
"Jason, kau baik-baik saja?"
Sebuah suara menyadarkanku dari lamunan, aku sempat melihat tanganku sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke asal suara dimana Rolia melihatku penuh kekhawatiran.
"Dimana ini?" tanyaku.
"Dimana? Apa kau sakit? Kita berada di ruangan tamu istana."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah sekeliling dimana kutemukan sebuah lukisan yang tampak tidak aneh bagiku, kalau tidak salah ini waktu sebelum perjamuan itu diadakan.
Aku terus mengingat kejadian yang ada di perjamuan tersebut, tidak salah lagi aku telah mati untuk ketiga kalinya. Mia yang sempat melihat lukisan itu mendekat ke arahku.
"Mungkinkah Jason sedang bernafsu setelah melihat lukisannya."
Perkataannya sama sekali tidak membantu situasiku sekarang. Aku mendesah pelan, bersamaan itu sosok Catrine masuk ke dalam ruangan. Sosoknya muncul seperti sebelumnya dan obrolan kami juga tidak jauh berbeda.
Tak lama kemudian Laura muncul untuk menuliskan pesanan kami, ia membungkuk sekali sebelum pamit pergi dan aku diam-diam mengikutinya dari belakang bersama Rolia.
Rolia sempat kebingungan dengan apa yang akan kulakukan meski begitu aku hanya menjawabnya asal-asalan.
"Aku hanya ingin melihat dapur kerajaan, pasti sangat megah," seperti itulah.
"Apa Jason suka memasak juga?" Rolia menatapku dengan mata berbinar.
"Terlalu dekat, dekat."
Setelah beberapa saat melangkahkan kaki, akhirnya kami sampai di dapur kerajaan, selagi mengendap-endap aku menarik tangan Rolia untuk bersembunyi di bawah meja yang tertutup dengan kain putih.
"Kenapa kita harus bersembunyi?" tanyanya.
__ADS_1
"Pekerjaan koki itu sangat berat serta membutuhkan konsentrasi tinggi, jadi kita tidak boleh menggangu mereka."
"Begitukah."
Aku mengintip Laura yang sedang mempersiapkan masakan kami, dari sini semua orang terlihat jelas. Sekarang mari cari tahu siapa orang yang menaruh racun di dalam makanan kami.
Setelah semua masakan itu selesai para koki mulai menempatkan seluruh makanan ke atas kereta dorong, sejauh ini tidak ada yang mencurigakan sampai tiba-tiba seorang pelayan pria muncul.
"Lihat itu Rolia."
"Ada apa?"
Rolia mengintip dari sampingku.
"Gerak-geriknya tampak mencurigakan."
"Memang benar, dia mengambil sesuatu dari saku celananya."
Botol kecil yang sebelumnya dia pegang menggelinding ke bawah kaki Laura, dengan sigap Laura memungutnya.
"Bukannya ini racun, kenapa kalian berdua berada di dapur?"
Si pelayan pria yang sudah ketahuan bergegas bangkit untuk melarikan diri namun sebelum dia bisa melakukannya Rolia menjegal kakinya hingga ia jatuh meluncur di lantai.
Aku segera menindihnya untuk menangkapnya.
"Bangunlah, Siapa yang menyuruhmu?"
"Aku tidak akan memberitahukanmu... guakh."
__ADS_1
Tiba-tiba saja sebuah belati menembusnya dari belakang, aku mencoba mencari perlakuannya akan tetapi dia sudah menghilang tanpa jejak.
Laura dan Rolia berjalan ke dekatku.
"Bisakah kau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?" atas pernyataan Laura aku mengangguk kecil dan kembali ke ruangan tamu bersama keduanya dimana Catrine dan Mia berada.
Aku mejelaskan semua hal yang barusan terjadi dengan singkat.
"Dengan kata lain ada seseorang yang mengincar ratu di istana?" tanya Mia.
"Benar, dugaan sementara kejadian tempo hari juga sudah direncanakan."
"Tidak mungkin, bahkan penculikan itu," Catrine tampak gelisah sementara aku melanjutkan.
"Barang bukti yang kita punya hanyalah ini "
Mata Rolia tampak melebar saat aku menunjukan senjata yang sebelumnya membunuh si pelayan.
"Pisau yang digunakan sama seperti dengan pisau wanita waktu itu, bukan begitu Jason."
Lebih tepatnya belati.
"Benar sekali, jika ditelusuri lebih lanjut tentang senjata ini, kita akan tahu organisasi seperti apa yang disewa orang yang berencana membunuh ratu."
Sebelum aku melanjutkan perkataanku puluhan prajurit kerajaan menerobos masuk selagi mengacungkan senjata mereka. Dari belakang mereka kedua perdana menteri benama Rosel dan Wesh muncul.
Rosel berkata.
"Jason, Rolia dan Mia, kalian ditangkap atas percobaan pembunuhan yang mulia ratu."
__ADS_1
Kami semua terdiam di tempat.
Apa sebenarnya yang terjadi?