Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 23 : Kota Peramal Uin


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang kami tiba di kota yang dimaksud oleh Catrine, kota ini memiliki benteng di sekelilingnya dan tampak beberapa penjaga berseragam rapih berdiri di bagian depannya, mereka mirip sebuah pasukan militer yang membedakannya hanya di pinggang mereka bukan senjata api melainkan sebuah pedang.


Aku menghentikan kereta kuda kami di depan mereka.


Selain mengisi formulir serta keperluan kemari tidak ada lagi yang mereka tanyakan, jika aku memutuskan untuk tinggal aku harus pergi kebangunan pusat untuk mengisi dokumen lain, tapi jika hanya sementara aku diwajibkan membayar 3 koin perak sebagai biaya masuk.


Kota ini menerapkan tarif untuk pelancong.


Kereta mulai menyusuri jalan utama kota dimana di kiri kanannya merupakan bangunan tinggi, jika mengalihkan jauh ke tengah kota tampak sebuah jam raksasa berdiri kokoh.


"Jadi ini kota Uin, ini malah lebih mirip seperti ibukota dibanding kota biasa," aku setuju dengan apa yang dikatakan Milfa.


Sementara Mia dan Rolia hanya bisa menatap takjub, bagi keduanya pemandangan seperti ini jarang ditemui di kampung halaman mereka.


Aku membuka secarik kertas yang diberikan Catrine lalu pergi menuju sesuai yang dituliskan, sesampainya di sana aku melihat beberapa orang sedang mengantri ke sebuah rumah mirip seperti pagoda.


Di sana beberapa wanita yang memakai baju mirip pakaian tradisional cina berdiri mengatur barisan.


"Apa ini tempatnya?" tanya Rolia untuk memastikan.

__ADS_1


"Tidak salah lagi, aku akan mengantri kalian tolong tunggu sebentar."


"Kami mengerti," saat berkata itu seorang wanita berpakaian putih mendekat ke arah kami.


"Permisi tuan, apa Anda dari luar kota ini?"


"Benar."


"Nyonya telah menunggu kalian, saya disuruh untuk mengantar kalian semua ke tempat beliau."


Kami semua hanya mengikutinya dengan wajah kebingungan. Kami diminta menunggu di ruangan yang sangat pribadi dengan dekorasi yang memukau.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu, namaku Yue, aku pemilik tempat ini."


Tidak salah lagi dia peramal yang dibicarakan itu. Kami turut memperkenalkan diri serta mengatakan tujuan kami datang kemari.


"Aku sudah meramalkan hal ini akan terjadi, kalian benar-benar ingin mengembalikan sihir ke dunia ini bukan."


"Tentu, Milfa adalah penyihir terakhir kami ingin membuat semuanya kembali sedia kala."

__ADS_1


"Memang benar, tanpa orang yang bisa menggunakan sihir kami juga kesulitan mengalahkan monster.. aku akan mencoba mencari keberadaan Dewi Abela?"


"Itu sangat membantu."


Yue mulai menutup matanya dan seketika sekelilingnya memiliki hawa yang jauh berbeda, itu tidak mirip seperti mana atau hal lainnya.


"Kulihat Dewi Abela berada di Segitiga Bermuda," rasanya aku pernah mendengar tempat yang sama di dunia lamaku.


Mia sepertinya tahu sesuatu tentang tempat itu, ekpresinya sedikit mengeras.


"Akan sangat sulit untuk pergi ke sana lagipula itu nama sebuah perairan di laut."


"Tempat itu dikatakan sebagai tempat yang dipenuhi monster laut juga," tambah Milfa.


"Apa ada kemungkinan Dewi Abela berada di dasar laut?" aku kembali bertanya dan Yue mengangguk kecil kemudian melanjutkan.


"Kekuatan meramal yang kumiliki dan orang-orang di sini juga adalah berkah yang diberikan Dewi Abela, jika kalian ingin menyelamatkannya aku juga turut senang... kalian pasti belum memiliki tempat tinggal untuk menginap, bagaimana jika kalian menginap di sini? Kami juga akan menjamu kalian dengan makanan mewah."


Kami menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1


__ADS_2