Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Tiga Aksi Kembar Genius 2


__ADS_3

Kini ke tiga anak kembar tersebut berada di kamarnya dan mereka sudah selesai makan dan minum.


"Kita tunggu besok pagi karena bisa di pastikan mereka yang telah mengusik Mommy kita akan sangat dan sangat terkejut sebab perusahaan milik mereka mendadak bangkrut dan sisanya sangat terkejut karena uang dan aset berharga milik hilang dalam sekejap.'' ucap Abner sambil tersenyum devil.


"Bagus kak, sekarang kita istirahat dulu." Ucap Agnes.


"Ok." Jawab mereka serempak


Ke tiga anak kembar tersebut langsung berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama merekapun sudah tertidur dengan pulas.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda, asisten Hendrik yang diberikan tugas oleh tuan muda Ray untuk menghancurkan perusahaan milik orang tua para wanita tersebut karena telah berani menghina istri tuan muda Ray waktu acara pernikahan tadi siang.


Asisten Hendrik menghubungi orang kepercayaannya yang bisa meretas data perusahaan. Orang kepercayaannya mempunyai tiga anak buah yang bisa meretas dan menghancurkan perusahaan dalam hitungan beberapa jam. Sambungan pertama langsung di angkat.


("Hallo." Panggil dari sebrang).


"Aku ingin kamu meretas data perusahaan dan hancurkan perusahaan itu." Perintah asisten Hendrik).


("Baik tuan, perusahaan mana yang akan kami hancurkan?" tanya orang kepercayaannya).


("Aku kirimkan foto para wanita dan cari nama orang tuanya dan langsung hancurkan perusahaan mereka." ucap asisten Hendrik).


("Tapi itu membutuhkan waktu yang lama karena harus mencari satu persatu." ucap orang kepercayaannya).


("Tidak masalah yang penting malam ini perusahaan mereka sudah hancur." jawab asisten Hendrik).


"Baik tuan." jawab orang kepercayaannya).


tut tut tut tut tut


Asisten Hendrik langsung memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian menyimpan kembali ponselnya.


"Kalian mencari masalah dengan menghina istri tuan Ray tanpa berpikir panjang kalau itu menjadi boomerang buat kalian semua di tambah ke dua orang tua kalian. Bersiaplah menjadi orang miskin karena ulah kalian yang tidak menjaga mulut kalian." ucap asisten Hendrik seolah - olah bicara dengan para wanita yang telah menghina istri tuan muda Ray.


"Tuan muda sudah menikah lalu aku kapan? banyak wanita yang suka padaku tapi mereka suka karena aku kaya dan tampan. Mereka tidak ada yang tulus mencintai diriku. Veronica adalah sahabat nona muda selain cantik juga baik membantu nona muda dan mau mengurus ke tiga anak kembar kalau menikah denganku pasti dia akan mengurus anak-anak kita nantinya." Ucap Hendrik.


"Veronica juga tidak tebar pesona untuk mencari perhatianku seperti wanita lain apa aku dekati dia saja ya? akhhh.. kok aku jadi seperti ini lebih baik aku lelah ingin tidur saja." ucap asisten Hendrik sambil berbaring di ranjang.


Tiga jam lamanya asisten Hendrik tertidur pulas namun tiba - tiba ponselnya berdering kencang membuat asisten Hendrik meraba tempat tidurnya dan langsung menggeser tombol berwarna hijau tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya.


("Hmmm .." panggil asisten Hendrik berupa deheman).


("Maaf tuan, ternyata semua perusahaan mereka sudah bocor dan kami tidak tahu siapa yang melakukannya." Ucap orang kepercayaannya melaporkan apa yang telah terjadi).


("Apa? bagaimana bisa?" tanya asisten Hendrik sambil duduk di sisi ranjang karena dirinya sangat terkejut).


("Iya tuan, kami sudah mengecek semua perusahaan milik mereka dan perusahaan milik mereka sebentar lagi akan hancur dan kita tinggal menunggu besok." Ucap orang kepercayaannya).


("Baiklah, nanti uang akan saya transfer hari ini." ucap asisten Hendrik).


("Oh ya ada dua lagi Tuan." Ucap orang kepercayaannya).


("Apa itu?" Tanya asisten Hendrik penasaran).


("Direktur HRD melakukan korupsi, setiap dirinya menerima pegawai baru maka mereka membuat surat perjanjian yaitu setiap bulan memberikan sejumlah uang ke pria itu dan semua hartanya sudah dikembalikan ke milik Tuan Muda Ray." Ucap orang kepercayaannya.


("Apakah mereka menyadari akan kesalahannya dan tidak ingin di hukum?" Tanya Hendrik dengan wajah terkejut).


("Ada orang yang meretas datanya dan orang itu mengembalikan semua aset milik perusahaan dan kita hanya tinggal menangkap mereka termasuk putri mereka." Jawab orang kepercayaannya).


("Apa?Bagaimana bisa?" Tanya Hendrik tidak percaya karena pasalnya pekerjaan yang akan dilakukannya tapi dilakukan oleh orang lain).


("Saya juga bingung Tuan, selain itu ada satu lagi yaitu Direktur pemasaran ternyata adalah salah satu anggota mafia dan mereka bekerja sama untuk menguasai perusahaan milik Tuan Muda Ray." Ucap orang kepercayaannya).


("Anggota mafia? Jangan bilang Direktur pemasaran juga di buat bangkrut?" Tanya Hendrik sambil memijat keningnya yang terasa pusing).


("Apa yang dikatakan Tuan benar, mereka bangkrut dengan cara mengalihkan rekening mereka ke rekening pribadi yang tidak bisa kita lacak." Ucap orang kepercayaannya).


("Selain itu, orang itu memberikan informasi lewat email kalau salah satu karyawannya bekerja sama dengan Mafia karena ingin menguasai perusahaan milik Tuan Muda Ray." sambung orang kepercayaannya).


("Apa ada yang lainnya lagi?" Tanya Hendrik).


("Tidak ada Tuan." Jawab orang kepercayaannya).


("Baiklah, tunggulah nanti uang akan aku transfer hari ini." ucap asisten Hendrik).


("Terima kasih banyak tuan, senang bekerja sama dengan tuan." Jawab orang kepercayaannya).


tut tut tut tut tut


Tanpa menjawab Asisten Hendrik langsung memutuskan untuk komunikasi secara sepihak kemudia mentransfer uang dalam jumlah yang sangat fantastis walau mereka tidak mengerjakannya.


Hal itu dikarenakan karena mereka bisa diminta bantuannya kapan saja tanpa mengenal waktu maka asisten Hendrik tidak sayang untuk memberikan uang sebanyak itu. Setelah selesai asisten Hendrik menyimpan kembali ponselnya di ranjang sebelahnya.


"Siapa yang melakukannya? tidak mungkin musuh mereka karena waktunya bersamaan. Sudahlah besok aku akan tanya sama tuan muda karena sekarang aku mau lanjutkan tidurku." ucap asisten Hendrik sambil berbaring di ranjang.


Tidak membutuhkan waktu lama asisten Hendrik sudah tertidur dengan pulas.


xxxxxxx

__ADS_1


Malam berganti pagi dan seperti biasa ke tiga anak kembar sudah bangun, mandi dan memakai pakaian santai. Mereka bertiga sangat mandiri sehingga mommy Abigail tidak pernah repot untuk mengurus ke tiga anaknya. Mommy Abigail hanya menyiapkan makanan untuk ke tiga anak kembarnya.


"Sekarang kita lihat apa yang terjadi dengan perusahaan mereka." ucap Abner dengan nada dingin.


Abner mengambil laptopnya dan mulai mengutak atik laptopnya dengan di temani ke dua adiknya yang berada di ranjang tempat tidur Abner.


ceklek


Daddy Rico membuka pintu kamar ke tiga cucu kembarnya dengan lebar kemudian Mommy Karen masuk ke dalam kamar ke tiga cucunya dan melihat Abner sedang mengutak atik laptopnya dengan di dampingi oleh ke dua adiknya.


"Kalian sedang apa?" tanya opa dengan nada lembut sambil berjalan mendekati mereka.


deg


deg


deg


Ke tiga anak kembar tersebut jantungnya berdetak kencang karena tidak mungkin jujur kalau mereka sudah melakukan menghancurkan perusahaan milik orang lain.


Ke tiga anak kembar menoleh ke arah opa dan Omanya sambil tersenyum manis membuat opa dan Oma tersenyum karena mereka bertiga sangat menggemaskan.


"Oh ini kami lagi main game Oma, opa." Jawab Abner berbohong sambil mematikan laptopnya kemudian menutupnya.


"Oh, kalian wangi sekali sudah mandi ya?" Tanya Mommy Karen sambil berlutut dan memeluk ke tiga cucunya.


"Sudah Oma." Jawab mereka serempak


"Ayo kita sarapan pagi." Ajak Daddy Rico.


"Baik opa " Jawab mereka serempak lagi.


Mereka berlima menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Mereka makan bersama tanpa ada satu pun yang berbicara selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Opa dan Oma, kami mau mengerjakan tugas sekolah." ucap Alvaro.


"Baiklah, Oma dan opa akan mengobrol di ruang keluarga." ucap Mommy Karen.


Ke tiga anak kembar tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju ke arah kamar mereka. Abner duduk di ranjangnya dengan diikuti oleh ke dua adiknya.


"Kakak akan melihat saham mereka apakah di jual murah." Ucap Abner sambil mengotak atik laptopnya.


"Alvaro coba kamu cari berita terkini tentang para tante yang telah menghina mommy kita." Perintah Abner.


"Baik kak." Jawab Alvaro sambil memegang iPad.


Jari jemari lincah Abner mengutak atik laptopnya selama setengah jam dan akhirnya selesai juga dengan apa yang di carinya begitu pula dengan Alvaro.


"Lihat kak, semua tante yang telah menghina mommy kita telah menerima akibatnya. Karena kini mereka semua sudah miskin karena perusahaan milik ayahnya mengalami kebangkrutan." ucap Alvaro tentang berita terkini di iPad miliknya.


"Bagus, tahap selanjutnya setelah membeli saham mereka, kita membeli semua aset berharga milik mereka." Ucap Abner dengan nada dingin.


"Baik kak." Jawab Alvaro dan Agnes serempak.


Abner mulai mengutak atik kembali laptopnya untuk membeli saham dengan harga sangat murah setelah selesai membeli saham, Abner mulai membeli semua aset berharga mereka agar mereka benar-benar bangkrut dan tinggal di jalan seperti pengemis.


"Sudah selesai sekarang kita minta bantuan daddy untuk mengurus perusahaan yang telah kita beli." ucap Abner dengan nada dingin.


"Tapi kak kalau daddy bertanya apa yang mesti kita jawab?" tanya Agnes.


Abner terdiam memikirkan alasan apa yang akan dikatakan oleh daddy mereka.


"Benar juga kak, karena kita masih kecil jadi bagaimana mungkin kita bisa melakukan ini semua." ucap Alvaro.


"Apa kita hubungi paman Hendrik?" tanya Abner memberikan solusi.


"Boleh juga lebih baik sama paman Hendrik dan meminta jangan memberitahukan ke daddy." Ucap Alvaro.


"Baiklah, aku akan menghubungi paman Hendrik." Ucap Agnes.


"Kalau begitu aku akan buat nama pemilik perusahaan atas nama paman Hendrik" Ucap Abner.


"Ok." Jawab ke dua adik kembarnya bersamaan.


Agnes mengambil ponselnya dan menghubungi paman Hendrik. Sambungan pertama langsung di angkat.


("Hallo paman, saya Agnes." ucap Agnes memperkenalkan dirinya).


("Maaf Agnes siapa ya?" tanya Hendrik dengan nada bingung pasalnya ada anak kecil perempuan menghubungi dirinya).


("Saya Agnes anaknya daddy Ray dan mommy Abigail." Ucap Agnes memberitahukan).


("Nona Muda Kecil Agnes, bagaimana bisa tahu nomer ponselku?" tanya Hendrik dengan nada bingung antara percaya dan tidak dengan apa yang di dengarnya pasalnya tidak semua orang tahu nomernya).


("Paman datanglah ke mansion milik Daddy, ada yang ingin kami bicarakan. Jika Opa dan Oma bertanya bilang saja paman Hendrik di minta bantuan untuk mengajari kami tugas sekolah." ucap Agnes).


("Baiklah paman akan datang." Jawab Hendrik yang penasaran dengan apa yang akan mereka katakan).


("Baik, kami tunggu paman." Jawab Agnes).


tut tut tut tut tut

__ADS_1


Sambungan komunikasi langsung terputus, Agnes menyimpan kembali ponselnya.


"Sekarang kita tinggal menunggu paman Hendrik." Ucap Alvaro.


"Aku baru ingat kita dapat tugas sekolah membuat planet." ucap Agnes.


"Kalau begitu kita buat sekarang." ucap Abner dengan nada dingin.


" Aish kak bisakah nada bicaramu tidak seperti itu." protes Agnes dengan nada kesal.


Abner hanya menatap tajam ke arah adik bungsunya. Tanpa takut sedikitpun Agnes hanya tersenyum namun terlihat jelas wajah kesalnya dan mulai mengerjakan tugas sekolah bersama ke dua kakaknya. Setelah hampir satu jam lamanya pintu kamar kembar di ketuk oleh seseorang.


tok


tok


tok


"Masuk." Jawab tiga kembar serempak.


ceklek


Asisten Hendrik membuka pintu dan menatap ke tiga anak kembar yang sedang serius mengerjakan tugas sekolah.


"Apakah tadi Agnes yang menelepon paman?" tanya Hendrik.


"Iya paman, silahkan duduk sebentar." ucap Agnes.


Hendrik hanya patuh dan duduk di sofa, Abner membawa laptop kemudian mendekati Paman Hendrik dengan diikuti oleh ke dua adiknya.


"Paman bolehkah aku meminta bantuan paman?" tanya Abner dengan nada dingin.


'Sifatnya hampir sama dengan tuan muda Ray.' Ucap Hendrik dalam hati.


"Tentu saja, kalian mau meminta bantuan paman apa?" tanya Hendrik penasaran.


"Tapi paman harus berjanji untuk tidak bercerita ke daddy dan mommy." Pinta Alvaro.


"Iya paman janji." ucap Hendrik yang masih penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan.


"Baiklah, kita langsung saja." Ucap Abner.


"Paman masih ingat dengan para tante yang telah menghina mommy waktu mommy dan Daddy menikah?" tanya Abner dengan kilatan penuh amarah.


glek


'Benar - benar sangat mirip apalagi kalau melihat wajahnya jadi ingat dengan tuan. Tidak diragukan lagi mereka memang anak - anak tuan muda Ray.' ucap Hendrik dalam hati sambil menelan salivanya.


"Iya paman ingat, memang ada apa?" tanya Hendrik penasaran.


"Aku sudah membuat bangkrut perusahaan mereka." ucap Abner tanpa basa basi


"What?? berarti semalam Tuan Muda Kecil yang bikin bangkrut perusahaan mereka?" tanya Hendrik dengan nada terkejut


"Tentu saja Paman, memang kenapa paman?" tanya Abner.


"Semalam daddy kalian meminta paman untuk menghancurkan perusahaan mereka tapi sudah ada orang yang mendahului paman dan ternyata tuan muda kecil yang melakukannya. Paman benar - benar tidak percaya kalau ini ulah tuan muda." ucap Hendrik yang masih sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.


Mereka bertiga hanya tersenyum sambil menatap paman Hendrik yang sedang terkejut.


"Paman kami sudah membeli saham mereka dan juga aset mereka jadi kami meminta sama paman untuk datang ke perusahaan mereka dan bilang kalau paman yang telah membelinya ." ucap Alvaro.


"What???" pekik Hendrik sambil memegangi dadanya karena dirinya benar - benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Paman, kenapa teriak? kalau kami bertiga jantungan bagaimana?" protes mereka bertiga bersamaan.


"Tuan muda Kecil dan Nona Muda Kecil masih kecil jadi tidak mungkin sakit jantung." ucap Hendrik


"Paman, kami serius apakah paman mau membantu kami?" tanya Abner yang tidak suka basa basi.


"Kenapa kalian tidak jujur dengan daddy kalian?" tanya Hendrik penasaran.


"Tidak, kami akan jujur jika waktunya tepat, jadi kami minta sama paman merahasiakan ini." ucap Abner.


"Baiklah paman akan membantu kalian." ucap Hendrik pasrah.


" Terima kasih paman." Jawab mereka serempak.


" Tapi kalau daddy kalian bertanya apa yang mesti paman katakan?" Tanya Hendrik.


" Bilang saja sahabat paman membeli sahamnya dan dipercayakan oleh paman untuk mengelolanya." ucap Alvaro dengan nada santai.


"Memang tuan muda membeli perusahaan mereka atas nama siapa?" tanya Hendrik penasaran.


"Atas nama paman." Jawab mereka serempak tanpa dosa.


"What??? kenapa nama paman?" ucap Hendrik dengan wajah terkejut.


"Kalau nama kami tidak mungkin karena kami masih kecil." Ucap mereka serempa tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kalian mempunyai uang dari mana untuk membeli saham?" tanya Hendrik penasaran.

__ADS_1


__ADS_2