
Ketika aku berlatih, seorang dari ras vampir mendekat ke arahku dengan wajah panik.
"Yang mulia."
Aku tetap saja tidak biasa dengan panggilan seperti itu, tapi mari abaikan itu.
"Ada apa?"
"Pihak gereja telah datang kemari."
"Mungkinkah."
Aku buru-buru pergi ke kota dimana itu ada di atas kepalaku, berkat bantuan vampir sebelumnya aku tiba dengan cepat. Di depan hadapan para kesatria suci serta para pendeta aku berdiri bersama Luck dan Nebula.
"Kami mendapatkan informasi bahwa di sini tempat tinggal para vampir, kami datang untuk menangkap kalian semua," kata salah satu pria berpenampilan kesatria.
"Kalian."
Aku segera menahan Luck yang hendak melangkah maju.
"Maafkan aku tapi kami tidak berbuat kesalahan apapun, mereka sudah hidup hidup tenang di sini tanpa membuat seseorang kerepotan."
"Meski begitu mereka hanyalah vampir, mereka adalah makhluk yang berbahaya."
Aku tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa, apa kau ini berniat menjadi musuh kami?"
__ADS_1
"Dibanding mereka kalian yang berbahaya, kalian memfitnah penyihir sebagai pembunuh lalu memburu para penyihir tanpa pandang bulu, berapa penyihir yang kalian bakar hidup-hidup? Kalian hanya ingin memperbaiki nama kalian dengan membunuh pihak tak berdosa bukan."
"Kau? berani sekali."
Pria itu menerjang ke arahku selagi mengayunkan pedangnya sementara aku menahannya dengan pedangku.
"Petinggi kalian sekarang adalah raja iblis, sebaiknya kalian lebih berhati-hati dengan mereka dibandingkan dengan kami."
"Aku akan memenggal kepalamu."
Sebelum mereka bergerak tiba-tiba saja semua pasukan ini langsung ambruk ke tanah dengan lemas, mereka masih sadar hanya saja tubuh mereka tidak bisa digerakkan.
Saat aku melirik untuk melihat pelakunya mereka adalah guru dari akademi termasuk Milfa di dalamnya.
"Cukup merepotkan karena kita kedatangan tamu seperti ini," aku tersenyum sebagai balasan atas pernyataan Milfa.
"Apa kau akan membunuh kami."
"Aku memang sempat berfikir itu tapi sayangnya aku tidak ingin melakukannya," balasku demikian.
Tak lama kemudian seekor elang menukik ke arahku, saat aku menerima surat di bawah kakinya aku bertanya pada pria tersebut.
"Apa Arch Priest kalian yang baru bernama Laura."
"Bagaimana kau tahu?"
"Sepertinya dia telah menghancurkan rumah kalian termasuk menara suci."
__ADS_1
Menara suci adalah tempat sebelumnya dimana Milfa dikurung.
"Mustahil, kau pasti bercanda."
Aku melempar pedang ke arah samping, dimana pedang itu hanya menancap di udara.
"Yang mulia?" tanya Nebula heran.
"Lihat baik-baik."
Perlahan di mana pedang itu berada sosok yang ditusuknya mulai terlihat, itu adalah tangan dari gurita berwarna hitam.
"Iblis."
Saat semua orang sadar mereka telah terjerat oleh tentakel lain, dan dari sungai muncul kepala gurita raksasa sementara di atas kepalanya sosok iblis lebih kuat berdiri selagi menyilangkan tangannya.
"Namamu Geis, aku salah satu iblis dari 10 iblis yang melayani raja iblis, kudengar kau telah membunuh Exlose dan Helis, aku datang untuk membalas dendam."
Akhirnya Laura kini bergerak juga.
"Bukannya raja iblis sudah menghilang," teriak si pria yang sebelumnya menyerangku.
"Tidak ada yang bertanya padamu," kata Geis.
Dia digiring oleh tentakel mendekat ke arah Geis, selanjutnya kepalanya diledakan dengan sihir sebelum akhirnya tubuhnya di buang begitu saja ke sungai.
"Jangan khawatir, kalian semua akan bernasib sama," katanya menyeringai senang.
__ADS_1
Biasanya gurita hanya memiliki beberapa kaki, tapi gurita yang kami lawan sekarang jauh lebih banyak.