
Dalam perjalanan, kami sesekali berhenti untuk berlatih sihir, kecuali aku semuanya bisa menggunakan elemen sihir yang mereka pelajari.
Yue : angin + api.
Mia : Angin + tanah.
Rolia : Air.
Vilaina : Cahaya.
Adapun untuk Milfa, dia bisa menggunakan semuanya.
Aku memperhatikan mereka dari kejauhan bersama Abela. Kekuatan Abela telah tersegel jadi dia tidak bisa menggunakan sihir, jika itu untukku aku mungkin telah kehilangan kekuatanku bersama dengan ingatanku di masa lalu.
Aku sedikit frustasi tentang itu.
"Mereka sungguh kuat," Abela berkata demikian selagi menatap dengan pandangan mengkilap.
"Ah ya, tapi aku malah tidak bisa melakukan apapun."
"Mana ada, Jason telah menyelamatkan aku maupun mereka bukannya itu lebih dari luar biasa.. mereka semua terlihat sangat mempercayaimu loh."
"Apa begitu?"
"Benar, aku yakin kalian bisa membuat hal yang hebat di masa depan.... aku beruntung bisa berada menjadi bagian kalian, walau tidak bisa bertarung aku juga ingin sedikit membantu dengan apa yang kubisa."
Aku tersenyum lembut ke arahnya, lalu melanjutkan.
"Ngomong-ngomong Dewi?"
__ADS_1
"Panggil Abela."
"Abela, kenapa Anda dikurung di tempat seperti itu?"
"Hmmm... seperti yang pernah kau dengar, aku telah menyalah gunakan kekuatanku seperti.. aku memilah-milah manusia."
"Eh, maksudnya?"
"Yah, aku selalu memberikan perlakuan khusus pada wanita, entah itu saat mereka bereinkarnasi atau menjalani kehidupannya."
Abela mengatakannya sedikit malu-malu.
"Abela membeda-bedakan gender."
"Um.. sekarang aku menyesal."
Setidaknya dia merasa menyesal.
Kuharap dia tidak terlalu berharap, meski sihir telah kembali, itu tidak memungkiri bahwa dunia ini telah damai.
Laura dan anak buahnya mungkin saja telah bergerak kembali.
Perlu waktu berhari-hari untuk sampai di lokasi yang ingin kami tuju dan akhirnya kami sampai juga. Di depan kami sebuah sungai besar telah menyambut.
Tepat sebelum jurang, ada sebuah pulau di tengah sungai itu yang terlihat belum terjamah siapapun.
Jika di lihat luasnya cukup untuk membuat kota besar sebesar ibukota kerajaan lain, hanya saja sekarang bagaimana kami bisa menyebrang ke sana.
Airnya sangat deras hingga dipastikan kami semua akan jatuh ke dalam jurang dalam sekejap.
__ADS_1
Milfa menggunakan sihir tanah dimana ia membuat sesuatu seperti jembatan penghubung, sihir benar-benar membuat segalanya terasa mudah.
Kami melewati jembatan itu masih dengan kereta kuda, sesampai di sana jembatan itu ambruk ke bawah.
Banyak pepohonan yang menghalangi jadi pekerjaan kami akan dimulai dari menebangnya. Kami semua turun dengan perasaan lega, terdengar suara bunyi dari air terjun yang cukup menenangkan.
Bisa dikatakan tidak terlalu keras.
Aku berkata ke arah semuanya untuk memulai pekerjaan kami.
"Aku, Vilaina dan Abela akan mengurus tenda kita serta makan malam, untuk Yue, Milfa, Rolia dan Mia tolong urus pohonnya kita akan membuat rumah dari kayunya."
"Baik."
Pekerjaan awal kami dimulai.
Aku telah membeli peralatan yang kami butuhkan sebelumnya, semuanya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Dua minggu kemudian aku telah membuat rangka rumah yang akan kami tempati, kami sudah membuat sumur serta ladang yang bisa kami tanami sayuran.
Walau aku berniat membuat kerajaan di sini, aku berpikir akan membuatnya sesederhana mungkin dengan bangunan kayu saja tanpa ada kontruksi yang biasa digunakan kota besar.
Mia di depanku cukup ahli dalam membangun rumah, mungkin karena sudah terbiasa melakukan ini di desanya.
Dia bahkan naik ke genteng bersamaku.
"Aku kehabisan paku."
"Ah iya."
__ADS_1
Aku memberikannya. Rasanya aku sebagai pria tidak terlalu diandalkan di sini.