Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 19 : Kebenaran


__ADS_3

Memang sulit untuk mempercayai apa yang kulihat sekarang, kedua tangan yang sebelumnya terputus kini telah menyatu kembali di tubuh Milfa, apa ini yang disebut keabadian? Tak ingin memikirkannya, kami semua mulai turun dari menara lalu berusaha untuk menghindari penjaga yang berusaha mencari keberadaan kami.


Kami memutuskan pergi ke hutan, di sana ada sebuah pondok yang sudah lama ditinggalkan yang mana menjadi tempat peristirahatan kami sementara waktu.


Semua orang tampak terengah-engah karena kelelahan, walau sudah gelap aku memutuskan untuk pergi mencari air dan makanan, di luar dugaan Milfa pun ikut bersamaku. Milfa memiliki rambut biru yang menyatu dengan pemandangan malam hari.


Menyusuri jalanan setapak kami menemukan sebuah aliran sungai yang cukup segar, aku tahu aliran ini keluar dari mata air yang berada di gua meski begitu aku akan memasaknya setelah tiba di pondok.


Aku mulai mengisi tong kayu yang kubawa sejak tadi, Milfa sepertinya tertarik akan sesuatu hingga pandangannya jauh menatap lurus ke tempat lain.


"Ada apa?"


"Ada rusa, dia bersama anak-anaknya... apa aku harus memburunya?"


"Tidak usah, alangkah lebih baik jika kau bisa menemukan beberapa jamur yang bisa kita makan."


"Hoh?"


"Apa?"


"Bukan apa-apa, aku bisa melihat dalam gelap jadi biar aku mencarinya di sana."


"Jangan terlalu lama."


"Baik."

__ADS_1


Tak lama kemudian Milfa muncul dengan beberapa jamur di tangannya, ukurannya lebih besar dari jamur seharusnya.


"Apa segini sudah cukup banyak untukmu?"


"Kurasa sudah cukup, mari kembali sebelum semua orang mengkhawatirkan kita."


Milfa mengangguk, "Iya"


Selama perjalanan dia banyak bercerita tentang dirinya.


"Aku selalu yakin kau akan datang kemari lagi, jadi saat kau memutuskan kembali ke dunia lamamu aku meninggalkan sebuah buku di perpustakaan sebagai gerbang untukmu datang kemari."


Awalnya aku hanya acuh tak acuh dengan obrolan Milfa, dia hanya mengatakan tiga ukuran miliknya serta ukuran dadanya yang besar setelah mendengar hal barusan aku segera berdiri diam.


"Kurasa lebih dari itu, kita saling menyukai layaknya kekasih."


"Kau serius?" aku kembali bertanya.


"Tentu saja... mungkin banyak hal yang ingin kau tanyakan sekarang, akan tetapi mereka pasti menunggu loh."


"Ah benar."


Kurasa aku akan menyimpannya untuk nanti, setelah sampai di pondok, aku mulai merebus air serta memanggang beberapa jamur untuk kami semua.


Tidak ada siapapun yang memilih untuk tidur.

__ADS_1


Setelah memberikan jamur yang telah matang serta air, Rolia berkata ke arah Milfa.


"Sejak lama aku penasaran dengan pihak gereja, kenapa mereka berburu penyihir?"


"Soal itu, apa kau ingat bagaimana dunia kembali damai setelah dikuasai raja iblis selama 100 tahun lalu?"


"Bukannya semuanya berkat pahlawan dan rekannya."


"Lalu bagaimana pahlawan itu datang?"


Semua orang seketika membisu, Catrine mulai ikut dalam pembicaraan.


"Sihir, lebih tepatnya sihir pemanggilan....mereka berusaha agar pahlawan tidak muncul lagi."


"Tepat sekali, yang menjadi musuh kita bukanlah pihak gereja melainkan pengikut raja iblis sebelumnya yang menyamar masuk ke dalam sana.. mereka berusaha melenyapkan sihir dari dunia ini kemudian membangkitkan kembali raja iblis dengan tangan mereka sendiri."


"Apa hal itu bisa dilakukan?" tanya Mia.


"Tentu saja, raja iblis sebelumnya belumlah mati, dia hanya disegel di tempat tertentu."


"Nona Milfa tahu banyak," tambah Rolia.


"Panggil saja Milfa.. aku tahu itu karena akulah yang menyegel raja iblis, terlebih pahlawan yang kukatakan itu adalah Jason dan rekan satu lagi adalah ayahmu, Mia."


Itulah yang membuat kami terkejut.

__ADS_1


__ADS_2