
Satu persatu para tamu undangan pulang dan selama lima jam akhirnya resepsi pernikahan sudah selesai mereka kembali ke rumah masing-masing.
"Anak - anak, kalian bersama opa dan Oma ya?" ucap daddy Ray.
"Baik daddy." Jawab mereka serempak dan patuh dengan ucapan Daddy Ray.
"Ayo cucu - cucu kesayangan Opa dan Oma kita pulang." ajak Daddy Rico.
"Baik opa." Jawab ke tiga cucu kembarnya.
Mereka bertiga mencium punggung tangan mommy Abigail dan daddy Ray secara bergantian kemudian pulang ke mansion milik daddy Ray karena mommy Abigail dan daddy Ray akan tidur di hotel mewah tempat diselenggarakan acara pernikahan mereka.
Ke tiga anak kembar tersebut di antar oleh sopir pribadi daddy Ray dengan di dampingi orang tua Ray dan hanya membutuhkan waktu lima belas menit mereka sudah sampai di mansion.
"Opa dan Oma kami ingin istirahat." ucap ke tiga kembar dengan serempak.
"Ok, Oma dan Opa juga ingin istirahat." Ucap Mommy Karen.
Ke tiga anak kembar tersebut mencium punggung tangan Daddy Rico dan Mommy Karen secara bergantian kemudian berjalan menaiki anak tangga.
"Aku tidak menyangka kita langsung mempunyai tiga cucu." ucap Mommy Karen.
"Iya benar aku tidak menyangka kita di panggil Oma dan opa." ucap Daddy Rico.
"Mommy sangat bahagia melihat anak kita wajahnya kini bahagia dan selalu tersenyum." ucap Mommy Karen sambil tersenyum bahagia
"Iya benar, anak kita dulu selalu bersikap dingin dan tidak pernah tersenyum. Wajahnya selalu datar dan tidak ada raut kebahagiaan sedikitpun tapi kini anak kita benar-benar berubah sejak bertemu dengan Abigail dan ke tiga anak kembarnya." ucap Daddy Rico.
"Semoga mereka selalu bahagia, sekarang kita istirahat badan mommy lelah." ucap Mommy Karen.
"Baiklah, tapi satu ronde sayang." ucap Daddy Rico sambil memeluk pinggang istrinya dengan mesra.
"Daddy ingat umur, kita sudah mempunyai tiga cucu." ucap Mommy Karen.
"Hehehehe habis enak sayang." ucap Daddy Rico sambil tertawa terkekeh - kekeh.
Mereka pun berjalan ke arah kamar mereka,walau sudah mempunyai cucu tapi mereka selalu mesra dan jarang bertengkar.
xxxxxxx
Aksi Abner, Alvaro dan Agnes
Ke tiga anak kembar duduk berkumpul di ranjang Abner. Abner membuka laptopnya sambil menunggu laptopnya menyala Abner menatap ke dua adik kembarnya.
"Pertama kita retas hotel tersebut dan menyimpan foto para wanita yang telah menghina mommy kita." ucap Abner dengan nada dingin.
__ADS_1
"Buat apa kita menyimpan foto mereka kak?" tanya Agnes dengan wajah bingung.
"Tentu saja untuk menghancurkan perusahaan milik orang tuanya agar mereka tidak menghina mommy dan orang lain lagi." ucap Abner dengan kilatan penuh amarah karena Abner teringat dengan jelas mommynya menangis karena di hina oleh mereka.
"Aku setuju dan kita bocorkan data perusahaan mereka agar mereka bangkrut dan setelah para pemegang saham ingin menjual saham dengan harga murah sahamnya kita langsung beli semua." Sambung Abner sambil menggenggam erat ke dua tangannya untuk mengurangi kemarahannya.
"Kebetulan tabungan kita lebih dari cukup untuk membeli saham mereka." Ucap Alvaro dengan tatapan penuh amarah.
"Benar kak aku sangat setuju apalagi aku masih ingat dengan jelas mommy kita menangis karena mereka telah tega menghina mommy." ucap Agnes yang juga dengan tatapan penuh amarah.
Ke tiga anak kembar tersebut memiliki sifat hampir sama dengan daddy Ray yaitu jika dirinya di usik maka tidak segan - segan menghancurkan perusahaan milik orang lain.
Abner pun mulai mengutak atik laptopnya dengan jari jemari mungilnya dengan lincah sedangkan ke dua adiknya hanya menatap di layar laptopnya.
Hampir dua jam lebih akhirnya Abner menyelesaikan pekerjaannya, semua perusahaan milik orang tua yang menghina mommy mereka kini telah bocor sampai keluar perusahaan hingga perusahaan lain bisa membaca datanya.
"Bagaimana dengan mereka yang bekerja di perusahaan milik Daddy? Tidak mungkin kita membocorkan perusahaan milik Daddy." Ucap Abner.
"Pasti mereka melakukan kesalahan misalnya korupsi atau apapun." Ucap Agnes.
"Baik aku akan coba." Ucap Abner.
Abner kembali mengutak atik laptopnya hingga lima belas menit dirinya menemukan Ayah salah satu gadis tersebut korupsi.
"Pria itu bekerja sebagai direktur HRD dan putrinya bekerja di perusahaan milik Daddy kita ambil semua hartanya sebelum mereka mengamankan hartanya." Ucap Alvaro.
"Aku setuju, karena aku ingin keluarga mereka langsung miskin dan tinggal di kolong jembatan." Ucap Agnes.
"Betul kata kalian, Kakak akan membuat mereka langsung bangkrut." Ucap Abner.
Abner kembali mengutak atik laptopnya hingga dua puluh lima menit kemudian pekerjaannya sudah selesai.
"Sudah beres tinggal satu lagi yaitu gadis ini di mana Ayahnya bekerja sebagai direktur pemasaran yang bekerja di perusahaan milik Daddy. Sedangkan gadis ini sudah terbiasa menindas orang lain terlebih menindas pegawai yang lebih rendah jabatannya dari orang tuanya sama seperti putri dari direktur HRD." Ucap Abner.
"Apakah tidak ada kelemahannya?" Tanya Alvaro.
"Tidak Ada." Jawab Abner.
"Terlalu aneh kalau mereka bersih." Ucap Alvaro.
"Betul juga rasanya tidak mungkin, aku akan coba lagi." Ucap Abner.
"Bagaimana kalau Kak Abner meretas cctv di kantor atau di mansionnya siapa tahu menemukan sesuatu." Usul Agnes.
"Bagus juga idemu, Kakak akan coba retas di mansionnya dulu." Ucap Abner sambil mengutak atik laptopnya.
__ADS_1
Ke dua adik kembarnya hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Kakak kembarnya hingga lima belas menit kemudian Abner berhasil menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Pria itu yang bekerja sebagai direktur pemasaran yang bekerja di perusahaan milik Daddy ternyata adalah salah satu anggota mafia dan mereka bekerja sama untuk menguasai perusahaan milik Daddy." Ucap Abner.
"Kita buat mereka bangkrut Kak dengan cara mengalihkan rekening mereka ke rekening pribadi kita yang tidak bisa di lacak." Ucap Alvaro.
"Setelah itu kita berikan informasi ke Daddy kalau salah satu karyawannya bekerja sama dengan Mafia karena ingin menguasai perusahaan milik Daddy. Apalagi Daddy adalah ketua Mafia begitupula dengan Opa dan Paman Hendrik yang juga seorang mafia." Ucap Agnes.
"Ide bagus, sekarang aku akan lakukan seperti yang kalian katakan." Ucap Abner kembali mengutak atik laptopnya.
Setelah hampir setengah jam kemudian Abner sudah selesai membuat Abner, Alvaro dan Agnes menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Akhirnya selesai juga." Ucap Abner sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Iya Kak." Ucap Alvaro.
"Jadi laper, kita makan yuk." Ajak Agnes.
"Ok. Kakak juga laper." ucap Abner dan Alvaro bersamaan.
Ke tiga anak kembar tersebut keluar dari kamar mereka menuju ke arah tangga. Satu demi satu mereka menuruni anak tangga bertepatan Daddy Rico dan Mommy Karen keluar dari kamarnya.
"Mau kemana?" Tanya sepasang suami istri tersebut.
"Kami lapar Oma, Opa jadi kami mau makan dulu." Jawab Abner.
"Kalau begitu bareng sama Oma, Oma akan buatkan makanan untuk kalian bertiga." Ucap Mommy Karen.
"Terima kasih Oma." Jawab ketiganya bersamaan.
Mereka pun berjalan ke arah ruang makan di mana kepala pelayan sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Namun Mommy Karen ingin memasak kesukaan ke tiga anak kembar tersebut.
Di tempat yang berbeda di mana sekelompok orang sangat terkejut karena uang simpanan mereka mendadak hilang belum lagi semua aset berharga mereka kini berubah kepemilikan dan anehnya pihak notaris tidak bisa menyebutkan siapa nama pemiliknya karena namanya sangat misterius dan tidak bisa di lacak.
"Kenapa jadi seperti ini? Kita selalu rapi dalam pekerjaan ini tapi kenapa jadi hancur berantakan? Aku sangat yakin di antara kita pasti ada mata-mata. Sebelum aku memberikan hukuman yang berat katakan padaku siapa yang berani membocorkan rahasia ini?" Tanya pria paruh baya tersebut sambil menatap satu persatu mereka.
"Aku tidak mungkin melakukan itu apalagi bukan hanya milik Tuan punyaku juga sama." Ucap pria ke dua.
"Aku juga." Jawab mereka bersamaan.
"Si*l, apa yang harus aku katakan pada pimpinan?" Tanya pria paruh baya tersebut.
"Pokoknya aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya kita harus menemukan siapa orang yang berani mengusik kita." Ucap pria paruh baya tersebut setelah beberapa saat mereka terdiam.
Setelah mengatakan hal itu, pria paruh baya tersebut pergi meninggalkan tempat tersebut begitu pula dengan yang lainnya sambil berpikir mencari siapa yang melakukannya.
__ADS_1