
Di rumah keluarga Agus Prayitno, Agus berteriak dengan kesal karena perkataan yang diucapkan oleh Kai. Ia merasa tidak terima. Suara Agus yang marah marah tentu saja menarik perhatian Kama. Dia yang sedari tadi berada di ruang kerjanya sambil memeriksa pekerjaan perusahaan dan menyelesaikan tesis nya akhirnya memilih menghentikan semuanya dan berjalan ke luar.
" Ada apa sih pi marah marah?"
" Huh, itu kakak pertamanya Ana. Dia mengusir kami dari rumah sakit."
Mendengar ucapan sang papi membuat Kama sedikit berpikir namun tiba tiba ia tersenyum. Kata kata rumah sakit yang diucapkan oleh Agus membuat Kama berpikir bahwa kedua orang tua nya mengunjungi Ana. Bahkan Kama tidak memperhatikan kata kata diusir yang diucapkan Agus.
" Alhamdulillaah papi sama mami nengokin Ana tadi. Kenapa nggak bilang sama Kama? Kan kita bisa mengunjungi Ana sama sama. Pasti Ana seneng banget."
Agus memicingkan matanya. Putranya itu sungguh tidak tertolong. Ia pun yang sedari tadi berdiri kini langsung duduk menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di sana. Sambil memijit kepalanya yang mendadak pusing Agus pun kembali mengulang ucapannya.
" Apa kamu tidak dengar ucapan papi sepenuhnya? Papi diusir. Di U S I R!"
Kama tersentak, ia sungguh terkejut. Pria itu pun menggeleng sebagai reaksi atas ucapan papi nya. Ia tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang papi.
" Nggak mungkin pi abang berbuat begitu. Sedingin dinginnya abang, dia tetap orang yang baik dan menghormati orang lain, kecuali kita lagi yang memulai nya. Jangan jangan papi yang menyinggung mereka? Apa yang papi katakan sehingga membuat abang begitu?"
Kama menatap curiga. Sedangkan Agus mendengus kesal. Putranya itu benar benar menjengkelkan.
" Apanya yang menyinggung. Papi hanya mengatakan fakta. Bahwa Ana lumpuh, cacat, jadi tidak pantas bersanding dengan kamu. Itu saja."
Jeduaaaaar
Bagai di sambar petir dan disengat listrik Kama mendengar ucapan Sang papi. Bagaimana tidak, dengan entengnya Agus mengatakan bahwa Ana lumpuh, cacat, tidak pantas bersanding dengannya. Sungguh saat itu juga Kama ingin membungkam mulut papinya. Tapi Kama masih punya hormat kepada sang papi. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras. Ia benar benar harus bisa menahan dirinya saat ini. Tanpa basa basi Kama segera pergi dari hadapan kedua orang tuanya itu. ia mengambil kunci mobilnya dan langsung ingin melaju ke rumah sakit segera.
Kama mengacuhkan panggilan Agus. Saat ini ia benci apapun yang keluar dari mulut Agus. Rasanya ia tidak ingin mendengar setiap apa yang Agus katakan.
"Huuuh, dasar anak tidak tahu diuntung. Udah baik baik dibantu ngomong ke mereka malah tidak tahu terimakasih."
" Sabar mas, kita akan pelan pelan memberitahu Kama kalau Ana bukanlah wanita yang tepat untuk dia nikahi."
__ADS_1
Ting ... Tong ...
Suara bel rumah berhenti membuat kedua orang yang berada di dalamnya saling pandang. Kama baru saja keluar, apakah ada tamu yang datang? Itulah pertanyaan yang keluar dari benak mereka.
Tanpa banyak mau menerka, Rima pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumah. Betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu. Bahkan saking terkejutnya Rima sampai memundurkan tubuhnya.
" Hallo tante, lama tidak bertemu? Bagaimana kabar tante?"
" Ha- hallo Bri. baik, tante baik. Ayo masuk."
Keterkejutan Rima berubah menjadi senyuman yang lebar. Wanita itu pun membawa Brigitta masuk kedalam rumah. Dengan tenang Brigitta menyapa Agus. Tadinya Agus juga terkejut, namun sedetik kemudian senyumnya mengembang. Kini Brigitta sudah terlibat perbincangan seru dengan kedua orang tua Kama tersebut.
🧥🧥🧥
Lain dengan kedua orang tuanya, Lain juga dengan Kama. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit, Kama langung berlari ke ruangan Ana. Ia tidak sabar untuk bertemu dan meminta maaf atas sikap dan ucapan kedua orang tuanya. Namun saat sampai di depan ruang rawat Ana, Kama terlebih dulu berhenti dan mengatur nafasnya.
Kama benar benar gugup. Ia bagai masuk ke kandang harimau saat ini. mungkin Akhza dan Abra bisa dihadapi tapi Kai dan Rama, itu soal lain. Kama tidak tahu saja kedua saudara kembar Ana itu akan bersikap begitu protektif lebih dari Rama dan Kai saat adik perempuan mereka diganggu.
" Assalamualaikum."
Glek
Kama menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat formasi lengkap keluarga Joyodingingrat. untuk mengatasi keterkejutannya ia melihat Ana yang tengah disuapi makan oleh Topan.
Sita mempersilahkan Kama untuk duduk di sana. Namun sungguh sekujur tubuh Kama merinding. Tatapan tatapan tajam semua orang di sana membuatnya kesulitan bernafas.
" Ayah, Mom, Abang, dan semuanya. kedatangan saya kali ini ingin meminta maaf atas ucapan papi dan mami saya yang sungguh keterlaluan. Saya harap Ana dan keluarga mau memaafkan kedua orang tua saya."
" Mas?"
Ana menyahut saat mendengar ucapan Kama tersebut. Seperti mendapatkan kode, Kama memohon izin untuk menghampiri Ana. Topan pun beringsut mundur memberikan Kama akses lebih untuk mendekat ke arah Ana.
__ADS_1
" Apa yang akan jadi keputusan mas?"
" Apa maksudmu An, aku akan tetap memperjuangkan mu apapun kondisimu'"
" Benarkah, lalu kedua orang tuamu bagaimana. mereka jelas jelas menolak ku bahkan tepat didepan kedua orang tuaku dan saudara ku."
Kama seketika terdiam mendengar ucapan Ana. Ia tahu papi dan mami nya sungguh keterlaluan. sedangkan yang lain, mereka hanya menyaksikan. mereka yakin putri keluarga Joyodiningrat bukanlah wanita yang lemah.
" Aku akan membujuk kedua orang tuaku An, aku akan membuat mereka menerimamu."
" Baiklah kalau begitu, aku beri Mas Kama waktu satu bulan. Jika mas bisa meyakinkan kedua orang tua mas, di akhir bulan ini kita alan menikah. Tapi jika tidak ya sudah mending kita tidak perlu lagi berhubungan."
Deg
Kama begitu terkejut dengan ucapan Ana. Bukan hanya Kama tapi semua orang terlebih lagi Topan. Namun Topan sebisa mungkin bersikap tenang. Cepat atau lambat hari itu pasti akan datang juga. Dan dia harus mempersiapkan hatinya.
Ana menelisik wajah Kama. Ia mencari tahu apa yang tengah pria yang setahun lebih dipacarinya itu. Ana kemudian mendengus. Ia merasakan sebuah keraguan dalam diri pria itu.
" Huft, jika kau ragu maka hubungan kita , kita sudahi sekarang saja. Percuma jika dilanjutkan. Kau tahu mas, kata dr. Arga aku bisa berjalan kembali setelah 2 atau 3 tahun. Bahkan bisa jadi 5 tahun lagi."
Lagi lagi Kama terkejut mengetahui fakta tersebut. Ia pun mencoba menata hatinya. " Aku akan menunggumu An," ucapnya kemudian.
" Baiklah kita lihat nanti. Sekarang mas pulanglah. Temui aku sebulan lagi saat mas benar benar bisa meyakinkan kedua orang tua mas."
Kama pun pamit undur diri. Setelah Kama keluar air mata gadis itu luruh. Sungguh rasanya amat sakit tidak diinginkan begitu. Semua orang langsung mendekati Ana.
" Kapan dr. Arga bicara begitu dek. Kok kak Akhza nggak tahu."
" Iya An, mommy juga nggak tahu."
" Huft, Ana ngasal. Cuma pengen lihat reaksi cowok itu. Haish ternyata dia belum bisa terima dengan kondisi Ana."
__ADS_1
Semua orang menatap heran dengan ucapan Ana. Dibandingkan tadi, Ana memang lebih tenang.
TBC