
Di saat pelatihan sihir dimulai aku diam-diam memperhatikan bangunan yang dijadikan ruang kelas perwakilan kerajaan lain, ada beberapa vampir yang membantu Milfa karena itu pekerjaannya tidak terlalu berat.
Aku mengintip dari jendela untuk memperhatikan Milfa yang sedang serius menjelaskan tentang sihir, faktor yang mempengaruhi seberapa kuat seorang menggunakan sihir adalah jumlah mana.
Ada beberapa orang yang terlahir dengan jumlah sihir besar adapun yang sedikit, tapi dalam pertarungan hal itu tidak menjadikan seseorang menangi pertempuran, terkadang sihir lemah bisa mengalahkan banyak musuh jika mereka bisa memaafkannya dengan baik.
Setelah bagian itu Milfa mulai menjelaskan elemen dasar, ada empat elemen dasar serta dua elemen langka.
Elemen dasar : Air, tanah, api dan angin.
Elemen langka : Cahaya dan kegelapan.
Setiap orang paling bisa menggunakan satu atau dua Elemen sekaligus dan jika ada seseorang yang bisa menggunakan semuanya dia memiliki sebuah faktor yang di sebut faktor berkah Dewi.
Contohnya seperti Milfa yang bisa menggunakan semua sihir di dunia ini terlebih dia juga abadi, dari siapapun dialah orang yang mendekati sosok Dewi tersebut.
Setelah melihatnya cukup lama aku juga melakukan hal sama ke kelas lain sebelum pergi meninggalkan akademi tersebut, tempat yang kupilih selanjutnya adalah di bawah air terjun dekat negaraku.
Di sini airnya cukup deras dan cocok untuk berlatih, aku melepaskan pakaianku lalu membiarkan diriku ditimpa air dingin tersebut.
Aku mencoba untuk mengambil energi dari alam yang nantinya bisa kugunakan dalam bertarung, atau sebagian orang menyebutnya energi Ki.
Berbeda dengan sihir yang mudah dipelajari teknik ini lebih sulit digunakan akan tetapi, dulu saat sihir dianggap jahat energi inilah yang digunakan oleh alih beladiri untuk melindungi dirinya dari ancaman musuh. Kuharap aku segera bisa mempelajarinya.
__ADS_1
Baru setengah hari aku memutuskan untuk beristirahat di pinggir air terjun yang terdiri dari rumput hijau itu. Di bawah langit biru tanpa awan aku mencoba menghangat diriku dari rasa dingin sampai.
"Sudah kuduga yang mulia berada di sini."
Seseorang muncul selagi membawa keranjang di tangannya, ia memiliki rambut merah muda sebahu serta mengenakan pakaian pendeta.
Dia adalah Vilaina.
"Kau bisa memanggilku Jason saja."
"Kami sepakat untuk memanggil Anda seperti itu, tolong jangan menolak."
Aku mengembung pipiku lalu duduk selagi memeluk lututku, hari ini giliran Vilaina untuk membawakanku makan siang.
"Roti lapis kah? Aku sangat menyukainya."
Vilaina hanya tersenyum selagi memainkan ujung rambutnya.
"Ini buatanku sendiri, kalau tidak enak bisa dibuang saja."
"Mana mungkin tidak enak, makanan yang dibuat Vilaina selalu enak. aku menjaminnya."
"Benarkah."
__ADS_1
"Um."
Aku menggigit roti lapis itu, dan seperti apa yang kukatakan ini benar-benar enak, aku ingin menangis sekarang.
"Enak sekali."
"Syukurlah."
Dulu Vilaian selalu terlihat murung tapi sekarang dialah orang yang paling memiliki senyuman indah di tempat ini, aku senang bisa melihatnya seperti itu.
"Perutku sudah kenyang, aku akan berlatih lagi."
"Berjuanglah, kalau begitu aku pergi sekarang."
"Aah, terima kasih makanannya."
"Bukan apa-apa."
Aku hanya bisa melihat kepergian Vilaina dari kejauhan sebelum kembali duduk di bawah air terjun.
Aku harus bisa merasakan energi alam sekitarku, menyerapnya kemudian menjadikan kekuatanku sendiri. Terlihat mudah akan tetapi sangat sulit saat dilakukan.
Menjelang sore hari aku berdiri selagi mengepalkan tinjuku, setelah mengisi tinjuku dengan energi Ki, aku melepaskannya ke arah batu besar dan kemudian batu itu meledak dahsyat.
__ADS_1
"Berhasil, sekarang aku hanya harus membuat tubuhku terbiasa," kataku bersemangat.