Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Draft


__ADS_3

"Pintar sekali tebakanmu." Jawab Albert dengan nada santai sambil mengedipkan matanya ke arah Veronica.


Veronica tersenyum melihat tingkah Albert yang sangat menggemaskan.


"Cih sudah ku tebak untung dulu aku menolak pacaran denganmu." Hina Desi kembali.


"Kamu juga perempuan tidak punya malu mau saja bertunangan dengan germo." Ucap Desi sambil memandang Veronica dengan hina.


"Kenapa mesti malu? Bagiku yang paling penting calon tunanganku duitnya sangat banyak dan tidak pelit padaku." Jawab Veronica dengan nada santai sambil meletakkan kepalanya bersandar di bahu Albert.


"Cih... pasangan yang sangat menjijikkan." Hina gadis itu lagi.


"Maaf, kalungnya jadi beli tidak?" tanya pelayan toko tersebut.


"Jadi donk. Sayang bayarin donk kalungku." pinta Desi dengan suara manjanya.


Kekasihnya mengambil dompet di saku celana panjang belakangnya kemudian membuka dompetnya.


"Pakai kartu ini ya." ucap kekasih Desi dengan nada sombong.


" Baik tuan." Jawab pelayan toko.


Pelayan itupun menggesek kartu milik pria itu dan tidak berapa lama kartunya diberikan ke pria itu.


"Maaf tuan adakah kartu yang lainnya?" tanya pelayan itu.


"Memangnya kenapa dengan kartuku?" tanya pria itu dengan nada terkejut.


"Maaf tuan kartunya di tolak." Jawab pelayan toko tersebut dengan nada masih ramah.


"Apa?? bagaimana bisa? coba pakai kartu ini." Ucap pria itu sambil memberikan kartu yang lainnya.


Albert dan Veronica menahan senyum sedangkan wanita yang bernama Desi yang tadi menghina Albert dan Veronica wajahnya mulai memerah menahan rasa malu.


"Maaf Tuan, ini beberapa satu set perhiasan limited edition." Ucap pegawai tersebut sambil memberikan empat set perhiasan dengan motif yang berbeda.


"Sayang, suka perhiasan yang mana?" tanya Albert dengan nada lembut.


"Tidak usah sayang, cukup cincin ini saja." Ucap Veronica menolak secara halus.


"Sayang, ayolah hari inikan aku akan melamarmu. Aku mohon pilih salah satu." Mohon Albert.


Veronica menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian melihat empat set perhiasan kemudian memilih berlian yang berbentuk hati.


"Aku memilih ini." Ucap Veronica.


"Kenapa Sayang?" tanya Albert penasaran.


"Karena bentuknya hati melambangkan cinta dan aku berharap cinta kita tidak akan pernah hilang tetapi cinta kita selalu bertumbuh dari hari ke hari." Ucap Veronica sambil tersenyum malu.


cup


"Sayangku ternyata bisa puitis juga." ucap Albert sambil mengecup sekilas bibir Veronica.

__ADS_1


"Bungkus semuanya dan ini kartuku." ucap Albert mengeluarkan kartu kredit tanpa batas ke pelayan toko.


"Baik tuan." Jawab pelayan toko menerima kartu kredit tanpa batas.


"Tuan Albert apa kabar." Sapa seorang pria tiba-tiba datan dan berpakaian rapi.


"Hallo Tuan Alexander, kabarku baik bagaimana denganmu? tambah sukses saja tokonya." Ucap Albert sambil tersenyum.


"Akh ... Tuan Albert bisa saja, ada apa datang ke tokoku yang kecil ini?" tanya tuan Alexander merendahkan diri.


"Ck.. toko besar seperti ini di bilang kecil." Ucap tuan Albert dengan nada kesal.


" Pffftttt hahahaha." tawa lepas tuan Alexander.


"Oh iya kenalkan ini calon istriku, Aku ingin membeli cincin dan satu set perhiasan untuk acara pertunangan kami." Ucap tuan Albert memperkenalkan calon istrinya dan maksud kedatangannya.


"Cantik sekali calon istrimu, pintar sekali kamu mendapat calon istri cantik. Oh iya kamu belum membayar kan?" tanya tuan Alexander sekaligus memuji Veronica.


Veronica hanya tersenyum mendengar pujian tuan Alexander.


"Terima kasih atas pujiannya, sudah ini lagi menunggu pelayan tokomu." Ucap Albert menunjuk ke arah pelayan toko.


"Della belum di gesek kan?" tanya tuan Alexander dengan nada dingin berbeda dengan dirinya bicara dengan Albert.


"Maaf tuan semua mesin kartu di pakai semua." Jawab pelayan toko tersebut.


"Kalau begitu bawa sini kartunya." pinta tuan Alexander.


"Tuan Albert semua perhiasan tidak usah di bayar anggap saja ini kado acara pertunangan kalian berdua." ucap tuan Alexander.


"Akh tidak kadonya nanti saja kalau kami akan menikah, sekarang aku ingin membayarnya." tolak Albert secara halus.


"Hmm... baiklah." Jawab tuan Alexander karena dirinya tahu sifat Albert jika tidak maka seterusnya akan di jawab dengan tidak.


"Della apakah masih lama? Karena dari tadi aku melihat kamu gesek kartu terus kenapa?" tanya tuan Alexander penasaran.


"Maaf Tuan, Tuan ini sudah lima kartu di tolak dan ini saya lagi mencoba kartu yang ke enam." Ucap Della menjelaskan.


"Sudah abaikan gesek kartu ini!" Perintah tuan Alexander.


"Baik tuan." Jawab Della patuh.


"Eh tidak bisa begitu donk? jadi orang harus antri." protes pria itu.


"Tuan, kartu tuan sudah lima kali di tolak apakah ada jaminan kartu yang ke enam tidak di tolak?" tanya tuan Alexander dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah pria itu.


Pria itu hanya menghembuskan dengan kasar dan ingin protes lagi tapi tidak jadi karena pelayan toko mengatakan sesuatu.


"Tuan, ini kartunya dan tanda tangani struk ini." ucap Della memberikan kartu dan struk ke tuan Albert.


"Ok." Jawab Albert sambil membubuhkan tanda tangannya.


Setelah selesai Albert menyimpan kembali kartu kredit tanpa batas ke dalam dompetnya.

__ADS_1


"Tuan Alexander kami pergi dulu." Pamit Albert.


Tangan kiri Albert memegang paper bag berisi perhiasan dan tangan kanannya memeluk pinggang Veronica dari arah samping sedangkan kepala Veronica bersandar di dada bidang Albert sambil membalas pelukan Albert.


"Ok, jangan lupa undangan pernikahan kalian." Ucap tuan Alexander


"Ok." Jawab Albert singkat.


"Mari tuan Alexander." Pamit Veronica ramah sambil tersenyum.


"Silahkan nona, kalau tuan Albert masih suka marah dan bersikap dingin tinggalkan saja, tenang masih ada aku." Goda tuan Alexander.


Albert menatap tajam ke arah Alexander sedangkan Veronica menatap wajah tampan Albert.


"Calon suamiku sangat baik dan tidak pernah marah padaku karena itulah aku sangat mencintai calon suamiku." ucap Veronica sambil tersenyum ke arah Albert.


Albert menatap mata Veronica tidak ada kebohongan di matanya membuatnya semakin yakin untuk mempertahankan hubungannya. Hatinya sangat terharu mendengar ucapan Veronica.


"Tuan Albert sangat beruntung baru kali ini aku melihat seorang wanita menatap tuan Albert dengan penuh cinta semoga saja aku mendapatkan wanita seperti itu." Ucap tuan Alexander.


"Semoga saja tapi yang pasti jangan kamu rebut calon istriku karena aku akan mempertahankannya." Ucap Albert dengan nada dingin.


Veronica tersenyum mendengar ucapan kekasihnya.


"Tenang saja aku bukan tipe orang yang suka merebut kekasih orang lain. Nona bersyukurlah karena baru kali ini tuan Albert mencintai seorang wanita sangat dalam." Ucap tuan Alexander.


"Sejak kami menjadi pasangan kekasih aku selalu bersyukur mendapatkan calon suami yang sangat mencintaiku." ucap Veronica sambil tersenyum menatap Albert.


"Terima kasih Sayang, sudah dulu ya. Bye." pamit Albert.


Veronica hanya menundukkan kepalanya tanda dirinya juga berpamitan.


"Ok, bye hati - hati." ucap tuan Alexander.


"Ok." Jawab tuan Albert sambil membalikkan badannya begitu pula dengan Veronica mereka melanjutkan perjalanannya.


"Maaf tuan kartu ini di tolak lagi." Ucap pelayan toko sambil memberikan kartu kreditnya.


"Apa di tolak lagi? coba yang ini." ucap pria itu sambil mengusap wajahnya yang sudah keluar keringat dingin.


Sejak kartu ke dua di tolak lagi Desi mengalihkan pandangannya ke arah lain namun ketika Albert bicara dengan pemilik toko perhiasan arah pandangannya langsung ke Albert.


Dirinya sangat terkejut karena pemilik toko memberinya dengan gratis pasalnya perhiasan yang di pilih Albert adalah perhiasan yang paling mahal.


Desi langsung berpikiran negatif kemungkinan pemilik toko dan Albert sama - sama germo karena itulah memberinya secara gratis.


"Della dan juga yang lainnya jika lain kali ada kejadian seperti ini dahulukan orang lain jangan menunggu lebih lama." ucap tuan Alexander menyindir pria itu.


"Baik tuan." Jawab pegawainya serempak.


Pria itu membalikkan badannya dan berjalan ke ruang kerjanya namun dihentikan oleh Desi.


"Tuan tunggu." Panggil Desi yang berusaha mendekati pria tersebut sekaligus menjelekkan Albert dan Veronica.

__ADS_1


__ADS_2