
"Dari tabungan kami paman." ucap mereka serempak
"Apa?? Apakah mommy kalian memberikan uang saku sangat besar sehingga Tuan Muda Kecil dan Nona Muda Kecil mempunyai uang yang sangat banyak?" tanya Hendrik dengan wajah tidak percaya.
"Tentu saja tidak Paman, itu uang kami waktu kami memenangkan berbagai lomba selain mendapatkan piala kami juga mendapatkan uang tunai yang lumayan besar dan kami tabung karena uang saku mommy sudah lebih dari cukup " ucap Agnes menjelaskan.
"Itu piala milik kami paman tapi tidak semua kami bawa karena jumlahnya sampai ribuan." sambung Alvaro sambil menunjukkan piala mereka yang berada di lemari kaca.
Hendrik mengalihkan pandangannya ke arah lemari kaca dan berjalan untuk melihat jenis lomba ke tiga anak kembar Daddy Ray.
"Juara pertama taekwondo." ucap Hendrik
"Itu pialaku paman." Jawab Agnes.
" Juara pertama kungfu." ucap Hendrik
" Itu juga pialaku paman." Jawab Agnes lagi.
"Juara pertama program IT di negara S." ucap Hendrik.
" Itu pialaku paman." Jawab Abner.
"Juara pertama program IT di negara A." ucap Hendrik.
"Itu juga pialaku paman." Jawab Abner.
"Juara pertama matematika tingkat SD dan juga juara pertama baca tulis tingkat TK." ucap Hendrik menyebut satu persatu piala.
"Itu milikku paman." Jawab Alvaro.
"Apa?? bagaimana bisa? Jadi kalian bertiga masih berumur lima tahun sudah bisa menguasai beberapa bidang." ucap Hendrik tidak percaya karena umur lima tahun sudah segenius ini.
"Bisa saja paman, kalau kak Abner bisa menguasai program IT kalau kak Alvaro bisa menguasai bisnis perusahaan sedangkan aku Agnes bisa menguasai seni ilmu bela diri." ucap Agnes memberikan penjelasan ke paman Hendrik
Paman Hendrik hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya tanda dirinya tidak percaya mendengar ucapan anak kembar yang masih kecil.
"Walau kami masih kecil kami sangat pintar paman kalau paman tidak percaya aku akan meminta kak Abner untuk meretas data pribadi paman Hendrik." ucap Agnes.
"Coba saja karena data pribadi milik paman dan Daddy kalian menggunakan pengaman jadi tidak mungkin bisa di retas." ucap paman Hendrik penuh percaya diri.
Mereka bertiga terdiam hanya saja Abner mengutak atik laptopnya dan tidak membutuhkan waktu lama Abner bisa meretas data pribadi paman Hendrik.
"Paman lihatlah ini data pribadi paman." ucap Abner sambil memperlihatkan laptopnya.
Paman Hendrik membaca tulisan yang berada di laptop dan matanya membulat sempurna karena Abner sudah berhasil meretas data pribadinya.
"Bagaimana apakah paman percaya?" tanya Agnes sambil tersenyum melihat Paman Hendrik terkejut.
"Apakah kalian juga bisa meretas data pribadi milik daddy kalian?" tanya paman Hendrik.
"Beberapa hari yang lalu kak Abner meretas data pribadi milik daddy." Jawab Alvaro.
" Benarkah?" tanya Hendrik dengan wajah terkejut.
"Benar paman karena itulah kami meminta mommy untuk pergi ke negara ini agar kami bisa mempertemukan mommy dengan daddy." jawab Agnes.
Hendrik hanya bisa terdiam dirinya sungguh tidak percaya tiga anak kembar selain tampan dan juga cantik juga ternyata sangat genius.
"Paman ayo kita pergi ke beberapa perusahaan yang sudah kami beli untuk memperbaiki perusahaan yang bermasalah." Ucap Agnes.
"Dari mana Nona muda kecil Agnes tahu kalau perusahaan mereka ada masalah?" tanya Hendrik penasaran.
"Tentu saja tahu paman aku membaca data - data perusahaan ada yang korupsi, ada yang malas - malasan kerja dan masih banyak lagi. Kita harus mengganti orang - orang yang tidak bisa bekerja." Jawab Agnes.
Lagi - lagi Hendrik hanya terdiam karena ucapan Agnes seperti orang dewasa dan mengerti tentang bisnis.
"Paman, kita pergi sekarang nanti kalau Oma dan opa bertanya bilang saja mau mengajak kami jalan - jalan keliling kota." ucap Alvaro karena melihat pamannya diam saja.
"Baik tuan muda kecil." Jawab Hendrik.
'Seumur hidup aku bekerja dengan tuan Ray tidak pernah sedikitpun berbohong, tapi ini kedatangan ketiga anak kembar aku di paksa harus berbohong. Aduh ayah ibu, tolonglah anakmu yang jomblo ini. Haruskah aku menuruti keinginan mereka bertiga untuk berbohong karena sungguh aku tidak sanggup jika aku mesti berbohong.' keluh Hendrik dalam hati.
Mereka berempat keluar dari kamar tiga kembar dan berjalan menuruni anak tangga sampai di ruang tamu mereka melihat opa dan oma sedang duduk sambil menikmati teh.
"Opa.. Oma.." panggil ke tiga anak kembar tersebut sambil berlari ke arah opa dan oma.
Hap
Hap
Hap
"Hallo cucu - cucu opa dan oma yang sangat tampan dan sangat cantik." ucap opa sambil menangkap ke dua tubuh mungil Alvaro dan Abner kemudian menggendongnya.
"Cucu - cucu opa dan oma mau kemana?" sambung oma sambil menangkap dan menggendong tubuh mungil Agnes.
"Kami mau jalan - jalan sama paman Hendrik oma, opa." Jawab Alvaro.
"Di temani sama oma dan opa saja ya sayang." pinta oma.
"Maaf Oma dan opa kami bertiga keliling kota kami tidak ingin nanti Oma dan opa kecapaian." ucap Agnes beralasan.
"Bagaimana kalau besok kita pergi bersama." sambung Alvaro sambil menampilkan puppy eyes karena tidak tega melihat wajah sedih mereka.
"Benarkah sayang?" tanya Mommy Karen dengan mata berbinar.
"Benar Oma, hari ini kita pergi keliling kota sama paman dan besok terserah Oma dan opa mengajak kami pergi kemana." ucap Agnes sambil mengecup pipi Mommy Karen membuat Mommy Karen tersenyum.
"Terima kasih sayang." Jawab Mommy Karen.
Ke tiga anak kembar tersebut menyalami opa dan oma secara bergantian sedangkan Hendrik hanya membungkukkan badannya tanda menghormati tuan besar dan nyonya besar.
Mereka berempat pergi meninggalkan Daddy Rico dan Mommy Karen menuju ke garasi mobil. Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang di tengah jalan ponsel milik Hendrik berdering membuat Hendrik menepikan mobilnya untuk mengangkat ponselnya.
("Selamat pagi tuan besar." Sapa Hendrik).
("Kamu di mana?" tanya daddy Ray).
("Saya lagi dalam perjalanan menuju ke perusahaan tuan." Jawab Hendrik).
("Bagaimana tugas yang aku berikan?" tanya daddy Ray).
("Sudah beres tuan perusahaan mereka bangkrut semua orang menjual saham dengan harga murah." ucap Hendrik).
("Bagus, kamu beli saja semua perusahaan dan juga beli semua aset berharga mereka." ucap daddy Ray dengan nada dingin).
("Sudah tuan." Jawab Hendrik).
("What, kenapa kamu langsung mengambil tindakan tanpa memberitahukan padaku? tanya daddy Ray dengan nada naik satu oktaf).
("Maaf tuan karena..." ucap Hendrik terpotong oleh Agnes).
Agnes yang melihat Paman Hendrik menjauhkan ponselnya membuat Agnes tidak tega dan langsung berbicara.
("Paman apakah itu daddy?" tanya Agnes).
("Hendrik apakah itu anakku?" tanya daddy Ray dengan suara lembut karena mendengar suara putrinya yang sangat di sayang begitu pula dengan ke dua putranya).
("Benar tuan besar, saya bersama tuan muda kecil Abner, Tuan Muda Kecil Alvaro dan Nona Muda Kecil Agnes." Jawab Hendrik).
("Aku ingin bicara dengan ke tiga anakku." ucap daddy Ray).
("Paman aku ingin bicara dengan daddy." ucap Agnes secara bersamaan).
("Baik." Jawab Hendrik sambil memberikan ponselnya ke Agnes).
('Aduh hampir saja aku keceplosan, aduh ketiga anak kembar ini bikin jantungku terasa mau copot, lihatlah keringatku tidak berhenti keluar.' ucap Hendrik dalam hati sambil mengusap keringatnya dengan menggunakan tissue yang berada di dalam mobil).
("Daddy kapan pulang?" tanya Agnes mengalihkan pembicaraan sambil menekan tombol loud speaker 🔊 )
("Hari ini kami akan pulang secepatnya." ucap daddy Ray).
("Daddy mommy lagi apa?" tanya Alvaro yang berada di sebelah adik kembarnya).
("Mommy kalian lagi mandi, kalian kenapa ikut paman Hendrik?" tanya daddy Ray).
("Kami bosan daddy jadi kami meminta paman Hendrik untuk menemani kami jalan - jalan keliling kota." Jawab Agnes).
("Bagaimana kalau besok kalian bertiga jalan - jalan sama daddy dan mommy?" tanya daddy Ray).
("Besok kami pergi sama opa dan oma." Ucap Agnes menjelaskan ke daddy Ray).
("Kalau begitu kita pergi bersama - sama kita liburan di villa." ucap daddy Ray).
__ADS_1
("Benarkah daddy kita liburan keluarga?" tanya Agnes tersenyum bahagia).
("Benar sayang kita akan liburan bersama Oma dan opa." Jawab daddy Ray).
("Terima kasih daddy karena dari dulu kami ingin liburan bersama satu keluarga." ucap Agnes).
("Maafkan daddy sayang." ucap daddy Ray dengan nada sedih).
("Tidak apa-apa daddy, kapan Daddy pulang?" tanya Agnes mengalihkan pembicaraan agar daddynya tidak sedih lagi).
("Hari ini kami akan pulang sayang, kalian jangan lama - lama perginya." ucap daddy Ray).
("Baik daddy." Jawab Agnes patuh).
("Anak pintar, oh iya mana paman Hendrik? Daddy ingin bicara dengan paman Hendrik." ucap daddy Ray).
("Sebentar daddy." ucap Agnes).
("Paman Hendrik, daddy ingin bicara dengan paman." ucap Agnes sambil memberikan ponselnya ke paman Hendrik).
("Kak Abner dan Alvaro, daddy mengajak kita besok liburan ke villa." ucap Agnes).
("Horeee liburan keluarga." ucap Alvaro kegirangan karena baru kali ini bisa merasakan liburan keluarga secara lengkap).
Sedangkan untuk Abner walau dirinya sangat bahagia tapi karena sifat dinginnya hanya diam saja tanpa merespon ucapan ke dua adik kembarnyanya.
("Hendrik jika urusan selesai bawa ke tiga anakku pulang." Perintah daddy Ray).
("Baik tuan." Jawab Hendrik patuh).
tut tut tut tut tut
Daddy Ray langsung mematikan sambungan komunikasi secara sepihak. Hendrik menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan milik ke tiga anak kembar yang baru dibelinya.
"Paman, hari ini kita adakan meating dengan para karyawan." Ucap Abner dengan nada dingin.
"Baik tuan muda kecil." Jawab Hendrik patuh
"Oh iya paman sebelum meating tolong minta laporan keuangan selama tiga bulan." ucap Agnes.
"Baik tuan muda." Jawab Hendrik patuh.
"Nanti di depan kita akan di sambut oleh wakil CEO, mereka tahunya kalau paman adalah pemilik CEO." ucap Abner menjelaskan.
"Kenapa bisa begitu tuan muda kecil?" tanya Hendrik dengan wajah terkejut.
"Kami mengirimkan foto paman kalau paman adalah pemilik perusahaan karena tidak mungkin jika kami sebagai CEO karena kami masih anak-anak." Jawab Abner dengan nada dingin dan datar.
'Aish... sifatnya hampir sama dengan tuan besar sama - sama dingin dan datar. Hanya ke dua adiknya saja yang mirip dengan nyonya besar.' ucap Hendrik dalam hati.
"Paman ngomongin aku di dalam hati?" tanya Abner.
"Ah... tidak tuan muda kecil." jawab Hendrik sambil tersenyum kikuk.
'Kenapa bisa tahu kalau aku omongin ya? apakah tuan muda Abner punya Indra ke enam sama seperti tuan besar Ray?' tanya Hendrik dalam hati.
"Paman jangan bohong padaku karena aku tahu kalau paman berbohong dan aku juga tahu kalau paman ngomongin aku lagi." ucap Abner dengan nada dingin.
"Eh itu..." ucap paman Hendrik menggantungkan kalimatnya.
"Aish.. Sifat kakak mirip sekali dengan daddy dingin dan datar." ucap Alvaro dengan nada kesal.
"Tahu nih kakak, kasihan paman Hendrik jadi bingung jawabnya. Maafkan kakak kami paman memang sifat kakak seperti ini dingin dan datar mirip daddy." sambung Agnes.
Abner hanya menatap tajam ke adiknya yang bernama Agnes sedangkan yang di tatap bersikap biasa saja tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Tidak apa - apa tuan muda kecil dan Nona Muda Kecil." Jawab Hendrik sambil tersenyum.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai di perusahaan. Ke tiga anak kembar berjalan dengan diikuti paman Hendrik dari arah belakang. Mereka berjalan memasuki lobby perusahaan hingga mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik sambil tersenyum manis.
"Selamat pagi tuan." Sapa wakil CEO dengan hormat.
"Pagi, tunjukkan ruangan CEO." perintah Hendrik.
"Baik tuan." Jawab wakil CEO.
Merekapun berjalan ke arah pintu lift khusus petinggi kemudian wakil CEO menekan tombol lift dan tidak berapa lama pintu lift terbuka mereka berlima masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
"Maaf tuan, apakah ketiga anak kembar ini anak tuan?" tanya wakil CEO sambil menekan tombol dua puluh lima tempat ruangan CEO.
"Kami adalah ponakannya dan kami di ajak paman untuk melihat - lihat perusahaan barunya." Ucap Agnes.
"Bukankah anak kecil lebih suka main di rumah kenapa main di perusahaan?" tanya wakil CEO penasaran.
"Kami sangat bosan, karena itulah kami meminta paman kami untuk mengajak kami jalan - jalan di perusahaan." Jawab Agnes.
Wakil CEO hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti walau dalam hatinya masih bingung.
" Kalian bertiga selain kembar kalian bertiga juga sangat tampan sangat cantik." Puji wakil CEO.
"Terima kasih atas pujiannya Tante." Jawab Alvaro sambil tersenyum.
"Panggil saja Elizabeth." Ucap Elizabeth.
"Tidak sopan kalau panggil nama, bagaimana kalau Kak Elizabeth?" Tanya Agnes.
"Silahkan saja Nona." Jawab Elizabeth.
"Siapkan laporan keuangan selama tiga bulan." perintah Hendrik.
" Baik tuan." Jawab Elizabeth dengan nada sopan.
Ting
Pintu lift terbuka mereka berlima keluar dari ruangan persegi empat dan mereka berjalan ke arah ruangan kerja milik CEO. Ke tiga anak kembar duduk di sofa sedangkan Hendrik duduk di kursi kebesaran milik ke tiga anak kembar tersebut.
" Tuan, mau minum apa?" tanya Elizabeth dengan sopan.
"Aku ingin kopi pahit dan Tu ... (menjelaskan kalimatnya) .. anak - anak ingin minum apa?" tanya Hendrik karena mendapatkan kode tatapan dari Agnes sebab Hendrik ingin menyebut nama Tuan.
"Kami ingin susu coklat hangat." Jawab mereka serempak.
"Siapkan kopi pahit dan susu coklat hangat dan jangan lupa laporan keuangan selama tiga bulan." perintah Hendrik.
"Baik tuan. Ada yang lainnya?" tanya Elizabeth.
"Tidak ada. Tinggalkan kami." ucap Hendrik.
"Baik tuan." Jawab Elizabeth dengan nada sopan.
Wakil CEO itupun pergi meninggalkan mereka berempat untuk menyiapkan apa yang di minta oleh Paman Hendrik dan ke tiga anak kembar tersebut.
"Paman aku pinjam laptopnya." pinta Abner dan Alvaro serempak sambil berjalan ke arah Hendrik.
"Kebetulan di sini ada dua laptop, silahkan di pakai tuan muda." ucap Hendrik sambil berjalan membawa dua laptop dengan diikuti oleh ke dua anak kembar Abner dan Alvaro.
Hendrik menaruhnya di meja kemudian ke dua anak kembar tersebut mulai mengutak atik laptopnya. Jari jemari yang lincah menekan tombol keyboard membuat jiwa kepo Hendrik duduk di samping mereka.
tok
tok
tok
"Masuk." ucap Hendrik.
Ke dua bocah itupun langsung berhenti mengutak atik laptopnya dan berpura - pura mengobrol dengan saudara - saudaranya.
ceklek
Tiga orang masuk ke dalam ruang kerja CEO ada yang membawa nampan berisi satu cangkir kopi pahit dan tiga cangkir susu coklat hangat dan dua orang lagi membawa beberapa dokumen laporan selama tiga bulan.
"Tuan ini laporan keuangan selama tiga bulan dan minumannya." ucap Elizabeth dengan nada sopan.
"Baik, oh ya tolong bawakan satu laptop lagi." perintah Hendrik.
"Baik tuan." Jawab Elizabeth dengan wajah bingung
"Aku mengerti kenapa Kak Elizabeth bingung karena ke dua laptopnya di pakai oleh ke dua kakak kembarku untuk acara tugas di sekolah." Ucap Agnes yang bisa membaca raut wajah seseorang.
"Baik Nona kecil, sebentar lagi akan saya antarkan laptopnya." ucap wakil CEO.
Wakil CEO itupun pergi meninggalkan mereka dengan penuh tanda tanya karena salah satu anak kembar dari mereka bisa menebak apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
"Paman butuh bantuan?" tanya Alvaro sambil berjalan ke arah meja dekat Paman Hendrik.
"Boleh." Ucap Hendrik sambil memberikan satu laporan keuangan ke Alvaro.
Alvaro duduk berhadapan dengan paman Hendrik hanya di batasi oleh meja. Alvaro dengan serius membaca lembaran demi lembaran laporan keuangan setelah selesai membaca laporan Alvaro berdiri dan berjalan ke arah meja sofa dan duduk di sofa.
Jari jemari yang lincah mengutak atik laptop hingga lima belas menit kemudian Alvaro menghentikan kegiatannya.
" Paman laporan yang diberikan sama yang di laptop berbeda." ucap Alvaro.
Paman Hendrik langsung menghentikan kegiatannya dan langsung berdiri. Paman Hendrik berjalan ke arah Alvaro dan duduk di sampingnya. Paman Hendrik melihat yang ditunjukkan oleh tuan muda kecil Alvaro.
"Paman akan menandainya, tuan muda kecil Alvaro hebat cepat sekali mengetahui kalau laporannya tidak sesuai." puji paman Hendrik.
"Kak Alvaro memang hebat paman dalam hal bisnis." Puji Agnes.
"Kalau begitu paman akan ambilkan lagi dokumennya." ucap paman Hendrik sambil berdiri dan berjalan ke arah meja untuk mengambil dua dokumen yang belum di periksa.
Alvaro menerima satu dokumen untuk di periksa sedangkan paman Hendrik melanjutkan memeriksa dokumen yang satunya. Setelah selesai memeriksa Alvaro melihat data di laptopnya untuk disamakan.
"Paman lihatlah pemasukan dan pengeluaran lebih banyak pengeluaran. Ini ada beberapa pengeluaran yang tidak masuk akal." ucap Alvaro.
Paman Hendrik langsung menghentikan kegiatannya dan melihat yang ditunjukkan oleh Alvaro.
"Berarti bagian keuangan ada yang korupsi." celetuk Abner.
"Bisa jadi kak." Celetuk Agnes juga.
"Paman coba yang punya paman aku cek." pinta Abner.
"Silahkan tuan muda Kecil." Jawab paman Hendrik sambil menyerahkan dokumen yang tadi dipegangnya
Abner menerima dokumen tersebut dan mengeceknya. Baru saja membaca sudah ada kejanggalan membuat Abner langsung berhenti.
"Paman, pemasukan dan pengeluaran berbeda dengan yang berada di laptop. Pengeluaran bulan lalu sangat besar di bandingkan dengan dua bulan yang lalu." ucap Abner.
Paman Hendrik langsung mengambil dokumen tersebut dan mengeceknya.
"Tuan muda Kecil Abner dan Tuan Muda Kecil Alvaro benar - benar hebat." puji Paman Hendrik.
"Terima kasih paman, sekarang paman minta ke bagian keuangan untuk memperbaikinya." ucap Abner.
"Baik tuan muda kecil." Jawab paman Hendrik.
Paman Hendrik berdiri dan berjalan ke arah meja dan menghubungi bagian manager keuangan untuk datang ke ruangannya. Setelah selesai menghubungi paman Hendrik duduk di kursi kebesaran. Setelah agak lama menunggu terdengar suara ketukan pintu.
tok
tok
tok
"Masuk." Perintah paman Hendrik.
ceklek
Pintu terbuka tampak seorang pria paruh baya memberi hormat dengan membungkukkan badannya setengah kemudian pria bertumbuh gempal itu masuk ke dalam ruangan CEO.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pria paruh baya itu.
"Kamu manager keuangan?" tanya paman Hendrik dengan nada dingin.
"Benar tuan, perkenalkan nama saya Vinus Ariandra panggil saja dengan nama Vinus." Ucap Vinus dengan nada sopan sambil tersenyum.
"Baik tuan Vinus laporan tiga bulan ini salah semua silahkan perbaiki kembali." Perintah paman Hendrik sambil mengembalikan laporan keuangan selama tiga bulan.
"Baik tuan." Jawab Vinus tersenyum dan dengan nada masih sopan sambil mengepal tangan kirinya menahan amarahnya sedangkan tangan kanannya menerima laporan keuangan selama tiga bulan.
Tanpa sepengetahuan Vinus kalau Agnes bisa membaca raut seseorang dan bisa melihat kalau senyuman Vinus adalah palsu dan juga melihat kalau tangan kirinya mengepal tanda dirinya sedang menahan emosi.
Vinus langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut namun sebelumnya memberikan hormat ke Paman Hendrik.
"Kak Abner, retas cctv tempat kerja paman Vinus." Pinta Agnes.
"Ok " Jawab Abner singkat.
"Memangnya ada apa Nona muda kecil?" tanya paman Hendrik penasaran.
"Paman Vinus sangat mencurigakan paman." Jawab Agnes dengan nada santai.
"Mencurigakan kenapa?" tanya paman Hendrik dengan wajah bingung.
"Pertama senyuman paman Vinus itu palsu dan ke dua ketika paman Hendrik meminta untuk diperbaiki laporannya aku melihat paman Vinus mengepalkan tangan kiri menahan emosi." Ucap Agnes menjelaskan apa yang tadi di lihatnya.
"Apakah Nona muda Kecil Agnes bisa membaca mimik wajah seseorang?" tanya paman Hendrik penasaran.
"Bisa paman, aku bisa baca wajah paman kalau paman sangat kagum akan kepintaran kami dan aku juga bisa membaca kalau paman orangnya setia dan tulus bekerja dengan daddy." ucap Agnes menjelaskan.
"Nona muda kecil sangat hebat bisa membaca wajah seseorang." puji paman Hendrik.
"Terima kasih atas pujiannya paman." Jawab Agnes sambil tersenyum.
"Oh iya bagaimana dengan wakil CEO?" tanya paman Hendrik penasaran.
"Tante Elizabeth sangat baik dan bisa jadi pendamping Paman." Jawab Agnes.
"Aish, Paman ingin bertanya apakah dia jujur atau tidak dalam pekerjaan bukan untuk pendampinh Paman." Ucap Paman Hendrik.
"Tante Elizabeth baik Paman dan cocok untuk Paman." Jawab Agnes sambil masih tersenyum.
"Aish." Ucap Paman Hendrik sambil memijat keningnya yang tidak pusing.
"Oh ya kalau bisa paman mengadakan meating dan kami ikut meating agar kami bisa mengamati mana yang tulus dan mana yang malas bekerja di perusahaan ini." Ucap Agnes mengalihkan pembicaraan.
"Apakah tuan muda Abner dan tuan muda Alvaro bisa membaca raut wajah seseorang juga?" tanya paman Hendrik penasaran.
"Bisa paman, kami bertiga bisa membacanya mana yang tulus dan yang mana tidak." Jawab Agnes.
"Mintalah untuk semua departemen manager untuk memberikan laporan selama tiga bulan terakhir." sambung Abner.
"Kalau begitu paman akan mengadakan meeting tapi kalau di tanya kenapa tuan muda kecil dan Nona Muda Kecil ikut meeting jawabannya apa?" tanya paman Hendrik sambil berpikir.
"Biasanya paman Hendrik mempunyai ide - ide yang cemerlang tapi kenapa ketika dekat dengan kami otaknya langsung blank?" Tanya Abner dengan suara masih dingin.
Paman Hendrik hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bilang saja paman dipercayakan untuk menjaga kami karena itulah mengajak kami ikut meating." ucap Agnes yang tidak tega melihat Paman Hendrik mencari alasan yang tepat.
"Benar kata adikku, sediakan kami dua laptop untukku dan juga untuk kak Abner." ucap Alvaro.
"Dua laptop untuk apa tuan muda?" tanya paman Hendrik penasaran
"Nanti paman akan tahu." Jawab Abner dan Alvaro serempak.
"Baiklah." ucap paman Hendrik pasrah.
"Oh iya kenapa Nona muda Kecil tidak meminta laptop?" tanya paman Hendrik.
"Adik kami Agnes tidak begitu tertarik dengan bisnis kecuali bela diri." ucap Abner dan Alvaro serempak.
Paman Hendrik hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti kemudian paman Hendrik menghubungi wakil CEO untuk mengadakan meating secara mendadak sebelum makan siang dan masing - masing di minta membawa laporan selama tiga bulan terakhir.
Tiba - tiba ponsel milik paman Hendrik berdering dan paman Hendrik mengambil ponselnya di saku jasnya.
"Siapa yang telephone paman?" tanya Agnes kepo.
"Daddy kalian." Jawab paman Hendrik sambil memperlihatkan ponselnya.
"Bilang saja kami belum bisa pulang karena hari ini paman ada meeting, ada masalah di perusahaan." ucap Agnes yang tahu apa yang akan dikatakan oleh Daddy Ray.
"Baik Nona muda Kecil." Jawab paman Hendrik.
Paman Hendrik menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.
("Selamat siang tuan." Sapa paman Hendrik).
("Hendrik, kenapa ke tiga anakku belum pulang?" tanya daddy Ray dengan nada kesal karena dirinya sangat merindukan ke tiga anak kembarnya).
("Maaf tuan di perusahaan sedang ada masalah dan sebentar lagi ada meeting." ucap paman Hendrik).
("Batalkan saja meetingnya dan ganti hari besok." perintah daddy Ray dengan nada tegas).
'Waduh apa yang harus aku jawab dan aku lakukan?' Tanya Paman Hendrik dalam hati.
__ADS_1
Paman Hendrik di lema antara mengikuti tiga anak kembar majikannya atau Daddy Ray yang sekaligus merupakan Daddy dari ke tiga anak kembar.