
Malam harinya ketika semua orang tertidur aku dan suster Ana masih terbangun di depan api unggun selagi meminum teh hangat.
Dia menceritakan berbagai hal soal kehancuran kota ini yang semuanya disebabkan oleh salah satu iblis dari 10 iblis yang bekerja pada ratu iblis Laura, saat itu kehancuran tak bisa dihindari sampai para kesatria suci berhasil membuatnya terpojok, namun seorang wanita tiba-tiba muncul dan membantunya hingga keduanya berhasil menumbangkan seluruh kesatria.
Saat aku bertanya ciri-ciri dari wanita tersebut semuanya mengarah pada satu orang, dia adalah Cherry, seorang yang mengincar nyawa kedua putri kerajaan yang sekarang bersamaku.
Sudah jelas mereka berdua menerima misi dari ibu tirinya.
Demi menciptakan kekacauan di dunia ini Laura membuat kelompok mirip guild kegelapan yang menerima pekerjaan untuk melakukan hal kotor, aku bisa menyimpulkan bahwa guild tersebut bermarkas di kerajaan Eswat.
Jika demikian aku akan memeriksanya secara langsung.
Keesokan paginya aku meminta semua orang pergi ke kerajaanku, aku juga meminta Rolia untuk ikut bersama mereka.
"Itu berbahaya Jason?"
"Jangan khawatir, aku akan berhati-hati."
"Setelah sampai aku akan meminta Milfa serta yang lainnya untuk menyusul."
Aku melambaikan tangan ke arah kereta yang semakin menjauh, sekarang aku juga harus pergi.
Aku berjalan menyusuri hutan sesuai peta tunjukan, dengan melewati jalan memotong aku akhirnya sampai di ibukota kerajaan Eswat.
__ADS_1
Dari atas pohon aku bisa melihat kota megah berdiri dengan kokoh dimana seluruhnya terlindungi oleh tembok tinggi. Aku memperhatikan ada beberapa kereta yang menuju ke sana, aku diam-diam bersembunyi di dalam kereta mereka untuk melewati penjaga hingga keluar sewaktu mereka berhenti di jalanan.
Aku berpura-pura seolah tidak terjadi apapun lalu berjalan menuju sebuah bar. Jika aku asal bicara mereka mungkin akan melaporkanku karenanya aku hanya membahas tentang keindahan kota ini seperti seorang turis kepada pelayan bar.
Semenjak ingatanku kembali aku memiliki banyak cara berkomunikasi lagipula dulu aku memang pernah tua. Aku mencoba akrab dengan sekitarku dan sesekali membuat mereka mabuk untuk membuka mulut mereka.
"Heh, guild itu kah.. kudengar mereka beroperasi di sudut kota yang sepi, kau bisa datang ke sana," katanya.
Aku akhirnya mengunjunginya pada malam hari dengan mengenakan pakaian biasanya, seperti kebanyakan guild mereka juga terlihat sedang beroperasi untuk menerima pekerjaan mereka hanya saja quest yang diterima adalah quest ilegal.
Harusnya ada seseorang yang menangkap mereka.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangku, saat aku menoleh untuk memastikan siapa yang berdiri di sana kepalaku telah lebih dulu melayang.
Aku mendesah pelan selagi memegangi kepalaku frustasi lalu menyeruput tehku sebelum pergi ke penginapan.
Sebenarnya siapa yang membunuhku sebelumnya, walau sekilas aku tahu dia seorang gadis kecil.
Aku menyewa kamar kecil demi bisa beristirahat dengan tenang, tentu ini adalah kedua kalinya aku melakukan ini, yang membedakannya hanyalah aku memutuskan untuk tidak pergi malam ini dan hanya tidur sampai sebuah ledakan membangunkanku pada tengah malam.
Aku melirik ke arah kota yang terbakar, ada sebuah keributan tak terkendali di sana, semuanya berasal dari guild dimana aku mati sebelumnya.
__ADS_1
Aku buru-buru melihat apa yang terjadi, beberapa orang tergeletak dengan tubuh tak bernyawa, aku mendekat ke arah gadis kecil yang masih bernafas tersebut.
"Kau baik-baik saja?" suaraku tak bisa mencapainya.
Walau sebelumnya aku tidak melihatnya, aku tahu dia orang yang membunuhku di tempat ini.
Dia memiliki rambut merah panjang.
"Masih ada yang hidup ternyata?"
Aku mengalihkan pandanganku ke arah wanita yang bicara tersebut, dia adalah Cherry.
Sebelum aku bisa bereaksi seseorang lebih dulu menangkapku dari belakang.
Tubuhnya besar, dipenuhi sisik serta wajah mengerikan.
"Iblis," kataku.
"Eh, kau pria itu rupanya.... jangan bunuh dia kita harus.."
Puluhan pedang menembusku dari belakang, pedang itu keluar dari perut iblis tersebut.
"Sudah kubilang jangan bunuh dia, dia orang yang membawa putri itu."
__ADS_1
"Kau harusnya bilang dari awal."
Aku mati dua kali di tempat yang sama.