Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 22. Kama Keceplosan


__ADS_3

Topan mencoba mengatur nafasnya. Ia sungguh tidak habis pikir bagaiman Liana bisa mengkhianatinya seperti itu. Bahkan dia berani mencuri sketsa designnya. Terlebih Brigitta bicara dnegan begitu terang terangan bahwa dia juga ingin menghancurkan baju baju Topan yang ia luncurkan kemarin. Rasanya ia ingin langsung masuk ke ruangan itu dan berbicara kepada kedua wanita yang bersekongkol menjatuhkannya.


" Astagfirullaah, kenapa dia jahat banget sih. Emang salahku apa bang sama dia."


" Kita lihat dulu saja apa yang akan dia rencanakan setelah ini."


Kai yang memang ingin menemui Ana melihat Topan yang tengah berdiri di ruang rawat. Tapi Kai juga tidak tahu siapa yang ada di dalam, hingga akhirnya ia berdiri di belakang Topan dan ikut mendengarkan semua hal dibicarakan di dalam ruang rawat tersebut.


Namun sepertinya mereka harus segera pergi karena Brigitta berjalan keluar ruangan. Topan dan Kai pun membalikkan badan mereka dan bersembunyi di balik dinding.


" Jadi apa yang akan kamu lakukan. Apa akan memecat model mu itu?"


Topan tersenyum smrik. Seketika ia punya ide briliant.


" Tidak bang, tentu saja tidak!"


" Lalu?"


" Aku akan memanfaatkan Liana. Gadis metrealistis yang menggunakan segala cara untuk sekedar bersenang senang itu akan aku gunakan sebagai senjata. Nanti kita lihat saja bang apa yang akan aku perbuat."


" Wohooo. Good this ia my lil bro. Oke, abang tunggu pergerakan mu. Begitu dong, kamu juga harus memperjuangkan apa yang sudah kamu raih selama ini."


Topan mengangguk, ia kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah Amar. Topan akhirnya bernafas lega karena Kai berada di sana. Paling tidak ia meninggalkan Ana dengan orang yang tepat. Bukan berati Kama adalah orang yang salah tapi lagi lagi ada yang mengganggu perasaannya saat ia hanya meninggalkan Ana berdua saja dengan Kama.


Sedangkan untuk Liana, ia akan mengurusnya nanti. Sebuah rencana sudah tersusun rapi di otaknya dan siap ia laksanakan.


*


*


*


Ana begitu senang saat melihat Kama ada di sana saat dia membuka matanya. Ya, sejenak Ana tadi tertidur. Meskipun sedikit terkejut karena yang tadi duduk menggenggam tangannya adalah Topan kini berganti Kama. Namun Ana sungguh senang. Sebuah senyuman terbit dibibir tipisnya yang terdapat sebuah luka di sudut nya.


Kama menangis di sana. Berulang kali ia mencium tangan sang kekasih. Ia sungguh merasa amat bersalah. Ia berkali kali meminta maaf kepada Ana namun Ana hanya menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


" Tidak ada yang salah mas, ini murni kecelakaan. Jangan menyalahkan diri sendiri."


Kama mengangguk, ia mengusap air matanya sendiri lalu bangkit dan mencium kening Ana.


" Aku akan mendampingi mu untuk fisioterapi An. Aku akan menunggu mu sampai kamu bisa jalan kembali."


Ana terkejut, ia mengerutkan kedua alisnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan ucapan Kama baru saja.


Fisioterapi? Jalan kembali? Apa maksudnya?


Pertanyaan itu terus berputar di kepala Ana. Tadi semua anggota keluarganya tidak ada yang menyinggung hal tersebut. Tidak ada yang membicarakan soal kaki Ana. Ia tahu kaki nya saat ini tengah di gips dan sedikit digantung tapi tidak ada yang bicara kepadanya mengenai kaki nya yang tidak bisa berjalan.


" Maksud Mas Kama apa ya? Tidak bisa berjalan? Apa aku lumpuh? Apa aku sungguh lumpuh sekarang?"


Deg


Kama tersentak, ia terkejut melihat reaksi Ana yang sepertinya tidak tahu apapun mengenai apa yang menimpa kaki nya. Kini pria itu sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Sepertinya anggota keluarga Joyodiningrat belum memberitahu tentang kondisi Ana yang sebenarnya.


" Tidak ada sayang, tadi aku hanya asal bicara."


Ana berteriak, ia kini bingung dan apa yang dikatakan Kama mungkin benar.


" Apa aku lumpuh? Apa aku tidak bisa berjalan? Arghhhhh!!!!"


Ana histeris, ia berteriak dengan tenaga yang tidak banyak. Gadis itu sudah menangis. Ia sungguh tidak menyangka bahwa dia akan lumpuh saat ini. Kama mencoba menenangkan gadisnya. Ia mencoba menggenggam tangan Ana. Namun Ana sungguh tidak terkendali bahkan gadis itu ingin mencabut jarum infus yang ada di tangannya.


Brakkkkk


Pintu ruangan Ana di buka dengan begitu keras. Tampak di sana Kai datang bersama Nataya dan dokter spesialis tulang yang saat ini menangani Ana. Kai menatap tajam ke arah Kama. Bahkan dengan kasar Kai mendorong tubuh Kama hingga Kama tersentak ke samping.


Kai lalu memeluk Ana dengan membisikkan kata kata yang mulai membuat Ana melemah.


" Dek, istigfar dek. Adek kuat ya. Istigfar. Kami semua sayang adek."


Kesempatan itu digunakan Nataya untuk memberikan obat penenang kepada Ana. Lambat laun Ana kembali tenang dan ia pun tertidur karena terpengaruh dengan obat yang disuntikkan oleh Nataya.

__ADS_1


Dokter spesialis tulang yang menangani Ana adalah dokter Arga. Dulu Arga adalah asisten Dika, kini dia mengambil spesialis dan menjadi salah satu dokter terbaik di RS Mitra Harapan.


" Mari kita semua keluar dan biarkan Ana beristirahat," ucap dr. Arga.


Semuanya mengangguk patuh, Kai terlebih dulu mencium kening sang adik. Adik perempuan kesayangan semua orang di keluarga Joyodiningrat.


Di lur ruang rawat Ana kini mereka semua berada. Kai, Kama, Nataya dan dr. Arga. Tampak wajah bersalah dari Kama. Terlebih tatapan tajam mata Kai membuat pria itu menciut.


" Aku sungguh minta maaf bang, aku tidak tahu kalau abang dan keluarga belum memberitahu mengenai kondisi kaki Ana."


Kai membuang nafasnya dengan kasar. Ingin sekali dia meninju wajah Kama saat ini. Namun kewarasan masih memenuhi dirinya untuk tidak melakukan hal tersebut.


" Sudahlah, lambat laun Ana juga akan tahu mengenai kondisinya. Hanya mungkin ini terlalu cepat. Dia baru saja sadar. Seharusnya kita memberitahukannya nanti."


" Maaf bang, maaf."


" Sudah jangan dipikirkan. Lebih baik kau pulang dulu. Biar Ana beristirahat. Kau datanglah lagi nanti."


Kama pun pamit undur diri. Sepertinya pandangan Kai terhadapnya bukan semakin baik malah semakin buruk. Sungguh Kama merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga ucapannya.


" Bodoh ... Bodoh ... Kenapa bisa begitu bodohnya. Arghhh!!! Abang akan semakin buruk memandangku. Sekarang bagaimana aku harus menghadapi Ana nanti."


Sepanjang jalan keluar rumah sakit, Kama terus memukul mukul kepalanya. Hal tersebut tentu saja menarik perhatian seseorang yang dari tadi memang sudah melihat tingkah Kama. Orang itu pun berjalan lebih cepat agar bisa menyusul.


" Fand, are you ok?"


Sebuah pertanyaan membuat Kama menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Ia pun berhenti dan menatap orang tersebut.


" Hei Bri, I'm ok. Apa yang kau lakukan disini?"


" Aaah itu, aku mengunjungi teman. Apa benar baik baik saja? Butuh teman cerita?"


Kama berpikir sebentar, lalu ia pun mengangguk. Saat ini ia memang butuh teman untuk meluapkan isi hatinya. Dan keduanya kini pergi bersama namun dengan mobil masing masing.


TBC

__ADS_1


__ADS_2