Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 08 : Gurun Pasir


__ADS_3

Pagi menjelang siang kami berjalan-jalan di kota selagi mengumpulkan beberapa makanan yang akan kami bawa dalam perjalanan.


Perlu tiga hari untuk bisa melewati gurun terlebih kami juga harus memiliki air dan rumput untuk pakan kuda.


Mengingat jumlahnya lumayan banyak kami akhirnya membeli sebuah kereta yang akan akan diikatkan kepada kedua kuda yang kami bawa dari hutan elf.


Dengan begini persiapan sudah selesai.


Pada malam harinya kami berangkat, gurun pasir memang tidak terlalu panas jika dilalui waktu seperti ini.


Selagi memegangi tali kekang kuda, Mia menarik busuk di tangannya sementara Rolia turut waspada jikalau sesuatu mengejar kami dari belakang.


"Sejauh ini belum ada tanda-tanda mereka muncul," ucap Mia bersiaga.


Tempat berbahaya setelah Dungeon adalah gurun pasir jadi kami tidak boleh lengah, di bawah sinar bulan purnama yang dihiasi hamparan bintang indah kami terus melanjutkan perjalanan.


Dengan melewati gurun ini kami telah menghemat banyak waktu.


Beberapa saat kemudian sebuah guncangan di pasir membuat kereta kami tak terkendali, aku menarik tali untuk menghentikan kereta sesegera mungkin.

__ADS_1


"Dia sudah datang."


Agar kereta yang ditumpangi kami aman, aku, Rolia dan Mia melompat keluar kereta lalu berlari menjauh, bersamaan itu sebuah gelombang pasir tercipta di belakangku.


Itu dihasilkan oleh seekor cacing raksasa penghuni gurun pasir ini. Dengan kecepatan tinggi kepala cacing itu keluar dari permukaan.


Mia berhenti lalu mengirim panahnya hingga menancap dengan baik di kepalanya. Aku menarik pedangku dan Rolia pun melakukan hal sama sebelum kami berlari ke arah berlawanan.


Cacing itu memunculkan seluruh tubuhnya di saat kami mengepungnya dari segala arah, Mia pun melemparkan busurnya untuk menggantinya dengan pedang.


Musuh kami di masa depan jelas lebih kuat dibanding makhluk seperti ini, kami tidak akan melarikan diri. Aku melangkah maju lalu menebaskan pedangku membuat sayatan cukup dalam di tubuhnya.


Di saat perhatian cacing itu teralihkan Rolia maupun Mia menyerang dari belakang, pedang mereka membuat tebasan yang mampu menghentikan pergerakan si cacing.


Cacing itu berbalik kemudian menyerang keduanya hingga pasir menyembur ke udara. Rolia maupun Mia berguling ke samping untuk menghindari serangan berikutnya.


Keduanya menggabungkan tangan.


"Jason," teriak Mia

__ADS_1


Aku berlari ke arah keduanya, menggunakan tangan mereka sebagai pijakanku. Aku melompat ke atas si cacing.


Memanfaatkan gaya gravitasi aku menusuk tubuh cacing itu dalam-dalam lalu meluncur ke bawah dan hasilnya cacing itu roboh tanpa berdaya.


Dengan begini kami telah berhasil mengalahkan mereka.


"Kita harus segera pergi dari sini sebelum kawanan cacing lain datang," atas pernyataan Rolia kami kembali ke kereta namun saat hendak sampai, seekor cacing yang lain muncul lalu melahap seluruh kereta tanpa sisa.


Kecuali kuda kami, dia menyemburkan barang bawaan dari kereta dan akhirnya mengincar cacing yang sudah mati.


"Mari bergegas," kataku demikian.


Kami bertiga mengambil beberapa makanan serta minuman secukupnya ke dalam ransel sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Tentu saja aku yang membawanya.


Baru saja mulai, kami bertiga terperosok ke dalam pasir.


"Pasir hisap," teriak Mia.

__ADS_1


Rolia, Mia dan aku saling berpegangan tangan ketika seluruh tubuh kami masuk ke dalam pasir, saat aku sadari kami telah berada di sebuah ruangan luas tanpa siapapun.


__ADS_2