
Kami turun dari kereta saat melewati padang rumput landai, dari sini kami hanya perlu berjalan melewati gunung hingga sampai ke Kota Suci.
"Kalian baik-baik saja?" tanyaku pada semuanya yang tampak lemas.
"Kami tak apa," balas Rolia.
"Bagaimana sekarang? Aku tidak bisa kembali lagi ke kerajaanku sendiri, aaah... bikin frustasi."
Aku membiarkan Catrine berjongkok selagi memegangi kedua kepalanya. Bagaimanapun jika dia kembali dia pasti akan dibunuh.
Mia bertanya ke arahku.
"Di depan sana ada hutan, paling tidak kita bisa mencari makanan dan beristirahat sementara waktu."
Aku mengangguk mengiyakan lalu berjalan bersama yang lainnya, dalam perjalanan kami bertemu dengan beruang besar, dia berusaha menyerangku dan aku dengan mudah menebasnya hingga tumbang.
Rolia yang terengah-engah berlari mendekat, dia turut membantuku melawan beruang ini.
"Jason, kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa, hari ini kita bermalam di sini, mari olah beruang ini menjadi makanan."
"Kita makan daging beruang," teriak Catrine.
"Memangnya kita mau makan apa lagi? Lebih baik memanfaatkan apapun yang kita temui di jalan."
Aku mulai membedah tubuh beruang lalu memisahkan bagian daging, tulang serta kulit.
Untuk tulang kami akan menguburnya sementara kulit akan kujual saat sampai di kota.
__ADS_1
Catrine maupun Rolia duduk bersandar di pohon sementara Mia telah membuat api unggun untuk kami memasak. Dia mengeluarkan beberapa rempah-rempah yang sebenarnya sulit ditemukan di dunia ini yaitu sebuah kecap asin dan garam.
Aku duduk disebelah Mia lalu mulai menusuk daging besar itu dengan batang pohon berukuran sedang sebelum meletakkannya di atas api. Rolia dan Catrine juga memutuskan untuk duduk di depan kami berdua selagi mencari kehangatan di tangan mereka.
"Hangat sekali."
"Fuah..."
Setelah matang aku mulai membagikan potongan daging kepada mereka bertiga.
"Dagingnya sangat banyak jadi sungkan untuk tambah," kataku demikian.
"Baik."
Kecap yang dibuat Elf memang sangat enak, aku tidak bisa berhenti untuk memasukan daging itu kedalam mulutku, selesai makan kecuali aku dan Mia keduanya telah tertidur lelap.
Melihat keduanya saling berpelukan memunculkan kehangatan tersendiri dalam hatiku, Mia menepuk pundakku.
"Aku tidak memikirkan apapun," aku membalasnya dengan sedikit terkejut dan Mia malah tersenyum jahil kearahku.
"Cuma bercanda."
Yang bisa kulakukan hanyalah mengabaikannya lalu mulai mengeluarkan dua buah ubi yang sebelumnya kumasukan ke dalam arang kayu bakar, walau tanpa api cahaya bulan sudah cukup menerangi kami malam ini.
"Silahkan."
"Terima kasih... panas, panas."
"Elf ternyata bisa makan apapun?"
__ADS_1
"Tentu saja, semua bahan makanan yang berasal dari hutan kami bisa memakannya."
Cara bertahan hidup manusia dan elf memang berbeda. Aku menggigit ubi bakarku selagi mendengarkan perkataan Mia.
"Bagi kami hutan sama seperti ibu yang merawat kami, hutan memberikan kami rumah nyaman, makanan berlimpah serta kebutuhan lainnya.. karena itu, aku sangat benci manusia, mereka sering seenaknya menebang pohon, berburu secara berlebihan bahkan mencemari sungai... aku sangat benci, benci sekali manusia tapi untuk Rolia dan Jason pengecualian," Mia mengatakannya dengan senyuman di wajahnya.
"Berarti kau menyukai kami berdua."
"Tentu saja."
Beberapa saat kemudian wajah Mia memerah hingga ujung telinga runcingnya
"Kau baik-baik saja? Pipimu memerah karena malu loh."
"Berisik."
"Jika ditanya aku juga menyukai kalian berdua."
"Jason."
"Cepat habiskan sebelum dingin."
"Baik."
Ketika larut malam kami semua tertidur pulas, aku bangun tepat di depan wajah Mia yang sangat cantik. Beberapa saat aku memandanginya sampai ia membuka mata.
"Ah, selamat pagi."
"Selamat pagi Mia.. tidurmu lelap."
__ADS_1
"Iya."
Aku bangun dan melihat Rolia dan Catrine masih tertidur, kurasa aku akan sedikit lebih lama menunggu mereka.