
Di saat bersamaan ...
("Paman Hendrik aku Abner." panggil Abner melalui sambungan komunikasi yang tadi dipakainya di telinganya).
("Ya tuan muda kecil Abner." Jawab paman Hendrik).
("Paman Hendrik, Manager pemasaran dan manager keuangan mengeluarkan pistol." ucap Abner).
("Tapi..." Ucapan paman Hendrik terpotong oleh Abner).
("Paman harus percaya sama aku, mereka diam - diam mengeluarkan pistolnya." Ucap Abner).
("Paman, aku Alvaro arahkan pistol paman ke manager keuangan dan tembak lengan kanannya bisikan juga ke daddy untuk mengarahkan pistolnya ke manager pemasaran dan tembak juga lengannya!" perintah Alvaro).
Paman Hendrik terkejut tapi berusaha menghilangkan rasa terkejutnya dan langsung berdiri dan mendekatkan mulutnya ke telinga daddy Ray.
'Tuan besar arahkan pistol tuan ke manager pemasaran yang berada di sebrang tuan dan saya akan mengarahkan pistol saya ke manager keuangan dan tembak lengannya." bisik paman Hendrik kemudian menjauhkan wajahnya.
Daddy Ray memalingkan wajahnya dan menatap paman Hendrik seakan meminta penjelasan.
'Tuan saya serius percayalah padaku.' Bisik paman Hendrik.
Daddy Ray dan paman Hendrik langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke manager pemasaran dan manager keuangan membuat mereka yang berada di ruangan meeting yang awalnya ramai seperti pasar langsung hening seketika seperti kuburan.
"Letakkan pistol kalian berdua." perintah daddy Ray dengan tatapan membunuhnya.
Manager pemasaran dan manager keuangan sangat terkejut karena tindakan mereka ketahuan tapi berpura-pura berwajah polos.
"Maksud tuan apa? kami tidak mengerti ." tanya mereka berdua dengan serempak sambil menghentikan pergerakan tangannya agar tidak mengeluarkan pistolnya.
Daddy Ray dan paman Hendrik saling menatap seakan sedang berkomunikasi lewat tatapan mata.
("Paman aku Alvaro, jangan percaya omongan mereka, suruh dua orang bodyguard daddy mengecek jas mereka berdua pasti ada pistolnya." ucap Alvaro).
"Periksa mereka?" perintah paman Hendrik ke dua orang bodyguard sambil mengarahkan pistolnya ke arah kening manager keuangan begitu pula dengan Daddy Ray ke arah manager pemasaran.
Ke dua orang itu terkejut dengan ucapan paman Hendrik membuat mereka saling memandang seakan berbicara lewat tatapan mata dan mereka hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, mereka tidak ada pilihan lain untuk menembak paman Hendrik dan daddy Ray.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhh...." teriak Manager keuangan dan manager pemasaran secara bersamaan.
Daddy Ray dan Paman Hendrik yang bisa membaca gerakan lawan dan tanpa berpikir panjang daddy Ray dan paman Hendrik menembak lengan manager keuangan dan lengan manager pemasaran hingga ke dua lengan mereka mengeluarkan darah segar bersamaan dengan suara di telinga Paman Hendrik.
("Paman mereka mengeluarkan senjatanya, paman dan daddy tembak tangan kanannya cepat!" perintah Abner dengan nada kuatir).
("Daddy dan Paman ternyata bisa menebak pergerakan mereka." Sambung Abner).
("Tentu saja Tuan Muda Kecil." Jawab Paman Hendrik).
("Paman suruh bodyguard untuk mengecek di balik saku jasnya nanti bodyguard akan menemukan senjata ke dua pria itu." perintah Abner).
("Cek di balik saku jasnya nanti kalian akan menemukan pistol." perintah paman Hendrik sambil mengarahkan pistolnya ke arah mereka secara bergantian).
("Baik tuan." Jawab mereka serempak).
Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke dua pria yang sedang terluka dan mulai mengecek di balik saku jas di tubuh manager pemasaran dan manager keuangan hingga ke dua bodyguard menemukan dua pistol di balik saku jas manager pemasaran dan manager keuangan.
"Tuan mereka menyimpan senjatanya di balik saku jasnya." Ucap ke dua bodyguard serempak sambil memperlihatkan pistolnya.
"Simpan pistolnya dan bawa mereka berdua ke kantor polisi." Perintah paman Hendrik.
"Baik tuan." Jawab ke dua bodyguard itu dengan serempak sambil menyeret ke dua pria itu.
"Hendrik, bisa kamu ceritakan kenapa kamu bisa tahu semuanya?" tanya daddy Ray.
Paman Hendrik melepaskan alat yang menempel di telinganya dan diberikan ke tuan besar Ray.
"Maaf tuan saya tahu karena memakai ini." Ucap paman Hendrik yang tidak bisa berbohong dengan tuan besar Ray.
"Apa ini?" tanya daddy Ray sambil menerima pemberian paman Hendrik.
"Pakailah nanti tuan besar akan tahu." Ucap paman Hendrik.
Daddy Ray langsung memakaikan di telinganya.
("Hello daddy." Panggil ke tiga anak kembar bersamaan).
("Anak - anak daddy, kalian ada di mana?" tanya daddy Ray dengan nada terkejut sambil kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri mencari ke tiga anak kembarnya.
("Daddy jangan tengok kanan dan tengok kiri karena kami berada di ruangan CEO. Kami bisa melihat daddy tapi daddy tidak bisa melihat kami." Ucap Abner menjelaskan).
("Daddy mereka lebih baik di pecat semuanya karena mereka jelas - jelas tidak bisa diajak kerja sama dan bisa membuat perusahaan yang kami beli bangkrut." Ucap Agnes).
("Agnes kenapa kamu bilang ke daddy?" tanya Abner dan Alvaro sambil menepuk kening mereka masing-masing).
("Maaf kak aku lupa kalau kemarin kita yang telah membuat bangkrut mereka karena telah menghina mommy dan kita membeli perusahaan mereka dengan uang tabungan kita." ucap Agnes dengan polos yang memang sifat Agnes mirip mommy Abigail yang tidak bisa berbohong).
("Agnes!! kenapa kamu bongkar semuanya ke daddy." omel ke dua kakak kembarnya lagi dengan tatapan kesal).
("Maaf kak lupa." ucap Agnes dengan mata mulai berkaca-kaca dan bersiap untuk menangis).
("Tadi di depan opa dan Oma kamu bisa berbohong dan begitu juga dengan paman Hendrik tapi kenapa sekarang tidak bisa?" omel Abner dengan nada masih kesal terhadap adik kembar perempuan).
("Hiks... hiks... Daddy.." ucap Agnes sambil menangis).
Daddy Ray yang setia mendengarkan percakapan ke tiga anak kembarnya hingga dirinya sangat dan sangat terkejut karena ternyata ke tiga anak kembarnya sangat hebat dan genius.
Namun ketika Agnes putri bungsunya menangis membuatnya dirinya tidak tega mendengarnya.
("Abner, Agnes jangan marahin adikmu." ucap daddy Ray dengan nada lembut).
("Maaf daddy." ucap ke dua putranya serempak).
("Agnes, maafkan kakak ya." Ucap ke dua kakaknya dengan serempak).
("Iya kak." Ucap Agnes sambil tersenyum).
("Sekarang kalian berdua berpelukan." ucap daddy Ray dengan nada masih lembut).
("Baik daddy." ucap ke dua putra kembarnya bersamaan).
Mereka bertiga pun saling berpelukan hingga tanpa sengaja mata elang ke tiga anak kembarnya melihat divisi lain mengeluarkan pistolnya dan di arahkan ke daddy Ray, paman Hendrik, Elizabeth dan ke dua bodyguard milik Daddy Ray.
"Daddy mereka mengeluarkan senjata." ucap ke tiga anak kembarnya dengan serempak.
Agnes langsung memberikan isyarat ke dua kakaknya dan mereka pun setuju permintaan adik bungsunya.
"Jika kalian berani mengambil pistol maka jangan salahkan aku untuk menembak kalian." Ucap daddy Ray sambil mengarahkan pistolnya ke arah mereka diikuti oleh paman Hendrik dan dua orang bodyguardnya.
__ADS_1
Tangan mereka berhenti bergerak dan menatap daddy Ray dengan tatapan polosnya seakan tidak mengerti.
"Pistol apa tuan, saya tidak mengerti." Ucap divisi sales.
"Benar tuan saya juga tidak mengerti maksud tuan." Jawab divisi keamanan.
"Benar tuan." Jawab mereka serempak.
("Daddy jangan percaya dengan omongan mereka, mereka bicara itu untuk mengalihkan perhatian daddy." ucap Abner).
("Daddy mereka diam - diam mengambil pistol, tembak saja daddy." ucap1 Alvaro).
"Tembak." ucap daddy Ray.
Daddy Ray langsung menembak orang - orang - orang tersebut termasuk paman Hendrik dan ke dua bodyguard nya.
Mereka tidak mau berdiam saja merekapun ikut menembak tapi karena kalah cepat senjata mereka ada yang terpental dan melukai tangan mereka. Tanpa sepengetahuan daddy Ray seseorang mengarahkan senjatanya ke daddy Ray dan Paman Hendrik. Kecuali ke tiga anak kembarnya dan Elizabeth karena berada di sebelah pria tersebut.
("Daddy dari arah jam tiga ada yang mengarahkan pistol ke daddy dan arah jam sembilan mengarahkan pistol ke arah Paman Hendrik." ucap Abner dengan nada panik).
duag
Bruk
Dor
"Akhhhhhhhh..." Teriak pria tersebut sambil memegangi perutnya yang terluka terkena luka tembak).
Bruk
Seseorang masuk ke ruang meeting dan dengan gerakkan salto langsung menendang pistol itu hingga terjatuh. Sedangkan Elizabeth merebut pistol tersebut dengan cara menekuk tangannya kemudian menarik pelatuknya. Hingga terdengar suara bunyi tembakan bersamaan terdengar suara teriakan pria tersebut dan langsung ambruk.
"Agnes." panggil daddy Ray.
Orang yang tadi masuk ke dalam ruang meeting adalah Agnes, dirinya meminta ijin ke dua kakaknya untuk pergi ke ruang meeting karena dirinya merasakan tidak enak dan ke dua kakaknya yang mengerti kode adiknya langsung menganggukkan kepalanya.
Agnes berlari dengan cepat menuju ke ruang meeting dan beruntung pintunya terbuka sedikit dengan perlahan Agnes membuka pintu meeting.
Ketika mendengar ucapan kak Abner, Agnes langsung mengerti dan dengan gerakan lincah Agnes melakukan salto dan menendang pistol tersebut. Agnes menyerang pria itu hingga pria itu tidak sadarkan diri.
" Daddy, jangan di tembak lebih baik buat mereka babak belur." ucap Agnes.
"Daddy, jangan di tembak lebih baik buat mereka babak belur." ucap Abner dan Alvaro bersamaan
"Baik, serang mereka." ucap daddy Ray
Mereka pun memukul para divisi yang tersisa hingga mereka babak belur karena mereka tidak bisa bela diri dengan di bantu Elizabeth.
"Bawa mereka ke kantor polisi." Perintah daddy Ray.
"Baik tuan." Jawab mereka serempak.
Paman Hendrik menghubungi anak buah lainnya karena orang yang di bawa ke kantor polisi lumayan banyak sedangkan mereka hanya berlima termasuk paman Hendrik dan Elizabeth. Tidak berapa lama para bodyguard datang dan sebagian membawa mereka ke kantor polisi dan sebagian masih berada di tempat itu.
Daddy Ray berjalan ke arah putri bungsunya kemudian langsung menggendongnya.
cup
cup
cup
Daddy Ray langsung mencium kening dan ke dua pipi Agnes kanan dan kiri.
"Agnes baik - baik saja Dad." Jawab Agnes sambil tersenyum dan memeluk tubuh daddynya dengan ke dua tangan mungilnya.
"Syukurlah daddy senang mendengarnya, oh iya kak Abner dan kak Alvaro kemana?" tanya daddy Ray.
"Kak Abner dan kak Alvaro di ruangan khusus CEO dad." Jawab Agnes.
Daddy Ray langsung berjalan meninggalkan ruang meeting dan sebagian bodyguard yang tersisa membersihkan tempat itu karena ada bercak darah dan merapikan tempat meeting yang keadaannya sangat berantakan dengan di bantu Hendrik dan Elizabeth.
ceklek
Daddy Ray membuka pintu ruangan khusus CEO dan melihat ke dua putranya sedang menatap ke arahnya.
"Anak - anak daddy, terima kasih sudah menolong daddy." Jawab daddy Ray sambil berlutut dan memeluk ke tiga anak kembarnya di mana Agnes berada di tengah - tengah mereka.
"Karena daddy sangat berharga buat kami." ucap ke tiga anaknya dengan serempak sambil membalas pelukan daddy Ray.
"Kalian juga sangat berharga buat daddy." ucap daddy Ray terharu.
Mereka bertiga saling berpelukan dan rasa hangat di hati daddy Ray karena memiliki keluarga yang sangat mencintai dirinya.
"Daddy, kak Abner dan kak Alvaro, Agnes sesak tidak bisa bernafas." ucap Agnes karena dirinya berada di tengah-tengah mereka.
Mereka serempak melepaskan pelukannya kemudian tertawa bersama.
"Ayo sekarang kita duduk dan ceritakan semuanya apa yang telah terjadi." ucap daddy Ray.
Mereka berempat duduk di sofa dan Alvaro mulai menceritakan dari awal mereka meretas data perusahaan orang yang telah menghina Mommy Abigail hingga kejadian terakhir yang di alami oleh mereka.
"Begitu daddy ceritanya." Ucap Alvaro mengakhiri ceritanya.
"Daddy ingin bertanya waktu itu data daddy ada yang meretas dan tiba-tiba orang itu memberikan tambahan pengamanan apakah itu tindakan kalian?" tanya daddy Ray sambil menatap ke tiga anak kembarnya yang sangat tampan dan cantik.
"Benar daddy, maafkan kami." Ucap mereka serempak.
"Kenapa kalian melakukan itu?" tanya daddy Ray.
Alvaro menceritakan dari awal tentang sampul majalah bisnis yang sangat mirip dengan wajahnya sehingga mereka meretas data daddy Ray.
"Maafkan kami dad, karena kami ingin mempunyai daddy seperti teman - teman kami di mana teman - teman kami jika berlibur bersama mommy dan daddy sedangkan kami hanya bersama mommy." ucap Agnes dan tidak berapa air matanya keluar.
Abner dan Alvaro ikut menangis begitu pula dengan daddy Ray. Daddy Ray hatinya sangat sakit mendengar ungkapan hati putrinya dan tangisan ke tiga anak kembarnya.
"Kami sering di hina karena tidak mempunyai daddy tapi mommy selalu memarahi mereka yang telah menghina kami dan mengatakan kalau daddy pergi bekerja di luar negri." Sambung Agnes.
"Maafkan daddy sayang, daddy janji untuk menjaga kalian dan tidak ada lagi yang menghina kalian lagi." ucap daddy Ray sambil memeluk ke tiga anak kembarnya.
"Sekarang kita pulang, mommy kalian pasti sedih dan pikiran kalau kita pulang lama." ucap daddy Ray dengan nada lembut.
"Baik daddy." Jawab mereka serempak
"Tapi sebelum itu basuh muka kalian agar mommy tidak sedih melihat kalian menangis." ucap daddy Ray.
"Baik daddy." Jawab mereka serempak lagi.
Mereka bertiga ke arah kamar mandi yang dekat dengan ruangan tersebut sedangkan daddy Ray hanya menatap ke tiga anak kembar kesayangannya.
"Maafkan daddy sayang mulai saat ini dan seterusnya daddy janji tidak akan meninggalkan kalian. Daddy akan menebus kesalahan daddy karena air mata kalian sangat berharga buat daddy. Terima kasih istriku kamu melahirkan dan memberikan ke tiga anak kembar genius untukku dan mengatakan tentangku kalau daddynya bekerja di luar negri." ucap daddy Ray.
__ADS_1
"Daddy ayo kita pulang." Ajak mereka serempak.
"Ok." Jawab daddy Ray menggendong ke dua anak kembarnya karena Abner tidak mau di gendong seperti ke dua adiknya sambil berjalan keluar ruangan CEO.
"Abner tolong dorong pintunya." pinta daddy Ray.
"Baik daddy." Jawab Abner.
Abner memutar gagang pintu kemudian mendorong pintu agak lebar kemudian berdiri menyamping agar Daddy Ray bisa berjalan ke luar setelah daddynya berjalan keluar ruangan barulah Abner menutup kembali pintu tersebut. Mereka berjalan ke arah lift dan jari mungil Abner menekan tombol agar lift terbuka. Setelah pintu lift terbuka merekapun masuk ke dalam ruangan persegi empat tersebut kemudian Abner menekan tombol angka satu.
"Daddy, perusahaan milik Daddy yang berada di pusat banyak yang pintar dalam bekerja jadi ambil beberapa pegawai dari semua divisi untuk dipindahkan ke sini karena perusahaan ini sangat perlu diperbaiki karena kalau tidak bisa bangkrut." ucap Alvaro dengan nada serius.
Daddy Ray hanya menatap Alvaro tanpa berkedip karena putranya bicaranya seperti orang dewasa yang mengerti tentang dunia bisnis.
"Daddy kenapa bengong?" tanya Alvaro sambil melambaikan tangannya.
"Daddy sangat terkejut kenapa cara bicaramu seperti orang yang mengerti tentang bisnis." ucap daddy Ray.
"Daddy, kak Alvaro memang sangat menguasai bidang bisnis, kami berdua juga bisa menguasai bidang bisnis tapi tidak sehebat kak Alvaro." ucap Agnes menjelaskan.
"Benarkah?" tanya daddy Ray dengan wajah terkejut.
"Benar daddy." Jawab Agnes.
"Kalau anak daddy yang sangat cantik ini menguasai seni bela diri." ucap Agnes narcis.
Ke dua kakaknya hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan adik bungsunya yang narsis sedangkan daddy Ray hanya tersenyum mendengar ucapan putri bungsunya.
Ting
Pintu lift terbuka merekapun berjalan melewati lobby dan di depan lobby sudah ada asisten setianya siapa lagi kalau bukan paman Hendrik. Paman Hendrik langsung menggendong Abner kemudian membuka pintu mobil belakang pengemudi.
"Paman aku duduk di depan saja." ucap Abner.
"Baik tuan muda kecil." Jawab paman Hendrik.
Paman Hendrik masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke mansion.
"Paman Hendrik besok ikut jalan - jalan sama kami ya?" ajak Agnes.
"Jalan - jalan kemana Nona muda kecil?" tanya paman Hendrik.
"Liburan di villa paman dan ajak Tante Elizabeth." Ucap Agnes yang ingin menjodohkan mereka berdua.
" Tapi.." ucapan paman Hendrik terpotong oleh daddy Ray.
"Besok kamu ikut dan ajak Elizabeth." ucap daddy Ray tak terbantahkan.
" Baik tuan." Jawab paman Hendrik pasrah.
"Oh ya siapa Elizabeth?" Tanya Daddy Ray penasaran.
"Wakil CEO perusahaan ini Dad, sepertinya Tante Elizabeth dan Paman Hendrik cocok." Jawab Agnes.
"Agnes, kamu belajar dari mana?" Tanya Daddy Ray dengan wajah terkejut.
"Teman sekolah Agnes cerita kalau tante salah satu dari mereka di jodohkan dengan salah satu Paman mereka." Jawab Agnes polos.
'Sepertinya aku harus pindahkan sekolah mereka agar pikiran mereka seperti apa yang dipikirkan anak-anak.' Ucap Daddy Ray dalam hati.
"Tuan, besok saya libur saja ya." Pinta Hendrik.
"Tidak boleh." Jawab mereka bersamaan.
'Akhhhhh.... besok hari liburku ingin santai - santai di rumah tidak jadi hiks .. hiks... tuan muda Ray dan ke tiga anak kembar tega banget padaku? kalau tuan enak liburan dengan keluarga, tuan besar dan nyonya besar ada pasangan sedangkan aku? aku sama siapa?hiks .. hiks .. ingin rasanya aku mencekik mu tuan." umpat paman Hendrik dalam hati.
"Kamu mengumpat ku Hendrik?" tanya daddy Ray.
"Paman mengumpat daddy kami?" tanya ke tiga anak kembar serempak secara bersamaan dengan daddy Ray.
Mereka saling menatap sedangkan paman Hendrik menatapnya dari spion mobil.
"Kenapa bisa kompak?" tanya mereka bersamaan.
Daddy Ray dan ke tiga anak kembar tersebut tertawa bersama sedangkan paman Hendrik hanya tersenyum hatinya sangat senang melihat kebahagiaan tuan Ray.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai di mansion dan langsung di sambut oleh mommy Abigail.
"Anak mommy kemana aja nih?" tanya mommy Abigail sambil membelai ke tiga anak kembarnya secara bergantian.
"Dari perusahaan mommy." Jawab ke tiga anak kembar.
"Oh.. sekarang kalian mandi ya setelah itu makan." ucap mommy Abigail.
"Baik mommy." Jawab ke tiga anak kembar itu lagi.
Alvaro dan Agnes langsung turun dari gendongan daddy Ray sedangkan Abner turun dari gendongan paman Hendrik.
"Kak Hendrik nanti ikut makan saja bersama kami ya." Ucap mommy Abigail sambil mengambil tas kerja suaminya.
"Baik nyonya." Jawab paman Hendrik sambil berjalan ke arah kamar tamu.
Paman Hendrik memang sering menginap di mansion milik daddy Ray, awalnya paman Hendrik menolak tapi karena dengan alasan mansion nya terlalu luas dan mansion sangat sepi membuat paman Hendrik akhirnya tinggal di mansion.
Daddy Ray dan mommy Abigail berjalan berdampingan menuju ke kamarnya. Mommy Abigail membantu suaminya melepaskan pakaiannya membuat daddy Ray sangat senang karena dirinya sudah ada yang mengurusnya dan tidur sudah tidak sendiri lagi.
"Mommy, daddy sangat bahagia sejak kehadiran mommy dan ke tiga anak kembar kita hidup daddy lebih berwarna." ucap daddy Ray sambil tersenyum dan memeluk pinggang ramping istrinya.
"Mommy juga bahagia mempunyai suami yang sangat sayang dan tanggung jawab dengan mommy dan ke tiga anak kita." ucap mommy Abigail sambil membalas pelukan suaminya.
"Maafkan daddy kalau saja waktu di hotel itu daddy bisa menahan diri dan tidak melakukan itu kehidupan mommy dan ke tiga anak kita tidak di hina orang lain dan mommy tidak menderita." ucap daddy Ray dengan mata sendu.
"Ssstt sudah daddy, itu sudah masa lalu apalagi kalau hal itu tidak terjadi bisa saja daddy menikah dengan wanita lain." ucap mommy Abigail sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Mommy kan tahu kalau daddy mempunyai alergi jika bersentuhan dengan lawan jenis kecuali dengan mommy. Jadi bagaimana mungkin daddy menikah dengan wanita lain." Ucap daddy Ray sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Ah masa? waktu kita bertemu di restoran daddy bertunangan dengan wanita ular itu. Kalau saja Daddy tidak bertemu denganku dan ke tiga anak kembar kita pasti daddy sekarang sudah menikah dengan wanita itu." goda istrinya sambil menatap mata suaminya.
"Sebenarnya daddy menolak acara pertunangan itu tapi karena mommy dan daddy sedih terpaksa menyetujuinya." ucap daddy Ray jujur.
"Tuh kan benar setelah itu pasti daddy menikah dengan wanita itu. Apa jangan - jangan daddy masih mencintai wanita itu?" tanya mommy Abigail sambil melepaskan pelukannya dan mendorong perlahan tubuh suaminya kemudian membalikkan badannya.
grep
Daddy Ray memeluk istrinya dari arah belakang kemudian mencium leher istrinya membuat Mommy Abigail kegelian.
"Tidak mommy, daddy waktu itu setuju bertunangan tapi dengan syarat kami menikah lima tahun lagi." ucap daddy Ray dengan jujur.
"Kenapa lima tahun lagi?" tanya mommy Abigail dengan wajah terkejut.
"Karena daddy yakin sebelum lima tahun daddy pasti menemukan mommy dan sekaligus bertemu dengan anak kita." ucap daddy Ray.
__ADS_1
"Kenapa daddy yakin kalau aku mempunyai anak?" tanya mommy Abigail dengan wajah bingung.