Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 67. Anda Ditipu!


__ADS_3

Ruang rapat telah disiapkan oleh Hwan. Dia sudah diberitahu oleh Yun bahwa hari ini akan mengenalkan Topan dan Brigitta  sebagai anak-anak mereka.


Kedatangan Topan dan Brigitta ke perusahaan tersebut saja sudah mengundang tanya. Untuk apa para desainer kondang itu mengunjungi perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan karet? Seperti itulah isi pikiran dari karyawan GN Group. 


Kasak kusuk terdengar jelas di ruang rapat yang luasnya bisa menampung sekitar 50 orang tersebut. Semua dewan direksi, para pemegang saham dan kepala staf sudah siap mengikuti jalannya rapat 


" Baiklah kalian tenang saja. Hari ini bukanlah hari aku atau pimpinan meminta pertanggungjawaban mengenai pekerjaan kalian. Hari ini pimpinan akan memberikan pengumuman."


Hwan berjalan ke arah pintu lalu membukakan pintu tersebut. Brigitta terkejut dengan pria yang ada di hadapannya. Pria itu adalah pria yang mobilnya pernah ia tabrak dan juga menolongnya ke rumah sakit. Sedangkan Hwan tertegun dengan kecantikan Brigitta yang berbalut hijab  sungguh aura benar-benar luar biasa.


" Silahkan tuan, tuan muda dan nona muda."


Yun berjalan memasuki ruang rapat diikuti dengan Topan dan Brigitta yang berjalan di belakangnya. Semua orang menatap terkejut. Topan dan Brigitta merupakan designer yang lumayan dikenal di negeri ini. Mereka bertanya, mengapa dua orang desainer itu datang ke perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan dunia fashion.


Akan tetapi ada satu orang yang paling terkejut bahkan syok melihat Topan dan Brigitta. Siapa lagi kalau bukan Agus. Pria paruh baya yang pernah jadi mertua Brigitta itu bahkan berkali-


kali mengucek kedua matanya saat melihat Topan dan Brigitta ada di sana.


" Baiklah semua sudah ada di ruangan ini. Saya tidak akan berlama-lama. Saya yakin Anda semua mengenal dua orang ini. Ya benar, mereka adalah desainer. Namun ada sebuah hal yang harus Anda sekalian tahu bahwa Brigitta Almeida dan Topan Arsyanendra merupakan Lee Dae Hee dan Lee Dae Hyun. Mereka berdua adalah putra dan putriku yang hilang puluhan tahun silam."


"Apa!!! Bagaimana mungkin?!!"


Agus berteriak paling keras sendiri sebagai tanda keterkejutannya. Sebenarnya Yun sengaja membawa Topan dan Brigitta untuk membalas perbuatan Agus yang  keterlaluan terhadap putri dan menantunya. Yun tentu sudah mendengar cerita bagaimana Agus dan Rima memperlakukan Ana setelah mengalami kecelakaan. Bagi Yun,Agus sebagai orang tua sungguh tidak bisa dijadikan panutan.


" Ada apa Tuan Agus, apa ada yang salah?" tanya Yun.


" Bukan, itu bagaimana Brigitta dan Topan adalah anak Anda. Pasti Anda ditipu oleh kedua orang ini," jawab Agus


Yun mengepalkan tangannya. Ia sungguh marah dengan ucapan Agus. Namun Tun berusaha untuk tenang. Dia tidak boleh kehilangan wibawanya hanya demi menghadapi orang seperti Agus ini.


Yun meminta Hwan mendekat dna membisikkan sesuatu kepada tangan kanannya tersebut. Hwan mengangguk paham. Setelah acara pengenalan tersebut selesai akhirnya rapat dibubarkan, namun Hwan mencekal tubuh Agus untuk tidak keluar dari ruang rapat.


" Ada yang ingin kau katakan kepada putriku Tuan Agus yang terhormat?"

__ADS_1


Glek


Agus menelan saliva nya dengan susah payah. Nampaknya hidupnya benar-benar diujung tanduk. Alih-alih menyadari kesalahannya, Agus malah lebih takut dengan keberlangsungan hidupnya.


Brakkkk


Yun menggertakkan giginya sambil menggebrak meja membuat Agus terjingkat.


" Kau benar-benar orang yang sungguh buruk. Bagaimana abisa kau tidak ada menyesal sedikitpun dengan semua yang kau lakukan. Dan bahkan belum lama ini kau menyebut putra dan putriku pembohong."


Yun sungguh emosi. Brigitta dan Topan memegangi lengan Yun dari sisi kanan dan kiri mencoba menenangkan emosi ayahnya itu.


" Appa, stop. Marah-marah sungguh tidak baik bagi kesehatan," ucap Topan pelan.


" Benar appa, lagian putranya kini berada di penjara karena menculik menantu appa," imbuh Brigitta.


Bukannya tenang, Yun malah semakin marah. Bahkan Yun sudah berjalan menghampiri Agus dan ingin memukul wajah pria itu.


" Mbak kau menambah minyak dibara api."


Hwan menepuk keningnya sendiri melihat kakak beradik itu. Ia pun segera berlari menyusul sang tuan, takut tuannya berbuat nekat menghajar orang di perusahaan.


" Tuan jangan gegabah. Kita bisa membalas dengan cara yang elegan."


Yun urung memukul Agus atas cegahan Hwan. Sedangkan Topan dan Brigitta hanya saling pandang. Mereka mengambil kesimpulan bahwa Hwan ini adalah orang kepercayaan Yun.


" Pergilah dari sini sekarang juga sebelum aku benar-benar menghabisi mu."


Yun kemudian duduk di salah kursi ruang rapat dan mengatur nafasnya. 


" Hee, maksud appa Bri … apakah kau mau menikah dengan Hwan?"


" Tuan, ini …"

__ADS_1


Brigitta memicingkan matanya mendengar permintaan sang ayah. Baru sehari jadi status anak kini doa sudah mau dijodohkan dengan Hwan. Tapi Brigitta sesat melihat Hwan, pria itu sebenarnya tampan. Bahkan lebih tampan daripada Kama.


" Bri masih dalam masa iddah appa, dan Bri masih sedikit trauma. Jika Oppa Hwan mau menunggu, mungkin bisa setengah atau setahun lagi."


Hwan tentu terkejut dengan ucapan nona mudanya itu. Tidak disangka Brigitta akan setuju dengan permintaan Yun.


" Pan, terus mereka sunat nggak sih?"


Plak, Topan mengeplak keningnya sendiri mendengar pertanyaan sang kakak. Ternyata Brigitta tidak seperti kelihatannya. Sungguh sikapnya begitu random.


" Mbak tanya sendiri coba."


Hwan yang masih bisa mendengar bisikan Brigitta kepada Topan tentu saja merasa malu. Wajahnya merona seperti udang rebus.


" Sa-saya sunat nona, alhamdulillah saya muslim ikut almarhum ayah saya."


" Alhamdulillah kalau gitu, aman."


Ucapan Brigitta tentu saja memancing tawa Topan dan Yun. Topan benar-benar melihat sisi lain dari Brigitta. Begitu juga Yun, pria paruh baya itu sungguh senang melihat senyum di bibir kedua buah hatinya tersebut.


Setelah itu Yun meminta Bri dan Topan untuk mengurus perusahaan. Dan, reaksi keduanya tentu saja sudah Yun duga. Mereka tidak ada yang mau.


" Hwan, kau dengar sendiri. Mereka tidak ada yang mau. Memang lebih tepatnya kamu yang memimpin perusahaan. Kelak kalau kamu sudah menikah dengan Brigitta ini juga akan menjadi milik kalian."


Hwan hanya bisa pasrah mendengar keluarga tuannya itu. Terlebih memang Topan sama sekali tidak berniat dengan perusahaan.


" Sudah benar hyung saja yang memimpin perusahaan. Sungguh aku tidak mengerti sama sekali. Yang aku tahu hanya menjahit membuat baju daaah itu saja."


Brigitta tentu setuju dengan ucapan Topan, ia sendiri juga tidak mengerti dan sudah tepat Hwan yang memimpin.


" Baiklah kalau begitu, lalu apa yang akan nona lakukan kepada Agus dan keluarganya?"


" Entahlah, aku serahkan saja kepada appa."

__ADS_1


Brigitta melihat ke arah sang ayah. Yun hanya tersenyum dengan ucapan Brigitta. Ia sudah tahu harus berbuat apa. Tentunya hal itu akan ia bicarakan kepada sang besan Rama karena ini tetap ada sangkut pautnya dengan Kama juga.


TBC


__ADS_2