
Kami semua kembali ke kereta dan langsung meninggalkan kota Uin, di bawah sinar matahari yang terik kereta kami telah melewati hutan kemudian menyusuri beberapa bukit.
Yue yang berada di sampingku tampak senang, sementara Milfa, Rolia dan Mia berada di belakangku hanya bersandar selagi mengawasi sekitar.
"Sungguh menyenangkan, sudah lama aku tidak membakar kota," kata Milfa bangga, sementara Mia hanya mendesah pelan.
Dibanding dirinya tugasnya lebih sulit dimana dia harus melawan banyak penjaga, dari semuanya yang penting kami berhasil membawa Yue keluar.
Rolia berkata ke arahku.
"Jadi kemanakah tujuan kita pergi?"
"Kita akan pergi ke pelabuhan, menyewa kapal lalu pergi ke segitiga bermuda."
"Kau masih ingin pergi ke tempat berbahaya itu?" potong Yue.
"Karena itulah alasan kami berpetualang seperti ini."
"Jangan khawatir Yue, karena ada Milfa aku rasa kita akan baik-baik saja," tambah Rolia yang mendapat anggukan Milfa itu sediri.
"Meski begitu aku rasa masih saja sulit," Mia bergabung dalam pembicaraan.
__ADS_1
Tak terasa kami sampai di sebuah kota di dekat pelabuhan, dari sini kami akan menyewa penginapan untuk menitipkan kereta kami dalam beberapa hari.
Karena semakin banyak yang ikut aku menyewa tiga kamar untuk dipakai beristirahat, Milfa dan Yue akan berada di kamar yang sama, satu kamar untuk Rolia dan Mia, sementara aku akan tidur di kamar sendirian.
Aku menjatuhkan diriku ke ranjang yang empuk selagi membayangkan sosok Laura yang baru-baru ini kutemui, tak kusangka dialah raja iblis yang kami akan lawan. Banyak hal yang ingin kuketahui ke depannya hanya dengan bertemu Dewi Abela secara langsung semuanya akan terjawab.
Aku menutup mataku dan sebuah ketukan terdengar dari luar pintu, aku membuka pintu hingga kutemukan mereka semua berdiri di sana.
"Kami ingin mandi di pemandian umum, kau mau ikut?" yang bertanya itu adalah Milfa.
"Kurasa aku akan pergi dulu ke kota untuk mencari perahu kita, kalian saja."
"Bersenang-senanglah."
Aku hanya bisa melihat kepergian mereka dari kejauhan, untuk sekarang aku juga harus segera pergi.
Setelah mengunci pintu kamar, aku keluar dari penginapan lalu berjalan ke arah laut, beberapa nelayan terlihat sedang sibuk dengan aktivitas mereka.
Aku bertanya pada salah satunya.
"Paman, apa kau tahu dimana aku bisa mendapatkan perahu untuk pergi ke segitiga bermuda?"
__ADS_1
"Segitiga bermuda, apa kau sudah gila? Tempat itu sangat berbahaya.. tidak mungkin ada yang mau mengantarmu ke sana."
"Begitukah."
"Lebih baik kau lupakan saja untuk pergi ke sana, lagipula sekitar 1km dari sini ada Kraken yang akan menghalangi jalanmu juga."
Aku terdiam sebentar, walau tak dapat perahu yabg bisa kusewa di sini, aku masih mendapatkan informasi penting, aku berjalan meninggalkan nelayan itu dan duduk di pinggir laut.
Meminta seseorang untuk mengantar kami itu sulit, hanya ada satu jalan yang bisa kulakukan, yaitu membeli satu perahu yang bisa aku bawa ke sana.
Harga perahu sangatlah mahal, hal itu pasti memerlukan waktu tidak sebentar. Selagi memandang laut yang luas aku merasakan hembusan angin menerpa rambutku, sebelumnya aku pernah ke dunia ini satu kali tapi rasanya aku benar-benar tak bisa mengingatkan.
Aku memang kehilangan ingatanku karena kembali ke dunia lamaku, ketika aku hendak berdiri seorang anak kecil tampak berjalan ke arahku.
"Hey kau, apa kau petualang?" tanyanya.
"Kurasa begitu."
"Aku punya permintaan, tolong bantu aku."
Aku hanya bisa memiringkan kepala ke arahnya.
__ADS_1