
"Baik tapi aku minta ketika aku sedang bercerita Kak Ray jangan menyela." Pinta Mommy Abigail.
"Tentu saja tidak, ceritakanlah." Ucap Daddy Ray yang penasaran dengan masa lalu Mommy Abigail.
xxxxxx Flash Back On xxxxxxx
Abigail kecil saat itu yang masih berumur tujuh tahun memeluk gundukan yang masih baru dan bertaburan bunga - bunga khusus untuk orang yang sudah meninggal.
Daddynya Abigail kecil mengusapnya perlahan punggung putri semata wayangnya sambil duduk di tanah yang masih merah dimana jasad istrinya baru saja dikuburkan.
"Daddy.. hiks... hiks... hiks... kenapa Mommy cepat sekali meninggalkan kita." ucap Abigail kecil sambil terisak.
"Sudahlah sayang, Mommy sekarang sudah tenang di sana, sudah tidak sakit lagi. Kalau kamu menangis terus Mommy nanti sedih melihatmu menangis. Kamu tidak ingin Mommy sedih kan?" tanya Daddynya dengan kata bijaknya.
"Baik Daddy." ucap Abigail kecil saat itu.
"Anak pintar." ucap Daddynya Abigail kecil sambil melepaskan pelukannya kemudian menghapus ke dua air mata putri tersayangnya.
"Kita sekarang pulang yuk." ajak Daddynya Abigail kecil.
"Baik Daddy." Jawab Abigail kecil patuh.
Ke dua orang itupun meninggalkan area perkuburan menuju ke mansion mereka. Hari - hari mereka lalui berdua hingga di bulan yang ke lima setelah meninggal istrinya, Daddynya Abigail kecil membawa seorang wanita yang seumuran dengan dirinya dan gadis kecil yang berumur enam tahun.
"Abigail sini sayang, Daddy kenalin dengan teman kantor Daddy." ucap Daddynya Abigail kecil.
Abigail kecil berjalan mendekati Daddynya dan mengecup punggung tangan Daddynya dan bergantian dengan seorang wanita yang seumuran dengan Daddynya.
"Anak pintar dan mengerti sopan santun. Siapa namamu sayang?" tanya wanita itu dengan nada lembut.
"Abigail, Tante." ucap Abigail kecil dengan nada lembut.
"Namanya cantik secantik orangnya." puji wanita itu sambil memeluk Abigail kecil.
Abigail kecil membalas pelukan wanita itu dan tidak berapa lama mereka melepaskan pelukannya.
"Kenalkan ini anak Tante." ucap wanita itu dengan nada lembut
"Abigail." ucap Abigail kecil dengan nada lembut sambil tangan kanannya diarahkan ke gadis itu.
"Valen." ucap Valen sambil tersenyum dan membalas uluran tangan Abigail kecil.
"Pelayan siapkan minuman!" perintah Daddy Abigail kecil.
"Baik tuan." ucap kepala pelayan dengan nada sopan
Mereka berbicara panjang lebar dan terkadang mereka tertawa bersama. Suasana mansion yang sepi kini menjadi ramai. Setiap libur kerja ibu dan anak itu datang hingga tiga bulan kemudian Daddynya Abigail kecil berbicara dengan putri semata wayangnya.
"Abigail bagaimana menurutmu dengan tante Ririn?" tanya Daddynya Abigail kecil.
"Sangat baik Daddy, Daddy ingin menikah dengan tante Ririn ya?" Tanya Abigail kecil yang bisa menebak apa yang dikatakan Ayahnya.
"Apakah boleh?" tanya Daddynya Abigail kecil penuh harap.
"Boleh saja Daddy asalkan Daddy bahagia maka Abigail juga ikut bahagia." ucap Abigail kecil sambil tersenyum.
"Terima kasih sayang, kamu memang putri kesayangan Daddy." puji Daddynya Abigail kecil
Setelah selesai berbicara mereka kembali ke kamar masing-masing. Sebulan kemudian Daddynya Abigail kecil menikah dengan tante Ririn. Kini keluarga mereka sudah lengkap terlebih Abigail kecil sangat bahagia karena ibu tirinya dan adik tirinya yang selisih satu tahun sangat baik padanya.
Tiga Bulan Kemudian
Kebahagiaan Abigail kecil melihat Daddynya tidak sedih lagi membuat Abigail kecil sangat senang tapi kebahagiaan Abigail kecil terenggut dengan kematian Daddynya yang mengalami kecelakaan sewaktu pulang dari perusahaan.
Kini Abigail kecil, ibu Ririn dan Valen berada di kuburan Daddynya.
" Daddy... hiks... hiks... kenapa secepat ini meninggalkan Abigail." ucap Abigail kecil sambil menangis
"Sudahlah sayang, jangan menangis lagi Daddymu sudah tenang di sana." ucap Mommy Ririn sambil memeluk Abigail kecil dari arah samping.
Abigail kecil membalas pelukan ibu tirinya dari arah samping sambil kepalanya bersandar di bahu ibu tirinya. Setelah agak lama merekapun meninggalkan area perkuburan itu menuju ke mansion. Sampai di depan pintu mansion ada dua orang yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Ada apa Djarum dan Pecel Lele?" tanya ibu Ririn dengan nada lembut
__ADS_1
Djarum kepanjangan dari Demi Janda Aku Rela Untuk Mati adalah orang kepercayaan Daddynya Abigail kecil sedangkan Pecel Lele kepanjangan dari Pecinta Cewe Lemu - Lemu adalah pengacara pribadi Daddynya Abigail kecil.
"Maaf nyonya, bolehkah kami masuk ke dalam?" tanya Paman Djarum dengan nada sopan tanpa menjawab pertanyaan Mommy Ririn.
"Boleh silahkan." Jawab Mommy Ririn.
Mereka pun masuk ke dalam mansion dan duduk di ruang tamu.
"Maaf Mom, Abigail mau istirahat dulu." ucap Abigail kecil.
"Baiklah sayang, istirahat lah di kamar." ucap Mommy Ririn dengan nada lembut.
"Baik Mom, mari Paman Djarum dan Paman Pecel Lele." ucap Abigail kecil dengan nada lembut.
"Maaf nona kecil ini tentang warisan peninggalan Daddy nona." ucap Paman Djarum dan Pecel Lele bersamaan.
"Ada Mommy ku, biar Mommy ku yang mengurus semuanya." ucap Abigail kecil yang saat itu percaya dengan kebaikan Mommy Ririn.
"Baik nona." ucap Paman Djarum dan Pecel Lele dengan nada sopan dan bersamaan.
Abigail kecil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamar pribadinya di lantai dua sedangkan ibu tirinya Abigail kecil yang bernama Ririn dan anak kandungnya yang bernama Valen menemani asisten suaminya dan pengacara pribadi suaminya.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Mommy Ririn dengan nada lembut.
"Begini nyonya semua harta warisan milik tuan Albert akan menjadi milik Abigail kecil sedangkan nyonya Ririn dan Valen setiap bulan mendapatkan uang masing-masing Rp. 15,000,000." ucap pengacara pribadi menjelaskan.
"Apa yang mesti saya lakukan untuk Abigail? Mengingat Abigail masih kecil dan tidak mungkin bisa mengurus semua properti milik suamiku sekaligus Ayahnya Abigail?" tanya ibu Ririn dengan nada lembut walau hatinya sangat marah tapi di tahannya.
"Sekarang Abigail memang masih kecil dan nanti ketika Abigar sudah berumur tujuh belas tahun jadi bisa langsung menandatangani dokumen - dokumen yang berisi pengalihan hak atas semua aset berharga milik tuan Albert, Daddy kandung Abigail kecil.
"Jadi aku harap setelah tujuh belas tahun Abigail datang ke kantor pengacara." sambung pengacara dengan nada ramah.
"Baik Pecel Lele nanti aku akan katakan dengan putriku Abigail." ucap Mommy Ririn sambil tersenyum palsu.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit." ucap Paman Djarum dan Paman Pecel Lele secara bersamaan.
"Baik." jawab Mommy Ririn singkat.
Paman Djarum dan Paman Pecel Lele pergi meninggalkan mereka berdua.
"Baik Mom." jawab Valen patuh.
Merekapun pergi ke ruang kerja yang dulunya milik suaminya ketika masih hidup.
"Valen, apakah kamu ada ide untuk melenyapkan Abigail agar semua hartanya bisa kita miliki?" tanya Mommy Ririn dengan tersenyum licik.
"Aku pikir Mommy menyukai Abigail." ucap Valen dengan nada kesal karena selama ini dirinya selalu berpura-pura berbuat baik padahal sebenarnya dirinya ingin sekali menindasnya.
"Mommy terpaksa berbuat baik karena Mommy pikir tua bangka itu akan memberikan hartanya untukku tapi ternyata pengorbananku sia - sia karena itulah ibu ingin menguasai semua hartanya. Apakah kamu mempunyai ide?" tanya Mommy Ririn mengulangi perkataannya.
Valen terdiam sambil berfikir kemudian tidak berapa lama Valen mempunyai ide jahat dan dibisikkan ke ibunya. Ibu Ririn sangat senang dengan ide jahat anaknya.
Siang berganti sore seperti biasa mereka makan bersama. Mereka bertiga makan dalam diam tidak ada satupun yang berbicara hingga mereka selesai makan. Abigail kecil yang masih sedih berpamitan untuk istirahat di kamarnya.
Abigail kecil duduk di kepala ranjang sambil menatap pigura orang tuanya yang sudah meninggal.
"Daddy, Mommy kenapa kalian berdua tega ninggalin Abigail?" Tanya Abigail kecil dengan nada sedih sambil memeluk pigura tersebut.
tok
tok
tok
"Masuk."ucap Abigail kecil dengan nada sendu
ceklek
Mommy Ririn membuka pintu sambil membawa cangkir yang berisi teh. Mommy Ririn masuk ke dalam kamar Abigail kecil dan duduk di samping ranjang Abigail kecil.
"Sayang jangan menangis kan masih ada Mommy dan adikmu." ucap Mommy Ririn sambil menaruh cangkir ke atas meja yang dekat dengan ranjang.
"Mommy, kenapa Daddy meninggal secepat ini... hiks... hiks..." ucap Abigail kecil sambil terisak.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis Daddymu kan sudah tenang dan bertemu dengan Mommynya Abigail. Sekarang kamu minum setelah itu kamu istirahat." ucap Mommy Ririn sambil mengambil cangkir yang berisi teh ke Abigail kecil.
"Nanti saja Mom." Jawab Abigail kecil sambil menghapus air matanya dengan menggunakan ke dua tangannya.
"Baiklah tapi jangan lupa kamu minum." ucap Mommy Ririn dengan nada lembut sambil meletakkan kembali cangkir tersebut.
" Baik Mom." Jawab Abigail kecil.
Mommy Ririn pergi meninggalkan kamar Abigail kecil kemudian tanpa curiga sedikitpun Abigail kecil mengambil cangkir yang berisi teh untuk di minum, namun ....
Prang
Entah kenapa Abigail kecil tidak kuat memegang gagang cangkir tersebut hingga terjatuh.
"Yah jatuh." Ucap Abigail kecil.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar Abigail kecil terbuka membuat Abigail kecil menatap ke arah pintu kamarnya. Ternyata Mommy Ririn dan Valen sambil menatap dirinya.
"Mommy dengar ada suara pecah, ada apa Abigail?" Tanya Mommy Ririn dengan suara di buat selembar mungkin namun sebenarnya dirinya ingin marah.
"Maaf Mommy, cangkirnya jatuh." Ucap Abigail kecil.
"Tidak apa-apa Sayang, nanti biar kepala pelayan yang membersihkan kamarmu." Jawab Mommy Ririn sambil berjalan dengan hati-hati agar tidak terkena pecahan beling ke arah Abigail kecil.
'Si*l gagal." Sambung Mommy Ririn dalam hati sambil menahan amarahnya.
"Pelayan." Panggil Mommy Ririn.
"Ya Nyonya." Jawab Kepala pelayan.
"Bersihkan pecahan cangkir itu!" Perintah Mommy Ririn.
"Baik Nyonya." Jawab Kepala Pelayan tersebut.
"Sayang, sekarang kamu tidurlah." Ucap Momny Ririn sambil menyelimuti tubuh Abigail kecil hingga sebatas dada Abigail kecil. Belum ada lima menit Abigail kecil sudah tertidur dengan sangat nyenyak.
"Abigail." panggil Mommynya Ririn.
hening
"Aku harus cari ide lain untuk menyingkirkan anak ini seperti yang aku lakukan ke dua orang tua Abigail yaitu kecelakaan dan meninggal secara tragis." ucap Mommy Ririn sambil tersenyum menyeringai.
Mommy Ririn lupa kalau kamar milik Abigail kecil ada kamera cctv yang bisa menangkap gambar dan suara yang sangat jelas.
ceklek
Tidak berapa lama pintu kamar Abigail kecil terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
"Maaf Nyonya, saya ingin membersihkan kamar Nona kecil." Ucap Kepala pelayan.
"Baik, lakukan dan jangan sampai mengganggu tidurnya." Ucap Mommy Ririn sambil turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar Abigail kecil.
Kepala pelayan itupun mulai membersihkan lantai dan membuang pecahan cangkir tersebut setelah selesai Kepala Pelayan pergi meninggalkan kamar Abigail kecil.
Seminggu Kemudian
"Abigail, Mommy ingin kamu sekolah di luar negri dan tinggal di asrama sampai kamu lulus kuliah." Ucap Mommy Ririn ketika mereka berada di ruang keluarga setelah mereka selesai makan siang.
"Tapi Mom, Abigail masih ingin tinggal di sini karena ada Mommy dan Valen." Ucap Abigail.
"Mommy tahu tapi Mommy mendapatkan wasiat dari Daddy agar kamu sekolah di luar negri supaya jika nanti kamu lulus kuliah kamu bisa bekerja menggantikan Daddy yang sudah meninggalkan kita selama-lamanya." Ucap Mommy Ririn dengan wajah di buat sesedih mungkin.
"Kamu ingin Mommy Angel dan Daddy yang ada di surga bangga bukan? Karena melihat putri kesayangannya berhasil menjadi wanita sukses." Sambung Mommy Ririn.
"Baik Mom, Abigail akan sekolah di asrama." Ucap Abigail kecil.
"Bagus, kalau begitu bersiaplah karena besok pagi kamu akan pergi dengan di antar Mommy dan Valen." Ucap Mommy Ririn.
"Baik Mom." Jawab Abigail patuh.
Sejak saat itu Abigail tinggal di luar negri sedangkan Mommy Ririn dan Valen menikmati uang milik suaminya yang sudah meninggal akibat ulah dirinya.
__ADS_1
xxxxxxx Flash Back Of xxxxxxx