Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 09 : Kuburan Penyihir


__ADS_3

Di ruangan itu tampak sebuah meja dan kursi yang berdebu, sulit membayangkan bahwa kami jatuh dari atasnya.


Aku membantu Rolia untuk bangkit sementara Mia telah membuka pintu untuk memeriksa keadaan.


"Jason sepertinya kau harus melihat ini," kata Mia sedikit terkejut.


Aku maupun Rolia mengikutinya dari belakang dan apa yang kami lihat merupakan langit cerah di mana ada matahari di sana.


Padahal kami berada di bawah tanah, ini jelas mustahil bahwa pemandangan ini bisa kami lihat di sini, tapi dibanding itu sesuatu yang mengerikan jauh berada di dalamnya, puluhan tiang tinggi berjajar di seluruh kota yang mana di ujungnya itu terdapat tengkorak manusia.


"Inilah yang membuat para penyihir ditakuti tapi bukan berarti penyihir itu semuanya jahat," Mia berkata demikian.


"Apa yang terjadi?" tanyaku.


"Mereka semua ditumbalkan.. lihat di sana itu."


Aku mengikuti pandangan yang ditunjukan oleh Mia dimana sebuah pedang menancap di sebuah kepala tengkorak.


"Dia pasti penyihir yang melakukan ini semua, tidak ada alasan lagi kenapa ada pemandangan langit di atas kita selain dari sihir."


"Itu memang benar."


"Apa kita bisa keluar dari tempat ini?" tambah Rolia.


"Kuharap ada jalan."


Kami mulai menyusuri kota menyedihkan ini, di sepanjangan jalan Mia banyak menjelaskan berbagai hal yang ia ketahui.

__ADS_1


Singkatnya.


Semakin orang menganggap seseorang yang baik sebagai penjahat maka orang itu akan berubah seutuhnya menjadi penjahat seperti apa yang mereka pikirkan, hal ini juga berlaku pada penyihir.


Perkataan Mia selanjutnya tampak dipenuhi kekecewaan serta kesedihan akan tetapi memiliki harapan di dalamnya.


"Suatu hari nanti aku harap dunia bisa kembali kembali sedia kala dimana orang-orang bisa tertawa, tidak membenci penyihir lagi dan ibuku juga tidak harus mati karenanya."


Mia kemudian menatapku dengan pandangan intens.


"Jason berjanjilah satu hal padaku!"


"Aku?"


"Jika ada kesempatan dimana kau bisa membuat dunia seperti itu, jadilah seorang raja dan lindungi seluruh orang yang tak berdosa bahkan jika mereka penyihir."


"Jawab saja perkataanku."


Rolia yang hanya mengawasi dari samping terlihat sangat khawatir, sampai sebuah guncangan terjadi di sekitar kami.


Tanah yang kami pijak terbelah hebat dan saat kami sadari tengkorak yang sebelumnya tak berdaya bangkit termasuk tengkorak penyihir itu.


Ia bangkit selagi membawa pedang yang sebelumnya menghancurkan kepalanya.


Mereka semua berusaha mengepung kami.


"Kenapa mereka bisa bergerak?" tanya Rolia menarik pedangnya.

__ADS_1


"Ini kutukan kematian, aku tidak tahu kenapa hal ini terjadi, yang jelas ada sangkut pautnya dengan iblis."


"Maksudmu seperti iblis Ilfrit itu?"


"Aah... lebih baik kita segera pergi dari sini."


Selagi mengayunkan pedang, kami segera menerobos kawanan tengkorak ini, dibanding semua tengkorak yang kami lawan kami lebih mewaspadai tengkorak penyihir yang sedang mengejar kami dari belakang.


Aku berhasil menebas beberapa tengkorak di hadapanku sebelum berlari ke arah Mia dan Rolia yang berada di depan.


"Lewat sini," teriak Rolia.


Di ujung kota ini terdapat sebuah tangga menuju atas, dengan ini kami bisa keluar.


Dengan nafas memburu kami terus berlari, Rolia sempat terjatuh namun aku segera menggendongnya keluar dan kami bisa keluar melalui mulut gua dimana sebuah batu besar berdiri di sampingnya.


Aku menurunkan Rolia di bawah pasir.


"Jason bantu aku," kata Mia selagi mendorong batu besar itu untuk menutup pintu gua dengan mati-matian kami berhasil menutupnya hanya saja si tengkorak penyihir bisa keluar lebih dulu sebelum guanya tertutup.


Ia ingin menyerang Rolia namun dia lebih dulu hancur terkena matahari pagi. Kami semua hanya menjatuhkan diri dengan lemas.


"Kita selamat."


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah ruangan yang serba gelap seorang pria yang mengenakan jubah hitam duduk di singgasana selagi memperhatikan bola di tangannya.


Di bola itu menunjukan keadaan Jason dan kedua rekannya Rolia dan Mia.

__ADS_1


"Mereka berhasil selamat rupanya, tapi jika kalian terus melangkah maju. Akan kutunjukan keputusasaan sesungguhnya," katanya menyeringai senang.


__ADS_2