Ranjang Panas Sang CEO 4

Ranjang Panas Sang CEO 4
Pindah Ke Mansion Milik Daddy Ray


__ADS_3

Daddy Ray memeluk pinggang Mommy Abigail sambil berjalan namun baru beberapa langkah pintu ruang perawatan VVIP terbuka membuat Mommy Abigail dan Daddy Ray menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya.


"Lho kok Daddy, Alvaro dan Agnes keluar? Mau kemana?" Tanya Daddy Ray.


"Anak kalian katanya ingin ikut." Jawab Daddy Rico.


"Daddy, Mommy ... Kami ikut ya?" Tanya Alvaro dan Agnes sambil menampilkan puppy eyes yang menjadi andalannya.


Daddy Ray dan Mommy Abigail tidak tega untuk menolaknya membuat mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kalau begitu Daddy dan Mommy temani Abner." Ucap Daddy Rico.


"Maaf ya Dad, jadi ngerepotin." Ucap Mommy Abigail.


"Kami tidak merasa repot justru sangat senang mempunyai tiga cucu yang sangat tampan dan sangat cantik." Ucap Daddy Rico sambil mengusap rambut Alvaro dan Agnes.


"Opa, nanti Alvaro tidak ganteng lagi." Protes Alvaro sambil merapikan rambutnya.


Daddy Rico tersenyum sambil menarik tangan kirinya yang tadi mengusap rambut Alvaro sedangkan Agnes hanya tersenyum ketika Daddy Rico mengusap rambutnya dengan menggunakan tangan kanannya.


Setelah beberapa saat Daddy Rico menarik tangannya kemudian tersenyum lalu membalikkan badannya dan masuk kembali ke ruang perawatan di mana istrinya sedang menemani Abner.


Daddy Ray menggendong Agnes sedangkan Mommy Abigail menggandeng tangan Alvaro menuju ke parkiran mobil. Sampai di parkiran mobil asisten setianya membuka pintu mobil belakang pengemudi dan mempersilahkan Mommy Abigail untuk masuk ke dalam mobil dengan diikuti Agnes dan di lanjutkan dengan daddy Ray sedangkan Alvaro duduk di samping kursi pengemudi.


Asisten setianya yang bernama Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke mansion milik orang tua Tante Veronica. Singkat cerita kini mereka sudah sampai di mansion milik orang tua Tante Veronica.


"Ayo daddy kita ke kamar kami." ajak Alvaro sambil memegang tangan kanan Daddy nya.


"Kami akan tunjukkan piala kami hanya saja tidak membawa semuanya." ucap Agnes sambil memegang tangan kiri Daddy Ray.


"Sayang jangan tarik - tarik tangan daddy nanti kalian berdua akan jatuh." ucap Mommy Abigail


"Baik mommy." Jawab Alvaro dan Agnes serempak.


Kini mereka bertiga sudah sampai di kamar si kembar.


"Daddy lihatlah ini piala 🏆 ku." ucap Alvaro sambil memperlihatkan dua piala dan diberikan ke daddy Ray.


"Daddy lihatlah piala 🏆 ku juga." ucap Agnes sambil memperlihatkan dua piala dan diberikan ke daddy Ray.


Daddy Ray memegang ke empat pialanya dan melihat ada lagi dua piala yang berada di meja.


"Itu piala milik siapa?" tanya daddy Ray.


"Itu piala milik kak Abner, sebenarnya piala milik kami sangat banyak tapi mommy meminta kami hanya membawa masing-masing hanya dua." ucap Alvaro dengan wajah sedih.


"Tenang saja nanti daddy akan membawa semua piala kalian dan membuat ruangan khusus untuk piala kalian." ucap Daddy Ray sambil tersenyum bahagia.


"Benarkah daddy?" tanya Alvaro sambil ikut tersenyum bahagia.


"Benar sayang, mansion milik Daddy delapan kali lipat dari mansion ini jadi nanti Daddy buat ruangan yang sangat besar khusus menyimpan piala - piala kalian." ucap daddy Ray.


"Terima kasih Daddy." Jawab Alvaro dan Agnes serempak sambil memeluk daddy Ray.


"Sama - sama sayang." Jawab daddy Ray sambil berlutut dan memeluk ke dua anak kembar yang sangat disayanginya.


"Sekarang rapikan pakaian kalian, Daddy akan membantu merapikan." ucap daddy Ray.


"Baik daddy." Jawab mereka serempak.


Mereka bertiga memasukkan pakaian milik Abner, Alvaro dan Agnes ke dalam koper setelah setengah jam lebih akhirnya sudah selesai. Mereka bertiga menuruni anak tangga dan melihat Mommy Abigail yang sedang menunggu mereka.


"Mansion ini jadi sepi tidak ada kalian." Ucap Tante Veronica dengan wajah sedih.


"Tante nanti bisa main di mansion milik Daddy, Daddy bolehkan kalau Tante Tante Veronica main di mansion?" tanya Agnes sambil menampilkan puppy eyes nya.


"Boleh sayang.'' Jawab Daddy Ray.


"Hore." Jawab ke duanya serempak sambil tersenyum bahagia.


"Terima kasih atas semua yang kamu lakukan pada keluargaku." ucap Daddy Ray dengan nada tulus.


"Sama - sama tuan." Jawab Tante Veronica sambil tersenyum.


Mereka pun pergi meninggalkan mansion milik orang tua Tante Veronica menuju ke mansion milik Daddy Ray. Hanya membutuhkan waktu satu setengah jam akhirnya mereka sudah sampai di kediaman mansion milik daddy Ray.


"Mansion milik daddy besar sekali." ucap Alvaro sambil menatap mansion yang sangat megah lalu turun dari mobil sambil masuk ke dalam mansion.


"Wah Agnes bisa berenang." Jawab Agnes.


Daddy Ray hanya tersenyum melihat ke dua anak kembarnya yang terlihat sangat bahagia.


'Daddy berjanji mulai saat ini dan seterusnya senyuman kalian ini akan selalu ada karena Daddy akan selalu memberikan yang terbaik untuk kalian.' Ucap Ray dalam hati.


"Kalian tinggal memilih kamar kalian masing - masing." ucap daddy Ray.


"Tidak daddy, kami bertiga ingin tidur satu kamar." tolak Alvaro dan Agnes bersamaan.


"Lho memangnya kenapa? Apa kalian takut tidur sendiri?" goda daddy Ray


"Aish... daddy. . kami bukan anak penakut kecuali mommy. Mommy sangat takut hantu 👻 dan takut kecoa seperti Author yang bernama Tante Yayuk Triatmaja." ucap Agnes.


"Benarkah?" tanya daddy Ray sambil tersenyum menyeringai.


"Benar daddy." Jawab Alvaro.


"Tapi anehnya Dad, Mommy suka nonton horor padahal Mommy itu penakut. Pas hantunya nongol Mommy berteriak sambil menutup ke dua matanya dan ke dua tangannya menutup ke dua telinganya." Ucap Agnes.


"Alvaro, Agnes." panggil Mommy Abigail sambil menatap tajam ke arah dua anak kembarnya.


"Maaf mommy." Jawab ke dua anak kembarnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.


"Pffftttttttttt ... hahahaha...." tawa daddy Ray lepas memenuhi ruangan lantai satu.


Semua pelayan dan bodyguard saling memandang karena pasalnya baru kali ini Daddy Ray bisa tertawa lepas. Mereka berempat menaiki anak tangga satu demi satu menuju ke lantai dua.

__ADS_1


Para pelayan dan para bodyguard sejak tadi membulatkan matanya dengan sempurna karena melihat ada anak kecil mirip tuan mereka sekarang di tambah suara tawa lepas Daddy Ray.


ceklek


"Ini kamar kalian." ucap daddy Ray sambil membuka pintu kamar kemudian menyalakan saklar lampu hingga ruangannya terang.


"Untuk sementara ke enam piala 🏆 di letakkan di lemari kaca ini dulu nanti kalau ruangan khusus piala sudah jadi kalian bisa menyimpan semua piala kalian." ucap daddy Ray.


"Baik dad." Jawab Alvaro dan Agnes serempak


"Kalian istirahat nanti kalau lapar kalian bisa turun dari lantai satu terus belok kanan dan di sana sudah ada meja makan. Kalian bisa minta bantuan pelayan untuk menyiapkan makanan yang kalian suka." ucap daddy Ray.


"Baik daddy." Jawab Alvaro dan Agnes serempak lagi.


"Hmmm... daddy kami belum lapar tapi kami ingin istirahat dulu." ucap Alvaro.


"Baiklah kalian istirahat dulu, kamar daddy dan mommy berada di kamar paling ujung." ucap daddy Ray.


"Baik daddy." Jawab Alvaro dan Agnes serempak


"Oh iya nanti ada pelayan yang akan membantu menyusun pakaian kalian." ucap daddy Ray.


"Baik daddy." jawab mereka serempak lagi.


"Ayo mommy, aku tunjukkan kamar kita." ucap daddy Ray sambil tersenyum menyeringai.


Mommy Abigail hanya menganggukkan kepalanya tanpa menyadari maksud perkataan Ray yang mengatakan kamar kita. Mommy Abigail berjalan di samping calon suaminya hingga mereka sampai di kamar paling ujung.


ceklek


"Ini kamar kita sayang." bisik daddy Ray sambil membuka pintu kamarnya kemudian menarik perlahan tangan Mommy Abigail.


Mommy Abigail hanya tersenyum canggung dirinya merasa risih karena baru pertama kali bersama seorang pria di kamar sedangkan dulu bersama daddy Ray dalam kondisi terkena pengaruh obat perang x sang dan tidur bersama karena mereka sama - sama lelah sehingga Mommy Abigail tidak merasa canggung seperti ini.


"Lemari yang paling besar itu sebelah kanan adalah pakaianku dan sebelah kirinya adalah pakaianmu, kamu masukkan semua pakaian milikmu ke dalam lemari." ucap daddy Ray sambil melepaskan tangannya.


"Apa sekamar?" tanya Mommy Abigail yang baru tersadar dengan perkataan Daddy Ray.


"Bukankah sebentar lagi kita akan menikah jadi sudah sepantasnya suami istri tidur satu kamar." Jawab daddy Ray.


"Iya benar, tapi kan menikahnya masih seminggu lagi." ucap Mommy Abigail.


"Aku akan tidur di sofa kalau kamu merasa keberatan." ucap daddy Ray yang terpaksa mengalah tidur di sofa asalkan bisa tidur bersama Mommy Abigail.


'Malamnya aku bisa pindah tidur di ranjang dan memeluk Abigail.' Sambung Daddy Ray dalam hati.


"Tidak aku saja yang tidur di sofa." ucap Mommy Abigail yang tidak tega Daddy Ray tidur di sofa.


"Tidak, aku tidak ingin wanita yang kucintai badannya pegal-pegal kalau tidur di sofa. Begini saja aku tidur di ruang kerjaku saja di sana juga ada kamar tidur dan juga beberapa pakaianku." ucap daddy Ray yang ingin Mommy Abigail tidur di kamarnya.


"Baiklah." Jawab Mommy Abigail pasrah.


"Aku ingin melihat sekeliling kamar ini." sambung Mommy Abigail.


"Silahkan " Jawab daddy Ray.


Tanpa sepengetahuan Mommy Abigail kalau daddy Ray mengunci kamarnya kemudian menyembunyikan kuncinya. Daddy Ray membuka pakaian satu persatu hingga tanpa sehelai benangpun kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


"Sayang sekali taman bunga itu gersang, jika aku memang tinggal di sini aku akan merawat taman bunga itu." Ucap Mommy Abigail


"Lebih baik aku bereskan koperku" ucap Mommy Abigail.


Mommy Abigail membuka lemari pakaian kemudian dilanjutkan membuka kopernya. Mommy Abigail mulai memindahkan pakaian di dalam koper ke dalam lemari. Setelah selesai Mommy Abigail menyimpan koper di pinggir lemari.


"Kak Ray mandi tapi pakaian berserakan dimana-mana." ucap Mommy Abigail karena melihat pakaian yang tadi di pakai daddy Ray berserakan di lantai.


Mommy Abigail mengambil satu persatu pakaian milik daddy Ray kemudian memasukkan ke dalam keranjang khusus pakaian kotor.


ceklek


Daddy Ray membuka pintu kamar mandi dan melihat calon istrinya sedang memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang membuat dirinya tersenyum bahagia.


"Kak Ray, memakai pakaian santai atau pakaian tidur?" tanya Mommy Abigail.


"Pakai pakaian santai." Jawab daddy Ray.


Mommy Ray membuka lemari dan mencari pakaian santai sedangkan daddy Ray hanya berdiri menunggu Mommy Abigail memilihkan pakaian untuknya.


"Bagaimana dengan pakaian ini?" tanya Mommy Abigail sambil memperlihatkan kaos lengan pendek dan celana pendek dengan nuansa putih.


"Boleh sayang, sekarang kamu mandi biar segar." ucap daddy Ray


"Baiklah." Jawab Mommy Abigail sambil meletakkan pakaian daddy Ray ke ranjang.


Mommy Abigail berjalan ke arah kamar mandi hingga di depan pintu Mommy Abigail mengarahkan tangannya ke gagang pintu kamar mandi.


Ceklek


Mommy Abigail membuka pintu kamar mandi lalu menutupnya. Mommy Abigail mulai melepaskan seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian berjalan ke arah shower.


Tanpa sepengetahuan Mommy Abigail kalau daddy Ray masuk ke dalam kamar mandi karena ternyata Mommy Abigail lupa mengunci pintu kamar mandi.


"Kak Ray, apa yang Kak Ray lakukan?" pekik Mommy Abigail ketika daddy Ray memainkan ke dua gunung kembarnya.


"Hanya satu ronde sayang." pinta daddy Ray dengan suara mulai berat.


"Tapi.." ucap Mommy Abigail terpotong oleh daddy Ray.


"Aku mohon, aku sangat tersiksa." bisik daddy Ray tepat di telinga Mommy Abigail kemudian mencium leher Mommy Abigail dan memberikan tanda kemerahan.


Mommy Abigail hanya menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan Daddy Ray membuat Daddy Ray tersenyum bahagia.


skip


Kini mereka sudah memakai pakaian santai dan keluar dari kamarnya bertepatan dengan ke dua anak kembarnya.

__ADS_1


"Lho kita semua memakai pakaian sama?" tanya daddy Ray dengan wajah terkejut.


Mommy Abigail, daddy Ray, Alvaro dan Agnes sama - sama memakai kaos lengan pendek dan celana pendek dengan nuansa warna putih.


"Kita kan sehati dad." Jawab mereka serempak.


Daddy Ray hanya tersenyum dan dirinya sangat bahagia karena baru kali ini merasakan kebahagiaan. Mempunyai sebuah keluarga yang tidak pernah di bayangkan sedikitpun seumur hidupnya. Kini keluarganya tinggal di mansion daddy Ray hal itu membuat daddy Ray tidak kesepian lagi tinggal di mansion.


Mereka berempat menuruni anak tangga menuju ke ruang meja makan. Setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Daddy mau menemani kakak kalian, mommy dan ke dua anak Daddy dan mommy tinggal di mansion saja." ucap daddy Ray.


"Tapi daddy kami ingin menemani kakak." ucap Agnes.


"Benar kata daddy, besok kalian sekolah jadi kalian istirahat di sini saja. Mommy akan menemani kalian berdua." ucap Mommy Abigail.


"Baiklah mom." Jawab mereka serempak.


"Bagus, sekarang kalian siapkan buku - buku yang mesti di bawa untuk besok dan cek apakah ada pekerjaan rumah atau tidak." perintah Mommy Abigail.


"Baik mommy, mommy dan daddy kami kembali ke kamar dulu ya?" pamit Alvaro dan Agnes bersamaan.


"Baik sayang." Jawab mereka serempak.


Alvaro dan Agnes menaiki anak tangga meninggalkan mereka berdua.


"Daddy kok bisa hapal nama anak - anak kita?" tanya Mommy Abigail penasaran.


"Di gelang ada namanya jadi daddy mudah memanggilnya." jawab daddy Ray sambil tersenyum.


"Oh kalau gelangnya aku ambil berarti daddy tidak hapal donk?" tanya Mommy Abigail tersenyum jahil.


"Tidak juga, daddy melihat dua kali sudah bisa membedakan ke duanya." Jawab daddy Ray.


"Bedanya apa? bukankah wajah Abner dan Alvaro sama dan sangat mirip denganmu." ucap Mommy Abigail.


"Ada deh... terima kasih wajah mereka sama seperti wajahku dan yang perempuan juga perpaduan wajahku dan wajahmu." Jawab daddy Ray sambil tersenyum bahagia.


"Aku bingung, aku yang hamil sembilan bulan tapi hanya satu yang mirip denganku itupun perpaduan." ucap Mommy Abigail dengan bibir cemberut


"Pffftttt hahahaha itu tandanya mommy cinta mati sama daddy." ucap daddy Ray penuh percaya diri sambil tertawa lepas.


"Aish... aku aja dulu tidak mengenalmu bagaimana cinta mati dengan daddy?" Tanya Mommy Abigail tanpa sadar.


"Eh maaf Kak Ray." ralat Mommy Abigail.


"Panggil aku dengan sebutan daddy saja." pinta daddy Ray.


"Tapi.." ucap Mommy Abigail terpotong oleh daddy Ray.


"Aku mohon." pinta daddy Ray sambil menatap sendu calon istrinya.


Mommy Abigail hanya menghembuskan nafasnya perlahan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih." Jawab daddy Ray sambil memeluk calon istrinya dari arah samping.


"Sekarang aku mau pergi." ucap daddy Ray sambil melepaskan pelukannya dan berdiri.


Daddy Ray berjalan dengan diikuti Mommy Abigail dari arah samping. Daddy Ray mengecup kening Mommy Abigail kemudian masuk ke dalam mobil meninggalkan Mommy Abigail.


"Bahasa nya terasa kaku apakah memang seperti itu terhadap wanita?" tanya Mommy Abigail bicara pada dirinya sendiri sambil menutup pintu utama.


"Tuan Ray jika bertemu dengan wanita biasanya hanya mengobrol tentang bisnis. Tuan Ray baru kali ini bicara dengan seorang wanita bukan membicarakan tentang bisnis karena itu harap dimaklumkan jika bahasanya agak kaku." ucap kepala pelayan tiba - tiba datang.


"Boleh kita bicara?" tanya Mommy Abigail.


"Boleh nyonya." Jawab kepala pelayan dengan sopan.


"Kita duduk di ruang keluarga saja." ucap Mommy Abigail


"Baik nyonya." Jawab kepala pelayan.


"Duduklah." pinta Mommy Abigail.


"Maaf nyonya saya tidak berani." ucap kepala pelayan dengan sopan.


"Kalau begitu aku juga ikut berdiri." ucap Mommy Abigail sambil berdiri.


"Baiklah nyonya." Jawab kepala pelayan pasrah sambil duduk begitu pula dengan mommy Abigail.


"Tolong ceritakan tentang tuan Ray." pinta Mommy Abigail.


"Jujur selama bertahun-tahun baru kali ini tuan muda Ray membawa seorang wanita dan dua anak kembar yang sangat mirip dengan tuan muda Ray. Kami sangat yakin pasti mereka anak - anak tuan muda Ray." ucap kepala pelayan


"Baru kali ini aku melihat tuan Ray tersenyum dan tertawa lepas karena selama ini tuan muda Ray dari kecil hingga kemarin tuan muda Ray tidak pernah tersenyum. Sikapnya selalu dingin dan cuek dengan keadaan sekitar apalagi dengan keponakan nya tapi baru kali aku melihat tuan Ray sangat berubah perduli dan lebih perhatian." sambung kepala pelayan.


"Kalau pulang kerja biasanya melakukan apa saja?" tanya Mommy Abigail.


" Pulang kerja selalu malam dan kadang selalu tidur di kantor. Tidak pernah membawa seorang wanita hingga nyonya besar dan tuan besar menjodohkan dengan anak sahabatnya tapi yang aku dengar perjodohan plus pertunangan batal." Jawab kepala pelayan


"Itu karena ada kami, Bi." Ucap Mommy Abigail.


"Bibi, juga setuju jika tuan dan nona menikah dari pada menikah dengan wanita itu." ucap kepala pelayan.


"Memang kenapa dengan wanita itu, Bi?" tanya Mommy Abigail penasaran.


"Teman bibi dulu pernah bekerja di sana tapi wanita dan orang tua wanita itu memperlakukan pelayan semena - mena." Jawab kepala pelayan


"Kan bibi belum mengenalku kenapa bibi setuju aku dan Kak Ray menikah?" tanya Mommy Abigail


"Waktu tuan muda menghubungi Bibi untuk menyiapkan kamar buat nyonya dan ke tiga anak kembar, bibi bisa mendengar ucapan tuan muda sepertinya bahagia jadi bibi menyimpulkan kalau nona adalah wanita yang spesial dan baik." ucap kepala pelayan


"Bibi bisa saja. Maaf Bi, aku ingin menemani ke dua anakku dulu." ucap Mommy Abigail sambil tersenyum.


"Baik nona silahkan." Jawab kepala pelayan sambil berdiri.

__ADS_1


Mommy Abigail berdiri meninggalkan kepala pelayan menuju ke kamar Alvaro dan Agnes sedangkan kepala pelayan pergi meninggalkan ruang keluarga menuju ke arah kamarnya.


__ADS_2