Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 55 : Pertarungan Besar


__ADS_3

Di dalam kemelut peperangan, kami harus berhadapan dengan seluruh pasukan Laura. Tak hanya ketujuh iblis yang melayaninya kami juga harus berhadapan dengan naga Undead yang menyemburkan asap gelap yang mampu mendorong semua orang ke dalam keputusasaan.


Aku membiarkan para iblis itu berhadapan dengan Milfa dan Yui, Luck dan Nebula mengurus pasukan tengkorak yang terus bermunculan dari tanah bersama lainnya.


Dan untukku aku mengurus naga di depanku.


Aku melompat ke atas kepalanya selagi mengayunkan pedang dan bilah itu menghantam tepat di kepalanya. Saking kerasnya aku berbalik terpental ke belakang, di saat yang sama para petualang mulai melemparkan berbagai tali untuk mengikatnya dari segala arah.


Ketika pergerakannya terhentikan aku mengangkat pedangku yang terselimuti kegelapan, aku mengayunkannya hingga naga tengkorak itu terbelah menjadi dua bagian.


"Jangan lengah, pertarungan masih terus berlanjut," teriakku.


"Baik."


"Pertarungan memang masih berlanjut," mendengar suara itu aku segera memalingkan wajah di mana Laura sedang duduk di atas kumpulan orang-orang yang dia tumpuk menggunung.


"Jangan khawatir, mereka masih hidup, aku berusaha untuk tidak membunuh orang yang tak perlu, bukannya harusnya kau berterima kasih untuk itu."


"Laura," panggil aku.


"Ingatanmu sepertinya sudah kembali, itu lebih mudah."

__ADS_1


Laura melompat ke bawah lalu mengambil pedang dari orang yang tergeletak.


"Aku mulai bosan melawan orang lemah, hibur aku Jason."


Trang. Trang.. Trang..


Pedang kami tertahan satu sama lain dan Laura berbisik ke telingaku.


"Kau akan bagus menjadi budakku."


Aku mendorong tubuhnya lalu bersiap menebas, dengan lincah Laura berguling ke samping lalu berkata.


"Hell Fire."


"Orang normal akan mati jika terkena hal demikian, ini mengingatkanku dengan masa lalu kan Jason," kata Laura dengan nafas berat.


"Aku masih belum sungguh-sungguh barusan."


"Itu bagus, pahlawan dan raja iblis sudah ditakdirkan untuk bertarung satu sama lain."


Laura menerjang ke arahku, aku menghentakkan kakiku menciptakan angin kencang demi menghentikannya.

__ADS_1


Bersamaan itu.


Aku menendangnya hingga dia terlempar ke samping sebelum akhirnya aku membuang pedangku, kami sudah pergi jauh jauh dari pertarungan yang lainnya walau aku berbicara apapun tidak akan ada yang mendengarnya.


Laura bangkit selagi membetulkan tubuh-tubuhnya yang patah, dia membuang pedang di tangannya juga.


Ini adalah sesuatu yang baru kami lakukan, bertarung satu sama lain dengan tangan kosong.


"Ini memang sudah terlambat tapi kenapa kau menjadi raja iblis?"


"Tidak ada alasan bagus, aku hanya ingin membunuh banyak orang dan menyelimuti dunia ini dengan kegelapan."


"Kau membenci dunia ini," atas pernyataanku Laura sedikit terkejut yang mana membuatku semakin yakin bahwa dia juga sebelumnya manusia.


"Kau mencoba memfitnah penyihir dan membuat semua orang membenci mereka, awalnya aku berfikir itu memang dilakukan agar tidak ada siapapun yang memanggil pahlawan lain, namun semakin aku pikirkan itu pasti bukan motifmu yang sebenarnya."


"Kenapa kau berfikir begitu? Sihir sudah tidak muncul lagi saat Dewi Abela dikurung, dan aku berhasil melenyapkan seluruh penyihir selain Milfa bukannya sudah jelas aku melakukan itu agar tidak ada yang bisa memanggil lagi sosok pengganggu."


"Sederhananya kau suka bertarung dan para pahlawan adalah sosok yang ingin kau lawan."


Laura menghembuskan nafas panjang lalu melirik ke arahku dengan tatapan kebencian yang ditunjukkan kepada orang lain.

__ADS_1


"Aku terlalu banyak bicara, memang benar aku membenci para penyihir hingga aku juga membenci dunia ini."


__ADS_2