
Albert dan Veronica langsung melepaskan pelukannya dengan wajah memerah menahan malu sedangkan Alvaro dan Agnes yang tadi bersama Veronica masuk ke dalam ruang perawatan menemui Mommy Abigail.
"Opa pergi dulu." pamit Daddy Rico sambil mengusap ke tiga cucu kembarnya dengan lembut.
"Opa mau pergi lagi?" tanya Abner, Alvaro dan Agnes bersamaan.
"Tidak sayang, opa mau melihat Tante Veronica dan Paman Hendrik." Jawab Daddy Rico sambil menggendong ke dua cucunya Alvaro dan Agnes.
"Opa kalau membutuhkan sesuatu katakan pada kami karena tiga cucu opa ini siap sedia membantu opa." Ucap Alvaro.
"Opa sepertinya lelah, opa jaga kesehatan nanti opa sakit." Ucap Agnes sambil membelai pipi Daddy Rico dengan tangan mungilnya.
cup
cup
"Terima kasih cucu - cucu opa yang sangat tampan dan sangat cantik kalian sangat perhatian sama opa." jawab Daddy Rico sambil mengecup kening Alvaro dan Agnes bergantian.
"Opa, Abner tidak di cium?" Tanya Abner.
Cup
Daddy Rico menurunkan ke dua cucunya di sofa kemudian mengecup pipi gembul Abner.
"Cucuku yang sangat tampan." Ucap Daddy Rico.
Abner hanya tersenyum namun nyaris tidak terlihat dengan jelas kecuali Daddy Rico dan ke dua orang tuanya. Daddy Rico pergi meninggalkan ruang perawatan VVIP dengan diikuti Albert dari arah belakang.
"Albert hubungi anak buah kita untuk membunuh Gunawan berserta Ibu tirinya dan adik tirinya Abigail." Perintah Daddy Rico setelah mereka keluar dari ruang perawatan VVIP.
"Baik Paman." Jawab Albert patuh.
Albert pun langsung menghubungi anak buahnya untuk membunuh Gunawan berserta Ibu tirinya dan adik tirinya Abigail. Setelah selesai menghubungi ponselnya di simpan kembali ke dalam saku jasnya. Tidak berapa lama ponselnya berdering dan Albert pun langsung mengambil ponselnya di saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
" Siapa Albert?" tanya Daddy Rico.
"Dari perusahaan cabang." Jawab Albert
"Angkatlah." Jawab Daddy Rico.
Albert pun menggeser tombol berwarna hijau kemudian mulai bercakap-cakap setelah agak lama sambungan komunikasi pun terputus dan Albert menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
"Ada apa Albert?" tanya Daddy Rico.
"Perusahaan cabang mengalami masalah Paman." Jawab Albert.
"Kalau begitu, Daddy akan hubungi Rey dan kamu hubungi Kenzo untuk mengurus perusahaan cabang.'' Ucap Daddy Rico.
"Baik Paman." Jawab Albert.
Mereka berdua menghubungi Rey dan Kenzo untuk pergi ke perusahaan cabang setelah selesai mereka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Oh iya Albert, Kamu yang memimpin untuk membunuh Gunawan berserta Ibu tirinya dan adik tirinya Abigail." Ucap Daddy Rico.
"Baik Paman, kalau begitu Albert pamit dulu." Ucap Albert patuh.
Albert langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil sedangkan Daddy Rico berjalan ke arah ruang perawatan tempat di mana Hendrik orang kepercayaan putranya masih berbaring di ranjang.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda Valen yang merupakan adik tirinya Mommy Abigail berada di sebuah mansion Bela Vista bersama seorang pria yang bernama Gunawan. Valen merupakan wanita simpanan Gunawan dan kini mereka sudah selesai melakukan kegiatan panasnya di sore hari.
cup
"Terima kasih kamu sudah memberikan pelayanan yang sangat memuaskan." ucap Gunawan sambil mengecup kening Valen sambil memeluknya.
"Sesuai janjiku tuan, jika tuan membeliku dan membantuku untuk mencelakai kakak tiriku dan juga kakak iparku maka aku akan memberikan pelayanan yang sangat memuaskan pada tuan." Ucap Valen sambil membalas pelukan Gunawan.
'Akhhhhh si*l terpaksa aku harus melayani pria tua ini yang mempunyai hasrat sangat tinggi agar aku bisa membalaskan dendamku.' Ucap Valen dalam hati.
"Kenapa kamu dendam pada mereka?" tanya Gunawan penasaran.
"Karena kakak tiriku sangat iri dan jahat padaku dan mempunyai rencana busuk dengan menghasut kakak iparku dengan menjual diriku dan juga ibuku di pelacuran padahal kami tidak pernah melakukan kesalahan apapun." Jawab Valen bohong sambil mengeluarkan air mata buayanya.
cup
cup
"Sudah... sudah.. mereka pantas mati dan jangan di ingat - ingat lagi." Ucap Gunawan itu sambil mengecup ke dua pipi Valen secara bergantian.
"Aku masih dendam pada mereka berdua karena ulah mereka ibuku koma akibat kecapaian dan mengalami penyiksaan karena melayani tamu yang mempunyai kelainan se*s." ucap Valen sambil menangis.
Ketika mereka kabur tubuh ibunya lemah hingga sampai di mansion kesehatan Ibunya semakin menurun dratis dan akhirnya mengalami koma.
"Sudah lupakan saja." ucap Gunawan itu sambil membelai punggung Valen dengan lembut.
'Enak saja bilang lupakan saja.' Ucap Valen sambil menahan kesal.
Valen membalas pelukan Gunawan sambil menahan amarah dan jijik. Amarah pada mommy Abigail dan daddy Ray karena telah membuatnya menderita dengan menjual dirinya dan ibunya ke pelacuran sekaligus dirinya sangat jijik karena harus melayani Gunawan yang mempunyai wajah jelek dan gendut secara bersamaan.
Valen tidak tahu bahwa sebenarnya itu ide dari daddy Ray sebelum bertemu dengan mommy Abigail. Daddy Ray sangat marah ketika mengetahui bahwa mereka telah berani mengusik wanita yang dicintainya dengan menjual mommy Abigail ke bandot tua karena itulah daddy Ray membalasnya dengan cara menjualnya sama seperti yang dia lakukan.
"Lagi ya?" ucap Gunawan itu.
Valen hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju walau dalam hatinya ingin sekali memaki dan menolaknya. Gunawan itu pun dengan semangat melakukan kegiatan suami istri.
brak
Pintu kamarnya tiba - tiba di dobrak oleh beberapa orang bertubuh kekar dan tegap membuat Valen dan Gunawan itu sangat terkejut karena sedang melakukan kegiatan yang enak - enak tiba - tiba ada yang mendobrak pintunya.
__ADS_1
Gunawan yang berada di atas tubuh Valen langsung menarik wortel importnya dan langsung menyelimuti tubuh polos mereka.
"Siapa kalian mengganggu kesenangan kami?" tanya Gunawan dengan nada kesal.
"Cih sudah bau tanah masih berbuat dosa." umpat Albert tanpa menjawab pertanyaan Gunawan tersebut.
Gunawan itu sangat kesal dan diam - diam mengambil pistol di balik bantal dan menodongkan ke Albert.
dor
"Akhhhhhhhh...." teriak Gunawan.
Albert yang bisa membaca gerakan Gunawan langsung menjentikkan jarinya dan salah satu anak buah daddy Ray langsung menembak ke keningnya membuatnya mati di tempat.
Hal itu membuat Valen tubuhnya gemetaran melihat Gunawan mati mengenaskan dengan mata melotot dan keningnya mengeluarkan darah segar.
"Apa kabar Valen? masih ingat aku?" tanya Albert sambil menatap sinis.
"Kau yang menjualku dan juga menjual Mommyku!" Teriak Valen sambil menatap tajam ke arah Albert.
"Oh ibumu yang mata duitan itu? Ibumu baru saja mati di tembak anak buahku." Ucap Albert sambil tersenyum menyeringai
"Breng**k, kamu telah membunuh Ibuku!" Teriak Valen dengan tatapan penuh dendam.
Valen langsung mengambil pistol dari tangan Gunawan kemudian mengarahkan pistolnya ke arah Albert.
dor
"Akhhhhhhhh..." Teriak Valen.
Salah seorang anak buah daddy Ray langsung menembak ke kening Valen membuatnya langsung mati di tempat.
"Sampah tetaplah sampah." Ucap Albert dengan nada menghina.
" Buang ke dua mayat sampah ini ke jurang termasuk Ibunya." ucap Albert dengan nada dingin.
"Baik tuan." Jawab mereka serempak.
Albert langsung meninggalkan lokasi kejadian dan mengendarai mobil menuju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang.
"Akhhhhh... lelahnya." ucap Albert
Tidak membutuhkan waktu lama Albert sudah sampai di rumah sakit dan langsung masuk ke dalam ruang perawatan.
"Bagaimana?" tanya Daddy Rico yang sedang duduk di tengah-tengah Alvaro di sebelah kanan sedangkan Abner duduk di sebelah kiri.
Mereka berdua masing - masing menggunakan laptop dan jari jemari yang mungil sangat lincah memainkan keyboard.
"Sudah beres Paman." Jawab Albert sambil duduk di samping Alvaro.
"Baguslah." Jawab Daddy Rico dengan nada santai.
"Kamu istirahatlah karena sepertinya kamu lelah." ucap Daddy Rico.
"Aku juga mau pulang, besok Aku kesini lagi." Ucap Veronica ikut berpamitan.
"Ok. Hati-hati di jalan.'' Ucap mereka bersamaan.
Albert dan Veronica berjalan bersama - sama menuju ke arah parkiran mobil tanpa ada yang bicara sedikitpun. Sampai di parkiran mobil Albert masuk ke dalam mobil sedangkan Veronica melihat ban mobilnya kempes hanya bisa menendang ban mobil karena hari ini dirinya sangat lelah tapi mengalami insiden ban kempes.
"Kok tidak masuk ke dalam mobil?" tanya Albert.
"Ban mobilnya kempes kak." Jawab Veronica dengan wajah lesu.
"Mau bareng sama aku? aku akan antar ke rumahmu." tawar Albert.
"Hmmm... apakah tidak merepotkan?" tanya Veronica.
"Tidak, santai saja." Jawab Albert.
"Terima kasih banyak maaf merepotkan." Jawab Veronica.
Veronica masuk ke dalam mobil dan duduk di samping pengemudi. Albert pun menyalakan mesin mobilnya kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Kalau tidak salah namanya Veronica ya?" tanya Albert basa basi dengan jantung berdebar - debar.
"Bukankah waktu di mansion kita sudah kenalan?" tanya Veronica sambil menatap wajah tampan Albert.
"Hehehehe... masa sih?" tanya Albert malu.
Veronica hanya tersenyum melihat Albert tersenyum malu.
'Aduh kenapa aku jadi bodoh ya? padahal jelas - jelas tadi pagi sudah kenalan kenapa aku jadi bodoh begini ya? malu - maluin aja.' Ucap Albert dalam hati.
Mereka berdua diam tidak ada satupun yang bicara membuat Veronica bosan sedangkan perjalanan menuju mansion masih jauh.
"Kak Hendrik suka lagu apa?" tanya Veronica basa basi.
"Apa saja suka asalkan jangan rock." Ucap Albert.
"Lho memangnya kenapa?" tanya Veronica dengan wajah bingung.
"Aku tidak suka suara berisik." Jawab Albert jujur.
"Berarti kak Albert tidak ingin menikah donk." Ucap Veronica.
"Lho apa hubungan menikah dengan musik rock?" tanya Albert dengan wajah bingung.
"Kak Hendrik tidak suka suara berisik kan?" tanya Veronica tanpa menjawab pertanyaan Albert.
__ADS_1
"Iya benar, terus?" tanya Albert penasaran.
"Kalau menikah kan nanti istrinya hamil terus melahirkan. Pas bayinya menangis otomatis kak Hendrik tidak suka karena berisik mengganggu ketenangan kak Hendrik." Jawab Veronica menjelaskan.
"Pffftttt... hahahaha... kamu ada - ada saja, kalau aku menikah dan mempunyai anak tentu saja tidak masalah kalau berisik malah senang jadi aku tidak kesepian lagi." ucap Albert sambil tertawa lepas untuk pertama kalinya.
'Kak Albert semakin tampan ketika tertawa dengan lepas.' Ucap Veronica dalam hati.
"Kak Albert sudah mempunyai kekasih?" tanya Veronica setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Belum, bagaimana dengan diri.." ucap Albert menggantungkan kalimatnya karena ada mobil berhenti di tengah jalan.
cittttt
Albert terpaksa mengerem mobilnya secara mendadak membuat kepala Veronica nyaris terkena dasboard mobil seandainya saja Albert tidak menahan kepala Veronica dengan menggunakan tangan kirinya membuat Albert merasakan nyeri di tangannya.
"Kenapa mobilnya yang di depan berhenti di tengah jalan?" tanya Albert sambil melepaskan sealbeltnya.
"Tidak tahu kak, kakak hati - hati ya." ucap Veronica sambil ikut melepaskan sealbeltnya.
Albert tersenyum ke arah Veronica dan turun dari mobil untuk berjalan ke arah mobil namun baru beberapa langkah delapan orang pria sangar keluar dari mobil tersebut.
"Siapa kalian?" tanya Albert sambil bersiap - siap.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kami yang pasti kami menginginkan nyawamu." ucap salah satu pria tersebut.
Delapan pria sangar langsung menyerang Albert, Albert berusaha menghindar sambil membalas pukulan mereka. Veronica yang melihat perkelahian yang tidak seimbang langsung turun dari mobil untuk membantu.
bugh
duak
bugh
duak
Dua orang berhasil dilumpuhkan oleh Albert dan Veronica hingga babak belur. Veronica dan Albert kembali menyerang para musuhnya dengan gerakan yang sangat lincah hingga akhirnya tidak membutuhkan waktu lama ke delapan pria tersebut sudah babak belur.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Albert mengulangi pertanyaannya.
Mereka hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Albert. Albert menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya setelah selesai menghubungi Albert menyimpan kembali ponselnya.
"Kita tunggu di sini sebentar, tidak apa - apakan?" tanya Albert.
"Tidak apa - apa santai saja." Jawab Veronica sambil tersenyum.
Tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang bersembunyi di rimbunan pepehonan dan mengarahkan senjatanya ke Albert.
Dor
"Akhhhhhhhh..." Teriak Albert.
Albert terluka di bagian lengannya membuat Albert mengambil pistol di balik saku jasnya dan mencari orang yang tadi menembaknya dan dengan tatapan elangnya dapat melihat posisi orang tersebut dan langsung mengarahkan pistolnya ke tangan orang yang tadi menembaknya.
Dor
"Akhhhhhhhh..." Teriak pria tersebut.
Bruk
Albert yang sudah ahli dalam bidang senjata terutama pistol langsung menembaknya dengan tepat sasaran dan mengenai kening orang itu membuat pria tersebut ambruk dan meninggal di tempat.
Veronica menahan tubuh Albert agar tidak terjatuh dan tidak berapa lama anak buah Albert datang dan langsung membawa ke delapan pria sangar yang sudah babak belur tersebut.
"Paman, tolong kak Albert di angkat ke mobil dan baringkan di kursi samping depan pengemudi biar Aku yang antar ke rumah sakit." pinta Veronica ke salah satu anak buah Albert.
"Baik nona." Jawab salah satu dari mereka.
Dua orang langsung membantu Albert menuju ke mobil dan di baringkan di samping kursi pengemudi sedangkan Veronica duduk di kursi pengemudi.
"Kak Albert, aku antar ke rumah sakit ya kak?" tanya Veronica dengan wajah kuatir.
"Tidak usah, antarkan aku ke apartemen saja, aku bisa mengambil pelurunya." ucap Albert dengan nada lirih.
"Baiklah." ucap Veronica sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Albert memejamkan mata menahan rasa sakit di lengannya sedangkan tangan kiri Veronica memegang tangan kanan Albert
"Bertahanlah kak." mohon Veronica.
Albert hanya tersenyum karena baru kali ini dirinya diperhatikan oleh seorang wanita.
'Biasanya aku akan marah jika ada wanita yang menyentuhku tapi kenapa ketika Veronica memegang tanganku aku sangat bahagia? Apakah seperti ini rasanya diperhatikan dan diperdulikan oleh seorang wanita?' Tanya Albert dalam hati.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di apartemen Albert. Veronica memeluk Albert dari arah samping untuk membantunya berjalan.
Sampai di depan pintu apartemen Albert menekan pin kemudian masuk ke dalam menuju ke kamarnya. Sampai di kamar Veronica membaringkan Albert di ranjang kemudian membantu melepaskan kaos kaki dan sepatu milik Albert.
"Maaf aku buka jas dan kemeja Kak Albert." Ucap Veronica.
Albert menganggukkan kepalanya tanda setuju. Veronica mengarahkan ke dua tangannya ke arah kancing jas setelah terlepas berlanjut melepaskan satu persatu kancing kemeja.
Ketika melakukan hal itu tangan Veronica gemetar di tambah jantungnya yang tidak berhenti berdetak kencang.
Veronica mengangkat perlahan tubuh Albert membuat Albert jantungnya berdetak sangat kencang dan bau parfum milik Veronica membuat Albert merasakan nyaman.
Veronica melepaskan jasnya kemudian meletakkan di samping ranjang lalu berlanjut melepaskan kemejanya dan meletakkan di samping ranjang dekat jasnya Albert kemudian membaringkan tubuh Albert kembali.
"Sudah selesai, ada yang bisa aku bantu?" tanya Veronica sambil menatap luka tembakan dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Tolong ambilkan pisau, lilin, air hangat dan baskom kecil." Ucap Albert sambil masih meringis menahan rasa sakit.
"Baik." Jawab Veronica langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar Albert.