
Ketika aku hendak berdiri Milfa telah berdiri di hadapanku, dia mengulurkan tangannya demi membantuku berdiri.
"Bagaimana iblisnya?" tanyaku.
"Aku telah membakarnya dengan sihirku," balasnya selain menunjukkan api di genggamannya.
Dia memang sangat kuat.
Kami berdua keluar dari Istana setelah membersihkan para pasukan guild kriminal ini, beberapa telah kami tangkap dan kami jebloskan ke dalam penjara, yang jelas semuanya telah selesai.
Di ruangan yang luas itu pesta telah digelar untuk merayakan kembalinya ratu Shinfonia ke kerajaannya, Catrine tampak mempesona dengan pakaian yang dikenakannya sementara Mia dan Rolia turut berdiri di sampingnya.
"Mereka sangat cantik," suara itu berasal dari Milfa yang sedang berdiri dengan gelas anggur di tangannya.
"Ah iya."
"Jadi apa kau akan menikahi keduanya bersama denganku juga?"
"Kenapa kau berfikir begitu?"
"Jika kau memilih salah satu dari kami, itu hanya akan menyakiti yang lainnya."
"Aku tidak ingin memikirkannya sebelum mengembalikan dunia ini sedia kala," kataku lemas sebelum bersandar di dinding.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
__ADS_1
"Aku ingin mengembalikan posisi penyihir kembali seperti dahulu, dan menunjukan bahwa mereka tidak salah. Dengan cara menyelamatkan Dewi Abela, kudengar dia dikurung di suatu tempat di dunia ini.. jika kita menyelamatkannya berkahnya akan mengalir kembali ke dunia ini."
"Begitu, jadi karena itu penyihir tidak muncul lagi setelah mereka diburu."
Sekarang giliran aku bertanya pada Milfa.
"Apa kau bisa menemukan dimana Dewi Abela dikurung?"
"Mustahil, kekuatanku tidak bisa meramal seseorang.. akan tetapi."
"Akan tetapi apa?"
"Kalau tidak salah ada sebuah kota dimana di sana terdapat peramal legendaris, kudengar dia bisa meramal apapun serta menemukan orang dimanapun dia berada."
"Kekuatannya pasti luar biasa."
Sulit juga jika kami ingin menemukan seseorang tanpa petunjuk, ketika aku memikirkannya Catrine, Mia dan Rolia berjalan mendekat.
Catrine yang mendengar percakapan kami berkata dengan percaya diri.
"Aku tahu dimana peramal itu berada?"
"Benarkah?"
"Aku pernah mengunjunginya beberapa kali... aku bisa mengatakannya padamu, dengan satu syarat?"
__ADS_1
"Sebutkan syaratnya."
Catrine mengulurkan tangannya lalu berkata.
"Menarilah denganku malam ini."
Aku tersenyum lembut lalu menerima ajakannya, tubuh Catrine kecil jadi aku perlu berlutut untuk melakukannya.
Meski telihat aneh tidak ada siapapun yang mencoba mengejek atau tertawa.
"Setelahnya, tolong menari juga denganku Jason," kata Mia.
"Aku juga."
"Penyihir ini juga ingin menari."
Aku hanya tersenyum masam ke arah mereka, malam ini akan menjadi malam yang panjang, keesokan harinya Catrine mulai menyebarkan pengumuman bahwa penyihir bukanlah sosok yang ditakuti melainkan para pengikut iblis yang sekarang bersembunyi diantara kita, mereka memfitnah penyihir agar tidak ada lagi pahlawan yang akan bisa dipanggil lagi saat raja iblis bangkit.
Berita ini membuat seluruh benua menjadi gempar, beberapa dari mereka mempercayai berita tersebut dan yang lainnya menolak meski begitu ini adalah langkah pertama kami.
Setelah menerima alamat yang ditulis oleh Catrine dalam secarik kertas kami berpamitan dengannya di depan gerbang istana.
"Jangan sungkan untuk datang kemari lagi aku pasti akan menyambut kalian di istanaku."
"Tentu saja."
__ADS_1
Tanganku menjabat tangan Catrine, selanjutnya kami meninggalkan kota dengan kereta kuda yang sebelumnya kami tinggalkan di penginapan.
Semakin lama kota itu terlihat semakin kecil hingga sosok bangunan tingginya menghilang seutuhnya.