
"Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan dan dikuatirkan oleh seorang wanita." ucap Albert sambil tersenyum mengingat wajah cemas Veronica melihat lengan Albert tertembak.
Setengah jam lamanya akhirnya Veronica sudah membawa nampan yang berisi pisau, lilin, air hangat dan baskom kecil sesuai apa yang di minta oleh Albert.
"Kak Albert, ini yang tadi Kak Albert pinta." Ucap Veronica sambil meletakkan nampan di atas meja dekat ranjang.
"Tolong semuanya diletakkan di lantai." Ucap Albert.
" Baik." Jawab Veronica singkat sambil kembali nampan tersebut kemudian diletakkan di lantai.
Veronica berlutut untuk menaruh semua barang - barang ke lantai kemudian berdiri kembali.
"Apalagi kak?" tanya Veronica.
"Tolong bantu turunkan Kakak ke lantai." Mohon Albert.
"Baik kak." Jawab Veronica patuh.
Veronica memeluk Albert dari arah samping hingga terdiam aroma harum dari tubuh Veronica membuat wortel import milik Albert perlahan menunjukkan reaksi.
'Aduh si*l kenapa adik kecilku jadi tegang?' Tanya Albert dalam hati.
Jantung Albert berdetak kencang dan di tambah wortel import milik Albert membuat Albert frustasi.
"Hati - hati kak." Ucap Veronica sambil menurunkan tubuh Albert secara perlahan agar duduk di lantai.
"Veronica." Panggil Albert setelah ke duanya duduk di lantai.
Veronica langsung memalingkan wajahnya membuat bibirnya bersentuhan dengan bibir Albert. Mereka saling menatap tanpa bicara dan ke dua bibir mereka hanya menempel membuat ke dua jantung mereka berdetak lebih kencang.
cup
Albert mengecup bibir Veronica singkat karena tidak ada perlawanan Albert melu**t bibir Veronica setelah agak lama Albert menghentikan ciumannya karena Veronica menepuk perlahan bahu Albert yang tidak terluka karena kekurangan pasokan oksigen.
"Manis." ucap Albert sambil menjilati bibirnya.
"Ciuman pertamaku." pekik Veronica setelah tersadar dengan apa yang telah terjadi.
"Sama donk, itu juga ciuman pertamaku." Jawab Albert dengan nada santai.
bugh
akhhhhh
Veronica yang kesal dengan apa yang dilakukan oleh Albert memukul lengan Albert yang terkena luka tembak membuat Albert berteriak kesakitan.
"Maaf kak, tidak sengaja." Ucap Veronica dengan wajah memerah karena merasa bersalah atas apa yang tadi dilakukannya.
"Sudahlah lupakan, tolong nyalakan lilin itu." pinta Albert yang tahu kalau Veronica tidak sengaja.
__ADS_1
Veronica menyalakan lilin tersebut dan di dekatkan ke arah Albert. Albert kemudian mengambil pisau tersebut lalu memegang pisau untuk diarahkan ke lilin yang sudah menyala.
"Kak Albert lebih baik kita ke dokter untuk mengambil peluru di dalam lengan Kak Albert." pinta Veronica dengan wajah sangat kuatir.
"Aku tidak suka kalau pergi ke dokter." jawab Albert.
"Kak Albert, aku ke bawah ya mau membuatkan bubur buat Kak Albert." ucap Veronica karena dirinya sungguh tidak tega melihat pisau itu nanti mengorek lengan Albert untuk mengambil pelurunya.
"Ok." Jawab Albert singkat.
Veronica langsung buru - buru keluar karena dirinya tidak sanggup untuk melihatnya. Veronica mendengar suara teriakan Albert membuat dirinya menangis karena tidak bisa melakukan apa - apa. Veronica langsung menuruni anak tangga menuju dapur untuk memasak bubur.
"Untung ada beras dan bahan - bahan dapur lengkap jadi aku bisa membuat bubur." Ucap Veronica sambil meracik bumbunya.
Veronica mendengar kembali teriakan Albert membuat dirinya menangis kembali entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar teriakan kesakitan dari mulut Albert.
Setelah hampir dua puluh lima menit bubur ayam buatan Veronica sudah jadi. Veronica mengambil mangkok kemudian mengisinya dengan menggunakan mangkok. Bubur ayam tersebut di beri tambahan suwiran ayam, kerupuk dan teman-temannya.
Veronica membawa mangkok tersebut dengan menggunakan nampan. Veronica menaiki anak tangga menuju ke kamar Albert dengan jantung berdebar-debar.
ceklek
Veronica membuka pintu kamar Albert kemudian masuk ke dalam kamar Albert. Veronica berjalan ke arah ranjang kemudian meletakkan nampan di atas meja dekat ranjang. Veronika melihat Albert masih duduk di lantai dan pelurunya sudah berhasil di ambil.
"Kak Albert, aku bantu membersihkan luka Kak Albert ya." Ucap Veronica sambil duduk kemudian membersihkan lukanya.
"Kak Albert apakah ada kotak obat?" tanya Veronica.
"Ada di laci." Jawab Albert.
Veronica langsung berdiri dan berjalan ke arah laci kemudian membukanya ternyata tidak ada lalu membuka laci ke dua dan melihat kotak obat. Veronica mengambil kotak obat tersebut kemudian berjalan ke arah Albert.
"Aku perban lengan kakak." Ucap Veronica.
Sekali lagi Albert menganggukkan kepalanya kemudian dengan hati - hati Veronica mulai memperban lengan Albert membuat Albert meringis menahan rasa sakit.
"Maaf pasti sakit." ucap Veronica kemudian meniup lengan Albert.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Albert melihat Veronica menangis dan matanya sudah membengkak akibat banyak menangis.
"Aku tidak tega mendengar teriakan Kak Albert dan juga melihat luka kak Albert." Jawab Veronica jujur.
Albert hanya tersenyum bahagia karena Veronica memperhatikan dirinya.
"Sudah selesai dan sekarang aku bantu Kak Albert bersandar di kepala ranjang." ucap Veronica.
Albert lagi - lagi menganggukkan kepalanya tanda setuju walau dirinya rasanya ingin tertawa bahagia karena yang terluka kan lengannya bukan kakinya jadi otomatis dia bisa berjalan seperti biasanya tapi karena mendapatkan perhatian khusus dari Veronica membuat Albert membiarkannya.
Apalagi Albert bisa berdekatan dengan Veronica dan mencium bau harum tubuh Veronica karena itulah dirinya membiarkan apa yang akan dilakukan oleh Veronica atas dirinya. Albert duduk bersandar di kepala ranjang kemudian Veronica menyelimuti tubuh Albert sampai ke perutnya.
__ADS_1
Setelah selesai Veronica membereskan semua peralatannya dan menaruhnya di tempat semula. Lima belas menit kemudian Veronica sudah selesai membereskannya. Veronica kembali duduk di pinggir ranjang dekat Albert.
"Kak Albert makan bubur dulu ya?" ucap Veronica sambil mengambil mangkok di meja.
"Ok." Jawab Albert singkat.
"Kak Albert aku suap pin ya?" tawar Veronica
"Kakak tidak mau ngerepotin dirimu." Ucap Albert.
"Veronica tidak merasa direpotkan kok, mulutnya buka kak?" pinta Veronica sambil menyendok kan bubur kemudian diarahkan ke mulut Albert.
Albert membuka mulutnya, Veronica memasukkan buburnya ke dalam mulut Albert dengan telaten hingga tidak terasa bubur ayamnya habis. Veronica meletakkan kembali mangkoknya kemudian memberikan minum ke mulut Albert.
Albert meminum hingga airnya habis. Veronica membawa kembali mangkok yang sudah kosong ke dapur meninggalkan Albert sendiri. Sepuluh menit kemudian Veronica sudah kembali ke kamar Albert.
"Kak Albert mau tidur?" tanya Veronica.
Albert hanya menganggukkan kepalanya, Veronica langsung membantu Albert untuk berbaring kemudian menyelimuti tubuh Albert sampai ke dada.
"Kakak mohon temani Kakak tidur." mohon Albert.
Seumur hidup baru kali ini dirinya memohon dan baru kali ini pula dirinya mengijinkan tubuhnya di sentuh oleh seorang gadis dan itu adalah Veronica.
"Tapi aku tidak pernah tidur bareng laki - laki." tolak Veronica secara halus.
"Kakak tahu tapi Kakak hanya ingin kamu menemani Kakak tidur. Kakak janji tidak akan berbuat macam-macam denganmu, kita hanya tidur saja tidak lebih." ucap Albert dengan tegas.
"Baiklah." Jawab Veronica singkat dan pasrah karena tidak tega menolaknya.
"Tapi aku mau mandi dulu tubuhku sangat lengket." Ucap Veronica.
"Ok." Jawab Albert penuh semangat.
"Oh iya Kak bolehkah aku pinjam kemeja milik Kak Albert? Karena aku tidak membawa pakaian?" tanya Veronica dengan perasaan takut karena pakaian milik Albert adalah pakaian mahal dan limit edition.
"Boleh, ambil saja di dalam lemari terserah yang mana." Jawab Albert.
"Ok. Terima kasih kak." Jawab Veronica sambil berjalan ke arah lemari.
Veronica membuka pintu lemari dan mencari kemeja setelah menemukan yang pas, Veronica menunjukkan kemeja yang akan dipinjamkan dan Albert hanya mengangguk kepalanya tanda setuju.
Veronica menutup pintu lemari kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Dua puluh lima menit kemudian Veronica sudah keluar dari kamar mandi.
glek
Albert menelan salivanya melihat paha putih dan mulus milik Veronica. Veronica memutari ranjang milik Albert kemudian berbaring di samping ranjang. Veronica tidur terlentang dan tidak membutuhkan waktu yang tidak lama dirinya sudah tertidur pulas karena dirinya sangat lelah.
"Aduh kenapa mataku tidak bisa dipejamkan." gumam Albert.
__ADS_1