
("Tapi tuan..." ucapan paman Hendrik terpotong oleh daddy Ray).
Paman Hendrik langsung menatap ke tiga anak kembar majikannya untuk meminta bantuan.
("Hendrik sejak kapan kamu membantah keputusanku?" ucap daddy Ray dengan nada mulai naik satu oktaf).
Paman Hendrik langsung menjauhkan ponselnya karena telinganya berdengung mendengarkan teriakan Daddy Ray.
Agnes berdiri dan berjalan ke arah paman Hendrik dan meminta ponselnya. Paman Hendrik dengan patuh memberikan ponselnya ke Nona muda Agnes.
("Hendrik jawab pertanyaan ku sejak kapan kamu membantah keputusanku!!" bentak daddy Ray sambil mengulangi pertanyaannya).
("Daddy.... hiks...hiks... kenapa daddy membentak ku?" Tanya Agnes sambil pura - pura terisak).
("Maafkan daddy sayang, daddy tadi memarahi Paman Hendrik." Jawab daddy Ray.
("Huwaaa... Tetap saja Agnes takut, Daddy berteriak." Ucap Agnes dan bertambah kencang nangisnya.)
Ke dua kakaknya hanya menahan tawa karena mereka tahu adik bungsunya selain jago bela diri juga jago acting sedangkan paman Hendrik hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Nona muda kecil Agnes yang pura - pura menangis.
("Maaf.. maaf... Daddy tidak akan lagi membentak." ucap daddy Ray dengan nada lembut meminta maaf untuk pertama kalinya karena selama ini dirinya paling anti meminta maaf).
("Daddy janji tidak akan pernah membentak Paman Hendrik lagi?" Tanya Agnes).
("Daddy janji." Jawab Daddy Ray).
("Agnes sayang, mana paman Hendrik?" tanya daddy Ray dengan nada masih lembut).
("Daddy, datang ke perusahaan PT Labirin Terbesar Co-op." ucap Alvaro mengambil ponsel milik adiknya tanpa menjawab permintaan daddy Ray).
("Memangnya ada apa?" tanya daddy Ray).
("Apakah Daddy tahu siapa namaku?" Tanya Alvaro).
("Kalau bukan Abner berarti Alvaro." Jawab Daddy Ray).
("Daddy, aku Alvaro dan jangan sampai lupa dengan suaraku." ucap Alvaro).
("Memangnya kenapa daddy harus datang ke perusahaan PT Labirin Terbesar Co-op?" tanya daddy Ray mengalihkan pembicaraan).
("Nanti daddy akan tahu, daddy datang ya dan langsung masuk ke ruang meeting." ucap Alvaro).
("Aish... itukan perusahaan orang sayang, kalau ke sana harus buat janji dulu." ucap daddy Ray).
("Daddy, masa ke perusahaan sendiri harus minta ijin?" tanya Abner).
("What??? Alvaro apa maksudmu?" tanya daddy Ray terkejut).
("Daddy, aku Abner dan jangan lupa dengan suaraku." Ucap Abner).
Daddy Ray hanya bisa memijat kepalanya karena dirinya benar - benar tidak bisa membedakan suara ke dua anak kembarnya yang laki-laki karena suaranya sangat mirip.
("Maaf Abner, Daddy akan berusaha mengingat suara kalian. Oh ya apa maksud perkataanmu tentang perusahaan milik sendiri? Itukan perusahaan milik orang lain." Ucap Daddy Alvaro mengalihkan pembicaraan).
("Nanti daddy akan tahu, sekarang datang ya dad." Pinta Abner).
("Baiklah." Jawab daddy Ray).
("Ok bye daddy." ucap Alvaro).
("Bye." Jawab daddy Ray).
tut tut tut tut tut
Sambungan komunikasi pun langsung terputus kemudian Abner memberikan ponselnya ke Paman Hendrik.
"Paman ini ponselnya." ucap Abner sambil memberikan ponselnya.
Paman Hendrik menerima ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku jasnya.
"Paman, maaf terpaksa aku jujur kalau perusahaan ini milik daddy." ucap Alvaro.
"Tidak apa-apa tuan muda kecil, lebih baik seperti itu karena kalau kita berbohong lama - lama daddy kalian akan curiga." ucap paman Hendrik.
"Paman, kita ke ruang meeting sekarang dan jangan lupa tolong bawakan tiga laptop." Ucap Alvaro.
"Baik tuan muda kecil." Jawab paman Hendrik patuh.
Mereka pun berjalan ke arah ruangan meeting semua orang menunduk hormat karena mereka tahu kalau kalau paman Hendrik adalah pemilik perusahaan yang baru.
"Perkenalkan nama saya adalah Hendrik William asisten kepercayaan tuan besar Ray Alexander, pemilik perusahaan ini dan ke tiga anak kembar ini adalah anak tuan besar Ray Alexander." Ucap Hendrik memperkenalkan dirinya.
"Maaf tuan bukankah tuan pemilik perusahaan ini?" tanya Elizabeth.
"Bukan, saya hanya asistennya karena pemilik perusahaan ini sedang cuti." Ucap Hendrik.
__ADS_1
Merekapun berbisik-bisik satu dengan yang lainnya.
"Ehem.. bisa kita mulai acara meeting nya?" tanya Hendrik sambil berdehem.
"Bisa tuan." Jawab mereka serempak.
"Sekarang laporkan laporan kalian selama tiga bulan terakhir ini." Perintah paman Hendrik.
Dua orang berdiri mereka membagi - bagikan foto copy laporan mereka sedangkan yang asli diberikan oleh paman Hendrik. Salah satu dari mereka mulai berbicara setelah selesai di lanjutkan dengan divisi lainnya begitu seterusnya hingga selesai.
Alvaro yang cepat mengerti tentang bisnis mengambil satu demi satu dokumen yang sudah di baca oleh paman Hendrik kemudian menyerahkannya kembali dokumen yang sudah ditandai dan di tulis catatan kecil olehnya.
Paman Hendrik membaca yang sudah di tandai dan di tulis catatan kecil oleh Alvaro kemudian berdiri.
"Untuk Divisi keuangan laporan kalian masih salah jadi aku minta perbaiki lagi." Perintah paman Hendrik sambil mengangkat satu dokumen.
Divisi keuangan langsung berdiri dan mengambil dokumen tersebut sambil tangan kirinya menggenggam erat menahan kesal dan itu tidak luput dari pengelihatan ke tiga anak kembar tersebut.
"Untuk divisi personalia kenapa banyak sekali pegawai tidak masuk kerja selama lebih dari tiga hari berturut-turut tanpa pemberitahuan dan tanpa dikenakan sanksi sedikitpun?" tanya paman Hendrik sambil menatap ke arah divisi personalia.
"Maaf tuan nanti saya akan memberikan sanksi" Ucap divisi personalia.
"Ini juga ada satu bulan lebih tanpa pemberitahuan apakah orang ini mendapatkan gaji?" tanya paman Hendrik menahan emosi.
"Iya tuan gajinya utuh." Jawab divisi personalia.
"Kenapa?" tanya paman Hendrik sambil menggenggam erat ke dua tangannya.
"Karena ayahnya manager keuangan." Jawab divisi personalia sambil melirik ke arah manager keuangan.
Manager keuangan hanya bisa menggenggam ke dua tangannya agar bisa mengontrol emosi nya.
brak
Paman Hendrik berdiri dan menatap tajam ke arah divisi personalia sambil menggebrak meja meeting.
"Pecat orang itu begitu juga semua pegawai yang tanpa ijin tidak masuk kerja selama lebih dari dua hari karena perusahaan tidak membutuhkan orang pemalas." Perintah paman Hendrik sambil melirik sekilas ke arah wakil ceo.
Wakil Ceo yang bernama Elizabeth hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap ke arah divisi personalia.
"Tapi tuan..." protes divisi personalia terpotong oleh Elizabeth.
"Tidak ada tapi - tapian pecat." Perintah Elizabeth sambil matanya menatap tajam ke arah divisi personalia.
"Nona, kamu berani melawanku?" Tanya Divisi personalia sambil menatap tajam ke arah Elizabeth.
Divisi personalia langsung terdiam namun matanya menatap tajam ke arah Elizabeth.
"Ini juga divisi pemasaran kenapa penjualan merosot? Apakah kalian ingin perusahaan ini cepat gulung tikar hah!!" bentak paman Hendrik
"Ini juga divisi keamanan tapi apa yang diamankan jika ada barang perusahaan yang hilang." Ucap paman Hendrik naik satu oktaf
"Divisi sales.. Apa yang kalian kerjakan? Semua produk yang perusahaan jual selama tiga bulan ini tidak ada peningkatan sama sekali malah semakin cenderung menurun." omel paman Hendrik.
"Aku minta jangka waktu selama seminggu laporan harus berada di tanganku. Untuk orang yang malas bekerja langsung pecat dan laporkan padaku." ucap paman Hendrik dengan nada tegas dan tak terbantahkan.
brak
Mereka serempak menggebrak meja dan menatap tajam ke arah paman Hendrik kecuali Elizabeth dan ke tiga anak kembar.
"Tuan, Kamu itu hanya seorang asisten saja sudah sombong sekali. Main pecat - pecat dan meminta kami untuk merubah laporan. Kalau yang meminta pemimpin CEO baru kami lakukan tapi tuan hanya karyawan rendahan malah lebih rendah dari jabatanku." hina mereka bersamaan.
"Jabatanku lebih tinggi dari kalian yaitu Wakil Ceo. Apa yang dikatakan oleh Tuan Hendrik ada benarnya, kalian harus merubah laporan yang benar dan tidak merugikan perusahaan." Ucap Veronika yang ikut berdiri dan menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam.l
"Aku tahu kamu adalah seorang wakil Ceo dan jabatannya lebih tinggi dari kami tapi Nona jangan lupa kalau kami semua sebenarnya tidak setuju jika wakil ceo adalah seorang perempuan." ucap divisi HRD sambil menatap tajam ke arah Elizabeth.
"Usir saja asisten itu bersama ke tiga anak kembarnya berikut Elizabeth apalagi mana ada tiga anak kembar ikut rapat meeting." ucap divisi keamanan.
"Ya benar, siapa tahu dia itu bodyguard yang hanya untuk menjaga ke tiga anak kembar." hina divisi keuangan.
"Atau baby sitter? Hahahaha..." Tawa mereka bersamaan.
Mereka saling bersahutan untuk menghina paman Hendrik dan ke tiga anak kembar serta Elizabeth.
brak
Pintu ruang rapat di buka paksa oleh seorang membuat semua orang menatap ke arah pintu. Seorang lelaki tampan dan empat orang bodyguard yang mengikuti dari arah belakang.
"Hendrik, bawa ke tiga anakku di ruang CEO." perintah daddy Ray dengan nada dingin.
Ya orang itu adalah daddy Ray, permintaan anak kembarnya membuatnya terpaksa datang ke perusahaan ini dan tidak sengaja ketika sampai di depan pintu telinga tajamnya mendengar kalau asisten pribadinya dan ke tiga anaknya di hina oleh para karyawan.
Daddy Ray yang mendengar ucapan - ucapan menghina ke tiga anak kembarnya membuat darahnya mendidih karena daddy Ray sangat mencintai ke tiga anak kembarnya.
"Baik tuan." Jawab paman Hendrik patuh sambil menggendong Agnes dan menggandeng Alvaro karena Abner tidak mau di gandeng.
__ADS_1
"Paman kami jalan sendiri saja ke ruang CEO, paman temani daddy dan beritahukan tentang laporan yang tadi aku tandai." Bisik Alvaro.
"Maaf tuan muda kecil, saya tidak berani karena tuan besar sepertinya marah dengan mereka." ucap paman Hendrik menolak secara halus.
"Baiklah paman setelah mengantar kami, paman kembali ke ruang meeting." Pinta Alvaro.
"Baik tuan muda kecil." Jawab paman Hendrik
Mereka pun berjalan ke arah ruang CEO dan mereka masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Paman temani daddy dan beritahukan apa yang terjadi. Jika daddy bertanya kami bertiga ada di sini dan tidak akan kemana-mana." ucap Alvaro.
"Baik tuan muda kecil." Jawab paman Hendrik.
"Paman Hendrik pasang benda ini di telinga paman." ucap Abner memberikan benda yang sangat kecil.
"Apa ini?" tanya paman Hendrik sambil menerima benda tersebut.
"Ini alat komunikasi nanti paman akan tahu kenapa paman memakai alat komunikasi ini." ucap Abner menjelaskan.
"Baik tuan muda kecil." Jawab paman Hendrik patuh.
Paman Hendrik langsung memasang benda itu di telinganya begitu pula dengan ke tiga anak kembar tersebut.
"Kalau begitu paman akan pergi, tuan muda Paulus, tuan muda Alvaro dan tuan muda Agnes ingat pesan paman jangan keluar." ucap paman Hendrik.
"Baik paman." Jawab mereka serempak.
Paman Hendrik pun pergi meninggalkan ketiga anak kembar tersebut untuk kembali ke ruang meeting.
Di ruang meeting sepeninggal ke tiga anak kembarnya dan asisten setianya. Daddy Ray memperkenalkan dirinya.
"Saya pemilik baru perusahaan ini, saya mendengar ada keributan. Ada apa?" tanya daddy Ray yang tidak tahu duduk persoalan.
"Maaf tuan kenalkan saya manager keuangan, saya sangat kesal dengan asisten bernama Hendrik yang sok tahu itu. Saya di suruh mengganti laporan keuangan katanya ada kesalahan dan saya sudah menggantinya tapi tetap saja salah. Maunya dia itu apa sih memangnya membuat laporan mudah." ucap manager keuangan.
"Maaf tuan saya manager HRD selama ini saya membuat laporan tidak pernah salah tapi asisten yang sok tahu itu memintaku untuk memecat hampir setengah karyawan memangnya mencari karyawan mudah." ucap manager HRD.
Elizabeth yang ingin bicara mendapatkan tatapan tajam seakan mengatakan kalau berani bicara maka keluarganya akan hancur. Elizabeth hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat.
Tanpa sepengetahuan mereka kalau Daddy Ray melihatnya namun Daddy Ray menunggu kedatangan Paman Hendrik.
Semua divisi mengeluhkan kinerja asisten Hendrik dan daddy Ray mendengarkan semua keluhan. Ketika daddy Ray hendak bersuara pintu ruangan meeting terbuka tampak paman Hendrik masuk ke dalam dan berjalan ke arah daddy Ray.
Semua orang yang berada di ruang meeting menatap benci kecuali daddy Ray, Elizabeth dan para bodyguardnya yang setia berdiri di belakangnya.
Paman Hendrik tidak memperdulikannya dan tetap berjalan ke arah daddy Ray setelah sampai paman Hendrik duduk di samping daddy Ray kemudian membisikkan sesuatu ke daddy Ray.
"Mana laporan kalian?" tanya daddy Ray dengan nada dingin.
"Ini tuan." Jawab mereka.
Merekapun memberikan laporan yang tadi dikembalikan oleh paman Hendrik. Daddy Ray membaca satu persatu dokumen yang ternyata sudah ditandai oleh putranya Alvaro.
'Siapa yang memberikan tanda ini?' bisik daddy Ray ke arah paman Hendrik.
'Putra tuan yang bernama tuan muda kecil Abner dan Tuan Muda Alvaro." Bisik paman Hendrik yang ikutan berbisik.
"What??? kamu jangan bercanda Hendrik!" omel daddy Ray sambil menatap tajam ke arah paman Hendrik.
Semua orang sangat senang karena mengira kalau pemilik perusahaan sedang memarahi asistennya.
'Saya serius tuan kalau tuan tidak percaya tanyalah pada tuan muda kecil Abner dan Tuan Muda Kecil Alvaro.' bisik paman Hendrik yang tidak perduli dengan tatapan tajam tuannya.
Daddy Ray hanya mendengarkan ucapan paman Hendrik walau sejujurnya dirinya masih belum percaya sepenuhnya karena mana mungkin putranya yang masih kecil bisa mengerti akan pekerjaan orang dewasa.
"Ehem... saya sudah membaca semua laporan dan seperti apa yang dikatakan oleh asistenku ganti semua laporan yang benar dan pecat karyawan yang tidak masuk kerja lebih dari dua hari tanpa pemberitahuan. Saya tunggu laporannya tiga hari dan selama tiga hari harus sudah ada laporan di mejaku." perintah daddy Ray.
"Tapi tuan tiga hari membuat laporan itu tidak mungkin." protes mereka serempak.
"Apalagi memecat para karyawan mereka sangat bagus bekerja jadi mana mungkin kami memecatnya." protes mereka lagi.
"Kalau begitu saya tunggu dua hari lagi." Perintah daddy Ray dengan nada dingin.
"Tapi tuan.." ucapan mereka terpotong oleh daddy Ray.
"Kalau begitu satu hari lagi." ucap daddy Ray dengan nada dingin dan datar.
"Tapi tuan.." ucapan mereka terpotong oleh daddy Ray lagi.
"Baiklah hari ini harus sudah di tanganku." ucap daddy Ray.
"Tapi tuan..." ucapan mereka terpotong oleh bunyi gebrakan meja yang sangat kencang.
"Kalian semua saya pecat!!!" bentak daddy Ray sambil berdiri dan menggebrak mejanya.
__ADS_1
Kemarahan daddy Ray tidak bisa di tahan lagi melihat sikap mereka yang tidak menuruti keinginannya.
"Apa???" teriak mereka serempak sambil ikut berdiri dan menatap tajam ke arah daddy Ray.