
Aku telah menumbangkan 20 belalang yang mana menjadikanku pusat perhatian di guild, aku tidak memikirkannya dan hanya menerima upahku selayaknya lalu pergi dari sana.
Milfa dan Vilaina juga telah selesai.
"Bagaimana dengan barangnya?"
"Aku sudah mengirimnya ke kerajaan kita, ayo pergi."
"Sepertinya begitu.. kalian berdua."
Keduanya malah memegangi lenganku.
"Ayo pergi."
"Mari."
Sihir teleportasi dirapalkan dan seketika kami telah sampai di rumah, hari sudah senja saat kami tiba.
Saat pintu dibuka semua orang telah ada di meja makan.
"Akhirnya kalian kembali juga, mari duduk dan makan bersama," kata Abela yang mendapat anggukanku.
Milfa dan Vilaina juga segera membantu, dunia lain itu sungguh menyenangkan, bagaimanapun aku akan hidup dengan banyak wanita cantik seperti mereka.
Ada Mia, Rolia, Yue, Vilaina, Abela dan Milfa.
Aku memakan makananku dengan santai sampai perkataan Milfa membuatku menyemburkan air dari mulutku.
__ADS_1
"Kapan kau akan menikahi kami?'
"Kalian semua."
Entah kenapa semuanya malah memalingkan wajah dengan pipi memerah, sebenarnya apa yang kalian bicarakan saat aku tidak ada? Aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi.
"Setelah semuanya telah selesai, aku pasti menikahi kalian semua," mereka semua malah bersemangat.
Saat malam harinya aku diundang oleh Rolia keluar rumah, bulan tampak indah saat kami melihatnya bersama.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan Rolia?"
Rolia hanya diam beberapa saat lalu berkata ke arahku setelah memenuhi hatinya dengan tekad kuat. Saat pertama kali bertemu Rolia dia hampir saja dibunuh oleh penduduk yang membenci penyihir serta wanita bernama Cherry.
Selama ini aku tahu Rolia telah menyembunyikan semua padaku, mungkin dia akan mengatakannya sekarang.
"Sebenarnya Jason, aku ini seorang putri dari kerajaan bernama Eswat."
"Kau tidak terkejut?"
"Aku sudah menduganya meksipun aku tidak menyangka kau seorang putri."
"Maaf sudah membohongimu."
"Aku tidak masalah sih... dari awal aku tidak yakin gadis secantikmu seorang pelayan, kulitmu juga sangat terawat baik."
"Hentikan, aku jadi malu."
__ADS_1
Melihat ekspresinya yang imut damage besar malah menyerangku. Aku duduk di sebuah batang pohon dan Rolia duduk di sampingku juga.
"Sebenarnya ayahku menikah lagi dengan wanita lain, dia mulai menguasai istana dan membuat ayahku jatuh sakit.. dia berusaha membunuhku dan adikku, karena itu kami melarikan diri dari sana."
"Kau memiliki adik?"
"Iya, kami terpisah saat jatuh di sungai, saat aku mencarinya seseorang melihatku menggunakan sihir walau tak seberapa mereka langsung menangkapku untuk di eksekusi."
Sekarang semakin jelas, karena itulah aku melihatnya di sana.
Aku mengelus rambut Rolia.
"Bagaimana kalau kita mencarinya mulai sekarang?"
"Kau yakin? Apa tidak masalah."
"Tentu saja tidak," suara itu datang dari arah belakang kami dimana semua orang telah berdiri di sana.
"Kalian belum tidur?" tanyaku.
"Kami hanya ingin mengintip sedikit," balas Milfa kembali.
"Bukannya aku ingin melakukannya, aku hanya kebetulan saja... jangan salah paham," kata Mia dan semua orang tersenyum ragu.
Kita bisa katakan perkataan Mia tidak sesuai dengan tindakannya maupun hatinya.
"Serahkan tempat ini pada kami, kalian berdua harus pergi dan kembali ke sini dengan selamat," atas pernyataan Yue kami berdua mengangguk mengiyakan sementara Abela dan Vilaina hanya tersenyum ke arahku.
__ADS_1
Jika Rolia kesulitan aku memang ingin membantunya, dengan ini aku pasti akan bertemu wanita itu lagi.
Kali ini aku pasti akan mengalahkannya.