
Di dalam penjara itu, aku hanya duduk untuk memikirkan segala sesuatu yang terjadi, menurut penjaga kami di tuduh sebagai penjahat setelah mendengar kesaksian pelaku yang berhasil ditangkap.
"Jangan bercanda," dibarengin suara hantaman besi, Mia meninju dengan perasaan emosi di wajahnya.
Sudah jelas dia tidak terima, di sisi lain Rolia tampak khawatir, bagaimanapun kami di jatuhi hukuman mati esok hari. Mereka benar-benar bergerak cepat.. satu hal yang bisa kusimpulkan bahwa kedua menteri itu terlibat dalam semua ini.
Meski begitu aku yakin mereka masih merencanakan sesuatu.
Tak lama kemudian Laura muncul untuk menemui kami.
"Laura?"
"Aku yakin kalian pasti bukan penjahatnya."
"Kesampingkan hal itu dulu, bagaimana keadaan Ratu Catrine?"
"Karena insiden tadi beliau diminta untuk tidak keluar dari kamar."
"Jason?" panggil Mia.
"Aah, dia dalam bahaya.. jika Ratu Catrine dibunuh di ruang tertutup tidak akan ada seorang pun yang menyadarinya."
"Tunggu apa yang kau katakan?" di saat Laura kebingungan dengan apa yang kukatakan, Mia langsung memotong jeruji sel kami dengan pedangnya.
"Rolia bawa Laura ke tempat aman, biar aku dan Mia yang mengurusnya."
__ADS_1
"Aku mengerti."
Dari sini kami akan bertarung dengan waktu, tanpa memperdulikan prajurit yang tumbang, aku dan Mia mulai menaiki tangga ke lantai atas dimana kamar ratu berada, banyak penjaga yang menghalangi.. kendati demikianlah kami mengalahkan mereka dengan mudah.
Secara berurutan kami membuka setiap pintu terutama mendobrak pintu yang terkunci, tepat di sana kulihat sosok berbaju hitam telah membawa Ratu Catrine lewat jendela.
Kami mengikuti orang tersebut dengan berlarian di atas genteng.
"Tunggu kau?"
Dia melempar belati ke arah kami berdua yang dengan sigap menghindarinya.
Aku melompat ke bawah sementara Mia terus mengejarnya dari belakang, akan lebih baik jika kami memojokkan dari dua arah. Selagi berlari aku terus mengawasi pergerakan di atasku hingga akhirnya kami berhasil memojokkannya.
Aku menarik kain penutup wajahnya dan kulihat bahwa dia adalah pelayan yang kutemui di istana.
"Jadi dia orangnya."
"Tidak, lebih buruk dari yang kuduga."
"Apa maksudmu?" tanya Mia.
"Dalangnya adalah Laura, dia menjebak kita lagi," bersamaan itu para prajurit telah mengepung kami termasuk Laura di dalamnya yang sedang menyandera Rolia.
Laura mengangkat bahunya seraya berkata dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
"Mereka melarikan diri dan berusaha membunuh ratu, cepat habisi mereka."
"Bagaimana sekarang Jason?"
"Kita hanya bisa bertarung."
"Urusan kerajaan benar-benar merepotkan," setelah mengatakan itu aku dan Mia menyerbu mereka.
Suara pedang bertubrukan terdengar saling menggema di udara yang sepi, kami bisa saja pergi meninggalkan Catrine namun jika demikian dia akan terbunuh.
Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang kukenal mati begitu saja, semakin lama para prajurit bertambah banyak. Rolia mulai memberikan perlawanan, dia berhasil menginjak kaki Laura hingga ia mundur ke belakang.
"Kau?"
Aku segera menarik tangan Rolia lalu berteriak ke arah Mia.
"Kita pergi."
"Baik."
Setelah menjatuhkan beberapa prajurit dengan pedangnya, Mia menggendong Catrine yang masih tak sadarkan diri sebelum berlari mengikuti kami dari belakang.
Aku tidak tahu akan seperti apa kerajaan ini? Yang jelas kami harus mundur dulu. Kami semua masuk ke dalam kereta pedagang dan keluar dari kota bertepatan saat gerbang pos
pemeriksaan ditutup.
__ADS_1