Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Kematian Desi dan Orang Tua Desi


__ADS_3

"Desi tinggal di mansion milik orang tuanya di pinggiran hutan. Sepertinya orang tuanya tahu kalau putrinya melakukan kesalahan karena itulah mereka sengaja menyembunyikannya." Jawab Leonard menjelaskan.


"Kalau Tante Veronica berada di rumah sakit xxxx di negara S dan kondisinya masih koma." Sambung Abner.


"Kalau begitu Albert akan ke sana untuk menemui Veronica." Ucap Albert sambil berusaha bangun namun di tahan oleh dokter Adrian.


"Tidak Albert, Kamu masih terluka jadi lebih baik Kamu istirahatlah." Ucap dokter Adrian.


"Tapi Dad ..." Ucapan Albert terpotong oleh dokter Adrian.


"Daddy dan Mommy akan ke sana nunggu Kamu sampai sembuh." Ucap dokter Adrian dengan nada tegas.


"Kok kalian berdua? Kami semua akan ke sana sekalian melamar Veronica." Ucap Daddy Raka.


"Benarkah Opa?" Tanya Albert sambil tersenyum bahagia.


"Tentu saja benar, karena itu cepatlah sembuh biar kita semuanya datang ke sana melamar sekalian acara kumpul keluarga." Jawab Daddy Raka.


"Mommy setuju, sudah lama kita tidak pernah kumpul keluarga." Sambung Mommy Nicole.


"Hore liburan." Ucap Abner, Alvaro dan Agnes bersamaan.


"Rico, Adrian, Leonard, Ronald, Marcel, Rey, Ray, Adrianus, Leo dan Kenzo, kita keluar sebentar ada yang ingin Daddy bicarakan di ruangan kerja milik Adrian." Ucap Daddy Raka setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


"Mommy dan yang lainnya tinggal di sini, kalau ada apa-apa kabari Daddy." Ucap Daddy Raka.


"Baik Dad." Jawab Mommy Nicole.


Daddy Raka, Rico, Adrian, Leonard, Ronald, Marcel, Rey, Adrianus, Leo dan Kenzo pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke ruangan dokter Adrian.


Kini mereka berada di ruang kerja dan duduk di sofa masing-masing sedangkan Daddy Raka menatap satu persatu putra, menantu dan para cucunya yang sudah tumbuh dewasa.

__ADS_1


"Daddy mengumpulkan kalian untuk membunuh Desi dan keluarganya. Karena selain mereka sengaja membuat Albert celaka, mereka sengaja menyembunyikan putrinya yang jelas - jelas bersalah." Ucap Daddy Raka sambil menahan amarahnya.


"Daddy melakukan ini agar di kemudian hari mereka tidak lagi mencelakai Albert atau salah satu anggota keluarga besar kita. Kesalahan mereka tidak bisa dimaafkan dan hukumannya adalah kematian mereka." Sambung Daddy Raka.


"Apakah ada yang keberatan?" Tanya Daddy Raka.


"Adrian tidak keberatan Dad, karena Desi jelas-jelas sengaja mencelakai putraku dan sudah sepantasnya wanita iblis itu mati." Ucap dokter Adrian.


"Aku Pun juga sama, setuju kalau mereka mendapatkan hukuman mati." Sambung Leonard.


"Aku juga." Jawab mereka bersamaan.


"Baik, kalau begitu siapa yang ikut misi ini?" Tanya Daddy Raka.


"Aku ikut." Jawab mereka bersamaan.


"Lebih baik ada yang menjaga Ray dan Hendrik karena kita tidak sepenuhnya percaya dengan para bodyguard kita." Ucap Daddy Raka.


"Daddy setuju jika Albert disatukan dengan Hendrik jadi kita mudah memantaunya." Ucap Daddy Raka.


"Aku juga setuju." Jawab mereka bersamaan.


"Baik kalau begitu Leo dan Kenzo, kalian berdua menjaga di ruang perawatan Albert dan Hendrik!" Perintah Daddy Raka.


"Baik Opa." Jawab ke duanya dengan serempak.


Leo dan Kenzo langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke ruang perawatan Hendrik untuk meminta dokter untuk disatukan dengan ruang perawatan Albert.


"Rey jaga Adik kembarmu dan adik iparmu bersama istrimu Katarina." Ucap Daddy Raka.


"Baik Opa." Jawab Rey dengan patuh.


Rey langsung berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut menuju ke ruang perawatan di mana adik kembarnya yang bernama Ray berada di mana istrinya yang bernama Katarina dan Mommy Karen menunggu di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kita pakai dua mobil saja, mobil pertama Daddy, Rico dan Adrian sedangkan mobil ke dua Leonard, Ronald, Marcel dan Adrianus." Ucap Daddy Raka.


Sambil berbicara Daddy Raka mengeluarkan ponselnya kemudian mengetik sesuatu setelah selesai Daddy Raka mengirim pesan tersebut ke seseorang.


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


Daddy Raka, Rico, Adrian, Leonard, Ronald, Marcel dan Adrianus keluar dari ruangan tersebut menuju ke parkiran mobil.


Tanpa sepengetahuan mereka kalau ada dua pasang mata memperhatikan Daddy Raka, Rico, Adrian, Leonard, Ronald, Marcel dan Adrianus keluar dari ruang kerja milik dokter Adrian membuat salah satu mengirim pesan ke seseorang.


"Penjagaannya di perketat jadi kita harus berhati-hati." ucap salah satu pria tersebut.


"Betul sekali jangan sampai rencana kita gagal untuk membunuh Albert dan Ray." Ucap temannya.


"Dasar bo*oh kenapa Kamu sebut namanya?" Tanya temannya dengan nada kesal.


"Maaf, Aku lupa." Jawab pria tersebut.


"Sudah jangan ribut kita pergi dari sini." Ucap pria tersebut.


"Baik, kapan kita akan menyerang mereka berdua?" Tanya temannya.


"Nanti malam." Jawab pria tersebut keceplosan.


Bugh


"Kenapa Kamu bertanya? Dasar bod*h." Umpat temannya dengan nada kesal.


"Kan Aku tidak tahu makanya Aku tanya." Jawab pria tersebut.


"Au ... Ah ... gelap." Ucap temannya dengan nada kesal sambil pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Terang begini kok gelap, dasar temanku but*." Ucap temannya sambil berjalan mengikuti langkah temannya.

__ADS_1


__ADS_2