Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 12 : Pemandian Air Panas


__ADS_3

Kami akhirnya berhasil melewati gurun pasir yang mematikan itu, berada di depan kereta aku mulai mengarahkan perjalanan kami ke kerajaan Shinfonia.


Catrine yang duduk di sebelahku hanya diam selagi menikmati batang permen, sedangkan Mia dan Rolia terus saja waspada.


"Kita sudah keluar dari gurun, tidak ada salahnya bersantai sedikit," kataku lemas.


"Tidak, kita harus terus waspada. Paling tidak setelah kita benar-benar jauh dari gurun," balas Rolia.


Mereka mengalami trauma berat.


"Ah, itu dia.. kita sampai," aku melihat ke arah Catrine tunjuk dimana sebuah kota yang dikelilingi tembok besar telah menanti kami.


Agar tidak menarik perhatian aku meminta Catrine untuk memakai tudung mantelnya, dengan begini kami bisa lolos dari pos pemeriksaan.


"Sebelum pergi ke istana aku ingin pergi ke suatu tempat dulu."


"Kita tidak ada waktu untuk melakukannya, kami juga harus melanjutkan perjalanan kami."


"Moo... bagaimana menurut Rolia dan Mia, kita bisa pergi ke pemandian air panas loh. Tempat nyaman untuk menghabiskan waktu seharian setelah perjalanan jauh."


"Terlihat menyenangkan, aku mau.. tatap," kata Rolia lalu dilanjutkan Mia.


"Bukannya aku menyukai pemandian umum, aku hanya ingin mencobanya saja setelah datang kemari, humph."


Dia benar-benar tidak bisa berkata jujur, aku menghela nafas lalu berkata.

__ADS_1


"Jika begitu, kita akan tinggal di penginapan sehari semalam sebelum melanjutkan perjalanan kembali."


"Yatta."


Mereka terlalu bersemangat.


Aku menyewa kamar seharga tiga koin perak yang bisa dipakai bersama, sebenarnya uang ini aku dapat setelah menjual beberapa barang dari kereta perampok itu sehingga kami tidak perlu memikirkan soal uang selama sebulan penuh, aku bersyukur akan hal itu.


Rolia, Mia dan Catrine pergi untuk menikmati pemandian mereka, sementara aku hanya berbaring selagi menatap langit-langit ruangan ini.


Banyak hal yang aku pikirkan tentang dunia ini termasuk kemampuanku yang bisa mengulang waktu jika aku mati, aku sempat berpikir apa ada batas dimana aku bisa mati? Pertama kali aku mati ditusuk oleh wanita gila bernama Cherry, yang kedua aku mati ditusuk tombak oleh iblis Ilfrit.


Hidupku benar-benar mengerikan.


Apa mungkin aku tidak bisa hidup kembali jika sudah mati tiga kali? Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Lagipula aku berniat mati begitu saja, aku akan berjuang untuk mempertahankan nyawaku yang sekarang.


"Rolia?" aku memanggil namanya dan ia malah menarik tanganku.


"Uh..."


Dia membawaku ke kolam air panas dimana Mia dan Catrine sedang menungguku.


"Lama sekali Jason, masuklah."


Ada yang aneh tentang ini, apa pria masuk ke kolam wanita itu hal yang wajar. Rolia melepas handuknya dan turun untuk berendam bersama lainnya.

__ADS_1


"Kenapa kau bengong di sana, jangan khawatir... kita telah menyewanya khusus untuk kita," tambah Catrine.


"Bukan itu yang kumaksud, aah."


Aku memegangi kepalaku dan akhirnya menuruti permintaan mereka, apa yang terjadi di sini aku sudah tidak ingin peduli lagi.


"Owh.. nyaman sekali."


"Benar kan," kata Rolia mendekat dari samping kiri dan Mia mendekat dari samping kanan.


"Bukannya kalian terlalu dekat."


Walau aku mengatakannya tidak ada yang menggubrisnya, jantungku bahkan sudah berdebar-debar daripada seharusnya.


"Jason wajahmu memerah."


"Sudah jelas bukan."


"Ah, benar Rolia.... kupikir kau tidak normal."


"Siapa yang kau panggil tidak normal, aku sepenuhnya pria sehat."


"Setelah melihat bagian bawahmu, aku sudah mengerti," kata Catrine polos.


Ketiganya tertawa kecil sementara aku mendesah pelan lalu bergumam.

__ADS_1


Wanita dari dunia lain memang mengerikan.


__ADS_2