
Setelah berpamitan dengan yang lainnya perjalananku bersama Rolia dimulai, tujuan kami adalah menemukan adik Rolia yang hilang, dia seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang memiliki wajah hampir mirip Rolia.
Dengan ciri seperti ini akan mudah bagiku untuk menemukannya. Kami menyusuri jalanan setapak di pinggir sungai dengan kereta kuda menuju kota dimana sebelumnya aku dan Rolia bertemu.
Selagi menggigit roti, aku sesekali melirik Rolia yang sedang bermain dengan para capung, Rolia memiliki sifat yang sedikit lebih lembut dengan yang lainnya, memfitnah gadis sepertinya sebagai penyihir jahat menurutku itu sudah lebih dari keterlaluan.
Selama satu hari kami telah mencapai setengah dari perjalanan kami, bahkan ketika kami menyusuri jalanan pinggiran masih saja ditemukan beberapa bandit yang berusaha menghadang kami.
Mereka dengan lihai menunjukkan sihir yang mereka kuasai, karena itulah aku harus segera membuat Serikat Sihir yang dapat mengawasi dan menangkap orang-orang seperti mereka.
"Cepat serahkan barang bawaan kalian," kata salah satunya, bukannya aku menurut aku menyapu mereka semua dengan sihir kegelapan, setengah tubuh mereka masuk ke dalam bayangan mereka sendiri.
"Tidak."
"Kalian baru bebas setelah satu hari, jadi nikmatilah waktu kalian."
Kereta melewati mereka semua yang tak berdaya. Karena ingatanku sudah kembali aku sudah mahir menggunakan sihir seperti ini.
Setelah gelap gulita aku membuat api unggun dengan beberapa kayu selagi memasak sup daging di atasnya.
"Silahkan Rolia.'
"Terima kasih Jason... enak sekali."
"Syukurlah kau menyukainya."
Di bawah bintang bersinar kami saling mengobrol ringan dan baru keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan kembali.
__ADS_1
Pada sore harinya kami telah sampai di kota tujuan namun, semuanya telah berubah. Kota yang awalnya telah berdiri kini semuanya roboh menyisakan puing-puing yang tak terpakai, ada bekas kehitaman yang timbul akibat api.
Rolia melirik sekelilingnya kebingungan.
"Jason?"
Ini adalah kota satu-satunya yang bisa dijadikan informasi keberadaan adik Rolia, setelah ini aku tidak tahu harus mencari dimana.
Ketika aku memikirkannya tampak seseorang sedang terduduk selagi menaruh bunga di depan sebuah rumah yang dulu adalah rumah pasti asuhan. Ia mungkin seorang suster di tempat itu.
"Permisi?"
"Iya, apa ada yang bisa saya bantu untuk kalian?"
"Kami ingin menanyakan sesuatu, apa Anda pernah melihat anak kecil berusia 10 tahun yang mirip dengan gadis ini."
"Aku kakaknya, namanya Alia."
"Ah nona, gadis yang waktu itu... syukurlah nona baik-baik saja, soal Alia tolong ikuti saya."
Sepertinya dia tahu keberadaannya.
Kami mengikutinya ke sebuah hutan dimana kulihat beberapa anak sedang bermain bersama.
Wanita ini menjelaskan.
"Saat nona Rolia menghilang, aku menemukannya di pinggir sungai lalu merawatnya di panti asuhan."
__ADS_1
"Terima kasih banyak," Rolia berlinang air mata lalu memanggil adiknya dari tempatnya berdiri.
"Alia."
Alia membalikan badannya.
Dia benar-benar mirip Rolia versi kecil.
"Kakak."
"Alia."
Keduanya saling berlari mendekati satu sama lain lalu berpelukan dalam tangis.
"Syukurlah, aku pikir aku akan hidup sendirian uwaahhh."
"Kakak juga."
Aku hanya mengawasinya mereka bersama suster bernama Ana ini.
"Apa selama ini kalian tinggal di sini?"
"Kami sudah tidak tahu harus pergi kemana."
"Bagaimana kalau kalian tinggal di wilayahku saja, aku baru membangun kerajaan aku harap kalian bisa tinggal di sana walaupun hidup berdampingan dengan para ras vampir aku yakin mereka orang-orang yang baik."
"Kalau begitu saya akan menerimanya."
__ADS_1