ia mengarahkan mobilnya menuju rumah sang teman. Ya, Risa adalah satu-satunya orang yang peduli dengannya. Risa adalah teman tanpa pamrih yang terkadang ia acuhkan. Ia sungguh merasa bersalah kepada Risa.


Ting tong 


Setelah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Risa, Brigitta langsung menekan bel rumah temannya itu. Ia berharap Risa masih mau menerima permintaan maafnya.


" Bri … "


Brigitta langsung memeluk Risa. Ia menangis di bahu sang teman. Risa pun membimbing Brigitta untuk masuk ke dalam.


" Ada apa Bri?"


" Ris, apa kau memasak sesuatu. Aku lapar."


Risa terkejut dengan ucapan Brigitta. Ia pun membawa Brigitta ke meja makan dan mengambilkan makanan untuk mantan bosnya itu. Brigitta makan dengan lahap.


" Apa belum makan? Ini sungguh sudah lewat jam makan lho."


" Dari sore aku belum makan Ris."


Risa mengepalkan tangannya marah. Ia sudah menduga brigitta akan diperlakukan tidak baik di rumah itu. Namun saat ini Risa memilih diam. Ia akan menunggu Brigitta yang bercerita sendiri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2