
Aku menjelaskan semua hal yang harus mereka ketahui, dan lagi-lagi mereka semua terkejut kembali.
Mulai sekarang Dewi Abela akan ikut dengan kami, agar tidak menarik perhatian kami memutuskan untuk memangilnya Abela saja.
"Mulai sekarang mohon bantuannya."
Seorang Dewi menundukan kepalanya ke arah kami membuatku merasa bersalah, harusnya kamilah yang harus melakukannya.
Walau kami mencoba menegaskan itu, Abela tidak menghiraukannya dan berkata, "Tidak apa-apa, tolong perlakuan aku seperti manusia saja."
Kami tidak bisa mengatakan apapun sebagai jawaban dan langsung kembali ke penginapan, aku segera menjual perahu maupun Kraken yang kami kalahkan demi ditukar dengan uang, lalu keesokan paginya kami berangkat meninggalkan kota dengan kereta kuda.
Seperti yang aku sepakati dengan Dewi Anabeth, sihir telah kembali ke dunia ini.
Awalnya pihak musuh berusaha menghilangkan seluruh sihir dari dunia ini, sekarang malah berubah sebaliknya, kini semua orang bisa menggunakan sihir entah itu anak-anak, balita, orang dewasa ataupun orang tua.
Bahkan untuk anggota gereja juga, dengan jumlah sebanyak ini mereka tidak akan bisa berbuat banyak, misal ada perburuan penyihir lagi otomatis mereka juga harus membunuh diri mereka sendiri atau mungkin seluruh dunia.
Milfa yang duduk di sampingku tersenyum senang selagi melirik ke arahku.
"Tidak ada orang yang tidak bisa menggunakan sihir, sekarang semuanya jauh lebih menarik.. pihak gereja akan kehilangan kekuasaannya dan merekalah yang akan dituduh sebagai biang dari hal ini."
__ADS_1
"Tepat sekali, jika sihir diberikan pada semua orang tanpa pandang bulu maka sebagian orang akan digunakan untuk kejahatan, dari sini tugas kita adalah untuk menangkap mereka."
"Aku mengerti, kita sudah mengembalikan sihir ke dunia ini dan kita juga harus bertanggung jawab karenanya, lalu apa tujuanmu berikutnya?" tanya Milfa.
"Aku akan membuat sebuah organisasi besar yang bertujuan untuk menangkap orang-orang yang menyalahgunakan sihir, aku akan menyebutnya 'Serikat Penyihir' tapi sebelum itu aku juga harus membuat kerajaanku sendiri sekarang."
"Apapun yang kau inginkan, aku akan turut bergabung."
"Begitu kami juga," semua orang serempak mengatakan hal itu dari arah belakangku.
"Kalian."
Mia mengangkat satu tangannya.
Memangnya hutan termasuk kawasan strategis?
"Aku ingin kerajaan kita di Padang Pasir saja," tambah Yue.
Itu pasti menyulitkan.
"Aku dimana saja yang tentunya nyaman untuk ditinggali," perkataan Vilaina sama dengan apa yang dipikirkan Abela.
__ADS_1
Untuk Rolia dan Milfa lebih menyerahkan semuanya padaku.
Aku berkata ke arah mereka yang bersemangat.
"Karena kita tidak memiliki uang untuk membeli wilayah bahkan memberikan pajak tanah, jadi aku putuskan untuk memakai wilayah yang belum pernah dikunjungi orang lain."
"Memang ada wilayah seperti itu?" semua orang mengatakan hal sama.
"Ada satu, di bagian utara tidak jauh dari sini.. kudengar ada sebuah daratan luas di tengah sebuah sungai besar yang mengalir deras di dekat air terjun, konon tidak ada yang bisa menginjakkan kakinya di sana," jawab Milfa yang mana mendapatkan anggukan dariku.
"Walau berbahaya kita ada Milfa yang bisa menggunakan sihir, aku rasa kita bisa membuat kerajaan di tempat seperti itu."
"Sihir tidak praktis seperti apa yang kau bayangkan Jason?"
"Bagaimana jika Milfa juga mengajari kami sihir selama perjalanan ini?"
"Jika kau bilang begitu, apa boleh buat?"
Milfa mengalihkan pandangannya ke arah semua orang yang berada di belakang.
"Bagaimana dengan kalian, apa kalian mau berlatih menggunakan sihir?"
__ADS_1
Tentu saja jawabannya,"Mau."
Dari sini tugas kami sesungguhnya telah menanti.