
Setelah akhirnya mencapai kesepakatan aku dan Milfa membawa para ras vampir ke tempat yang seharusnya mereka berada, tentu itu adalah tanah yang sebelumnya aku dan partyku jadikan sebagai rumah.
Dari seberang sungai Milfa membuat jembatan berbeda dari sebelumnya, dia menggunakan sihir alam dimana itu terlihat sangat kokoh untuk kita semua lewati.
Ini bukan sihir elemen melainkan sihir khusus yang tidak bisa semua orang dapat lakukan.
Rolia, Mia, Yue, Vilaina serta Abela menyambut kedatangan kami.
"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja," kata Abela lembut.
"Maaf membuat semuanya cemas."
"Mereka?"
"Mulai sekarang mereka juga akan tinggal di sini."
Semua orang tersenyum ramah sampai Rolia berkata setelah mengangkat tangannya.
"Pertama Jason harus memberinya nama dulu untuk kerajaan yang akan kita buat?"
"Itu benar," tambah Nina yang mana membuatku tersenyum pahit.
__ADS_1
"Aku lupa untuk itu.. baiklah, nama kerajaan kita akan bernama kerajaan Aestaria."
"Yah aku tidak keberatan soal namanya, tapi kau yakin? Biasanya kerajaan selalu mengambil nama dari raja pertama yang nantinya akan diwariskan ke raja selanjutnya."
"Kukira tak masalah, aku lebih suka membuat kerajaan seperti ini," balasku pada Nina yang mendapat senyuman darinya.
"Aku tidak bisa menebak pikiranmu."
"Karena sudah sepakat, mari bersama buat rumah untuk kita semua," atas pernyataanku semua orang berteriak semangat.
Pertama kami semua membuat tenda sebagai rumah sementara selanjutnya menebang pohon untuk dijadikan pemukiman, aku bertugas dengan yang lainnya untuk memotong kayu sementara sisanya mulai membangun dari pondasi awal.
Dengan bantuan sihir anggota partyku, semuanya terlihat lebih mudah. Luck dan Nebula juga turut membantu dengan palu dan gergaji.
"Benar juga, mari pergi," balasku pada Milfa.
Tak hanya kami berdua Vilaina juga ikut bersama kami, ia akan bertugas membelikan pakaian serta makanan bersama Milfa, setelah mendapatkan uang untuk misi para vampir aku menerima banyak uang yang mana kuberikan pada keduanya.
Milfa berkata ke arahku.
"Kau yakin memberikan semuanya?" Vilaina juga berfikir demikian yang kujawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Dibanding aku semua orang lebih membutuhkan, kita juga bahkan harus membeli selimut untuk mereka.. untukku aku akan menyelesaikan misi ini."
Aku menunjukan selembaran yang kuambil dari papan Quest.
"Berhati-hatilah Jason, kalau begitu kami pergi," kata Vilaina.
"Kalian juga."
Karena ada Milfa, Vilaina akan baik-baik saja.
Aku sekali lagi melihat kertas di tanganku, itu bertuliskan untuk melawan monster yang sering merusak kebun penduduk sekitar sini.
Setiap monster dihargai satu koin perak jika aku bisa membunuh banyak bukan tidak aneh aku bisa mendapatkan koin emas hanya dengan mengalahkan mereka, sebelum hari sore aku telah pergi ke lokasi yang dimaksud yaitu sebuah perkebunan luas yang merupakan milik penduduk.
Tak hanya aku, ada beberapa petualang juga yang turut ambil bagian, mereka adalah kelompok beranggotakan empat orang dimana semua anggotanya terdiri dari tiga wanita dan satu pria, di sini ada lima kelompok dengan anggota yang sama.
Sepertinya petualang lekat sekali dengan kehidupan harem.
Bagiku yang pemain solo akan lebih baik untuk memisahkan diri dari mereka, aku memutuskan untuk melawan monster di bagian pinggir kebun yang jarang dimasuki monster.
Ketika semua kelompok itu sedang bertarung aku juga sudah menumbangkan satu ekor, ngomong-ngomong yang kami lawan hanyalah belalang raksasa.
__ADS_1
Semua monster di sini tidak menjatuhkan item berharga saat kita mengalahkannya, mereka murni tulang dan daging.
Setiap aku menumbangkan satu monster angkanya akan tertulis di kartu petualangku, guild benar-benar sangat ketat hingga tidak mungkin mereka bisa berbuat curang