Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 52. Ingin Bertemu


__ADS_3

" Brengseeek!!! Dasar keluarga brengsek!! Bisa-bisanya mereka memperlakukan kamu kayak gitu."


Risa sangat marah setelah mendengar semua cerita Brigitta. Wanita itu memang pernah berkata tidak ingin lagi mencampuri urusan pribadi Brigitta namun ia tidak tahan juga melihat temannya diperlakukan tidak baik begitu.


" Sudahlah Ris, mungkin ini karma buatku. Mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak baik maka hasilnya tidak baik juga."


" Lalu sekarang apa rencanamu?"


Brigitta terdiam sejenak. Ia ingin bisa memulai hidupnya dengan baik. Dia tidak ingin anaknya nanti tumbuh dalam lingkungan keluarga seperti rumah Kama. Dimana segala hal terukur melalui materi, namun jujur dalam hatinya ia masih berharap Kama berubah terlebih ada anak dalam kandungannya. Brigitta benar-benar merasa dilema saat ini. 


" Bri, apa pernah terbesit dalam hati dan pikiranmu untuk meminta maaf kepada Topan dan Ana?"


Brigitta sedikit terkejut dengan ucapan Risa. Wanita yang tengah hamil itu sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Ia pun menggeleng pelan. 


" Huft … Bri, jika kau ingin memulai hidup dengan lebih baik maka hal  yang pertama harus kau lakukan adalah meminta maaf atas segala perbuatanmu terhadap Topan. Aku tidak tahu persis kerusakan studio Topan itu benar atas ulahmu atau tidak karena kau menyangkalnya, akan tetapi kurasa keluarga Joyodiningrat bukanlah orang-orang bodoh yang membiarkan hal itu. Jika benar itu ulah mu, berarti mereka telah melepaskan mu karena hingga saat ini kau masih bisa bernafas bebas di luaran."


Brigita terhenyak, apa yang dikatakan Risa tentu benar adanya. Jika waktu acara pernikahannya saja bisa ditampilkan video rekaman kedua orang tua Kama dan dirinya di rumah sakit, bukankah hanya untuk mengetahui dalang di balik perusakan di studio adalah hal yang mudah. Brigitta tiba-tiba merasakan ngeri di sekujur tubuhnya.


" Apakah aku akan dipenjara jika mereka melapor, ya Tuhan."


Brigitta mengusap wajahnya dengan kasar. Bayang-bayang jeruji besi berada di pelupuk matanya saat ini. Namun setelh dipikir-pikir, mungkin itu adalah hal yang pantas didapatkan mengingat perlakuan kejamnya terhadap Topan.


" Mungkin aku memang pantas mendapatkannya Ris. Ya, aku yang merusak studio Topan. Jika dia melaporkan ku, aku akan siap masuk ke lantai dingin itu."


Brigitta menunduk pilu sambil mengusap perutnya yang belum terlihat menggembung. Air matanya terjatuh dan menggenang deras.


" Maafin mama ya nak, mama mu sungguh bukan orang yang baik. Tapi mama harap kamu nanti bisa jadi orang yang baik, jangan jadi seperti mama dan papa mu."


Brigitta benar-benar baru menyadari perbuatan yang dilakukan sangat jahat. Ada ketakutan dalam dirinya mengenai anak yang dikandungnya. Ia takut darah dagingnya itu menjadi seperti dirinya.

__ADS_1


" Ris, aku harus meminta maaf kepada Topan. Kau benar, jika kau ingin memulai hidup yang baik aku harus menyelesaikan permasalahanku yang masih menggantung."


" Lalu jika mereka melaporkanmu?"


" Seperti yang kubilang tadi, kau akan terima konsekuensi dari kesalahan ku. Aku juga perlu mengingatkan Topan dan Ana kalau Fandi, pria brengsek itu semakin terobsesi dengan Ana."


Brigitta akhirnya memutuskan apa yang akan dia lakukan sekarang. Bagaimanapun jika ia ingin memperbaiki hidupnya maka ia harus menyelesaikan permasalahan yang terjadi sebelumnya.


*


*


*


Ana dan Topan tengah berada di kamar mereka, rupanya tanpa Topan sadari Ana sudah terlelap di pelukannya. Hari ini Ana berusaha begitu keras dalam melakukan terapi. Tampak gurat kelelahan dalam wajah wanita itu. 


Topan membenarkan posisi kepala Ana agar lebih nyaman. Ia menyingkirkan surai rambut yang menutupi wajah istrinya itu.


Topan mencium kening Ana sekilas, membenarkan selimut dan beranjak dari tempat tidur. Sedari tadi ponselnya berbunyi namun ia acuhkan. Ia pun mengambil ponsel miliknya lalu berjalan keluar kamar menuju dapur. Topan sedikit terkejut saat menemui Kai di sana.


" Bang, kok abang tumben malam-malam di sini. Ada apa bang?"


Topan sangat heran. Jam menunjukkan pukul 11.00 malam dan Kai masih duduk di kursi dapur. Biasanya jam 08.00 paling lambat jam 09.00 malam Kai sudah terburu-buru pulang jika ia berkunjung ke rumah mommy nya. Kai tidak akan tega membiarkan Kiran dan si kembar menunggu lama di rumah.


Tapi bukannya menjawab Kai malah menelisik wajah Topan dengan intens. Topan tentu saja bingung dengan sikap abangnya itu. Sungguh tidak biasanya Kai seperti itu terhadapnya. Kai terlihat membuang nafasnya kasar dan kembali menatap layar ponselnya.


" Bang ada apa?"


" Apa kamu masih ingat masa kecilmu?"

__ADS_1


" Ingat bang."


" Ceritakan."


Topan kemudian menceritakan segala hal yang dia ingat mengenai masa kecilnya. Akan tetapi satu hal yang pasti, dia tidak tahu siapa orang tuanya. Ingatan pertama yang masih melekat hingga saat ini dia besar di jalanan. Pernah masuk ke panti asuhan namun ia kembali lagi ke jalanan.


Kai lagi-lagi membuang nafasnya kasar. Ada sesuatu yang membuat dadanya begitu sesak. Ia jadi ingat saat pertama kali menemukan Topan dengan keadaan yang memprihatinkan waktu itu, ia sebenarnya juga menyelidiki latar belakang dan asal usul Topan. Namun semua bersih, meskipun begitu Kai belum puas dengan hasil yang ia dapat waktu itu.


" Ada apa bang?"


" Tidak ada apa-apa, kau tidurlah kembali. Oh ya kenapa terbangun."


" Dari tadi hape bunyi terus. Pas dilihat banyak banget pesan tapi cuma dari satu ornag."


" Siapa?"


" Brigitta, entah mau apa. Tapi dalam pesannya dia minta ketemuan. Katanya dia mau minta maaf gitu sama ada hal yang mau disampaikan. Wanita itu minta buat bawa Kak Ana juga."


Kai mengerutkan kedua alisnya. Ia belum bisa menebak maksud Brigitta. Akan tetapi tidak ada rasa curiga dan was-was dalam hati Kai.


" Temuilah, dan bicaralah baik-baik. Abang pulang dulu."


" Ya bang."


Kai keluar dari kediaman Joyodiningrat. Pikirannya masih kalut mengenai permintaan penyelidikan tentang anak-anak dari pemimpin grub Park. Kai baru sempat mengerjakan 2 hari lalu, namun penemuan kecilnya sungguh membuatnya bingung dan gamang.


Kematian dua anak Park Baek Yun dan Astuti adalah hasil dari rencana keluarga Park sendiri. Meskipun Kai belum tahu pasti siapa dalang dibalik semuanya. Namun kecelakaan Astuti dan kedua anaknya di tanah air adalah hasil dari sabotase. 


Target mereka memang Astuti dan kedua anaknya, namun Astuti masih selamat. Kedua anak Astuti yang hanyut di sungai dinyatakan meninggal. Kai bisa mengetahui bahwa itu sabotase adalah rekaman kamera pengawas di bandara. Meskipun sangat lama namun ia masih bisa mendapatkannya.

__ADS_1


" Jika kedua anak itu benar masih hidup mungkin mereka hilang ingatan. Kalau Dae Hyun mungkin dia tidak ingat apapun karena baru berusia 2 tahun. Akan tetapi Dae Hee, bocah perempuan 8 tahun pasti akan mengingat sesuatu. Tapi mengapa wajah-wajah ini begitu familiar."


TBC


__ADS_2