Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Pernyataan Cinta Hendrik dan Elizabeth


__ADS_3

Teriakan Hendrik membuat Alvaro kecil terbangun dan langsung memeluk Mommy Abigail.


"Tapi..." Ucapan Daddy Ray, Mommy Abigail dan Elizabeth terpotong oleh Ray.


"Tidak ada waktu, loncatlah!" Perintah Hendrik untuk pertama kalinya memerintah Daddy Ray.


Daddy Ray sama sekali tidak marah karena dirinya tahu kenapa Hendrik bicara seperti itu. Daddy Ray membuka pintu mobil samping kiri di mana ada rumput sedangkan sebelah kanan jalanan aspal.


Daddy Ray langsung mengambil Alvaro kecil dari gendongan Mommy Abigail kemudian menarik tangan Mommy Abigail untuk keluar dari mobil.


Daddy Ray memeluk tubuh Mommy Abigail dan Alvaro dan menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya ketika tubuh mereka berguling-guling ke rumput.


Di dalam mobil yang dikendarai oleh Hendirik di mana masih ada Hendrik dan Elizabeth. Entah keberanian dari mana Elizabeth melepaskan seat belinya kemudian memeluk tubuh Hendrik dan menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya.


"Elizabeth, apa yang kamu lakukan?" tanya Hendrik dengan wajah panik.


"Aku tidak bisa melihatmu terluka." Jawab Elizabeth sambil menatap wajah tampan Hendrik.


"Pergilah, jangan perdulikan Aku." Ucap Hendrik sambil melepaskan pelukan Elizabeth namun Elizabeth dengan nekat duduk di pangkuan Hendrik.


brak


Sebelum Elizabeth menjawab truk itu tiba - tiba menabrak mobil yang ditumpangi oleh Hendrik dan Elizabeth membuat mobil itu terguling - guling dan menabrak pohon hal itu membuat kaca mobil yang di depan pecah dan mengenai punggung dan kepala Elizabeth. Darah segar keluar dari punggung, kepala, mulut dan hidung.


"Aku ingin mengatakan dengan jujur kalau Aku sangat men ...cintai ... mu ... Kak Hendrik" ucap Elizabeth dengan suara terbata - bata sambil tersenyum dan membelai wajah tampan Hendrik dengan menggunakan tangan kanannya karena tangan kirinya memeluk tubuh kekar Hendrik.


"Tidak .... Tidak ...jangan tinggalkan aku... Aku juga mencintaimu ketika pertama kali kita bertemu... Aku mohon kamu harus kuat." ucap Hendrik sambil membalas pelukan Elizabeth.


" A...ku... ti...dak... ku..at, te ... ri ..ma ka .. sih ter ... nya .. ta cintaku tidak bertepuk se ... be ... lah ... ta ... ngan ... Ja ... ga diri ... mu ... baik ...baik." ucap Elizabeth dengan suara terputus - putus sambil tetap tersenyum dan membelai wajah tampan Hendrik dan tidak berapa lama tangannya terjatuh bersamaan matanya tertutup.


"Sayang bangun... aku mohon...hiks... hikss ..." ucap Hendrik sambil terisak.


Baru kali ini dirinya menangis karena selama hidupnya Hendrik tidak pernah sedikitpun menangis hanya sikap dingin, arogant dan membunuh tanpa ampun yang selalu ditampilkannya. Tidak berapa lama dirinya juga tidak sadarkan diri karena Hendrik juga mengalami luka hanya saja Elizabeth yang paling parah karena memeluk dirinya.


Di tempat yang sama di mana Daddy Ray tidak sadarkan diri karena menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya sedangkan Mommy Abigail berusaha bangun namun karena terluka membuat Mommy Abigail merangkak ke arah suaminya sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya.


Sedangkan Alvaro untunglah tidak terluka, Alvaro langsung menghubungi kakak kembarnya yang bernama Abner menggunakan ponsel mungil dan untunglah ponselnya tidak rusak hanya retak. Deringan pertama langsung di angkat oleh adik kembarnya.


"Ada apa Kak?" tanya Agnes dengan nada santai.


"Hiks... hikss... hikss.." Alvaro hanya bisa terisak.


"Kak Alvaro, ada apa?" tanya Agnes dengan nada panik.


"Agnes hiks... hiks... mommy... hikss... daddy.... hikss... hiks.." ucap Alvaro sambil masih terisak-isak.

__ADS_1


"Paman Albert berhenti dulu, kak Abner lacak GPS Kak Alvaro." teriak Agnes dengan panik.


"Baik." Jawab mereka serempak.


Albert langsung mengurangi kecepatan mobilnya, mobil yang di kendarai oleh Albert lebih cepat dari pada mobil yang di kendarai oleh Hendrik karena Hendrik di minta oleh Daddy Ray untuk mengendarai mobil dengan santai selain itu mobil yang dikendarai oleh Albert merupakan mobil sport tentunya lebih cepat.


"Paman pinjam laptopnya." pinta Abner ketika melihat Albert sudah menghentikan mobilnya.


"Ok." Jawab Abner sambil memberikan laptopnya.


Mereka semua sangat panik mendengar teriakan Agnes.


"Agnes ada apa?" tanya Daddy Rico ikutan panik.


"Opa, Kak Alvaro menangis menyebut nama daddy dan mommy." Jawab Agnes.


"Apa??" teriak mereka serempak.


"Albert, kita putar balik tapi kurangi kecepatan!" Perintah Daddy Rico.


"Baik Paman." Jawab Albert patuh sambil menyalakan mesin mobil kemudian memutar arah balik menuju ke tempat kejadian kecelakaan.


"Alvaro ceritakan ada apa?" tanya Agnes berusaha dengan nada lembut agar Kakak kembarnya berhenti menangis sambil men loud speaker ponselnya agar yang berada di dalam mobil mendengarnya.


"Tadi Daddy menggendongku dan menarik Mommy agar keluar dari mobil terus kami bertiga terguling - guling ke arah rumput hiks.. hiks...!." Ucap Alvaro sambil menangis.


"Mobil yang di kendarai Paman Hendrik tiba-tiba ada truk yang menabrak mobil kami. Hiks.... hikss... dan mobil milik daddy terdorong terus terguling - guling... hiks... hiks..." ucap Alvaro sambil menangis.


"Daddy tidak sadarkan diri dan Mommy berusaha membangunkan Daddy." Sambung Alvaro.


"Paman Hendrik dan Tante Elizabeth masih di dalam mobil." Sambung Alvaro.


"Coba Kakak lihat bagaimana keadaan Mommy dan Daddy dari dekat." Pinta Agnes


Alvaro berjalan ke arah Daddy Ray dan Mommy Abigail, matanya membulat sempurna melihat mommy Abigail ikut tidak sadarkan diri sambil memeluk tubuh Daddy Ray.


" Daddy.... mommy...hiks... hikss... jangan tinggalkan Alvaro...hiks... hiks..." teriak Alvaro masih dengan suara terbata - bata dan menangis.


"Mommy dan daddy kenapa Alvaro?" tanya Agnes sambil menahan rasa sesak hatinya karena mendengar kakak kesayangannya menangis.


"Agnes... hiks .. hiks... mommy ... hiks... daddy hiks.. mommy memeluk daddy dan Alvaro panggil diam saja hiks .. hiks...." ucap Alvaro sambil menangis terisak dan masih berusaha membangunkan ke dua orang tuanya.


"Apa??" teriak Agnes kemudian menutup mulutnya dan tidak berapa lama air matanya ikut mengalir dengan deras seperti Kakak kembarnya.


Semua yang ada di situ terkejut membuat Mommy Karen memeluk tubuh mungil Agnes.

__ADS_1


"Ketemu, Mommy, Daddy dan yang lainnya ada di jalan Pesona Hati." ucap Abner.


"Ok." Jawab Albert singkat.


"Albert cepat." Perintah Daddy Rico sambil menghubungi mobil ambulance.


"Ok" Jawab Albert singkat sambil menambah kecepatan mobilnya.


Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tempat kejadian.


"Abner dan Agnes sama Mommy saja yang lainnya keluar." ucap Mommy Karen.


"Oke." Jawab Daddy Rico, Albert dan Veronica bersamaan.


Daddy Rico, Albert dan Veronica turun dari mobil dan langsung menyebrang jalan. Mereka melihat Alvaro berlutut sambil berusaha membangunkan Mommy Abigail dan Daddy Ray sambil menangis.


Daddy Rico dan Veronica langsung mengecek nadi Daddy Ray dan Mommy Abigail sedangkan Albert berjalan ke arah mobil.


"Paman, tolong aku." Pinta Albert sambil berusaha membuka pintu mobil.


Albert yang merasa kalau Daddy Ray baik-baik saja langsung berjalan ke arah Albert untuk membantu Hendrik dan Elizabeth keluar dari mobil.


"Mommy hiks... hiks... daddy hiks..hiks..." ucap Alvaro sambil memeluk Veronica dan menangis terisak.


"Sabar sayang, pasti mommy dan daddy baik - baik saja." Ucap Veronica dengan nada lembut


Lima menit kemudian mobil ambulance datang dan membawa Mommy Abigail, Daddy Ray, Hendrik dan Elizabeth menuju ke rumah sakit.


"Aku akan menjaga mereka." Ucap Daddy Rico.


"Mommy ikut." Ucap Mommy Karen.


"Baiklah, aku yang akan mengendarai mobil." ucap Albert.


Albert duduk di kursi pengemudi dan Abner duduk di samping pengemudi sedangkan Veronica duduk di tengah - tengah antara Alvaro dan Agnes sambil berusaha menghibur ke dua anak kecil tersebut yang masih menangis.


'Gadis yang sangat baik, untung ada Veronica untuk menghibur ke tiga ponakanku kalau tidak aku bingung bagaimana menghiburnya.' Ucap Albert dalam hati.


Merekapun pergi menuju ke rumah sakit dan hanya membutuhkan waktu lima belas menit mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung di bawa ke unit gawat darurat. Kini mereka sedang duduk di ruang tunggu dengan hati cemas.


"Paman Albert aku pinjam lagi laptopnya." Ucap Abner dengan nada dingin


"Ok." Jawab paman Albert sambil menyerahkan laptopnya.


"Biar Opa yang pegang laptopnya." ucap Daddy Rico.

__ADS_1


"Terima kasih Opa." Jawab Abner.


"Sama-sama, apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Daddy Rico penasaran.


__ADS_2