
Setelah kehilangan kereta, jatuh ke bawah gurun dan tersesat, sekarang kami semua hanya bisa terus berjalan melewati panasnya terik matahari.
Berhubung aku yang membawa tas persediaan di punggungku, itu menjadi dua kali lipat beban yang harus kutanggung.
Rolia di depanku tampak telah semakin kelelahan sementara Mia juga mulai berbicara sesuatu yang tidak bisa kumengerti.
Kami dalam kondisi yang benar-benar parah, ada kemungkinan seseorang sedang mengawasi kami dari kejauhan hingga menggerakan kumpulan tengkorak itu, aku yakin akan hal itu.
Mia mengaitkan lengannya di lenganku.
Tunggu dia terlihat tidak sehat
"Selamat makan."
Dia menggigitku dan rasanya sangat sakit hingga aku berguling-guling di pasir yang panas.
"Sakit, sakit."
"Maaf Jason, kukira kau daging panggang."
"Jika kau lapar, aku bisa memberimu makanan di ransel ini."
"Bukannya itu persediaan kita yang terakhir."
__ADS_1
"Untuk sekarang makan saja, sisanya kita pikirkan nanti, Rolia juga."
"Apa kau mengatakan sesuatu Jason?"
Kami memang perlu beristirahat.
Aku menyeret keduanya berteduh di sebuah batu melengkung dimana kami bisa beristirahat di bawahnya tanpa perlu kepanasan, kalau begini kami lebih baik berjalan pada malam hari saja.
Rolia maupun Mia terbaring lelah di hadapanku, dada mereka tampak naik turun karena kelelahan, apa boleh buat aku pun mengucurkan air pada mulut mereka berdua agar mereka tak semakin parah lalu memberikan semua makanan yang tersisa.
Jika terus begini kami tidak akan selamat, aku duduk selagi memikirkan langkah apa yang akan kami ambil, jika tahu perjalanan ke gurun pasir ini akan sangat lama harusnya kami memilih jalur sebelumnya.
Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terlambat, menyesalinya pun tidak akan merubah apapun. Dari tempatku duduk tampak ada sesuatu yang bergerak di atas pasir
"Apa itu?"
Mia yang berbaring berkata.
"Mereka ikan pasir, mereka tidak pernah mengejar mangsanya akan tetapi jika bergerak di atas kepalanya mereka akan langsung menyergap."
Jadi begitu.
Ngomong-ngomong pose Mia sangat erotis untuk dikatakan.
__ADS_1
Mari abaikan itu sebentar.
Jika aku memiliki sesuatu yang bisa mengalahkan ikan itu, kami tidak perlu khawatir tentang makanan, dan sisanya hanya harus menemukan air.
Aku mulai memilih-milih apa saja yang ada di ransel ini, kukira ransel ini mirip seperti kantong robot kucing dari masa depan akan tetapi itu hanya imajinasi saja.
Aku berdiri lalu menarik pedangku, tidak ada jalan lagi. Aku akan mengalahkan ikannya dengan pedangku.
"Jason?" panggil Rolia khawatir.
"Aku akan kembali."
Aku membawa kerikil di tanganku lalu berjalan pelan-pelan, seperti apa yang dikatakan Mia ikan pasir ini tidak akan mengejar buruannya karena itu aku masih memiliki kesempatan.
Secara perlahan aku melempar batu ke atas wilayah si ikan, saat ia menyambar hingga setengah tubuhnya terangkat, aku menusukan pedangku sekuat tenaga, hingga darah menyembur dari pedangku.
Ikan itu berteriak kesakitan selagi membanting-banting tubuhnya, bahkan dia menyeretku ke dalam pasir dan melompat-lompat ke udara, meski begitu aku tidak berniat melepaskannya.
Aku terus memegangi pedangku, ketika ada celah aku menusuknya terus menerus hingga akhirnya mati sebelum menghantam Rolia dan Mia yang sedang berbaring.
"Akhirnya selesai juga."
Aku menjatuhkan diriku di atas pasir, dengan ini kami akhirnya bisa bertahan.
__ADS_1
Tidak ada kayu di tempat seperti ini, terpaksa kami akan memakannya mentah dan membawa daging secukupnya ke perjalanan kami menuju Osiris.