
Perahu kami mulai masuk ke kawasan segitiga bermuda, berbeda dari yang kukenal, area segitiga hanyalah lautan mati tanpa apapun.
Ikan pun tidak ada yang hidup di tempat ini.
Berkat sihir Milfa kami berhasil sampai ke lokasi yang dimaksud, dari sini adalah tugasku.
"Berjuanglah," semua orang memberikan dukungan padaku, Milfa merapalkan sihir yang mana membuatku bisa bernafas dalam air.
"Aku pergi."
Aku melompat ke bawah memercikkan sedikit air ke udara sebelum berenang jauh lebih dalam, aku bisa melihat dasar laut yang tampak bercahaya dari sebuah batu bersinar, di sana terdapat lingkaran sihir yang di sekelilingnya di selimuti pilar-pilar tinggi.
"Apa itu?" pikirku dalam hati.
Ketika aku menyentuh pola itu, lingkarannya bersinar dan saat aku sadari aku telah berada di tempat aneh, di mana pijakanku bukanlah tanah melainkan awan putih yang lembut.
Jelas ini di atas langit, aku menyusuri sekelilingku dan kulihat seorang wanita duduk membelakangiku.
Aku berjalan untuk memastikannya.
Sebelum aku mengatakan apapun, wanita itu berbalik ke arahku, dia mengenakan gaun putih serta hiasan bunga putih di atas rambutnya yang berwarna abu-abu.
Ia berdiri menampilkan tubuh yang ideal dengan tinggi sedikit melebihiku.
"Anu.. apa ada yang bisa kubantu?" dia bertanya padaku.
"Aku ingin menyelamatkan Dewi Abela, di mana beliau?"
"Itu aku sendiri, namaku Abela."
Karena tidak ada siapapun di sini, aku yakin dia orangnya.
Aku mengulurkan tanganku ke arahnya.
"Mari keluar dari sini."
Dewi Abela menggelengkan kepalanya.
"Itu mustahil, siapapun yang masuk ke dunia ini tidak akan bisa keluar lagi."
__ADS_1
"Dunia, maksudmu dunia tanpa apapun ini."
"Ini adalah dunia yang belum dibentuk, kecuali langit kosong saja."
Aku tidak bisa memikirkan sesuatu yang tidak bisa digapai akal manusia jadi aku melewatkannya.
"Apa benar tidak ada cara lagi untuk bisa keluar dari sini?" aku kembali memastikannya, dan sekali lagi dia mengangguk mengiyakan.
Aku mendesah pelan, aku rasa aku harus menanyakan semua halnya dari awal, aku memutuskan untuk duduk di tepi awan selagi menatap langit biru tanpa apapun ini..
Dewi Abela tampak ragu-ragu meski demikian dia duduk di sampingku.
"Ngomong-ngomong kenapa Dewi berada di tempat seperti ini?"
"Aku sedang dihukum."
"Dihukum?"
"Itu benar, aku menyalahkan kekuasaanku dan berakhir di sini."
"Kukira ada seseorang yang memenjarakan Dewi di tempat ini hingga dunia yang dikelola Dewi kehilangan sihirnya."
"Mana mungkin, kau pasti bercanda... bukan hanya aku saja yang mengelola dunia itu, dan sihir, mana bisa hilang begitu saja karena aku tidak ada di sana."
"Ada apa?"
"Tapi sihir benar-benar telah hilang, beberapa iblis memanfaatkannya lalu membunuh para penyihir yang tersisa."
"Kenapa bisa begitu? Itu terdengar kejam."
Aku memegangi kepalaku dengan pusing.
"Lalu siapa yang telah menghilangkan sihirnya?"
"Mungkinkah?"
Ketika aku berpikir keras sebuah suara datang memotong. Seorang wanita muncul dari atasku dengan puluhan pedang yang bermunculan dari segala arah.
"Dewi Anabeth," kata Dewi Abela lalu melanjutkan.
__ADS_1
"Apa-apaan ini semua, kata pemuda ini kau menghilangkan sihir di dunia yang kukelola, bukannya kau hanya sebagai Dewi pengganti saja."
"Duniamu sudah rusak, aku putuskan untuk menghancurkannya."
"Apa yang kau?"
"Aku pernah turun ke duniamu, di sana kepercayaan terhadap Dewi sangatlah kurang, dan mereka selalu membanggakan sihir yang mereka punyai untuk melakukan kejahatan, jadi aku menghilangkan sihir mereka."
"Itu terlalu berlebihan..."
"Tak kusangka para iblis memanfaatkannya dan kini duniamu sebentar lagi akan musnah."
"Kenapa kau melakukan itu, kau tidak memiliki hak?"
"Kau sudah ditahan di sini, karena itu dunia itu menjadi tanggung jawabku seutuhnya."
Dewi Abela berkata ke arahku.
"Kurasa manusia masih bisa keluar dari tempat ini, cepat larilah."
"Tapi.."
"Cepatlah."
Saat aku hendak berlari tubuhku langsung terhenti begitu saja, aku dengan ragu melihat kedua tanganku yang dipenuhi darah.
Aku kemudian melihat seluruh tubuhku semuanya telah tertembus puluhan pedang, aku tumbang ke samping selagi melirik ke arah Dewi Abela yang tampak panik.
Suara samar-samar terdengar darinya.
"Kau membunuhnya."
Aku mati.
Saat kesadaranku menghilang, aku berada di perahu bersama lainnya.
Rolia berkata ke arahku.
"Ada apa Jason, wajahmu tampak pucat."
__ADS_1
"Bukan apa-apa."
Aku hanya bisa terduduk lemas.