Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 36 : Pahlawan Dari Masa Lalu


__ADS_3

Diriku di masa lalu benar-benar terlihat seperti seorang pahlawan dimana aku mengenakan armor gelap yang berat dengan pedang yang besar pula.


Walau ukurannya seperti itu aku dengan mudah mengayunkannya yang mana membuat tanah terbelah ataupun mengirim sihir dari tanganku, sihir itu tampak seperti sihir kegelapan.


Jika dipikirkan aku bisa kembali dari kematian lalu mengulang lagi kehidupanku jelas itu bukan kemampuan yang baik. Terserahlah, jika itu demi melindungi orang lain aku tidak ingin memikirkannya lagi.


Milfa dan Leo bangkit kemudian membantuku untuk mengalahkan Laura, hingga aku bisa menusuknya dengan pedangku.


"Walau kau berhasil membunuhku, aku akan terus hidup," kata Laura


"Saat itu, pasti ada pahlawan lain yang akan mengalahkanmu," balasku demikian.


Tak lama pemandangan itu berubah menjadi pemandangan di luar istana.


Leo berkata ke arahku.


"Kau yakin ingin kembali? Kata Milfa, kau ada kemungkinan kehilangan ingatanmu di sana."


"Tak apa, aku sedikit merindukan kehidupan itu."


"Jika itu maumu, aku juga akan pergi ke desaku dan menikahi orang yang kucintai."


"Begitukah, selamat."


Diriku yang lain melirik ke arah Milfa lalu berkata.


"Maaf tidak bisa menerima perasaanmu."


Milfa menggelengkan kepalanya.


"Bersamamu adalah waktu yang sangat menyenangkan bagiku, jika kita bisa bertemu lagi entah itu di kehidupan berikutnya, bolehkan aku menjadi istrimu."


"Tentu, saat itu aku akan menciummu."


Walau sedih, Milfa mengulurkan tangannya kemudian merapal sihir untuk membuat lingkaran sihir berlapis.


"Kalau begitu aku pergi, jaga diri kalian."

__ADS_1


Diriku yang lain menghilang.


Di saat aku menyaksikan itu, ingatanku yang sebelumnya menghilang perlahan masuk ke dalam kepalaku.


"Jadi begitu."


Saat aku sadari aku bangun di tempat tidur lalu kulihat Milfa sedang duduk di sampingku, aku bangun dan Milfa menarik nafas lega.


"Berapa lama aku tidur?"


"Cuma sebentar, masih ada waktu sampai duelnya berlangsung."


"Syukurlah."


Aku kemudian memandang ke arah Milfa.


"Ada apa?"


Sebelum dia bereaksi aku segera mencuri bibirnya yang lembut hingga dia terlihat terkejut selagi memeganginya.


"Barusan sangat tidak terduga."


"Jangan bilang kau mendapatkan ingatanmu lagi?"


Aku tersenyum kecil hingga Milfa melompat ke arahku, aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya.


Saat pertama kali aku datang kemari aku berada di umur 30-han, aku pria menyedihkan yatim piatu yang tak memiliki keluarga mengingat diriku masih muda seperti ini, sedikit membuatku senang.


"Aku selalu bilang jika kau akan lebih tampan di usiamu seperti ini."


"Benarkah, sepertinya aku juga bisa menggunakan sihirku kembali."


"Itu hebat."


"Karena ada duel yang harus kulakukan, bisakah kau melepaskanku sekarang."


"Aku ingin lebih lama lagi seperti ini."

__ADS_1


Walau memalukan aku tidak punya pilihan lagi selain memeluknya dalam waktu yang lama sampai akhirnya tibalah untukku berduel.


Para ras vampir mulai mengelilingi kami sebagai penonton sedangkan, aku dan Nina saling berhadapan.


"Auramu berubah, sebenarnya siapa kau Jason?"


"Maaf belum memperkenalkan diriku dengan baik, seperti yang aku bilang namaku Jason seorang pahlawan yang pernah melawan raja iblis di masa lalu."


Semua orang seketika terkejut, bahkan mereka tidak berpikir bisa melihat seorang pahlawan muncul dengan wajah yang lebih muda dari yang mereka ingat.


"Aku masih belum percaya, boleh aku menguji kekuatanmu sekarang," atas pernyataan Nina, aku mengangguk dan ia segera menerjang ke arahku.


Dia mengirim pukulan maupun tendangan secara bergantian, aku hanya menahannya dengan satu tangan.


Ketika dia muncul dari belakangku aku memukul perutnya dan Nina meluncur ke belakang dengan kecepatan tinggi.


Tubuhnya sempat ditahan oleh Luck namun keduanya malah terlempar jauh.


Padahal aku sudah menahan diri barusan.


"Kau benar-benar seorang pahlawan," teriak Nina hingga semua orang yakin.


"Lalu bagaimana pilihan kalian semua?"


"Apa kau yakin akan menjadikan kami bagian dari negaramu?"


Aku menarik pedangku lalu menancap pedang di tanah selagi bersumpah.


"Aku berjanji akan melindungi kalian semua bahkan jika itu harus melawan pihak gereja maupun negara lain, demi hidup kalian yang lebih baik.. kalian akan selalu menjadi bagianku di negara yang baru."


Semua orang menangis dalam haru.


"Aku akan selalu menjamin keselamatan kalian, dan memberikan tempat yang bisa kalian sebut rumah."


Semua orang tersenyum lalu meletakkan tangan mereka di dada seperti yang kulakukan dan berseru.


"Terima kasih atas kebaikan yang mulia," mereka semua mengatakan hal sama di waktu bersamaan pula.

__ADS_1


Entah kenapa perasaan seperti ini tidak asing bagiku. Benar juga, ini adalah semangat untuk hidup.


__ADS_2