Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Masa Lalu


__ADS_3

"Kebetulan darah saya sama dengan anak saya, ambillah darah saya dok." ucap Mommy Abigail


" Maaf anak nyonya dan tuan membutuhkan darah yang lumayan banyak. Kami kuatir nanti nyonya pingsan karena darahnya akan di ambil." ucap dokter itu menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Saya tidak perduli dok, walau saya mati karena kehabisan darah asalkan anak saya selamat." ucap Mommy Abigail tanpa ragu sedikitpun membuat Daddy Ray sangat terkejut.


"Mommy, darah kami juga sama dengan kakak lebih baik darah kami saja mom." ucap ke dua anak kembarnya.


grep


"Tidak kalian masih kecil nanti kalau sudah besar baru bisa menyumbangkan darah." Mommy Abigail sambil berlutut untuk memeluk ke dua anak kembarnya.


Ucapan Mommy Abigail membuat Daddy Ray terharu terlebih ke dua adiknya yang sangat sayang dengan mommy dan kakaknya yang bernama Abner.


"Baik kalau begitu silahkan ikuti perawat kami untuk di ambil darahnya." ucap dokter tersebut sambil membalikkan badannya dan masuk ke dalam ruang UGD.


"Veronica titip ke dua anakku." pinta Mommy Abigail.


"Ok." Jawab Tante Veronica singkat.


" Hendrik jaga ke dua anakku." ucap Daddy Ray.


" Baik tuan." Jawab Hendrik sambil memandangi ke dua anak kembar yang sangat mirip dengan tuannya hanya saja tuannya versi dewasa sedangkan ke dua anak kembar versi kecil.


Perawat itupun berjalan ke arah ruangan khusus untuk mengambil darah dengan diikuti Mommy Abigail dan Daddy Ray.


"Memangnya darah anak kita apa?" bisik Daddy Ray penasaran.


"Golongan darahnya golden blood atau darah emas." bisik Mommy Abigail mengikuti Daddy Ray.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Bukan darahnya yang berwarna emas, dalam istilah medis golongan darah ini disebut Rh-null karena tak adanya rhesus antigen pada sel darah merah.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


"Kalau begitu pakai darahku saja kebetulan darahnya sama denganku." ucap Daddy Ray


"Tapi..." ucapan Mommy Abigail terpotong oleh Daddy Ray.


"Tidak terima penolakan." ucap Daddy Ray.


"Baiklah, tapi karena butuh darah banyak kantong ke dua pakai darahku saja." usul Mommy Abigail.


"Memangnya kenapa?" tanya Daddy Ray.


"Karena aku tidak ingin tuan..." ucap Mommy Abigail menggantungkan kalimatnya karena tidak tahu namanya.


"Panggil saja Ray." ucap Daddy Ray.


"Bagaimana kalau kakak Ray?" tanya Mommy Abigail.


"Terserah, panggil honey, Sayang, Darling juga tidak apa-apa." ucap Daddy Ray sambil masuk ke dalam ruangan dengan diikuti Mommy Abigail.


Mommy Abigail mengalihkan pandangannya ke arah Daddy Ray sambil menatap tajam membuat Daddy Ray tersenyum karena Daddy Ray melihat tatapan Mommy Abigail sangat menggemaskan.


cup


Daddy Ray mengecup bibir Mommy Abigail yang enam tahun yang lalu menjadi candunya membuat Mommy Abigail menatap dengan tatapan horor tapi Daddy Ray tidak takut sama sekali malah tersenyum puas sambil berbaring di ranjang untuk di ambil darahnya.


Mommy Abigail ingin memaki pria itu karena telah berani mencuri ciumannya tapi mengingat ada perawat membuat Mommy Abigail mengurungkan niatnya.


"Suster, setelah kantong darah sudah penuh langsung berhenti ya sus karena kantong ke dua biar darah saya saja." ucap Mommy Abigail


"Baik nyonya." Jawab suster tersebut dengan sopan.


Setelah agak lama kantong darah itupun terisi penuh dan kini gantian Mommy Abigail. Mommy Abigail hanya memejamkan matanya dengan kuat karena sejujurnya dirinya sangat takut dengan jarum suntik seperti author.


"Maaf nyonya jangan tegang nanti jarum suntiknya bisa patah." ucap suster tersebut.


"Maaf suster saya sangat takut sekali jarum suntik." ucap Mommy Abigail jujur yang masih setia memejamkan matanya agar tidak melihat jarum suntik.


"Pffftttt hahahaha.." tawa Daddy Ray pecah mendengar ucapan Mommy Abigail.


Tawa lepas Daddy Ray untuk pertama kalinya karena selama ini dirinya tidak pernah tertawa selepas ini sedangkan Mommy Abigail yang ditertawakan membuka matanya dan menatap tajam ke arah Daddy Ray seakan ingin mencekiknya.


"Auch.." rintih Mommy Abigail ketika jarum suntik menusuk ke lengannya membuat Mommy Abigail menutup matanya kembali.


Daddy Ray hanya bisa menahan tawa karena melihat apa yang dilakukan oleh Mommy Abigail sangat menggemaskan. Tidak berapa lama akhirnya selesai sudah acara sedot menyedot darahnya membuat mommy Mommy Abigail menghembuskan nafasnya dengan lega membuat Daddy Ray menahan kembali tawanya yang terasa ingin pecah sungguh menggemaskan melihatnya.


Perawat itupun keluar dari ruangan itu sambil membawa dua kantong darah bersamaan kedatangan seorang perawat membawa Snack dan susu agar Mommy Abigail pulih kembali.


"Taruh di sini saja sus." Ucap mommy Mommy Abigail sambil menunjuk meja dekat ranjang Mommy Abigail dan Daddy Ray.


"Baik." Jawab suster tersebut sambil meletakkan nampan tersebut kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa hanya satu?" tanya Mommy Abigail.


"Bukannya nyonya saja yang mendonorkan darahnya?" tanya suster tersebut menghentikan langkahnya sambil membalikkan badannya menatap ke arah mereka berdua sambil menahan amarahnya.


'Karena yang satunya lagi aku kasih ke orang lain, itu aku lakukan karena kamu telah membuat pertunangan kakak sepupuku batal. Aku harap kamu pingsan karena tidak mungkin Tuan Ray mau berbagi makanan dan minuman denganmu.' Sambung perawat tersebut dalam hati.


"Bu..." ucapan mommy Mommy Abigail terpotong oleh Daddy Ray.


"Tidak apa-apa sus, satu saja." ucap Daddy Ray sambil turun dari ranjang dan duduk di ranjang samping Mommy Abigail.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab perawat itu dengan singkat sambil membalikkan badannya dan menggenggam gagang pintu yang tadi digengamnya sambil tersenyum devil.


Suster tersebut meninggalkan mereka berdua membuat ke dua jantung mereka berdetak kencang.


"Susu dan snack hanya satu, kak Ray saja yang makan." ucap Mommy Abigail mengalah karena Daddy Ray banyak yang di ambil darahnya.


"Tidak, kamu saja yang makan dan minum susunya." tolak Daddy Ray.


"Kak Ray kan habis mendonorkan darah." ucap Mommy Abigail beralasan.


"Kamu juga habis mendonorkan darahnya." ucap Daddy Ray tidak mau kalah.


"Hmmm... begini saja kita makan bersama." ucap Mommy Abigail memberikan solusi sambil mengambil roti kemudian membuka bungkus plastiknya.


Mommy Abigail membelah menjadi dua bagian hanya saja yang satu kecil dan yang satunya lebih besar. Daddy Ray yang mengerti maksud Mommy Abigail langsung mengambil roti yang ukuran kecil.


"Kenapa ambil yang kecil?" tanya Mommy Abigail dengan nada protes.


"Bukannya kamu membagi dua roti dan roti yang kecil ini buatku?" tanya Daddy Ray pura-pura polos sambil memasukkan roti tersebut ke dalam mulutnya dengan sekali hap.


" Tidak, kak Ray yang besar dan aku yang kecil." ucap Mommy Abigail sambil memotong lagi roti tersebut dan sekarang ukuran potongan nya hampir sama.


'Aku tahu apa yang kamu lakukan dengan roti itu dan aku sangat bersyukur kamu sangat berbeda dengan wanita lain karena biasanya mereka hanya memikirkan dirinya sendiri.' Ucap Daddy Ray dalam hati.


"Buatmu saja honey." ucap Daddy Ray merubah panggilannya.


"Honey?" ucap Mommy Abigail mengulangi perkataan Daddy Ray.


"Ya honey, kalau hanya kita berdua aku memanggilmu dengan sebutan honey dan kamu memanggilku dengan sebutan sayang tapi di depan anak kita kamu memanggilku daddy dan aku memanggilmu mommy." ucap Daddy Ray menjelaskan.


"Kenapa kak Ray sangat yakin kalau ke tiga anak kembarku adalah anak kak Ray?" tanya Mommy Abigail dengan nada bingung sambil memberikan potongan roti ke Daddy Ray.


"Sangat yakin saja kalau ke tiga anak kembarmu adalah anakku juga." Jawab Daddy Ray sambil menerima roti tersebut kemudian memakannya begitu pula dengan Mommy Abigail ikut memakan roti.


Tanpa sadar Mommy Abigail yang merasa haus langsung meminum susu tersebut hingga tersisa setengah gelas. Baru saja hendak diletakkan ke meja Daddy Ray menahan tangan Mommy Abigail kemudian di arahkan ke mulut Daddy Ray dan meminumnya hingga tanpa sisa.


"Eh... itukan bekas mulutku? apakah kak Ray tidak jijik?" tanya Mommy Abigail.


"Kenapa jijik, kamukan orang yang aku cintai dan ibu dari ke tiga anakku." ucap Daddy Ray sambil menaruh gelas tersebut ke meja tanpa melepaskan tangan Mommy Abigail.


Mommy Abigail hanya tersenyum dengan wajah memerah menahan malu dan berusaha melepaskan tangan yang dipegang oleh Daddy Ray.


"Kenapa wajahmu memerah? pasti jantungmu berdetak kencang." ucap Daddy Ray dengan suara menggoda sambil menatap mata indah Abigail.


'Akupun juga sama.' Ucap Daddy Ray dalam hati.


"Aku ingin turun, mau lihat anak - anakku." ucap mommy Abigail tanpa menjawab ucapan Daddy Ray sambil turun dari ranjang dan berjalan dengan langkah cepat.


"Ralat, anak - anak kita." Ucap Daddy Ray.


Sampai di ruangan ugd Daddy Ray dan Abigail duduk sambil menunggu kabar Abner. Ke dua anak kembarnya tampak lelah dan badannya hampir terjatuh karena menahan rasa kantuk teramat sangat.


Hendrik dan Tante Veronica sebenarnya ingin menggendong Alvaro dan Agnes namun ke duanya tidak mau dengan alasan ingin di gendong oleh Daddy Ray. Mommy Abigail dan Daddy Ray yangbtidak tega melihatnya langsung berjalan ke arah mereka untuk menggendong ke dua anak kembar tersebut.


"Anak mommy ngantuk ya? sini mommy gendong." ucap mommy Abigail sambil menggendong Agnes.


"Anak daddy ngantuk ya? sini sama daddy." ucap Daddy Ray sambil menggendong Alvaro.


"Mommy, Agnes ingin di gendong sama daddy." ucap Agnes dengan menampilkan puppy eyes nya.


"Daddy kan gendong kak Alvaro, Agnes sama mommy ya?" ucap mommy Abigail terpaksa memanggil daddy karena tidak tega melihat ke dua anaknya yang sangat mengharapkan kehadiran seorang daddy.


Daddy Ray tersenyum bahagia karena dirinya di panggil dengan sebutan daddy untuk pertama kalinya oleh wanita yang dicintainya.


"Tidak apa-apa sama daddy, daddy masih kuat kok menggendong kalian berdua apalagi di tambah dengan kakak kalian Abner." ucap Daddy Ray.


Akhirnya Alvaro dan Agnes di gendong oleh Daddy Ray dengan menggunakan ke dua tangannya. Tangan kanan menggendong Alvaro dan tangan kiri menggendong Agnes.


"Hendrik, siapkan ruangan VVIP untuk istirahat Agnes dan Alvaro." perintah Daddy Ray.


"Baik tuan." ucap Hendrik sambil berdiri kemudian berjalan ke arah ruangan VVIP diikuti oleh Daddy Ray dan Abigail.


"Silahkan masuk tuan." ucap Hendrik sambil membuka pintu.


"Terima kasih." Jawab Abigail dengan nada lembut.


"Sama - sama nona." Jawab Hendrik.


"Nyonya Ray bukan nona." Daddy Ray meralat ucapan Hendrik asisten setianya.


"Apaan sih, memangnya kita sudah menikah?" tanya Abigail dengan wajah memerah menahan malu.


"Sebentar lagi sayang." Bisik Daddy Ray.


Abigail yang merasa malu mencubit perut Daddy Ray tapi Daddy Ray tidak merasakan sakit sedikitpun malah terasa geli.


"Permisi nyonya dan tuan." ucap Hendrik berpamitan karena dirinya tidak mau melihat kemesraan tuannya dan nyonya nya.


"Sekali lagi terima kasih." ucap mommy Abigail.


"Sama - sama nyonya sambil berjalan meninggalkan mereka.


"Aku mau ke kantin dulu." Pamit Tante Veronica.


Sebenarnya Tante Veronica ingin pulang namun dirinya ingin tahu keadaan Abner yang sudah dianggap keponakannya.

__ADS_1


"Ok." Jawab Mommy Abigail singkat.


Tante Veronica hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah kantin. Daddy Ray berjalan ke arah ranjang dan Mommy Abigail ikut membantu Daddy Ray untuk mengangkat tubuh Agnes agar berbaring di ranjang namun Agnes langsung terbangun.


"Mommy, Agnes ingin tidur dipeluk Daddy." ucap Agnes sambil menatap sendu ke mommy Abigail.


"Iya tapi tidur dulu ya sebentar lagi daddy akan ikut tidur menemani kalian." ucap Abigail dengan nada lembut sambil membaringkan Agnes di ranjang.


Daddy Ray pun ikut berbaring dan tidur di tengah-tengah karena Agnes masih membuka matanya walau matanya sudah setengah watt. Pelukan pertama Daddy Ray terhadap Alvaro dan Agnes membuat mereka berdua merasakan nyaman dan memiliki seorang daddy yang sudah lama mereka inginkan.


Kini ke dua anak kembar sudah tertidur pulas di ranjang sambil memeluk Daddy Ray dengan erat seakan takut kalau Daddy Ray pergi dari mereka. Hingga hampir satu jam lebih lamanya membuat ke dua lengannya kram karena dijadikan bantal oleh ke dua anaknya.


"Mommy, tolong bantu daddy, tangan daddy kram." bisik Daddy Ray karena takut ke dua anaknya terbangun.


Mommy Abigail yang tidak tega mengangkat kepala Agnes dengan perlahan sedangkan dengan perlahan lengan Daddy Ray diluruskan sambil menahan rasa pegal pada ke dua bahunya kemudian di lanjutkan kepala Alvaro.


"Aku ingin bicara denganmu." ucap Daddy Ray sambil berdiri kemudian berjalan meninggalkan ruang perawatan.


"Baiklah." Jawab mommy Abigail sambil mengikuti Daddy Ray.


Ceklek


Daddy Ray membuka pintu perawatan dengan lebar agar Mommy Abigail keluar terlebih dahulu bersamaan kedatangan Hendrik.


"Hendrik, aku dan calon istriku mau keluar sebentar. Hubungi aku jika operasi nya sudah selesai." ucap Daddy Ray sambil menggenggam tangan calon istrinya.


"Baik tuan." Jawab Hendrik sambil memperhatikan tangan tuan Daddy Ray yang menggenggam tangan mommy Abigail.


Daddy Ray yang mengerti arti tatapan Hendrik hanya tersenyum.


"Kamu pasti kaget kenapa aku bisa menyentuh tangan seorang wanita." Tebak Daddy Ray karena saat ini dirinya tidak menggunakan sarung tangan yang biasanya digunakan.


"Benar tuan." Jawab Hendrik.


"Karena wanita ini sangat spesial untukku karena hanya wanita inilah yang bisa menyentuhku dan wanita inilah yang akan menjadi istriku." ucap Daddy Ray sambil mengecup punggung tangan mommy Abigail membuat mommy Abigail sangat terkejut karena untuk pertama kalinya dirinya diperlakukan seperti ini.


"Ayo sayang kita pergi." Ucap Daddy Ray sambil menarik tangan Abigail dengan lembut.


"Permisi tuan Hendrik." pamit mommy Abigail sambil mengikuti langkah Daddy Ray.


"Panggil Hendrik saja, Nyonya." ucap Hendrik.


"Baik, mari kak Hendrik." pamit mommy Abigail sambil melambaikan tangan kirinya karena tangan kanannya digenggam oleh Daddy Ray .


"Semoga tuan dan nyonya selalu bahagia dan secepatnya menikah karena aku melihat untuk pertama kalinya tuan Muda Ray tersenyum terlebih penyakit nya tidak kumat lagi. Aku lihat juga kalau nyonya Abigail sangat baik dan menghormati orang lain tidak seperti wanita pada umumnya." gumam Hendrik sambil menatap kepergian mereka berdua.


Mereka berjalan keluar ruang perawatan VVIP dan meninggalkan ke dua anak kembarnya serta Hendrik. Di luar Daddy Ray dan mommy Abigail melihat Veronica yang baru datang dari kantin.


"Veronica, tolong temani Alvaro dan Agnes. Kabarin aku jika salah satu mencariku." pinta Mommy Abigail.


"Ok." Jawab Tante Veronica singkat.


Kini Daddy Ray duduk di kursi pengemudi sedangkan mommy Abigail duduk di samping pengemudi.


"Kita mau kemana?" tanya Mommy Abigail.


"Restoran, aku sangat lapar." ucap Daddy Ray sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"Baiklah tapi jangan lama-lama ya." pinta mommy Abigail.


"Tenang saja, tidak akan lama." ucap Daddy Ray.


Tidak berapa lama merekapun sudah sampai di parkiran mobil restoran cepat saji. Daddy Ray meminta mommy Abigail untuk duduk di kursi sedangkan dirinya memesan makanannya. Tidak berapa lama Daddy Ray datang sambil membawa nampan yang berisi ayam dan minuman.


Mereka makan tanpa ada yang bicara sedikitpun setelah lima belas menit kemudian akhirnya mereka selesai makan dan minum.


"Abigail aku ingin kamu jujur padaku." pinta Daddy Ray sambil menatap Abigail dengan wajah serius.


"Maksudnya jujur mengatakan apa?" tanya mommy Abigail dengan wajah bingung.


"Ceritakan tentang enam tahun yang lalu." ucap Daddy Ray.


"Buat apa?" tanya mommy Abigail yang enggan menceritakan masa lalu yang sangat menyakitkan bagi dirinya dan selalu berusaha untuk dilupakan.


"Ceritakan saja." Ucap Daddy Ray.


"Ceritanya panjang dan pasti kak Ray akan bosan mendengarnya." ucap mommy Abigail mencari alasan.


"Walau seharian kamu cerita aku tetap setia untuk mendengarkannya." ucap Daddy Ray sambil menatap mata indah mommy Abigail.


"Terlalu menyakitkan untuk di ingat." ucap mommy Abigail.


"Aku akan tetap mendengarkannya jadi aku mohon ceritakan." mohon Daddy Ray.


" Bagaimana kalau bicaranya di dalam mobil saja." tawar mommy Abigail.


"Baiklah." Jawab Daddy Ray.


Mereka berdua meninggalkan restoran tersebut menuju ke dalam mobil milik Daddy Ray. Singkat cerita kini mereka berada di dalam mobil duduk di kursi belakang pengemudi.


Abigail menghembuskan nafasnya perlahan sambil memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan masa lalu yang sangat menyakitkan dan ingin dilupakan seumur hidupnya.


"Baiklah aku akan bercerita." ucap mommy Abigail.


Abigail sebenarnya tidak ingin menceritakan tentang masa lalu yang sangat menyakitkan tapi karena Daddy Ray memintanya membuat Mommy Abigail terpaksa menceritakan.

__ADS_1


"Jika kamu merasa sesak dan ingin menangis kamu bisa memelukku untuk mengurangi kesedihan mu." Ucap Daddy Ray.


__ADS_2