Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Draft


__ADS_3

"Sayang, dres ini sangat cantik jika kamu pakai pasti kamu tambah semakin cantik." ucap Albert memberikan dress untuk kekasihnya.


"Kak Albert, sudah cukup Kak Albert membeli perhiasan buatku." Ucap Veronica sambil menatap mata Albert.


Cup


Bugh


"Kak Albert, kenapa menciumku?" Tanya Veronica dengan nada kesal sambil memukul bahu Albert.


Cup


"Setiap memanggilku Kak Albert maka Aku cium." Jawab Albert kemudian kembali mencium bibir Veronica.


"Aku tidak terbiasa dan terasa aneh." Ucap Veronica.


"Lama-lama juga terbiasa." Jawab Albert.


Veronica terdiam sambil berpikir membuat Albert tersenyum dan mengusap rambut Veronica dengan lembut.


"Bagaimana kalau di ubah panggilannya, sama-sama manggil Sayang?" Tanya Albert.


"Baiklah." Jawab Veronica sambil tersenyum.


'Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan, membuatku sangat nyaman.' Sambung Veronica dalam hati.


"Sayang, Aku ingin kamu mencoba dress ini." ucap Albert.


cup.


"Tidak sayang, pakaianku sangat banyak lebih baik di tabung." Ucap Veronica sambil mengecup bibir Albert dengan wajah merona.


Veronica melakukan itu karena dirinya sudah sangat yakin kalau Albert adalah jodohnya.


Albert tersenyum mendengar ucapan Veronica, dirinya sangat bahagia memiliki kekasih yang tidak matre. Veronica sangat berbeda dengan wanita yang akan dijodohkan dan juga wanita di luaran sana.


"Tabunganku sudah banyak Sayang." ucap Albert menguji Veronica.


"Tetap aku tidak mau, oh ya kita ke supermarket ya sepertinya bahan untuk memasak di kulkas milik sayangku banyak yang habis." Ucap Veronica sambil memegang dress yang di pegang Albert dan dikembalikan ke tempatnya kemudian menarik tangan Albert.


"Baiklah." Jawab Albert sambil tersenyum bahagia dan memasukkan jari - jarinya ke jari jemari Veronica hingga jari jemari mereka saling bertautan.


'Aku semakin yakin dengan dirimu sayang.' Ucap Albert dalam hati sambil tersenyum bahagia.


Mereka berjalan ke supermarket, Albert mendorong troli sedangkan Veronica memilih bahan dapur dan juga memilih ikan, daging sapi, ayam serta udang.


"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Veronica sambil memilih bahan - bahan yang dibutuhkan.

__ADS_1


"Silahkan Sayang." Ucap Albert.


"Maaf bukannya aku curiga tapi jujur jika aku tidak bertanya membuatku penasaran." Ucap Veronica.


Albert diam menunggu ucapan Veronica selanjutnya.


"Sebenarnya waktu aku memaksa bubur buatmu, aku melihat bumbu untuk bahan - bahan masakan lengkap begitu pula yang berada di dalam kulkas. Aku sempat berfikir mungkin ada pelayan yang memasak dan membersihkan rumah karena rumah Sayangku sangat bersih dan aku melihat tidak ada debu sedikit pun. Tapi sampai siang tidak ada pelayan yang datang, apakah kak Albert mempunyai kekasih?" tanya Veronica berusaha menahan rasa sesak di hatinya.


Jujur dirinya tidak siap mendengar ucapan dari orang yang berhasil memporak porandakan hatinya. Tapi lebih baik sakit sekarang daripada nanti itu yang dipikirkan oleh Veronica.


"Jadi menurutmu apartemen milikku bersih dan semua bahan masakan lengkap maka Sayangku mengambil kesimpulan kalau aku mempunyai kekasih?" Tanya Albert memperjelas ucapan Veronica.


"Iya." Jawab Veronica singkat sambil tetap memilih untuk menghilangkan perasaannya yang tidak menentu.


grep


Tangan kiri Albert memeluk Veronica sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Veronica yang sedang mengambil bumbu masakan yang berada di atas.


'Sayangku tahu, hanya Sayangku wanita yang pertama dan yang terakhir masuk dan tidur di kamarku. Di tambah kamu wanita pertama yang telah mengambil ciuman pertamaku sama seperti dirimu aku adalah pria pertama yang telah mengambil ciuman pertamamu.' Bisik Albert sensual.


"Kak Albert." Panggil Veronica dengan wajah merona.


"Hehehehe ..."


"Soal apartemen ku bersih dan bumbu dapur yang lengkap, Aku melakukannya sendiri karena Aku sudah terbiasa melakukannya." Ucap Albert.


Albert mengambil bumbu dapur kemudian meletakkan di troli sedangkan Veronica hanya tersenyum mendengar ucapan Albert.


"Ayo sayang kita lanjut lagi belanjanya karena nanti kita jemput orang tuamu di bandara." Ucap Albert sambil tangan kiri menepuk bahu Veronica yang sedang melamun dan tangan kanannya mendorong troli.


Veronica tersadar dari lamunannya kemudian menatap wajah tampan kekasihnya dan tidak ada kebohongan di matanya.


Veronica mengalihkan pandangannya kembali kemudian memilih apa yang dibutuhkan untuk di masak.


"Honey, lebih suka makanan apa?" tanya Veronica.


"Apa saja suka yank." Ucap Albert.


"Perasaan memanggilku kadang yank dan kadang sayang." Ucap Veronica.


"Hehehehe kamu juga yank, kadang honey dan kadang sayang." ucap Albert tidak mau kalah.


"Masa sih sayang perasaan tidak." Ucap Veronica.


"Tadi kamu memanggilku honey." Ucap Albert yang tidak mau kalah.


"Hmmm bagaimana kalau kita ganti nama panggilan." Usul Veronica.

__ADS_1


"Ganti apa yank?" tanya Albert.


"Kita sama - sama memanggil dengan sebutan darling, bagaimana kalau darling?" Tanya Veronica sambil mengedipkan matanya.


"Ok darling, no problem." ucap Albert sambil membalas kedipan Veronica.


Albert dan Veronica tersenyum bahagia, Mereka sangat bersyukur mempunyai pasangan yang saling mencintai.


"Darling, tumben membeli roti dengan berbagai rasa dan itu sangat banyak." Ucap Albert dengan wajah bingung.


"Nanti darling akan tahu dan tenang saja darling, Aku yang membayar semua rotinya." Ucap Veronica yang mengira Albert tidak mau membayar rotinya.


ctak


"Aduh darling, sakit tahu." Ucap Veronica sambil mengelus keningnya karena di sentil oleh Albert.


Albert meniup kening Veronica kemudian mengusapnya.


"Maaf darling, aku tidak melarangmu membeli roti sebanyak apapun atau memborong seluruh roti yang ada di toko roti tapi aku hanya bingung kenapa darling memborong roti sebanyak itu. Apalagi uangku adalah uangmu juga jadi jangan mengatakan itu lagi ya darling jujur aku tidak suka." Ucap Albert.


"Baik darling, maafkan aku." Ucap Veronica sambil menatap mata kekasihnya dengan sendu karena merasa bersalah mengatakan hal itu.


"Tidak apa - apa darling asal jangan diulangi lagi." Ucap Albert sambil mengusap rambut Veronica dengan lembut.


Setelah selesai mengambil roti mereka langsung menuju ke arah kasir. Semua belanjaan di bayar Albert termasuk roti kemudian Mereka berdua berjalan keluar dari supermarket.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Albert.


"Masih ada dua jam lagi bagaimana kalau kita pulang dulu ke apartemen darling sekalian meletakkan barang belanjaan." Usul Veronica.


"Ok." Jawab Albert singkat.


Mereka berdua berjalan ke arah parkiran sambil mendorong troli. Albert menekan remote mobil dan pintu bagasi mobil terbuka kemudian Albert memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi.


"Darling untuk roti taruh di kursi belakang." Ucap Veronica sambil membuka pintu mobil sambil meletakkan roti di kursi belakang pengemudi.


"Ok darling." Jawab Albert.


Albert meletakkan barang belanjaan di bagasi mobil sedangkan Veronica meletakkan roti di kursi belakang pengemudi. Setelah selesai mereka masuk ke dalam mobil. Albert mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


" Darling, aku ingin jujur padamu." Ucap Albert sambil melirik sekilas ke arah Veronica


Veronica memiringkan badannya dan menatap wajah tampan Albert dari arah samping.


" Kamu masih ingat dengan wanita yang berada di toko perhiasan?" tanya Albert.


"Ya aku masih ingat, aku masih kesal dengan wanita itu. Angkuh dan sombong senang sekali merendahkan orang lain. Rasanya aku ingin melakban mulutnya." Ucap Veronica dengan nada kesal.

__ADS_1


Albert tersenyum mendengar ucapan Veronica yang apa adanya dan ketika bicara sangat menggemaskan di mata Albert.


__ADS_2