Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Tuan Besar Reyhan William


__ADS_3

Mereka berempat berjalan ke arah lantai dua , ke tiga anak kembar mengedarkan pandangannya mencari daddy mereka. Hingga akhirnya Mereka bertiga melihat daddy mereka sedang duduk bersama ke lima orang dewasa.


Tiba - tiba seorang kepala pelayan restoran datang menemui ke tiga anak kembar tersebut dan tante Veronica.


" Maaf di sini khusus ruangan VVIP dan tidak boleh sembarangan orang masuk." ucap manager restoran dengan nada sopan.


" Kami akan menyewa ruangan VVIP ini." ucap Abner dengan nada dingin.


" Maaf anak kecil, ruangan khusus ini sudah di sewa oleh Tuan Besar Reyhan William." ucap kepala pelayan dengan nada sopan.


"Sayang, lebih baik kita ke lantai satu saja saja ya?" bujuk tante Veronica.


"Tapi tante kami ingin makan di sini." ucap ke tiga anak kembar tersebut bersamaan.


"Kan sudah di sewa sayang, kita ke lantai satu ya?" bujuk tante Veronica dengan lemah lembut.


"Lebih baik kalian pergilah dan jangan bikin keributan." Ucap manager restoran.


"Huhuhuhuhu.." tangis Agnes pura - pura agar Daddy Ray mendengar dirinya menangis.


"Lihat gara-gara ucapan Paman, adikku menangis." Ucap Abner dengan nada satu oktaf agar Daddy Ray mendengarnya sambil memeluk adik bungsunya dari arah samping.


"Anda seorang manager restoran, apa tidak diajarkan cara berlaku sopan terhadap anak kecil?" Tanya Alvaro yang juga berbicara dengan nada satu oktaf sambil memeluk adik bungsunya dari arah samping.


"Aduh sayang jangan menangis ya dan kalian berdua jangan berteriak nanti mengganggu orang lain." bujuk tante Veronica dengan wajah panik.


"Maaf nona, harap ke tiga ponakan nona di bawa turun karena kami tidak ingin tangisan ke tiga ponakan nona menganggu kenyamanan Tuan Besar Reyhan William sekeluarga karena mereka ada acara pertunangan." ucap manager restoran dengan nada ketus karena tangisan ke tiga anak kembar genius tersebut takut mengganggu kenyamanan tamu.


Suara yang agak tinggi membuat ke tiga anak kembar tersebut menangis lebih kencang. Sebenarnya mereka bertiga sengaja melakukan hal itu agar menarik perhatian Daddy Ray.

__ADS_1


"Pak, bisa tidak kalau bicara lebih lembut mereka itu masih kecil belum mengerti." ucap tante Veronica dengan nada pelan tapi menatap tajam ke arah manager restoran tersebut.


Suara tangisan ke tiga anak kembar tersebut membuat Tuan Besar Reyhan William dan keluarganya terganggu terlebih keluarga gadis tersebut yang akan dituangkan dengan Daddy Ray.


"Kenapa ada suara tangisan anak sih!! mengganggu saja." ucap gadis cantik dan seksi itu dengan nada ketus sambil berdiri dengan diikuti oleh Daddy Ray dan ke empat paruh baya.


Mereka melihat ke tiga anak kecil itu memeluk seorang wanita yang berlutut agar sejajar dengan ke tiga anak kembar dan membelakangi mereka.


"Ada apa ini berisik sekali." bentak gadis cantik dan seksi itu dengan nada ketus.


Tante Veronica yang mendengar suara bentakan langsung melepaskan pelukan ke tiga ponakannya kemudian berdiri lalu membalikkan badannya ke arah gadis tersebut dengan tatapan tajam.


"Hei kamu itu cantik tapi kok sifatmu mirip nenek lampir." ucap tante Veronica dengan nada ketus.


Gadis itu sangat kesal dikatakan nenek lampir langsung mendekati tante Veronica dan ingin menamparnya.


"Daddy." panggil ketiga anak kembar itu sambil berlari ke arah Daddy Ray dan langsung memeluk paha Daddy Ray karena mereka masih kecil.


Daddy Ray dan yang lainnya terkejut karena melihat ketiga anak kembar itu memanggil Daddy Ray dengan sebutan daddy.


deg


deg


deg


Jantung Daddy Ray berdetak kencang bukan karena jatuh cinta tapi entah kenapa pelukan ke tiga anak kembar itu membuat hatinya terasa hangat. Daddy Ray berusaha melepaskan pelukan ke tiga anak kembar tersebut kemudian langsung berlutut.


"Kenapa kalian memanggilku dengan sebutan daddy?" tanya Daddy Ray sambil ke dua tangannya diarahkan ke dagu Abner dan Agnes agar menatap dirinya.

__ADS_1


deg


deg


deg


Jantung Daddy Ray berdetak lebih kencang karena melihat ke dua anak kembar itu sangat mirip dengannya hanya bedanya dirinya versi besar sedangkan ke duanya versi kecil. Bukan Daddy Ray saja ke empat paruh baya itu juga sangat terkejut melihat ke dua anak kembar tersebut.


"Karena kami merasakan kalau daddy adalah daddy kami." Jawab Alvaro sambil menatap Daddy Ray dengan sorot mata kerinduan.


Daddy Ray terkejut kembali karena Alvaro mirip dengannya begitu pula dengan ke empat paruh baya tersebut. Pasangan suami istri langsung mendekati ke tiga anak kembar tersebut.


"Kalian kembar?" tanya wanita paruh baya tersebut sambil menggendong Alvaro.


Pria paruh baya juga tidak mau kalah menggendong Abner sedangkan Daddy Ray menggendong Agnes.


" Benar opa, kami kembar." Jawab mereka serempak sambil tersenyum.


Mereka sangat gemas dengan ke tiga anak kembar tersebut.


"Siapa nama kalian? mana kakak dan mana adik?" tanya Daddy Ray karena wajah dan ukuran tubuhnya sama sehingga sulit membedakannya.


"Aku anak pertama namaku Abner yang wajahnya mirip Daddy yang sangat tampan. " ucap Abner memperkenalkan dirinya.


"Aku anak ke dua Alvaro yang wajahnya mirip Daddy yang sangat tampan." ucap Alvaro ikut memperkenalkan dirinya.


"Aku anak ke tiga Agnes yang wajahnya sebagian mirip Daddy yang sangat tampan dan sebagian lagi mirip Mommy yang sangat cantik." ucap Agnes memperkenalkan dirinya juga.


"Memang daddy kalian kemana?" tanya Daddy Ray penasaran.

__ADS_1


__ADS_2